The Bloom At Royal Harem

The Bloom At Royal Harem
5. Ikutlah Bersamaku, Oke!


__ADS_3

Nachella POV


Aku berjalan bolak-balik di dalam kamar, menciptakan ekor gaun berwarna ungu dengan ujung menyerupai bulu merak ikut berkibas kesana-kemari mengikuti langkahku. Entahlah pikiranku tidak baik saat ini, bahkan aku sendiri bingung apa penyebabnya. Aku sedikit gelisah dan takut akhir-akhir ini, bahkan dalam mimpi pun aku terasa tidak enak, seolah aku merasakan hal buruk akan terjadi dalam waktu dekat.


DUG


“AUW!!” ringisku saat tanpa sadar aku menabrak sesuatu yang cukup keras namun bukan tembok, karena aku tahu tembok di kamar ini letaknya masih sekitar 20 langkah dari posisi berdiriku saat ini.


Aku perlahan mendongak sembari melangkah sedikit menjauh dari tubuh seseorang, sebelum tangan orang yang tadi ia tabrak menarik lengannya, menahannya agar tetap berada di tempat yang sama.


“Ada apa denganmu, Chella?” ucap orang itu dengan suara serak yang terdengar khawatir.


“Apa kau ada masalah? Apa Alaskar mengganggumu?”


“YAK, KAU! Mana mungkin aku mengganggu adikku yang imut begini? Lebih baik aku mengganggu dirimu, dasar tukang menyalahkan orang!” tukas Alaskar dengan nada merajuk.


Aku tertawa pelan melihat interaksi kedua kakakku yang terlihat sangat lucu seperti kucing dan tikus dalam serial kartun anak-anak. Ya, mereka adalah Leon dan Alaskar. Sedangkan pria yang tadi di tabrakku itu adalah Leon yang berdiri sejajar dengan Alaskar saat menghampiriku.


“Yak, hentikan kalian! Kak Leon, Kak Alaskas mengapa kakak bisa kesini? Apakah latihan pedang yang di suruh ayah sudah kalian selesaikan?” tanyaku meneliti. Sejujurnya pertanyaan itu hanyalah pengalih perhatian agar mereka bisa diam dan tidak merusak gendang telingaku yang hampir seperti terkena bom atom. Hancur tak bersisa.


“Tentu saja. Kami menyelesaikannya lebih cepat karena ingin bertemu dengan adik kecil kami” ucap Alaskar yang langsung mengusap surai blonde milikku, begitupun dengan Leon yang seolah tidak mau kalah dengan adiknya itu.


“Itu benar, Chella. Terlebih kami sudah 2 minggu tidak menemuimu, menemanimu bermain atau sekedar menikmati musim semi di taman dan memetik apel” lanjuut Leon sembari mencubit pelan pangkal hidungku.


Aku sedikit memutar bola mata saat Leon mengucapkan kata ‘taman’. Jujur saja memangnya apa yang bisa aku nikmati di taman yang tandus dengan 3 pohon apel dan sebuah air mancur itu? Yang ada bukannya menikmati pemandangan, aku justru akan tertidur pulas karena terbawa buaian angin musim semi.


“Ugh, kakak tentu saja aku akan dengan senang hati memakan apel itu dan jika boleh jujur kak, mengapa taman itu hanya di tumbuhi 3 pohon apel? Kenapa tidak ada pohon lain seperti mangga, jeruk, dan jambu air atau bisa juga kakak menanaminya dengan beragam jenis tanaman hias serta berbagai jenis bunga. Agar taman itu terlihat lebih cantik dan hidup” ucapku semangat sembari membayangkan taman yang sudah di penuhi pohon buah dengan dikelilingi tanaman hias dan beragam jenis bunga.


Perlahan aku kembali ke kenyataan, dapat kulihat kedua kakakku yang menundukkan kepala. Aku menatap heran, apakah aku salah bicara? Ada apa dengan mereka? Heranku menatap kedua kakakku yang kaku di tempat di bergeming sedikit pun.


“Kak...


“Kak Leon..


“Kak...


“Kak Alaskar..


Panggilku sembari melambaikan kedua tangan di depan wajah mereka secara bergantian. Karena tidak sabar sekaligus heran, aku berinisiatif memukul behu mereka secara bergantian hingga keduanya tersadar dari lemunan dan langsung menatapku sayu.


“Ada apa, kak? Apa aku salah bicara? Maafkan aku”ucapku menunduk yang langsung di tangan dengan tangan kanan Leon menopang daguku agar tetap menatap wajahnya.


“Kau tidak salah, Chella. Hanya saja selama ini tamandan ketiga pohon itu adalah kesayangan ibu kami, Ratu Lauryl. Kami rasa tidak terlalu berhak untu mengubahnya hingga kami tidak sadar jika kau merasakan tidak nyaman berada di taman itu. Mungkin aku harus bilang kepada ayah, agartaman itu segera di renovasi agar kau menjadi nyaman berada disana” ucap Leon.


Aku sedikit tercengang mendengar ucapan Leon. Jujur saja aku tidak berniat mengatakan hal itu, bahkan tidak pernah terbesit dalam otakku untuk mengatakan bahwa aku tidak nyaman berada di taman yang rupanya kesayangan ibunya itu dan daoat ku simpulkan juga jika selama ini taman itu selalu dirawat oleh ibuku Lauryl.


Maafkan aku bu, pintaku dalam hati.


“Kak, maafkan aku. Aku tidak tahu jika taman itu, taman itu merupakan kesayangan itu. Aku hanya mengatakan mengapa taman itu begitu kosong, namun bukan berarti aku tidak nyaman berada disana. Aku sangat menyukai tempat itu, oleh karena itu aku ingin membuat taman itu menjadi lebih cantik” ucapku meluruskan agar tidak terjadi kesalahpahaman.


“Kakak mengerti, Nachella” sahut Leon.


Aku menghela napas pelan. Bagaimana cara menjelaskan kepada mereka jika aku sebenarnya tidak bermaksud seperti itu?


“Sudahlah kak, dia tidak bermaksud seperti itu, iya kan Nachella?” tanya Alaskar dengan senyum mengembang yang langsung ku balas anggukan kepala.


“Karena kita sudah disini, bagaimana jika kami menemanimu bermain? Kau ingin bermain apa?” lanjutnya.


Ah, benar juga. Kenapa sedari tadi aku tidak memikirkannya?, pikirku.


Sejenak aku diam tanpa memperdulikan kedua pria tampan yang masih setia menatap menunggu jawabanku. Namun tidak satupun ide permainan melintas di otakku. Hingga sebuah ketukan pintu membuyarkan lamunanku.


“Masuklah!” perintah Leon.


Tak lama seorang pria dengan pakaian pelayan memasuki ruangan dengan langkah perlahan sembari menundukkan kepalanya. Kemudian membungkuk memberi salam kepada kami bertiga.


“Salam Yang Mulia Putra Mahkota, Salam Pangeran Kedua, Salam Putri Nachella” salamnya.


“Berdirilah! Ada apa?”


“Mohon ampun Yang Mulia Putra Mahkota, Yang Mulia Raja meminta saya untuk memanggil anda dan Pangeran Kedua untuk ke ruangannya”

__ADS_1


“Lalu aku? Apa aku tidak di panggil?” tanyaku saat mendengar pelayan itu hanya menyebut Leon dan Alaskar.


“Mohon ampun, Putri. Yang Mulia Raja hanya memanggil para pangeran” sahutnya.


Aku membuang napas kasar, rasanya aku ingin sedikit marah pada ayah tampanku itu. Bagaimana bisa dia hanya memanggil Leon dan Alaskar, sedangkan aku? Aku hanya diam saja di istana tanpa melakukan apapun sampai rasanya aku ingin mati karena bosan.


“Ya, baiklah. Kakak silahkan menemui ayah, aku tidak ingin ayah memarahi kalian jika kalian datang terlambat” ucapku merajuk. Dapatku dengar sebuah helaan napas pasrah bersamaan dengan wajah Leon dan Alaskar yang menatapku sayu.


“Ada apa?” tanyaku heran.


“Maafkan kami, Chella. Kakak janji besok kakak akan menemanimu bermain” ucap Alaskar.


“Ya, kakak juga berjanji. Jaga dirimu beritahui kakak jika kamu butuh sesuatu pasti langsung kakak berikan” ucap Leon sembari mengusap surai blonde ku.


“Ya, aku mengerti. Sudah sana!” ucapku sembari mendorong tubuh kedua pria yang tingginya melebihi diriku hingga tubuh mereka terdorong keluar pintu kamar.


“Kakak, pergi ya. Sampai bertemu lagi” ucap Leon.


Sedangkan Alaskar, pria itu sudah melenggang pergi begitu saja tanpa melihat lagi ke arahku. Ya aku memakluminya, karena aku tahu jika pria itu lebih lama berada disini dia pasti tidak akan jadi menemui ayahku yang otomatis dia akan mendapat hukuman karena melanggar perintah raja. Masih mending jika hukumannya hanya menulis etika kesopanan 10 buku tebal, tapi kalo hukumannya lebih berat bagaimana? Seperti hukum cambuk, pukul rotan, atau lebih parahnya hukum penggal. Ugh, membayangkannya saja aku sudah tidak sanggup. Aku tidak akan membuat mereka di hukum oleh ayah karena diriku. Oleh karena itu aku langsung mengusir mereka.


“Tuan Putri, hamba mohon undur diri” ucap pelayan tadi sembari menundukkan badannya yang kubalas dengan anggukan kepala tanpa ada niat menjawab ucapannya.


Sepeninggal kakak dan pelayan tadi, jiwaku menjadi tidak tenang kembali. Ia bingung dengan apa yang terjadi.


Inikah efek dari bosan berkepanjangan? Tapi aku harus melakukan apa agar tidak bosan lagi? Sudah bagus tadi ada kedua kakak tampanku, eh malah terganggu oleh panggilan ayahku yang tidak kalah tampan, pikir Nachella.


Nachella POV END


⚜⚜


Author POV


Nachella berusaha mengingat serangkaian kegiatan yang biasa dilakukannya dulu saat menjadi Nachira untuk menghilangkan rasa bosan. Namun hasilnya nihil, tidak satupun terlintas di otaknya. Meskipun terlintas, namun hal itu tentu tidak ada di dunia ini seperti ponsel untuk bermain game atau televisi untuk menonton film. Hingga sebuah pemikiran terbesit tanpa aba-aba di otaknya.


Ia melangkah keluar kamar, diikuti para pelayang yang setia mengekorinya seperti anak ayam. Cukup lama baginya mengitari setiap lorong istana besar yang ia tempati, hingga dirinya kini berdiri tepat di depan sebuah pintu besar berwarna emas.


Nachella menarik napasnya dalam-dalam sebelum menghembuskannya secara perlahan. Kemudian ia menoleh ke samping kanannya yang sudah berdiri dengan tegap seorang pria dengan baju besi dan pedang di tangannya.


Penjaga itu sedikit tersenyum tipis, sembari menunduk memberi hormat.


“Baik Tuan Putri. Tunggu di sini sebentar, saya akan memberitahu Yang Mulia” ucap penjaga itu.


Namun belum smpat pria itu bergerak, kedua daun pintu berwarna emas secara perlahan terbuka menampilkan seorang pria dengan pakaian kebesarannya berwarna emas, dengan mantel merah dengan sedikit rantai berwarna emas yang terlampir di pundak kanannya. Wajahnya yang penuh kharisma perlahan menghampiri tubuh mungil Nachella diiringi senyum lebar yang menghiasi wajah tampannya.


Ugh, silaunya, batin Nachella saat melihat Alexander menampilkan gigi putihnya yang tersusun rapi.


“Ada apa, anakku? Tumben sekali kamu menemui ayahmu ini? Tanya Alexander mencubit pelan kedua pipi Nachella.


“Ayah, sakit:” adu Nachella sembari mengerucutkan bibirnya di barengi dengan digembungkannya kedua pipinya hingga semakin terlihat imut.


“Maafkan ayahmu ini. Lihatlah mereka tersenyum karena tingkahmu, ayah cemburu” ucap Alexander dengan kepala yang ia arahkan kejejeran pelayan yang sedari tadi mengekori Nachella.


Nachella ikut menoleh dan dapat ia lihat para pelayan yang semula tersenyum kini wajahnya kembali datar sembari menundukkan kepalanya lebih dalam.


“Ya, aku memang lucu ayah. Oh ya ayah, bolehkah aku ke pasar? Aku ingin membeli beberapa bibit tanaman hias, buku sihir, gaun, dan perhiasan menjuntai untuk rambutku?” tanya Nachella yang tersadar dengan tujuan awal ia mendatangi tempat tersebut.


Mendengar hal tersebut, Alexander tampak ragu untuk menjawab. Di satu sisi ia ingin sekali melarang kepergian putrinya itu, karena ia tahu jika dunia luar sangat berbahaya terutama bagi orang yang memiliki kekuasaan. Tapi di sisi lain, dia juga tidak ingin membuat putrinya itu merasa kecewa dan merasa jika dirinya terlalu mengekang.


Dengan berat hati, Alexander akhirnya menganggukkan kepala tanda menyetujui pertanyaan Nachella dengan senyum yang ia buat secara terpaksa.


“Baiklah, tapi kau harus membawa Nix, Adele, dan para mengawal lain. Jangan lupa kamu harus memakai kereta kuda agar kaki kamu tidak sakit, jangan pulang terlambat apalagi sampai larut malam. Mengerti?” ucap Alexander over protektif.


“Mengerti, ayah. Aku pergi dulu, terima kasih ayah! Aku sayang ayah” ucapnya sembari mencium kedua pipi Alexander secara bergantian sebelum akhirnya pergi dengan semangat.


“Nix, pergilah bersamanya!” perintah Alexander pada pria tadi yang hendak meminta izin padanya saat Nachella Datang.


“Baik, Yang Mulia” ucapnya membungkuk sebelum meninggalkan tempat tersebut.


Sepeninggal Nix, Alexander kembali masuk ke dalam ruangannya yang masih terdapat dua orang yang sedari tadi setia menunggu Alexander selesai menemui seseorang, orang itu adalah Leon dan Alaskar yang tadi sempat dipanggil Alexander saat mereka sedang menemui adik tercintanya, Nachella.


⚜⚜

__ADS_1


Nachella menatap sekelilingnya yang dipenuhi pohon-pohon menjulang tinggi dengan daun lebat di atasnya. Dirinya tengah berada di hutan perbatasan antara kerajaan dan permukiman penduduk.


Matanya terpatri pada seorang gadis dengan pakaian lusuh melekat di tubuhnya. Wajahnya tertutup sempurna oleh surai lurus panjang dengan ujung bergelombang berwarna silver. Sebuah warna rambu yang sangat jarang di dunianya itu, setelah rambutnya yang berwarna blonde.


“Nix, hentikan keretanya dan mulai dari sini kalian bisa memanggilku nona. Mengerti?” ucap Nachella.


Tak lama kereta kudanya berhenti, Nachella segera keluar yang langsung di sambut uluran tangan Nix untuk membantunya turun.


“Baik, Tuan Putri” ucap Nix yang langsung dapat pelototan Nachella.


“NONA!” tegas Nachella penuh penekanan.


Nix menarik napasnya perlahan. Ia sedikit ragu atas panggilan tersebut, karena ia akan di anggap tidak sopan terlebih gadis kecil itu adalah seorang Tuan Putri dari Raja di negeri ini. “Ba.. baik nona” ucapnya.


Nachella tersenyum tipis sebelum kembali melangkahkan kakinya berjalan lurus menghampiri gadis itu.


“Permisi” ucap Nachella.


Merasa terusik dengan kehadiran orang asing, secara perlahan gadis itu mendongak ke arah Nachella yang sedang tersenyum lebar menampilkan deretan gigi putihnya yang tersusun rapi.


Nachella terpaku di tempatnya saat melihat netra emas dengan tatapan sendu. Wajah gadis itu sangat cantik bahkan saat kulitnya tidak terawat dan tertutup debu.


“Tolong jauhi saya, nona. Saya sangat kotor” ucap gadis itu sembari menundukkan kembali kepalanya yang sempat terdongak untuk melihat penampilan Nachella yang menggunakan gaun sederhana yang tetap menampilkan sisi kebangsawanannya.


Melihat hal itu, Nachella semakin berjalan mendekat meskipun Nix dan Adele sempat melarangnya. Perlahan ia mulai berjongkok untuk menyamakan posisinya dengan gadisyang belum ia ketahui namanya itu.


“Hei, maukah kau ikut denganku?” Tanya Nachella.


Gadis itu kembali mendongak, kemudian menatap Nachella dan para pelayannya secara bergantian.


“Pelayan anda sudah banyak, nona. Saya tidak pantas menjadi pelayan anda, lihatlah saya sangat kotor” ucapnya sembari menatap tubuhnya sedniri.


“Siapa bilang aku akan menjadikanmu pelayan?”


“Lalu, apakah anda akan menjadikan saya sebagai budak?”


Ukhukk..


“Nona, anda tidak apa-apa?” khawatir Adele yang langsung di balas anggukan kepala.


Nachella tersedak air liurnya sendiri saat mendengar ucapan gadis itu yang nampak ragu.


“Tentu saja...


“Tidak! Aku akan menjadikanmu sahabatku. Bagaimana?” tawar Nachella dengan senyum yang semakin melebar menampilkan kedua lesung pipitnya yang terbentuk sempurna.


Sontak membuat para pelayan termasuk Adele dan Nix menajamkan pendengarnya dengan tatapan terkejut kaget. Begitupun dengan gadis itu yang terperangah tidak percaya dengan ucapan gadis kecil di hadapannya.


“An.. anda sangat lucu, nona” ucap gadis itu hingga tanpa sadar membuat kedua pipinya seketika merona.


Nachella yang melihat itu terkekeh pelan. Bahkan sesama wanita saja bisa seperti itu, dia merona dan terlihat salah tingkah.


“Maukah kau ikut bersamaku?” tanya Nachella lagi.


“Tapi, saya tidak pantas” ucap gadis itu dengan lesu.


“Kau pantas, sangat pantas. Bahkan jika ada yang berani menghinamu maka aku yang akan turun langsung” ucap Nachella dengan semangat berapi-api.


“Jadi, bagaimana?” tanya Nachella lagi yang kini langsung dibalas anggukan kepala.


“Terima kasih, nona. Saya akan selalu mengabdi kepada anda” ucapnya kemudian berdiri dan menunduk 90 derajat.


Nachella meraih bahu gadis itu, lalu membantunya berdiri tegak kembai hingga terlihatlah selisih tinggi keduanya yang cukup jauh, 20 centi.


“Jadi, siapa namamu?” tanya Nachella yang penasaran karena sedari tadi gadis di depannya itu belum juga memperkenalkan namanya.


“Vionarry Rosevelt Embrige”


Author POV END


⚜⚜

__ADS_1


TBC


__ADS_2