The Bloom At Royal Harem

The Bloom At Royal Harem
3. Bibit Unggul


__ADS_3

“TUAN PUTRI NACHELLA MEMASUKI RUANGAN” teriak seorang penjaga yang berada tepat di depan sebuah pintu besar berwarna.


Nachella menatap tajam pria itu yang sadar atau tidaknya telah membuat telinga berdengung. Mungkin jika pria penjaga itu berteriak lebih lama maka telinganya akan seketika menjadi budek, alias tidak bisa mendengar.


Pintu besar di depannya perlahan terbuka, menimbulkan angin yang memuat surai blondenya sedikit berterbangan. Matanya menatap tiga orang pria yang tengah terduduk sembari melihat kearahnya, Alexander dan dua orang lain dengan usia yang lebih tua darinya.


Dengan langkah perlahan, Nachella memasuki ruangan di iringi salam dengan suara seringan lonceng dan logat cadel khas anak kecil pada umumnya.


“Salam Yang Mulia Raja, Salam Putra Mahkota, Salam Pangeran Kedua” ucapnya sembari membungkuk 90 derajat.


“Bangun dan duduklah, Chella!” perintah Alexander dengan senyum yang mengembang di wajah tampannya.


“Kau bisa memanggilku ayah, kenapa harus repot-repot melakukan formalitas seperti itu?” lanjutnya dengan wajah meneliti.


Nachella menegakkan tubuhnya kembali, kemudian berjalan menghampiri Alexander yang notabennya adalah ayahnya sendiri. Pria itu nampak sangah gagah dengan balutan jas hitam dan jubah kebesannya yang berwarna merah dengan kerah berwarna emas yang memanjang sampai dengan lutut. Di hiasi dengan ukiran naga berwarna emas di bagian kerah dan belakang jubahnya, teratai dan helaian dandelion berwarna hitam yang merupakan simbol kerajaan di bagian depannya. Di sampingnya tersampir pedang, dengan sarung berwarna coklat, dengan sarung berwarna coklat dengan ukiran emas dan permata berwarna saphire dia bagian atasnya. Dan gantungan giok berbentuk salju bersayap berwarna putih yang tergantung indah di gagangnya.


“Aku ingin saja” ucap Nachella dengan datar yang kini tanpa aba-aba langsung mencium pipi Alexander membuat si empunya berdehem pelan.


⚜⚜


Nachella POV


Hohoho, dia lucu sekali, teriakku di dalam hati.


Bisa kulihat, pria itu menimbulkan semburat kemerahan di kedua pipnya, bahkan sampai dengan telinga. Aku tertawa pelan melihat reaksi peria tampan yang kini berada tepat di sampingku. Dengan cepat aku menjauh darinya, sebelum aku benar-benar urat malu karena kelepasan bertindak.


Aku duduk di salah satu kursi yang kosong yang berada tepat di samping pria tampan berwajah imut yang usianya lebih tua dariku namun tidak setua Aleander dengan jas berwarna hijau, rambut belonde yang sama dengan milikku, namun warna matanya terlihat beda bukan berwarna biru melainkan hijau terang. Di depan pria itu terdapat seorang pria yang usianya lebih tua dari pria tadi. Memiliki wajah tampan, dengan rahang tegas, bulu mata hitam yang lentik, mata biru yang sama dengan miliknya dan rambut blonde yang merupakan ciri khas keluarga Courlage. Pria itu mengenakan jas berwaran putih dengan ukiran berwarna merah di bagian kerah dan sejenis pangkat berwarna emas di kedua sisi bahunya yang lebar, nyaman untuk di jadikan senderan dan sebuah mahkota emas di kepalanya yang tidak terlalu rumit di bandingkan Alexander, namun lebih rumit dibanding mahkota milik pria di sampinya.


“Belum cukupkah kau melihat kakakmu yang tampan ini?” ucap pria itu dengan senyum yang mengembang.


Ugh, dia pede sekali. Tampan sih tapi gak gitu juga!, rutukku dalam hati.


Aku membuang wajah malas. Aku memang tidak berniat menjawab pertanyaan menyebalkan pria yang belum ku ketahui namanya. Bagaimana jika salah sebut? Bisa kena masalah yang ada. Entahlah sejak masuk ke dunia ini, aku jadi sedikit melupakan ciri-ciri para tokoh yang aku ciptakan, membuatku sedikit kesulitan untuk mengenali mereka.


Mataku mengedar kembali, mencari makanan yang bisa aku makan sebagai makanan pembuka. Hingga pandanganku tertuju pada sebuah mangkok kaca berwarna hijau yang letaknya tidak jauh dari pria tampan disampingku.


“Leon, jangan ganggu adikmu! Dan kau Alaskar, ambilkan dia bubur itu! Aku rasa dia menginginkannya” ucap Alexander dengan tegas yang sangat berbeda ketika berbicara denganku.


Aku menatap binar mendengar ucapan Alexander yang seolah tau isi otakku. Pria di sampingku segera menggeser mangkuk bubur hingga tepat berada di depanku, kemudian memberikan sendok kecil yang langsung ia arahkan ke depanku.


“Makanlah yang banyak, Cadel. Agar kau cepat besar” ucapnya dengan nada yang terkesan mengejak.


Dia nyari ribut sepertinya, batinku meronta.


Eh, tapi berarti dia itu Alaskar dan pria disana Leon kakak tertuaku. Huhu, keluargaku penyuplai bibit unggul, pikirku lagi sembari tersenyum tidak memperdulikan ketiga pria di sekitarku.


Leonard Fordeblicth Courlage, kakak pertama sekaligus Putra Mahkota Kerajaan Courlage. Bukan hanya wajahnya yang tampan, tapi otaknya juga sangat cerdas. Bayangkan saja diusianya yang baru 13 tahun, dirinya telah menyelesaikan pendidikannya di akademi padahal dirinya telat masuk 2 tahun. Pendidikan di akademi tidaklah semudah belajar di sekoah dasar di dunia asliku, di akademi di ajarkan cara bertarung menggunakan senjata dan sihir, cara mengurus administrasi kerajaan bagi para putri dan putra kerajaan maupun kekaisaran, cara berdansa, tata krama layaknya bangsawan kelas atas, dan keterampilan lainnya di harus mereka kuasai selama 7 tahun dan Leon sudah mampu menguasainya hanya dalam waktu 5 tahun, bahkan sihirnya sudah berada di level 4,5 ketika lulus.


Sama halnya dengan Leon, pria bernama lengkap Alaskar Fordeblicth Courlage yang merupakan kakak kedua Nachella asli juga menyelesaikan waktu akademinya dalam waktu singkat. Dirinya masuk ke akademi saat berusia 4 tahun dan kembali ke istana tahun ini saat dirinya baru berusia 10 tahun. Bahkan kemampuan sihirnya sudah berada di tingkat 3 hampir ke 4 yang mungkin akan diperolehnya akhir tahun ini.


“Terima kasih Kak Alaskar” ucapku yang langsung melahap puding dengan semangat.

__ADS_1


Nachela END POV


⚜⚜


Author POV


Nachella melangkahkan kakinya menyusuri lorong istana yang besar di penuhi ukiran emas dan giok putih yang menyatu dengan warna putih dari tembok istana. Perutnya seakan ingin meledak karena makanan yang telah di tampungnya saat di ruang makan. Matanya mengedar, menatap sekeliling yang nampak kurang hidup karena kurang mata, hanya ada beberapa pohon, seperti pohon buah apel dan apel lagi karena memang hanya pohon itu yang ada disana, bahkan jumlahnya tidak lebih dari lima. Di tengah pohon itu ada sebuah danau kecil yang di tengahnya terdapat sebuah patung gadis kecil bersayap sembari membawa guci kecil yang mengeluarkan air dari dalamnya, seperti peri air.


Nachella mendengus pelan, melihat hal itu. Rasanya dia ingin membeli beberapa tanaman dan bibit bunga untuk mempercanti istana, layaknya taman di negeri dongeng sehingga dapat menghilangkan penat bagi orang yang melihatnya.


“Ah, mengapa aku tidak memikirkannya? Mungkin jika izin ke ayah aku akan di izinkan pergi ke pasar dan membeli beberapa bibit bunga, seperti mawar, melati, semuanya indah. Eh, kok jadi ke situ? Pokoknya maca-macam bunga, aku akan membelinya!” ucapnya penuh semangat.


Nachella berbalik arah menuju ruang kerja Alexander yang berada di istana utama, karena sedari tadi dirinya sedang berada di istana teratai tempat tinggal dirinya, Leon dan Alaskar.


Kaki kecilnya berlari-lari kecil menyusuri lorong yang kian melebar seiring berjalan semakin dekatnya ruang kerja Alexander yang di jaga dengan penjagaan ketat. 6 orang di bawah tangga, 4 orang berselang seling di setiap 5 anak tangga, 4 orang lain yang menjaga pintu ruang kerja yang juga merangkap sebagai kamar Alexander. Masing-masing penjaga  merupakan seorang pria yang juga di bekali sebuah pedang panjang di pinggangnya. Sangat berbanding jauh dengan pengamanan di kamar Nachela yang hanya ada 4 pengawal laki-laki di depan kamarnya, 2 pelayan pria, dan 3 pelayan wanita, termasuk Adele.


Mulutnya sedikit menganga, saat tiba di depan sebuah ruangan besar, dengan pintu berwarna emas dengan ukiran burung phoenix, naga, dan akar pohon berbunga teratai yang memanjang dan memenuhi pintu, yang juga berhias berlian berukuran cukup besar untuk menggambarkan mata burung phoenix dan naga. Ruang itu adalah ruang kerja adalah ruang kerja, kamar tidur, dan tempat rahasia Alexander yang di dalamnya terdapat banyak harta berharga, dokumen negara, dan sebagainya yang di jaga keta oleh Alexander dan para penjaga bayangan atau orang kepercayaan yang dipilih sendiri olehnya dan memiliki keterampilan sangat tinggi dalam bertarung.


“Aku ingin bertemu ayah” ucap Nachella.


Author END POV


⚜⚜


Nachella POV


Aku membuka mata selebar  mungkin, menikmati pemandangan indah yang terpatri jelas di depan mataku yang seolah sulit di tutup. Terlalu indah untuk di sia-siakan.


Aku segera menaiki tangga yang langsung di sambuk tundukan badan para pengawal 90 derajat yang hanya aku balas dengan senyum lebar layaknya anak kecil.


“Aku ingin menemui ayah” ucapku pada salah seorang pengawal yang ketampanannya tentu saja di di bawah keluargaku di dunia ini.


Pengawal itu menunduk, sembari tersenyum lembut.


“Mohon maaf, Tuan Putri. Mohon tunggu disini terlebih dahulu, saya akan meminta izin kepada Yang Mulia” ucapnya yang ku balas anggukan kepala sebelum pengawal itu melenggang pergi memasuki pintu emas.


Aku menatap lantai yang tidak kalah mengkilap dengan pintu meskipun warnanya hanya hitam yang tentu saja bukan lantai biasa, bisa ku pastikan jika lantai ini terbuat dari marmer dengan kualitas terbaik yang tentunya sangat menggetarkan jiwa kemisqueenanku.


Tak lama, pria pengawal itu kembali, bersamaan dengan terbukanya pintu besar berwarna emas yang sedari tadi menarik pehatianku.


“Silahkan masuk, Tuan Putri” ucapnya mempersilahkan.


Dengan perlahan, aku memasuki ruangan besar yang nampak sangat megah dan mewah yang di penuhi dengan warna emas yang menurutku terlalu monoton. Mataku sampai terasa silau saat beberapa benda terkena cahaya matahari sehingga membuat pantulan yang menyilaukan mata. Hingga mataku melihat ke sisi lain yang juga terkena efek fantulan tadi. Sebuah figura besar yang menampilkan dua pasangan dengan pakaian formal berwarna merah yang masing-masing terpasang sebuah mahkota indah di kepalanya.


Aku mengenal pria itu, dia adalah Alexander. Tapi untu wanita di sampingnya, aku tidak tau. Wanita itu sangat cantik, bermata hijau, rambut panjang bergelombang berwarna coklat tua, bibir tipis dibagian atas sedangkan bibir bawahnya yang sedikit bervolume yg dilapisi lipstik berwarna merah tua dan hidung mancung. Tubuhnya di balut dengan gaun merah dan jubah berwarna emas, dan di bagian atas kepalanya berhias mahkota perpaduan giok putih berbentuk kristal es, yang di atasnya terdapat daun dari emas dan mawar dari batu sihir yang belum ketahui namanya.


Mungkinkah itu ibuku? Bukan, maksudku ibu Nachella asli, pikirku yang masih menatap bingkai itu.


Entah kenapa hatiku terasa sakit saat melihat semua itu. Aku seolah merasakan rindu yang teramat berat pada sosok wanita dalam bingkai tersebut. Seolah sosok itu telah lama aku kenal dan telah lama pula meninggalkanku. Hingga tanpa sadar, butiran cairan bening menyeruak keluar dari pelupuk mata yang langsung ku hapus ketika mendengar suara berat memanggil namaku dari balik punggung.


“Chella”

__ADS_1


Segera aku membalikkan tubuhku, bersamaan dengan runtuhnya semua pertahananku. Aku menangis sesenggukan. Dapat ku dengar, suara langkah yang semakin mendekat kearahku sebelum sebuah tarikan membawaku ke dalam dekapan seseorang. Aku semakin menjadi, menangis meluapkan semuanya disana hingga baju yang di pakai orang itu sedikit basah karena air mataku.


Entahlah, aku sedikit emosional saat ini terlebih ketika melihat sosok wanita itu. Sebelumnya aku adalah orang yang jarang menangis, tapi sekarang saat manuk dunia ini semua terasa berbeda. Bahkan aku merasa jika aku bukanlah aku yang biasanya, yang periang dan tidak terlalu peka.


“Kau merindukan ibumu, hmm” ucap Alexander smbari mengusap suraiku.


“Ibumu, dia sudah tenang bersama Dewi Anocia, sayang. Ibumu sudah tidak sakit lagi” lanjutnya dengan suara berat yang berusaha menenangkanku namun bukannya tenang  justru tangisku semakin deras keluar.


“Ayah, kenapa ibu pergi? Kenapa ibu meninggalkanku? Aku kangen ibu”  ucapku susah payah.


Aku menggigit bibir bawahku. Kali ini dapat aku dengar, suara tertahan milik Alexander bersamaan dengan jatuhnya beberapa tetes air ke atas kepalaku yang dapat ku yakini jika dirinya sedang menangis dalam diam. Cukup lama aku berada dalam dekapan Alexander yang hangat, melupakan tujuan awalku mendatanginya hingga sebuah suara bersamaan dengan pergerakan memaksaku sedikit melonggarkan pelukan. Tangan Alexander bergerak, mengusap pipiku yang sebelumnya terkena air mataku yang mengalir deras .


“Nac, Nachella. Sudah jangan menangis lagi” ucap Alexander dengan senyum, meskipun wajahnya terlihat jelas memerah dan basah, lalu menarik kedua tanganku ke dalam genggamannya.


Alexander berjongkok, menyamai tinggiku yang hanya sepinggangnya. “ibumu sudah tenang disana. Ratu Lauryl sudah bahagia disana bersama Dewi Anocia. Dia sudah tidak sakit lagi, Nachella tidak mau kan liat ibu sakit lagi?” tanyanya yang langsung ku balas gelengan kepala.


“Sekarang Nachella ke kamar ya, istirahat. Nachella kan baru bangun dari pingsan kemarin” lanjutnya kemudian mencium puncak kepalaku.


Aku segera berlalu pergi meninggalkan kamar Alexander, tanpa ingin menoleh kembali kebelakang. Aku tidak cukup kuat melihat kembali wajah Alexander yang langsung mengingatkanku kembali dengan Ratu Lauryl alias ibu Nachella asli, setidaknya untuk saat ini.


Nachella END POV


⚜⚜


Author POV


“Ayah, kenapa ibu harus pergi? Kenapa ibu meninggalkanku? Aku kangen ibu” ucap gadis kecil yang saat ini sedang dalam dekapannya yang terdengar lirih.


Runtuh sudah pertahanan Alexander, kini dirinya ikut menangis mengingat kembali semua yangg di laluinya bersama Lauryl, istri tercinta sekaligus ibu dari anak-anaknya. Wanita yang sangat pemberani, baik hati, perhatian dan kasih sayang. Dia yang sangat cantik dengan netra hijau dan rambut coklat tuanya yang mampu membuat siapa pun yang melihatnya akan langsung jatuh hati. Beruntunglah bagi Alexander yang dapat memilikinya, menjadi satu-satunya lelaki yang dicintai wanita itu, memiliki tiga orang anak darinya, meskipun cinta dan sumpah seumur hidup dan matinya tidak dapat bertahan lama karena takdir berkata lain.


Wanita yang di cintainya meninggal setelah di racun oleh pelayannya sendiri selama bertahun-tahun, membuat tubuhnya semakin lemah hingga beberapa kali muntah darah yang kerap kali ia sembunyikan.


Wanita itu sangat kuat, hingga tidak ada satu pun orang yang tahu tentang penyakit yang di deritanya. Hingga seminggu sebelum dirinya meninggal, Lauryl pingsan disusul dengan kejang hebat di sertai muntah darah. Di situlah baru Alexander ketahui jika selama ini wanita yang di cintai mengalami hari yang sulit dan begitu menyiksa karena telah di racuni oleh seseorang yang semula belum ia ketahui dalangnya.


Alexander memanggil tabib terbaik hingga ke seluruh penghujung negeri, namun tidak dapat menemukan satu pun tabib yang dapat menyembuhkan penyakit istrinya, Lauryl. Hingga 7 hari setelah kejang tersebut, istrinya Lauryl dinyatakan meninggal dunia, menyisakan duka yang sangat mendalam bagi dirinya, ketiga anaknya, seluruh negeri, bahkan alam pun ikut berduka dengan menumpahkan luapan badai bercampur hujan lebat yang melanda seluruh negeri. Para rakyat menebarkan mawar putih di depan gerbang istana dan seluruh jalan yang pernah dilalui Lauryl semasa hidupnya.


Setelah hari itu, barulah dalang di balik meninggalnya Lauryl di ketahui, dengan penh amarah Alexander langsung memenggal wanita yang tak tain adalah pelayan pribadi istrinya yang sudah melayaninya sejak hari debutnya di usia 15 tahun. Kepala wanita itu di gantung di gerbang selama seminggu sebelum di bakar, sedangkan badannya di buang di tengah hutan agar di makan serigala dan binatang buas lainnya.


Alexander memberi sedikit kelonggaran kali ini, kemudian menarik kedua tangan Nachella ke dalam genggaman tangannya. Tangannya bergerak, mengusap kedua pipi Nachella yang meninggalkan jejak tangisan disana. “Nac, Nachella. Sudah jangan menangis lagi” ucap Alexander dengan senyum yang ia paksakan, meskipun matanya tidak bisa berbohong jika dirinya juga telah menangis sama seperti gadis di depannya.


Alexander berjongkok, menyamai tinggi gadis di depannya yang masih menatap kosong ke lantai. “ibumu sudah tenang disana. Ratu Lauryl sudah bahagia disana bersama Dewi Anocia. Dia sudah tidak sakit lagi, Nachella tidak mau kan liat ibu sakit lagi?” tanyanya yang langsung Nchella balas dengan gelengan kepala.


“Sekarang Nachella ke kamar ya, istirahat. Nachella kan baru bangun dari pingsan kemarin” lanjutnya kemudian mencium puncak kepala Nachella sebelum gadis itu pergi berlalu bersamaan dengan pintu yang tertutup rapat.


Sepeninggal Nachella, mata Alexander tak dapat lagi menahan tangisnya yang langsung menguap begitu saja. Tangan kanannya ia gigit kencang, menahan agar suara tangis dan isakannya tidak terdengar oleh sia pun. Matanya kembali menatap hangat pada sosok wanita yang bersanding dengannya di figura yang tergantung indah di atas kepalanya. Sosok wanita yang ia rindukan. Lukisan seorang wanita yang sangat di cintainya melebihi dirinya sendiri. Potret wanita yang tidak akan bisa di gantikan oleh siapa pun, Lauryl. Sang istri, ibu, dan ratu kerajaan ini.


“Aku juga merindukanmu, istriku” ucapnya.


Author END POV


⚜⚜

__ADS_1


TBC


__ADS_2