
"AGH, KAK VIO!" Teriak seseorang dari balik sebuah ruangan membuat beberapa orang di sekitarnya seketika menutup kedua telinganya.
"Ya, Putri" ucap seorang Vio menghampiri gadis kecil yang tengah berguling-guling dikasurnya.
Ya, Vio kembali dengan sikap formalnya dan meminta agar dirinya di jadikan sebagai pelayan saja setelah mengetahui status asli Nachella yang semua ia kira abangsawan biasa, yang ternyata sangat jauh di luat ekspektasinya. Cukup lama kemarin keduanya berdebat, hingga akhirnya Nachella kalah dan memutuskan Vio untuk menjadi pelayan pribadinya bersama dengan Adele dan ksatria penjaga barunya yang di pilih langsung oleh ayahnya, Alexander. Pria itu bernama Edhy, seumuran dengan Vio namun memiliki sifat yang sedikit menyebalkan
Keadaannya sudah sangat buruk saat ini. Rambut blonde yang seharusnya terkepang sudah tak lagi terbentuk, gaun merah muda yang terjuntai hingga lantai juga telah kusut, tak lupa dengan wajah cemberut gadis itu yang justru terlihat sangat lucu menggemaskan.
"Aku bosan, Kak! Aku ingin jalan-jalan" ucapnya yang tak lain adalah Nachella.
"Putri ingin kemana? Mari saya antar" sahut Vio.
Dengan semangat, gadis itu turun dari kasurnya. Berjalan tak tentu arah mengelilingi area kediamannya diikuti para pelayan serta pengawalnya yang khawatir akan hal buruk akan kembali menimpa gadis kecil itu.
Langkahnya terhenti. Matanya melihat sedih ke arah sebuah area yang sudah rapi tertutup tembok dan pintu besar.
"Putri, kita tidak boleh kesana oleh Kaisar. Saat ini hanya Kaisar saja yang boleh kesana" ucap Vio yang mengerti keinginan Nachella.
"Baiklah" Nachella mendengus pelan.
Ia sangat tau alasan di bangunnya tembok besar itu. Sejak terjatuhnya dia ke danau pesona, Alexander langsung membangun tembok besar dan sebuah pintu yang hanya dirinyalah yang memegang dan masuk ke area tersebut. Alexander bahkan kini lebih over protektif terhadap Nachella.
Otaknya kembali berpikir tempat mana yang sangat ia ingin kunjungi, terlebih lagi untuk melepas semua rasa bosan dalam hatinya.
Pasar, pikiran gila tiba-tiba saja melintas di otaknya. Senyuman kembali tercetak di wajah cantiknya, membuat beberapa orang disana mengernyit heran.
"Kakak" panggilnya, membuat empunya menoleh.
"Maukah kau ikut denganku?" Tanya Nachella dengan senyum aneh.
"Kemana, Putri?" Ucap Vio bingung.
Nachella tersenyum kembali, menampilkan deretan giginya yang tersusun rapi dengan mata yang membentuk bulan sabit.
⚜⚜
Di sebuah keramaian, seorang gadis kecil berlari kesana kemari sembari memegang makanan di kedua tangannya. Langkahnya tidak berhenti, tidak memperdulikan beberapa orang pria dengan ukuran badan dua kali lebih besar yang mulai mengejarnya.
"Tuan Putri, saya mohon jangan lari!" Ucap salah seseorang pria. dengan ukuran badan lebih kecil dari orang lain yang mengejarnya.
"Putri, tu.. tunggu saya" ucap orang lain, yang merupakan seorang wanita.
Gadis kecil itu berhenti sejenak, matanya nampak berbinar kala ia melihat barang yang berjejer rapi di depannya. Langkah kaki kecilnya mendekati tempat tersebut yang langsung disambut baik sang pemilik kios. Tanpa ia sadari, sesuatu telah menarik tangannya untuk mengambil salah satu benda berwarna hijau terang berbentuk bulan sabit.
Matanya mengedar, menemukan wanita dan pria-pria besar tadi sudah berada di dekatnya.
"Kakak, aku mau ini" ucap gadis kecil itu memelas pada wanita yang masih mengatur napasnya, Vio.
"Tuan Putri, di istana sudah banyak sekali giok" ucap pria yang tadi sudah ikut memanggilnya. Edhy
Mata Nachella menatap sadis pria itu.
"Diam kau, Ed" ucap Nachella.
"Putri silahkan pilih, nanti saya akan membayarnya" ucap Vio.
Ia sangat tahu betul bagaimana sifat Putri Nachella yang selalu ingin memiliki apapun yang begitu menarik perhatiannya. Bahkan terkadang ia merasa jika Putri Nachella memiliki sifat keras kepala, sama seperti ayahnya dan kedua kakaknya. Meski ini bukan kali pertama Putri Nachella keluar istana, namun tetap saja hal itu menjadi ketakutan tersendiri bagi Vio. Ia takut jika Putri Nachella mengalami sesuatu yang buruk.
Jika kalian bertanya kapan pertama kali Nachella keluar istana, tentu saja jawabannya adalah saat dia bertemu Vio dan membawanya masuk ke istana sekaligus menjadikannya kakak serta sahabat yang justru malah menjadi pelayan pribadinya.
Dengan cepat, Nachella mengambil beberapa giok yang sedari tadi sudah ia incar. Lalu memberikannya pada Vio.
__ADS_1
"Berapa pak?" Tanya Vio kepada seorang pria tua yang merupakan penjual giok tersebut.
"45 koin perak" ucap pria itu yang langsung diberikan satu koin emas oleh Nachella yang entah sejak kapan mengambil kantong uang yang dipegang Vio.
"Sisanya ambil untuk bapak saja" ucap Nachella dengan senyum ramahnya.
Mendengar hal itu, sontak membuat penjual giok itu terperangah kaget. Ia tidak mengira bahwa orang baik masih ada dan mau berkunjung membeli barang dagangannya. Berkali-kali ia mengucapkan terima kasih kepada Nachella dan rombongan yang kini mulai pergi meninggalkan kiosnya.
Di dunianya ini, hanya ada tiga pecahan mata uang atau lebih tepatnya alat pembayaran. Yaitu perak, emas, dan kertas. Satu kertas setara dengan 1000 emas, biasanya uang tersebut hanya digunakan sebagai uang pengganti kerusakan setelah perang besar terjadi. Lalu ada uang emas, dimana satu koin emas setara dengan 100 koin perak.
"Ahahaha, kakak tangkap aku" ucap seorang bocah kecil sembari berlari kencang.
Bruk!
"AW!" Ringis Nachella saat dirinya terjatuh akibat tidak sengaja tertabrak bocah kecil itu.
"Kakak, kakak cantik tidak apa-apa? Rio minta maaf" ucap bocah itu sembari menundukkan kepalanya.
Mata bocah itu sudah memerah, bahkan setitik cairan mulai merembes keluar dari pelupuk matanya.
"Hei, kau! Berani sekali! Apakah kau tidak mempunyai mata? Tahukah kau siapa yang di tabrakmu itu?" Tegas Vio sambil berkacak pinggang. Matanya menatap bocah itu, tanpa memperdulikan sekitarnya yang kini mulai berkerumun.
"Haish, kakak tenanglah. Kau tahu bukan, anak itu tidak sengaja. Mengapa kau sangat galak?" Ucap Nachella sembari tersenyum hangat.
Tangannya meraih tangan bocah yang sedari tadi menunduk dan menangis dihadapannya, membuat bocah itu mulai mengangkat kepalanya dengan ragu.
"Hei, tenanglah. Kau jangan menangis. Aku tidak marah, maafkan temanku ya. Dia memang suka galak. Tapi dia aslinya baik kok" jelas Nachella dengan terus memegang tangan bocah itu.
"Sudah, sudah. Kau ini pria. Jangan menangis, itu tidak cocok untuk jenis kelaminmu" lanjutnya membuat orang yang disekitarnya menatapnya heran.
"Nona, saya mohon jangan hukum adik saya. Dia masih kecil, hukum saya saja sebagai gantinya" ucap seorang pria dengan ukuran badan lima kali lebih besar dari bocah tadi.
"Lah? Memang sejak kapan aku bilang akan menghukumnya? Aku tidak bilang, tuh" ucapnya tanpa ragu.
"Ampun nona, umur adik saya 4 tahun" jawab pria itu.
Nachella tampak tersenyum cerah, matanya berbinar menatap bocah itu. Tangannya dengan sigap meraih pipi tembam lalu mencubitnya gemas.
"Hei kau, umur kita tidak jauh. Aku 5 tahun sedangkan kau 4 tahun. Mari kita berteman! Kebetulan aku tidak memiliki banyak teman, jadi siapa namamu?" Tanya Nachella dengan senyum lebar menampilkan jejeran gigi putihnya yang tersusun rapi.
"Sa.. saya Rionando Zonaldy, putra bungsu petani Zonaldy dan Chirend" ucap Rio yang langsung dibalas anggukan Nachella.
"Ah, oke Rio. Kenalin aku Nachella Naiderfold Courlage" sahut Nachella memperkenalkan dirinya.
Seketika suasana disana langsung berubah, beberapa orang menatap kagum putri raja tersebut yang nampak tidak membeda-bedakan orang untuk berteman, memang sesuai dengan yang dirumorkan.
"Putri, sebaiknya kita kembali. Hari sudah sore" ucap Vio menasihati.
Nachella melihat langit dan benar saja, langit sudah manampilkan semburat jingga keemasannya. Menandakan malam akan segera tiba.
"Rio, aku pulang dulu ya. Sampai ketemu lagi" ucap Nachella seraya meninggalkan tempat tersebut.
Di tempat lain.
Seseorang tidak berhenti memperhatikan gerak-geriknya sedari ia memasuki area pasar. Di wajahnya tercetak senyum tipis yang sulit di artikan.
"Hm, dia menarik" ucapnya. Lalu melenggang pergi meninggalkan tempatnya.
⚜⚜
Nachella POV
__ADS_1
“Putri, apakah anda masih merasa bosan?” tanya Vio yang sedikit penasaran denganku yang sampai sekarang masih duduk termenung menatap langit yang kian gelap karena siang siang siap diganti malam.
Aku pun sedikit kesal, karena apa yang kulakukan tadi saat di pasar seperti tidak ada artinya. Padahal aku disana lebih dari 2 jam tapi saat kembali ke rumah aku tetap merasa bosan.
“iya kak, aku bosan” ucapku sembari melirik sekilas ke Vio untuk melihat reaksinya. Diluar dugaan, Vio tersenyum menampilkan deretan giginya.
“Putri saya punya ide, bagaimana jika anda menanam benih yang anda beli kemarin”
Aku sedikit terkejut mendengar hal itu. Bagaimana bisa aku melupakan sesuatu yang sangat penting seperti itu.
“Ah, kau benar kak. Dimana bibit itu? Aku akan menanamnya!” ucapku antusias yang langsung berjalan keluar kamar.
“Di taman belakang istana”
“Ayo, kita kesana, kak!” ucapku sembari menarik tangan Vio yang langsung diikuti Adele.
⚜⚜
Aku tengah sibuk memasukkan tanah ke dalam beberapa pot sebelum membawanya ke atas meja yang berisi beragam jenis bibit tanaman yang kemarin sempat ku beli di pasar.
“Tuan Putri, biar saya saja” ucap Adele yang langsung menarik pot yang berada tepat di genggaman tanganku.
“Tidak, aku ingin menanamnya sendiri. Jika kau menggangguku maka aku akan menghentikanmu dari pelayan pribadi”
“Ampun, Tuan Putri. Saya tidak akan mengulangi kesalahan saya lagi” ucap Adele dengan nada khawatir yang terdengar jelas di telingaku. Badannya sudah dengan posisi duduk bersimpuh yang ingin sekali aku larang dan membantunya berdiri namun apa boleh buat tanganku telah kotor dengan tanah.
“Berdirilah, Adele aku hanya bercanda. Maaf aku tidak bisa membantumu berdiri karena tanganku kotor” ucapku dengan menunjukkan kedua telapak tanganku yang kotor karena sedari tadi mengambil tanah tanpa menggunakan sekop.
“Terima kasih, Putri”
“Ya, baiklah”
Aku kembali berkutat dengan kegiatanku, memasukkan beberapa benih tanaman ke dalam pot yang sudah terisi tanah untuk meletakkannya di sudut istana yang letaknya sedikit jauh dari taman. Seperti tangga, depan pintu ruangan, maupun di dalam ruang baca di kamarku. Sedangkan sisa benih lainnya akan aku tanam di taman istana seperti area istana utama, istana teratai, taman dekat danau pesona, dan taman-taman kecil lain yang terletak di banyak sudut istana.
“Chela, apa yang kau lakukan malam-malam begini?” tanya seorang pria dari balik punggungku.
Aku segera berbalik untuk melihat dalang dari suara yang tiba-tiba saja datang tanpa permisi, Alaskar.
“Ah, itu kak aku sedang menanam bibit bunga yang kemarin sempatku beli di pasar” ucapku yang langsung mengapant anggukan kepala Alaskar.
“Apakah kau memerlukan bantuan dan mengapa mereka hanya diam saja seperti patung?” tanya Alaskar yang langsung menatap tajam ke arah Vio dan Adele.
“Aku yang menyuruhnya, kak. Aku ingin mengerjakannya sendiri tapi jika kakak yang berniat membantu, maka dengan senang hati aku akan memperbolehkannya” ucapku yang langsung membuat Alaskar berjalan mendekatiku. Tangannya bergerak mengambil beberapa bungkus bibit tanaman.
“Jadi mau diletakkan dimana bibit ini?” tanyanya sembari mengangkat 5 bungkus bibit tanaman bunga dengan beragam jenis itu.
“Yang ini diletakkan disini, ini di depan pintu gerbang istana, ini dan ini di dekat danau pesona, ini dan ini di depan istana teratai, dan sisanya di tanam di istana utama” ucapku sembari menunjuk kelima bungkus bibit itu secara bergantian sembari menjelaskan letak penempatannya.
Aku sedikit terkekeh pelan melihat kakak tampanku itu yang hanya menganggukkan kepalanya seolah yang ku sebutkan tadi adalah materi pelajaran yang di bacakan guru.
“Baik, kakak akan menanamnya sekarang. Kau istirahatlah biar ini semua sisanya kakak yang akan lakukan” ucapnya lagi.
Seketika mataku berbinar menatap penuh ketidakpercayaan. Namun harus ku akui jika aku juga sudah cukup lelah. Mungkin menerima perintah dari kakaku itu adalah pilihan terbaik saat ini.
“Baiklah kak terima kasih” ucapku sembari mencium kedua pipi Alaskar secara bergantian.
Aku melangkah pergi meninggalkan Alaskar yang masih berdiam diri di taman belakang istana, hingga saat tiba di depan pintukamar dapat ku lihat beberapa prajurit dan pelayan sedikit berlari kecil menuju taman belakang. Entahlah mereka akan berbuat apa yang kutahu, itu semua pasti ulah Alaskar, kakak tampanku yang rupawan.
Nachella POV END
⚜⚜
__ADS_1
TBC