The Bloom At Royal Harem

The Bloom At Royal Harem
9. Perasaan Tak Asing


__ADS_3

Terlihat dua orang memasuki aula sebuah ruangan yang dipenuhi banyak orang. Mereka yang kini menjadi pusat perhatian, nampak tetap terpaku pada pandangannya yang lurus ke depan. Kedua orang itu adalah Kaisar Andreas Geovan Eiderlands dan Putra Mahkota Felixious Renzo Eiderlands.


“Hormat kami Yang Mulia Kaisar dan Putra Mahkota Kekaisaran Visilion, Semoga Dewi Anocia melindungi Anda” ucap para hadirin serentak diiringi dengan sikap membungkuk 90 derajat.


“Berdirilah!” perintah Andreas dengan wajah tegas dan aura keagungan yang keluar dari balik punggungnya.


Felix mengedarkan pandangannya acuh melihat sikap orang-orang di sekitarnya yang seolah tunduk dan patuh di hadapan mereka. Namun nyatanya mereka memiliki sifat seperti ular berbisa, mendekati hanya untuk menjilat sebelum membunuh secara perlahan.


“Berdirilah!” perintah Felix dengan wajah tidak mengubah sedikit pun ekspresi di wajahnya. Jika saja ibundanya ada disini, pasti pipinya itu akan di cubit karena gemas. Dia jadi merindukan ibundanya, padahal baru beberapa jam ia keluar dari istana. Jika saja ibundanya tidak memaksanya untuk ikut menemani ayahnya, mungkin saat ini ia masih berada di samping ibundanya yang sedang sakit.


“Terima kasih Yang Mulia Kaisar dan Putra Mahkota” ucap semuanya yang langsung menegakkan kembali tubuhnya.


Kaisar Andreas dan Felix melangkah maju menghampiri singgasananya yang telah bertengger rapi di antara 4 singgasana lain yang berukuran sedikit lebih kecil, singgasana keluarga Courlage.


Mata Felix mengedar kembali, mencari sesuatu yang tidak pasti dapat ia temukan di tempat ini. Hingga matanya terpaku pada seorang gadis yang berada tidak jauh dari posisinya dan ia yakini usianya dengan gadis itu tidak terlalu jauh, mungkin 2 atau 3 tahun. Gadis itu yang menggunakan gaun lengan panjang dengan warna yang cukup jarang ia temui. Rambut coklat tua panjang dengan netra sejernih lautan.


Matanya mengernyit menimbulkan dua lipatan garis di keningnya saat melihat gadis itu yang nampak terkejut diiringi pekikan pelan yang langsung gadis itu tutupi dengan kedua tangannya, kadang juga terdengar suara tertawa pelan diikuti tawa dari ketiga orang pria yang mengelilinginya. Hingga tanpa disadarinya, sebuah garis tipis membentuk lengkungan tercetak dibibirnya sebelum terhapus kembali saat tanpa sengaja pandangannya bertemu dengan gadis itu yang menatapnya datar.


“Aneh, apakah aku pernah melihatnya? Sepertinya tidak asing” gumam Felix yang masih dapat terdengar Kaisar Andreas meskipun samar yang langsung menoleh ke arahnya penuh dengan tanda tanya di otaknya.


“Putra Mahkota” panggil Kaisar Andreas, membuat pikiran Felix terpusat kembali.


“Ya, Yang Mulia” sahut Felix formal.


“Apakah kau tidak ada berminat untuk turun dan mengajak dansa para putri maupun nona bangsawan disana?” tanya Kaisar Andreas seraya menunjuk ke beberapa gadis yang diam-diam memperhatikan Felix sedari tadi.


Sontak karena perkataan Kaisar Andreas, membuat gadis-gadis yang sedari tadi memperhatikan Felix diam-diam menjadi salah tingkah. Bahkan beberapa diantara mereka ada yang berlari keluar aula karena malu, ada yang menutupi wajahnya yang seperti kepiting rebus dengan kipas, ada pula yang langsung pura-pura kembali mengobrol membangun relasi dengan wajah palsu mereka.


“Tidak. Lagi pula acara pesta dansa resmi ku belum waktunya” sahut Felix dingin.


Mendengar ucapan anaknya itu, Kaisar Andreas hanya bisa sedikit menggelengkan kepalanya pasrah. Terkadang ia lelah melihat sifat anaknya itu, enah dari mana Felix mendapatkan sifat kaku seperti balok itu. Bahkan dirinya yang seorang Kaisar tidak pernah bersikap terlalu kaku seperti itu. Begitupun dengan ibunya yang merupakan permaisuri kekaisaran, Permaisuri Rova.


Jika terus seperti itu, entah akan seperti apa masa depan Kekaisaran Visilion? Apakah nantinya keluarganya itu akan sulit mendapatkan penerus? Terlebih hanya Felix yang memiliki sifat seperti seorang pemimpin, sedangkan adiknya Orlando. Ah dia terlalu sering bermain dan tidak berminat dengan perebutan tahta. Berbeda dengan saudara mereka yang telah meninggal karena terbunuh saat perang besar 4 tahun lalu yang juga ikut menghilangkan putri tunggal dari Selir Anne.


Felix tanpa sadar berdiri dari kursi yang sedari tadi ia duduki membuat semua pasang mata seketika tertuju padanya dengan wajah terkejut dan takut, begitupun dengan Kaisar Andreas yang menatap anak laki-lakinya itu dengan wajah terkejut sekaligus bingung.


Perlahan, Felix turun dari singgasanya melewati beberapa orang dengan masih mempertahankan wajah dingin datarnya. Sesekali suara sapaan terdengar di tenginya yang sama sekali tidak ingin ia jawab. Matanya masih tertuju pada sosok gadis yang kini juga menatapnya dengan wajah yang sulit diartikan. Bahkan di wajahnya tidak terdapat ketakutan dan kekaguman seperti orang lain.


“Salam Raja Alexander” ucapnya menghampiri Raja Alexander dan ketiga anaknya yang kini menampilkan wajah terkejut kecuali satu orang, anak gadis yang berada tepat disamping Raja Alexander.


⚜⚜


Nachella POV


“APA!” pekikku tanpa sadar, dengan cepat aku menutup mulut dengan kedua tangan atau bisa rusak semua reputasi yang selama ini sudah ku buat dan kupertahankan.


Bukankah pertemuanku dengan Felix masih 7 tahun lagi, saat debutanteku? Apa alurnya berubah?, pikirku yang merasa aneh dengan perubahan jalan cerita yang tiba-tiba.


Aku mengedarkan pandangan hingga mataku terjatuh pada sesosok pria yang tidak perlah kuharapkan pertemuannya. Dan sialnya tatapanku kini bertemu dengan mata tajam berwarna merah miliknya yang nampak berkilat mengeluarkan laser, abaikan hiperbolaku.


Ya harus ku akui, pria itu tidaknya jelek dan tentunya masuk ke daftar standar priaku di dunia ini yang terlampau sempurna. Wajah tegas, hidung mancung, rahang runcing yang sempurna dibalut kulit putih pucat miliknya. Matanya yang berwarna semerah darah, dengan bibir bervolume berwarna pink. Terlihat sekali jika pria itu rajin merawat kulit wajahnya. Jika saja pria itu hidup dijamanku, mungkin ia akan menjadi korban utama wanita tukang halu sepertiku atau bisa jadi ia akan dijadikan patung hidup-hidup oleh psikopat yang lalu memajangnya di etalase.

__ADS_1


Stop, kenapa otakku jadi terkontaminasi seperti ini?, batinku menjerit.


“Nachella kau tahu, aku rasa Putra Mahkota itu tidak menyukai wanita” ucap Alaskar yang langsung mendapat tinjuan di lengannya.


Aku yang mendengar hal itu sedikit tersentak, sebelum tertawa karena pemikiran kakak tampanku itu yang sepertinya cukup mendasar. Terlebih memang pria itu nampak selalu menampilkan wajah datarnya meskipun banyak gadis cantik di sekelilingnya yang mengharapkan perhatiannya. Namun aku sedikit kasihat pada kakak keduaku itu yang langsung mendapat tinjuan di lengan kirinya dari orang disampingnya.


“Hai, kau tahukan siapa yang kau bicarakan itu? Dia keluarga kekaisaran yang sama saja dengan kau mencari mati. Jika kau ingin mati, maka matilah sendiri jangan ajak aku, ayah, apalagi Nachella” ucap Leon memperingati dengan pedang yang telah siap ia tarik.


Ya, orang yang meninju Alaskar adalah Leon. Sedangkan Alexander, dia hanya diam tidak berniat ikut campur, menghindari hal-hal buruk yang tentunya bisa saja terjadi. Berbeda denganku yang sudah kaget karena Leon yang sudah siap dengan pedang yang siap ia layangkan ke leher Alaskar.


“Ayah, kau tidak menghentikan kakak?” tanyaku khawatir.


“Biarkan saja jika memang mereka mau mati, jangan melarangnya Chella. Istana akan lebih luas dan tenang jika kedua orang itu mati” ucap Alexander dengan wajah datarnya.


Gila, mereka gila. Fix! Aku salah mengenal orang, pikirku merutuki sifat ketiga orang di dekatku itu yang tidak jauh berbeda.


“Kak, hentikan atau aku akan marah karena kakak telah merusak acaraku” ucapku memegang lengan baju Leon.


Leon segera menoleh kearahnya, sembari tersenyum lebar menampilkan deretan giginya seperti orang idiot dengan wajah yang terlihat tidak bersalah.


“Padahal aku hendak menjadikan kepalanya sebagai kado untukmu!” ucap Leon segera memasukkan kembali pedangnya.


Serah, aku lelah, batinku sudah tidak kuat lagi.


“Nachella, kau tahu ayah jarang sekali bersama denganmu. Tapi sekarang kamu sudah besar” ucap Alexander yang terlihat sedih sekaligus menutupi kejadian Leon dan Alaskar tadi yang sempat menjadi pusat perhatian.


“Lalu, apakah Nachella harus kecil kembali, ayah?” tanyaku wajah yang dibuat polos.


Dapat kulihat dari jauh jika Felix turun dari singgananya menghampiri ke arah kami dengan wajah penuh selidik ke arah, ku? Langkahnya semakin dekat, hingga tatapan kami kembali bertemu. Dapat kurasakan hawa panas yang menjalar seiring semakin dekatnya Felix.


Aku tidaklah terkejut dengan salam yang diberikannya, karena memang sedari tadi aku tahu jika pria itu memang berniat menghampiri kami. Berbeda dengan ayah dan kedua kakakku yang langsung membalikkan badan sembari membungkuk 90 derajat yang juga diikuti olehku.


“Salam Yang Mulia Putra Mahkota Kekaisaran, semoga Dewi Anocia melindungi Anda” ucap kami berempat.


“Terima kasih, berdirilah!” perintah Felix.


Buru-buru aku kembali ke posisi tegak yang di dahului Alexander. Cukup lama aku, ayah, kedua kakakku dan tamu tak diundang ini berdiam diri. Rasanya semut-semut dikakiku siap menjalar, terlebih saat ini kakiku sedang dibalut sepatu hak tinggi yang tentunya sangat menyakitkan. Hawa disini juga terkesan dingin dan mencekam, seolah lilin-lilin dan cahaya lampu tidak dapat menghantarkan hawa panas.


Aku merasa bosan, ingin sekai kurutuki pria bernama Felix itu. Andai saja tadi aku boleh membawa Vio ke sini, pasti dia akan ku ajak berbicara. Mataku kembali mengedar, mendapati jejeran makanan yang tersusun rapi diatas meja di pinggir aula. Berniat untuk mengambilnya, namun kembali ku urungkan saat mendengar suara dingin acuh tah acuh memanggil namaku.


“Putri Nachella”


Aku mengedarkan pandangan, mendapati Felix yang tengah tersenyum tipis.


Tunggu, sepertinya mataku katarak. Tidak mungkin si gunung es itu tersenyum, ucapku dalam hati sembari mengucek kedua mataku.


“Ya, Yang Mulia”


“Maukah anda berdansa dengan saya?” tanya Felix, membungkuk dengan tangan kiri yang ia lipat ke belakang sedangkan tangan kanannya yang ia ulurkan ke depan.


What the hell?, rutukku dalam hati.

__ADS_1


Aku memang selalu mengharapkan kejadian seperti ini, namun aku tidak menyangka jika pria itu adalah Felix si gunung es yang hanya karakter naskah yang kubuat.


Aku mengedarkan pandangan, melihat semua pasang mata yang tengah tertuju pada keluarku terutama padaku dan Felix dengan tangan yang masih menganggur belum ku terima uluran tangannya itu. Mataku kini beralih ke arah Alexander dan kedua kakakku yang tengah membuka lebar kedua wajahnya dengan wajah terkejut.


“Putri, apakah anda menolak saya?” tanya Felis dengan suara tegas layaknya peringatan bahwa ia tidak menerima penolakan.


Ya, saya menolak anda! Anda bahkan tidak lebih tampan daripada kedua kakakku ini. Jadi, pergilah menjauh dariku!, teriakku dalam hati.


“Tidak, Yang Mulia. Sebuah kehormatan bagi saya dapat berdansa dengan anda” ucapku yang tentunya sangat berlainan dengan isi hatiku. Bisa bahaya jika aku mengucapkan isi hatiku yang sebenarnya.


Mana, mana tempat sampah? Aku ingin muntah, ucapku dalam hati. Sebelum menerima uluran tangan Felix yang sudah mulai lapuk itu.


Nachella POV END


⚜⚜


Author POV


“Maukah anda berdansa dengan saya?” tanya seseorang dengan suara serak.


Seketika semua mata tertuju pada sumber suara yang kini menampilkan seorang gadis yang tengah diberikan uluran tangan pria paling berpengaruh nomor dua di Kekaisaran Visilion, Felix. Begitupun dengan Raja Alexander dan kedua anak laki-lakinya yang langsung membulatkan matanya dan menajamkan pendengarannya. Seolah pendengarannya itu salah, mereka mengerjap beberapa kali memastikannya namun hasilnya tetap sama. Disisi lain Kaisar Andreas tengah tersenyum simpul. Ada suatu kebanggaan tersendiri di hatinya saat melihat Felix yang mulai tertarik pada lawan jenis. Terlebih gadis itu sangat cantik dan imut.


“Putri, apakah anda menolak saya?” tanya Felix lagi dengan nada penuh peringatan.


Terlihat beberapa orang yang mulai mengernyit sekaligus ngeri menunggu jawaban gadis yang tidak lain adalah sang tokoh utama acara tersebut. Dialah Nachella yang memang sedari tadi menjadi pusat perhatian dan lebih diperparah saat datangnya Felix.


“Tidak, Yang Mulia. Sebuah kehormatan bagi saya dapat berdansa dengan Anda” ucap Nachella yang terlihat setengah hati menerima uluran tangan pria dihadapannya meskipun senyum manisnya terpatri di wajah cantiknya.


Terdengar, banyak helaan napas lega yang seolah sedari tadi telah dikunci kecara paksa oleh seseorang. Semua pasang mata tertuju pada dua sejoli yang mulai melangkahkan kakinya menuju pusat aula, menggerakkan tubuhnya mengikuti irama musik dansa yang mengalun indah. Sesekali mereka berdecak kagum terhadap keduanya yang terlihat sangat serasi, yang satu cantik dan yang satunya lagi tampan, bahkan keduanya sama-sama memiliki kedudukan tinggi di kekaisaran ini.


Disisi lain, Kaisar Andreas tidak henti-hentinya memuji anak sulungnya itu yang tidak pernah gagal dalam melakukan apapun. Sama halnya dengan saat ini, anaknya itu Felix bahkan mampu menemukan gadis cantik yang seolah bersinar terang di bandingkan gadis lain seusianya. Meskipun dirinya juga tahu jika gadis itu adalah putri tunggal Raja Alexander, Putri Nachella.


Berbeda dengan Kaisar Andreas, Raja Alexander justru berkali-kali merutuki kejadian tersebut. Dirinya tidak rela anak gadisnya itu berdansa dengan pria lain, meskipun pada dasarnya pria itu adalah seorang pangeran mahkota. Tetap saja ia merasa iri, bagaimana bisa dirinya yang seorang ayah bahkan belum berdansa dengan anaknya sendiri yang justru dikalahkan orang asing. Begitupun dengan kedua pria tampan Courlage bersaudara yang memiliki pemikiran tidak jauh berbeda dengan ayahnya.


“Putri, apakah anda pernah bertemu saya?” tanya Felix dengan suara sangat pelan mirip seperti bisikan.


Nachella yang mendengar hal itu mengerjapkan matanya beberapa kali berusaha mengingat setiap kejadian yang ia alami, tempat yang ia datangi, dan siapa saja yang ia temui. Namun hasilnya nihil, tidak ada satu pun yang berkaitan dengan Felix.


“Menjawab Yang Mulia, saya rasa saya belum pernah bertemu dengan anda dan ini adalah pertemuan perdana” sahut Nachella yang masih fokus pada gerakan dansanya.


“Benarkah? Namun mengapa kau nampak tidak asing bagiku?” tanya Felix memastikan.


“Ya, Yang Mulia. Ini pertama kali saya bertemu dengan anda. Mungkin anda hanya pernah bertemu dengan seseorang yang mirip dengan saya karena muka saya yang pasaran” ucap Nachella sopan meskipun dalam hati ia terus merutuki pria di depannya yang terus mengganggu konsentrasinya.


Felix mengangguk pelan tanpa ada niat kembali bertanya atau menjawab ucapan Nachella. Mereka kini kembali fokus pada gerakan dansanya, cukup lama mereka melakukan gerakan memutar yang di akhiri dengan tangan ke depan saat alunan musik berhenti. Mereka kembali ke tempat masing-masing yakni Felix ke singgasananya sedangkan Nachella menemui ayah dan kedua kakaknya dengan masih menjadi pusat perhatian.


Disisi lain, di tempat gelap, seorang gadis muda nampak tersenyum tipis ke arah Nachella yang tengah kembali tersenyum karena candaan kedua kakaknya. Giginya bergemelatuk, tangannya terkepal dengan tatapan tajam menyalang yang ia arahkan pada Nachella.


“Permainan akan dimulai” ucapnya lalu melenggang pergi meninggalkan aula tersebut.


Author POV END

__ADS_1


⚜⚜


END


__ADS_2