
saya selaku author meminta maaf kepada pwmbaca sekilian, karena jarang update. beberapa minggu ini author sedang disibukkan dengan praktik dan ujian dari kampus. jadi jarang ada waktu buat lanjutin cerita ini.
sekali lagi saya meminta maaf kepada semuanya yang sudah selalu setia dan mendukung cerita iniπππ
****
Nachella POV
"Bahasa Inggris, Putri" ucap Frigid sembari memamerkan deretan gigi putihnya yang menyilaukan mata.
"Apa?" Tanyaku yang tidak bisa menutupi keterkejutanku.
Bahasa Inggris? Membayangkannya saja aku tidak pernah. Ku kira bakalan bahasa lain, kalo Bahasa Inggris mah buat apa? Debat sekarang juga ayo!, ucapku dalam hati.
Di duniaku dulu, aku memang sudah lancar berbahasa inggris. Bahkan aku pernah mendapat tawaran beasiswa di luar negeri yang langsung ku tolak. Bukan tanpa sebab, melainkan karena biaya hidup disana yang terlalu besar. Meskipun beasiswa, tapi tetap saja untuk kebutuhan sehari-hari membutuhkan uang ku sendiri. Jadilah aku tetap di dalam negeri.
"Ada apa, Putri Nachella? Apakah kau menyesalinya sekarang?" Tanya Felix dengan nada mengejek.
Berisik, bisa diem gak!, omelku dalam hati.
"Tentu tidak, Putra Mahkota. Saya justru telah lancar menggunakan Bahasa Inggris. Jadi untuk apa saya menyesal? Hoho, anda bercanda" ucapku dengan sedikit tertawa yang tentu berlainan dengan isi hatiku yang meminta untuk mencakar Felix hingga tulangnya terlihat.
"Apakah anda serius, Putri?" Tanya Frigid yang menampilkan raut terkejutnya begitu pun dengan siswa lain yang ku lihat satu persatu.
"Tentu saja. Jika kalian tidak percaya panggilkan gurunya aku akan perkenalkan diriku sendiri" ucapku penuh percaya diri.
Tak lama Frigid kembali ke dalam aula sembari membawa seorang wanita usia 20an bersamanya setelah tadi pamit undur diri meninggalkanku dan para siswa lain.
"Hello, Miss. My name is Nachella Naiderfold Courlage, the daugher of King Alexander and Queen Lauryl. Nice to meet you" ucapku sembari melambaikan tangan.
Kulihat semua yang berada disini terperangah mendengar ucapanku yang menggunakan bahasa inggris yang masih sangat dasar. Bahkan aku mempelajarinya saat masih SD.
"Wow, so fantastic!"
"Thank you, Miss"
"Baik, kita lanjutkan ke sesi selanjutnya yaitu mengetahui tingkatan sihir yang kalian miliki, di mulai dari para pemenang terlebih dahulu. Silahkan Nona Xelophen" ucap Frigid.
Tak lama Sandalina maju, meninggalkanku sendiri di barisan terdepan dengan masih menjadi pusat perhatian.
Ada apa sih? Apa bajuku sobek?, tanyaku dalam hati.
Pikiranku tertuju pada tatapan para murid itu hingga aku tidak menyadari jika Sandalina sudah turun dari aksinya menunjukkan kekuatan pada bola sihir dengan pakaian yang telah berubah menjadi abu.
"Putri Nachella, silahkan" ucap Frigid membuatku mau tidak mau maju menghampiri bola sihir yang nampak bersinar.
Aku perlahan menyentuh bola sihir itu yang seketika kurasakan hawa dingin yang menjalar dari tangan hingga punggungku.
Perasaan apa ini?, pikirku dalam hati.
Tak lama, sebuah cahaya biru bersinar terang bersamaan dengan lampu aula akademi yang padamdan tergantikan dengan cahaya yang ku timbulkan. Cahaya itu perlahan berubah menjadi bulir-bulir air yang jatuh membasahi siapa saja yang berada di aula itu.
Tatapanku mengedar, hingga aku menemukan sebuah pohon yang perlahan tumbuh dan berkembang dengan cepat tepat di samping kananku berdiri. Pohon yang sangan rimbun dengan bunga plum yang merekah dan berguguran. Sedangkan di bagian lain pohon itu terbentuk sebuah ayunan dengan akar pohon sebagai gagang dan pijakannya.
__ADS_1
Kini, suasana berubah menjadi dingin, seolah sebentar lagi badai akan turun. Dan seperti dugaanku, tak lama angin bertiup kencang, bersamaan dengan munculnya badai petir yang tentunya tidak dapat melukai para murid akademi. Petir itu seperti sedang mengincar sesuatu, berkilat mengenai apapun yang di lewatinya.
Mataku kembali mengedar, mencari tahu reaksi para siswa begitu pun dengan reaksi Felix, Guru Frigid, Kak Aryna, Kak Vio, dan Katterina. Kulihat mereka semua terperangah sekaligus berdecak kagum melihat efek sihir yang kumiliki. Jujur saja, aku pun terkejut mengetahui sihirku bisa digunakan untuk membuat sesuatu yang indah seperti ini.
Air hujan yang semula membasahi dan terpencar kini berkumpul menjadi satu, membentuk aliran air memanjang layaknya sungai sebelum akhirnya membeku yang sangat terlihat mirip dengan permadani yang terbuat dari es.
Perlahan, aku mengangkat kembali tanganku yang secara perlahan pula menghilangkan efek sihir yang ku ciptakan. Hingga tak lama tubuhku bersinar dan melayang di udara. Mataku terpejam merasakan hawa hangat yang menjalar, hingga akhirnya aku kembali menginjak lantai aula bersamaan dengan mataku yang terbuka perlahan menatap kr arah Guru Frigid, Kak Vio, dan Kak Aryna yang sekarang menampilkan raut terkejut.
Ada apa?, heranku.
"Putri Nachella, a.. anda berada di tingkat 5" ucap Guru Frigid yang membuatku tersedar air liurku sendiri.
Aku melihat kearah seragam yang ku kenakan, dan benar saja yang semula berwarna hitam kini sudah berganti biru. Bahkan seragam ini tidak cocok disebut seragam, karena memang modelnya yang terlihat sangat cocok untuk pesta.
Bayangkan saja seragam ini berupa dress wrap berwarna biru, dengan panjang semata kaki. Luarnya dibalut cout warna putih dengan sepatu warna senada.
Wow! Ini bahkan lebih bagus dari baju pesta di duniaku dulu, ucapku dalam hati.
Tak lama, terdengar suara tepuk tangan yang sangat riuh dari arah bangku penonton, maksudku dari arah pada murid berdiri. Kulihat beberapa diantara mereka menatapku memuja seolah tidak mempercayai ucapan yang telah masuk ketelinga mereka, ada yang menatapku iri, dan ada pula yang menatapku penuh dengan kebencian. Kita sebut saja Katterina yang saat ini sedang memberikan tatapan tajam layaknya pedang.
Beberapa ada pula yang berbisik, namun tidak ku perhatikan. Semua fokusku tertuju pada satu orang yang menatapku lurus tanpa sedikit pun ekspresi di wajahnya.
Nachella END POV
ββ
Author POV
"Ugh, siapa ini? Hebat sekali" ucap Aryna sembari mencubit kedua pipi Nachella.
Nachella menggeleng pelan, berharap cubitan itu segera lepas dari kedua pipinya. Namun bukannya lepas, cubitan itu justru semakin kencang hingga menimbulkan rasa nyeri di pipinya.
"AUW, kak. Sakit tau" ucap Nachella sembari menghempas pelan tangan Aryna.
Bibirnya ia kerucutkan beberapa centi ke depan hingga membuat Vio, Aryna dan beberapa orang yang berada disekitarnya menjadi gemas melihat tingkahnya.
"Kak, ayo maju. Aku ingin tahu kakak tingkat berapa. Secara kedua kakakku ini kan sama-sama hebat" ucap Nachella, mendorong tubuh Aryna dan Vio ke depan.
"Putri Nachella, mohon maaf tapi hanya satu orang yang bisa maju. Tidak bisa langsung dua orang" ucap Sean sembari menahan tawanya.
"Ya, aku tau. Tapi aku ingin Kak Aryna dan Kak Vio maju bergantian. Setelah itu terserah siapa yang akan maju berikutnya" ucap Nachella sembari membuang muka.
"Hei, kau tidak bisa seperti itu!" protes Katterina.
"Kenapa? Bilang saja kau syirik. Percayalah syirik itu tanda tidak mampu" sahut Nachella sembari memeletkan lidahnya.
"Kak majulah sebelum dia menggigit" lanjutnya.
"KAU!"
ββ
Di lain tempat, semua orang sedang sibuk bolak balik. Ada yang membawa tumpukan gulungan kain, guci, peti perhiasan, dan yang lainnya. Semua itu tidak luput dari perhatian seorang pria parubaya dengan wajah tampan penuh kharismanya.
__ADS_1
Matanya menatap lurus ke arah orang-orang tadi dengan seulas senyum yang terukir tipis di wajahnya.
"Ayah, apa ayah sudah membeli hadiah untuk Chella?" Tanya seorang pria muda yang datang dengan tumpukan buku di tangannya.
Buku-buku itu berisi daftar keinginan wanita setelah menempuh perjalanan panjang.
"Tentu saja, sudah. Aku kali ini pasti akan mengalahkan kalian" ucap Alexander pada anak tertuanya itu, Leon.
Kepalanya mengadah ke atas, membayangkan hadiah yang akan di berikannya pada satu-satunya putri kerajaan yang sangat dicintainya.
ββ
Di sudut lain istana.
Terlihat dua orang wanita dengan gaun trapless yang melekat di tubuhnya. Mereka berjalan menyusuri taman istana yang telah di penuhi kain berwarna krem yang menggantung kesana kemari, memenuhi sudut taman. Tak jauh dari keduanya, terlihat beberapa orang yang tengah sibuk membersihkan taman dengan sapu yang melekat di tangannya.
"Siapa kalian?" Tanya seorang pria berseragam ksatria dengan pedang di pinggangnya.
Kedua wanita itu saling berpandangan sebelum akhirnya tersenyum menatap pria yang mereka yakini orang baru di istana tersebut atau mungkin pria itu memang tidak mengenali perubahan keduanya.
"Aku? Aku penyusup dan aku ingin bertemu dengan raja kalian!" Ucap salah seorang wanita dengan tangan berkacak pinggang.
ββ
"LAPOR YANG MULIA" ucap seorang ksatria berlari menghampiri seorang pria dengan seragam kebesaran yang melekat di tubuhnya.
"Ada apa?"
"Ada penyusup, Yang Mulia"
"Panggil Leon dan Alaskar kesini, kemudian seret orang itu. Biar aku yang akan menghukumnya"
Ya benar, pria yang di panggil Yang Mulia itu adalah Alexander yang tengah bersantai di singgasananya menunggu kabar terbaru dari putri tercinta yang sangat ia rindukan. Namun kabar tentang adanya penyusup membuat suasana hatinya memburuk. Padahal ia ingin tetap tersenyum hari ini, namun hal itu sepertinya akan gagal.
"Salam, Yang Mulia. Ada apa memanggil kita kesini?" Tanya Leon yang datang bersamaan dengan Alaskar.
Keduanya nampak terkejut akan panggilan yang diberikan ayahnya itu, terlebih mereka sedang sibuk mempersiapkan deretan hadiah yang telah mereka siapkan sejak sebulan yang lalu untuk adik mereka, siapa lagi jika bukan Nachella.
Bruk!
Terdengar suara keras menghantam lantai, bersamaan dengan bersimpuhnya dua orang wanita dengan tangan yang terikat menghadap ke arah Alexander. Salah seorang diantara mereka tersenyum tipis, membentuk ceruk tipis di kedua sudut pipi putih mulusnya.
"Beginikah cara kalian menyambutku?" Tanya wanita itu sembari tetap menunduk menatap lantai marmer hitam istana.
"Kau!"
"Hai Ayah, Kak Leon, Kak Alaskar, aku pulang"
"NACHELLA?"
ββ
TBC
__ADS_1