The Bloom At Royal Harem

The Bloom At Royal Harem
22. Hari Yang Melelahkan


__ADS_3

Nachella POV


"Hai Ayah, Kak Leon, Kak Alaskar, aku pulang?" Ucapku yang masih tetap mempertahankan senyum terbaik dengan mulut yang terbuka lebar menampilkan gigi putihku yang menyilaukan mata. Biarkan saja, aku ingin menyombongkan diri dulu.


Aku lihat ketiganya terkejut, bahkan rahang ayah tampanku itu sepertinya akan copot saking terkejutnya melihat kehadiranku.


Memang apa salahku? Mengapa mereka sangat kaget?, pikir ku dalam hati.


"Hei, kalian tidak akan menyambutku dengan pelukan hangat, gitu? Padahal aku pergi sudah cukup lama tapi sepertinya kalian tidak merindukanku. Ugh.." ucapku dengan nada merajuk dan bibir yang ku kerucutkan beberapa senti ke depan.


"Kak Vio, ayo kita kembali ke akademi saja. Mereka mengabaikanku" ucapku yang langsung menggandeng tangan Kak Vio hendak melangkah pergi meninggalkan aula persidangan istana.


Benar, tempat yang saat ini aku datangi adalah aula persidangan. Dimana di tempat inilah para terdakwa dengan berbagai kasus akan diadili sesuai dengan perbuatan mereka. Begitu pula aku dan Kak Vio yang di seret kesini karena tadi aku telah berbohong bahwa aku adalah penyusup guna memberikan kejutan untuk ayah, Kak Leon, dan Kak Alaskar. Namun kejadian ini duluar dugaanku, mereka justru menatapku terkejut tanpa melakukan hal lain layaknya patung manusia.


"NACHELLA?"


Aku seketika menoleh kembali menatap ketiganya yang kini setengah berlari menghampiriku dan Kak Vio.


"Chella? Kau kah ini?" Tanya ayahku.


"Chella kau cepat sekali tumbuhnya? Dan kau juga cantik sama seperti ibu" ucap Kak Leon yang menatapku sendu.


"Hei, kenapa kau bisa setinggi ini? Ya meskipun kau tetap lebih pendek dariku?" Tanya Kak Alaskar yang membuat darahku sedikit memanas.


Entah kenapa setiap berurusan dengan orang ini selalu membuatku merasakan kesal. Mengapa kakak satu ku ini tidak mengerti situasi, sih? Kenapa dari sekian banyak pertanyaan, harus pertanyaan itu yang ia tanyakan?


Lihatlah ayah dan Kak Leon, keduanya menatapku sendu dengan wajah yang menyiratkan kerinduan mendalam. Dapat kulihat binar kebahagian diwajah mereka yang sangat berbeda dengan Kak Alaskar yang menatapku dengan raut mengejek seolah hendak mengajak perang.


"Hai, kakak tampan kedua. Lapangan luas noh" ucapku sembari menunjuk kearah lapangan yang tengah dibersihkan para pelayan.


"Apa kau hendak piknik? Maaf adikku, aku sibuk"


Tuhan, bisakah kau turunkan petir untuknya? Aku ingin mengutuknya sebentar, rutukku dalam hati.


Aku tersenyum tipis menahan kekesalan yang sudah kian memuncak sampai ubun-ubunku.


"Kak, aku rasa kita akan duel hari ini juga"


"Oh, maaf adik. Kakak tampanmu ini sibuk" ucap Kak Alaskar yang langsung berlari kencang meninggalkan aula persidangan.


"KAKAK!!" Teriakku yang langsung mengejar Kak Alaskar dengan sebuah kepalan yang melekat di kedua tanganku, tidak peduli dengan teriakan ayah yang memanggil namaku.


Nachella END POV


⚜⚜


Author POV


"Yang Mulia Kaisar, Yang Mulia Permaisuri, Putra Mahkota telah kembali" ucap seorang ksatria dengan wajah berbinar menghadap sepasang suami istri yang duduk berdambingan di gazebo taman.


Wajah wanita yang di panggil permaisuri itu pun seketika berbinar, raut bahagia muncul dari paras cantiknya yang meskipun telah berumur namun tetap terlihat rupawan, dia Rovalatus Laviri Eiderlands. Ibu dari Felix dan Orlando sekaligus permaisuri Kekaisaran Visilion.


Perlahan, wanita itu berdiri tak kala melihat seorang pria berjas putih berjalan menghampirinya dan memberi salam.


"Salam Yang Mulia Kaisar, Salam Yang Mulia Permaisuri" ucap pria itu yang membungkuk 90 derajat.


"Felix, apa yang kau lakukan? Sudah ibu katakan berkali-kali, jangan lakukan formalitas saat hanya kita bertiga saja" ucap Rova yang langsung membantu Felix berdiri.


"Dengarkan ucapan ibumu, Felix!" Perintah Andreas yang sudah lelah menasihati anak sulungnya itu.


"Baiklah" sahut Felix.


Sore ini, langit bersinar cerah menampilkan semburat jingganya dengan semilir angin yang bertiup lembut menyapu ranting pohon rindang di taman yang mereka tempati. Cukup lama mereka menikmati suasana santai, dengan sedikit bincang santai ditemani teh dan beberapa cemilan yang tersaji dihadapannya.


"Ah, ya, Yang Mulia. Karena Felix ada disini bagaimana jika kita membicarakan tentang calon putri mahkota?" Saran Rova.

__ADS_1


Uhukk!


Batuk Felix akibat tersedak karena mendengar ucapan ibunya itu. Wajahnya seketika menoleh, menampilkan ekspresi terkejut membuat Rova mengulum senyum tertahannya.


"Ada apa, Felix? Kau sudah cukup dewasa, bukan? Jadi wajar jika aku dan ayahmu ini sudah harus memikirkan calon pendampingmu kelak" ucap Rova.


"Ah, itu"


"Sudahlah, istriku. Liat wajahnya memerah karena malu. Jangan kau goda dia, lagi" lerai Andreas sembari menunjuk wajah anak sulungnya itu yang telah memerah. Namun dugaannya itu salah, wajah Felix memerah karena efek dari tersedak tadi bukan karena malu.


"Ya, terserah kalian saja" ucap Felix pasrah.


"Gwen, ambilkan aku lukisan para putri!" Perintah Rova.


Tak lama seorang wanita dengan pakaian pelayan datang menghadapnya, membawa banyak gulungan berisi lukisan dari putri-putri bangsawan. Baik dari dalam Kekaisaran Visilion maupun dari luar kekaisaran.


"Felix, bagaimana dengan Aryna Kaziofanny Vicomte? Ibu dengar dia adalah seorang putri mahkota dari Kerajaan Vicomte, memiliki paras yang cantik, berbakat dan juga elegan"


"Tidak"


"Yang Mulia, apakah menurut anda gadis ini cocok untuk putra kita?" Tanya Rova pada Andreas tanpa memperdulikan penolakan Felix yang kini telah membuang wajahnya kesembarang arah.


"Ya, dia tidak cocok. Gadis ini akan menderita berdampingan dengan pria kayu ini" ujar Andreas sembari menunjuk tubuh Felix dari kepala hingga kakinya.


"Ah, anda benar, Yang Mulia"


"Bagaimana dengan Lamantha Frebiollet Gramble, putri pertama Tuan Gramble pemilik pertambangan minyak bumi dari Kerajaan Monach? Wajahnya sangat imut dan ibu dengar dia adalah pribadi yang periang" tanya Rova dengan senyum merekah di wajahnya.


"Tidak"


Mendengar penolakan anaknya, tak urung menyurutkan semangat Rova dalam mencari calon pendamping anaknya itu. Di depannya telah tersusun rapi belasan gulungan lukisan yang telah ia buka. Ia menarik napasnya dalam-dalam sebelum menghembuskannya secara perlahan.


"Felix, bagaimana dengan Lavanera... dari..


"Felix....


"Felix...


"Felix..


"Felix, sampai kapan kamu akan menolak gadis-gadis yang ibumu ini sarankan?" Tanya Rova yang telah lelah memberikan saran pada Felix yang selalu memberikan jawaban sama pada semua yang ia berikan yaitu "tidak"


Sebenarnya ada apa dengan kata "tidak", pikir Rova yang masih tidak habis pikir dengan anaknya itu.


"Sampai ibu berhenti memberikan saran tidak masuk akal seperti itu" sahut Felix yang langsung berdiri dari posisinya, namun ia tidak langsung pergi melainkan berhenti mendengar ucapan ibunya yang telah murka mendengar ucapannya.


"KAU!"


"Ibu, aku hanya ingin menikahi wanita yang aku cintai. Wanita yang juga mencintaiku sama seperti aku mencintainya. Yang akan menemaniku disaat aku dalam keadaan sehat maupun saat terluka. Wanita yang mampu memberiku tawa dan semangat, mengubah sifatku yang dingin dan keras kepala ini. Aku ini wanita yang memiliki jiwa seperti kau, ibuku yang penuh kasih dan sayang" ucap Felix yang langsung melenggang pergi meninggalkan Rova dan Andreas yang tercengang mendengar ucapannya, sebelum akhirnya tersenyum menampilkan binar kebahagiaan.


"Kau pasti akan menemukannya, putraku. Pasti" ucap Andreas yang kemudian memeluk tubuh istrinya.


Tak lama seorang pria dengan pakaian ksatria menghampirinya.


"Salam Yang Mulia Kaisar, Salam Yang Mulia Permaisuri" salamnya membungkuk 90 derajat.


"Bangunlah! Ada apa?" Ucap Andreas yang langsung disanggupi ksatria tadi.


"Lapor Yang Mulia, Raja Alexander mengirimkan undangan jamuan dalam rangka menyambut pulangnya Putri Nachella dari akademi" ucap ksatria tadi.


"Hmm. Baiklah sampaikan salamku pada Raja Alexander jika aku, permaisuri, dan Felix akan datang menghadirinya" ucap Andreas yang seketika membuat ksatria tadi pamit undur diri untuk menyampaikan pesan.


"Suamiku, Raja Alexander apakah dia adalah pengendali petir itu?" Tanya Rova yang langsung diangguki Andreas.


"Benar, istriku. Tidak hanya itu, keturunannya juga terkenal akan kecerdasannya yang luar biasa. Karena semuanya bisa lulus akademi dalam kurun waktu yang singkat termasuk putri satu-satunya, Nachella" jelas Andreas.

__ADS_1


"Ah, seperti itu. Aku jadi tidak sabar ingin melihatnya" ucap Rova dengan senyum yang sulit dijelaskan


⚜⚜


BOOM


Sore ini merupakan sore terburuk dalam ingatan Nachella sejak jiwanya berpindah ke tubuh Nachella asli yang jiwa aslinya hilang entah kemana. Entahlah, ia tidak ingin menambah beban pikirannya. Terlalu banyak hal melelahkan yang terjadi padanya beberapa waktu ini.


Nachella pikir, setelah ke pulangannya dari akademi yang membuat otaknya harus berpikir ekstra maka dia biar bersantai melewati hari dengan rebahan di kasur dengan tubuh yang di balut selimut tabal. Namun nyatanya dugaannya itu salah, karena faktanya selalu saja ada hal yang mengganggu jam tidurnya. Contohnya saja kali ini, dimana tepat di depan kamarnya sedang ada tes kembang api untuk esok hari yang katanya akan diadakan jamuan khusus dalam rangka menyambut kepulangannya dari akademi.


"Oh, ayolah! Yang kubutuhkan bukanlah jamuan, melainkan jam tidurku" gerutu Nachella.


BRAK!


"Oh, Tuhan sehatkanlah jantungku dan jauhkanlah aku dari orang terkutuk ini" gumam Nachella.


Tak lama seorang pria masuk, membawa setumpuk kotak berwarna-warni dengan berbagai ukuran. Perlahan tapi pasti, pria itu berjalan menghampiri Nachella sebelum meletakkan tumpukan kotak tadi tepat di samping ranjang yang Nachella tempati.


"Ini semua adalah kado dariku dan pakailah itu besok" ucap Alaskar yang langsung melenggang pergi tanpa permisi.


Ya, orang itu adalah Alaskar. Kakak kedua Nachella yang sejak tadi membuat suhu kepala Nachella terus meningkat dan hendak meledak.


"Chella, aku lihat Kak Alaskar datang. Ada apa? Apa dia mengganggumu lagi?" Tanya Vio yang datang dengan raut kesal diwajahnya.


"Dia memberikanku itu" ucap Nachella sembari menunjuk ke tumpukan kotak dengan dagunya.


Seketika pandangan Vio mengikuti atah dagu Nachella. Hingga tatapannya terpaku pada tumpukan kotak yang kian menggunung hampir memenuhi setengah ranjang Nachella.


"Semuanya?"


"Hmm"


"Baiklah aku akan membantumu membukanya. Memang isinya apa?"


"Mana aku tau, kak. Katanya itu harus ku pakai besok" jelas Nachella yang langsung diangguki Vio.


Tak lama keduanya membuka satu per satu kotak yang diberikan Alaskar.


"Chella, gaun ini indah. Aku yakin ketika kau pakai ini pasti akan sangat cantik" ucap Vio.


Vio membuka sebuah kotak berukuran besar berwarna biru. Di dalamnya terdapat sebuah gaun gaya off shoulders berwarna biru yang terlihat sederhana namun terkesan elegan. Di bagian dada hingga pinggang menggunakan bludru, sedangkan untuk bagian bawahnya menggunakan kain satin yang dipadukan dengan tulle berwarna putih.


Cantik, satu kata yang melintas di benak Nachella saat membuka sebuah kotak berisi sepasang mahkota dan anting berwarna hitam dengan hiasan kristal yang dibalut bunga hibiscus.


"Chella, aku menemukan mahkota disini" ucap Vio sembari menunjukkan sebuah mahkota berwarna biru dengan sepasang kupu-kupu di sisi kanan dan kirinya.


"Cantik kak" puji Nachella.


"Eh tunggu, kak. Aku juga tadi menemukan mahkota. Jangan-jangan.." potong Nachella yang langsung membongkar semua kotak pemberian Alaskar seperti orang kesetanan.


Dan benar seperti dugaannya, kakak satunya ini memberikan barang dengan jenis sama yang lebih dari satu. Sedangkan barang itu harus di pakai di waktu yang bersamaan.


Mata Nachella kini tertuju pada deretan bajunya dengan 4 warna yang berbeda. Biru yang tadi di tunjukkan Vio, Ungu dengan model ballgown dengan motif rasi bintang, coklat dengan model A-Line yang simple dan elegan, dan silvel dengan model mermaid dengan motif bunga mawar dibagian belakang yang memanjang sampai dengan satu meter.


"Chella, jadi mana yang akan kau gunakan?" Tanya Vio.


"Semuanya"


"Apa?"


Author POV END


⚜⚜


TBC

__ADS_1


__ADS_2