The Bloom At Royal Harem

The Bloom At Royal Harem
8. Yang Di Tunggu


__ADS_3

Suasana cerah pagi ini, dengan suara kicauan burung menyambut hari. Terlihat beberapa orang nampak sibuk bolak balik silih berganti sembari membawa beberapa barang serta kain untuk menghias tiap sudut istana. Meskipun lelah, mereka tidak mengeluh sedikit pun bahkan mereka nampak senang ketika mendapat kabar bahagia dari putri satu-satunya kediaman tersebut.


Selama 5 tahun ini, gadis itu selalu menolak permintaan ayahnya yang selalu meminta agar anaknya itu menggelar pesta ulang tahun layaknya bangsawan pada umunya, namun selalu saja beragam alasan dilontarkannya. Hingga sampailah saat yang dinantikan semua orang di kediaman tersebut. Sebuah pesta ulang tahun ke 10 yang akan di lakukan secara mendadak besok malam, bertepatan dengan munculnya bulan sabit untuk pertama kalinya selama sebulan.


Tidak peduli dengan kegaduhan diluar, seorang gadis dengan gaun tidur tipis berwarna putih masih saja terlelap dalam mimpi indahnya bersama gulungan selimut berbulu rubah di dalam sebuah ruangan ruangan besar yang masih tertutup rapat. Sesekali erangan kecil terdengar dari balik pintu yang dijaga 2 orang berbadan cukup besar.


Tak lama seorang wanita dan seorang gadis masuk kedalam ruangan tersebut, membuka beberapa tirai terbuka, membawanya meliuk-liuk karena hempasan angin dan cahaya yang menyelusup masuk ke dalam ruangan hingga mengenai tepat dibagian wajah gadis kecil itu yang langsung terbangun dari tidurnya karena merasa terusik. Ia sedikit mengerang, sebelum netra biru sejernih lautan dengan tatapan sayu perlahan terbuka menyesuaikan pencahayaan di sekitarnya. Tangannya ia rentangkan ke atas dengan sesekali menutup mulutnya yang masih menguap.


“Selamat pagi, Putri” ucap Vio dan Adele bersamaan.


“Selamat pagi, kak. Selamat pagi, Adele” sahut gadis itu yang tak lain adalah Nachella sang dalang utama kegaduhan pagi ini.


Nachella merangkak turun dari kasurnya yang langsung di ikuti Adele dan Vio.


“Tuan Putri, hamba mendapat perintah dari Yang Mulia Raja untuk memberitahu jika Putri di tunggu di ruang makan untuk sarapan pagi bersama Yang Mulia Raja dan para pangeran” ucap Adele.


Mendengar ucapan formal Adele, Nachella langsung menganggukkan kepalanya. Lain halnya dengan Vio yang sudah mulai terbiasa menggunakan bahasa akrab tanpa embel-embel kata Tuan. Ya meskipun sebenarnya Nachella sangat ingin jika Vio memanggilnya dengan namanya saja, namun apa boleh buat Vio juga sama-sama memiliki sifat keras kepala yang sama sepertinya.


“Baiklah. Kak, bisakah kau menyiapkan baju untukku?” ucap Nachella yang langsung di sanggupi Vio.


“Tuan Putri, saya akan menyiapkan air hangat untuk anda” ucap Adele yang langsung melenggang pergi setelah membungkukkan badan.


Sepeninggal keduanya, Nachella langsung tersenyum senang. Karena baginya sangat jarang bisa makan bersama terlebih lagi bersama ayahnya yang sangat ia tahu jika kesibukannya itu bisa mengguncangkan dunia. Oleh karena itu, ia begitu antusias saat mendengar undangan tersebut.


“Putri, airnya sudah siap” ucap Adele memasuki kamarnya.


Nachella melenggang pergi meninggalkannya, menghampiri Vio yang masih berkutat di dengan tumpukan gaun sebelum dirinya berjalan lurus masuk ke kamar mandi. Nachella sudah terbiasa mandi sendiri, meskipun hal itu terkadang masih menjadi keributan karena kata pelayan lain semua yang ia lakukan harus di layani oleh pelayan. Namun baginya hal pribadi seperti itu tidaklah perlu, terlebih dirinya harus dilayani oleh para pelayan yang lebih dari lima orang. Lebih tepatnya dia malu.


Setelah hampir setengah jam, Nachella keluar dari kamar mandi dengan setelannya. Sebuah gaun bouffont warna rose gold dengan bagian atasnya yang seperti bulu angsa.


Pilihan Kak Vio memang tidak pernah mengecewakan, pikirnya.


Langkah kakinya mendekati meja rias, meminta Vio untuk mengepang sedikit rambut dibagian kanannya, lalu membiarkan sisanya terurai menjulur tanpa ia ikat maupun hias.


“Putri, anda ingin menggunakan mahkota yang mana?” tanya Vio sembari menunjukkan dua kotak mahkota kehadapannya.


Satu kotak berwarna kuning berisi mahkota berwarna rose gold berbentuk bunga plum, dengan perpaduan warna putih dari mutiara yang tersambung dengan kupu-kupu yang seolah terikat akar tanaman.


Sedangkan kotak satunya yang berwarna biru, berisi mahkota berwarna putih dengan hiasan yang menjalar keatas seperti akar hias yang dia atasnya terdapat banyak batu kristal berwarna peach berbentuk kotak-kotak kecil. Selain itu terdapat pula hiasan seperti tali yang munjuntai di sisi kanan dan kirinya.


Nachella tersenyum melihat kedua mahkota yang sangat indah hingga tanpa sadar senyumnya semakin mengembang saat membayangkan kedua mahkota itu melekat di puncak kepalanya.


“Aku ingin yang itu saja, kak” ucap Nachella sembari menunjuk kotak biru.


Secara perlahan, Vio mengambil mahkota berhias kristal itu sebelum meletakkannya di atas kepala Nachella yang tidak hentinya tersenyum.


“Putri, anda sangat cantik” puji Vio menatap pantulan kaca yang memantulkan wajah majikan sekaligus temannya itu.


Nachella yang melihat pantulan dirinya di kaca tentu saja ikut berdecak kagum. Dia benar-benar merasa cantik kali ini atau mungkin terlalu cantik meskipun hanya dengan riasan yang seadanya.


Dengan langkah ringan, Nachella keluar dari kamarnya yang juga di ekori Vio di belakangnya. Tak lama, dia telah berdiri di depan sebuah pintu besar yang langsung di sambut teriakan menandakan kedatangannya.


“Yang Mulia Raja, Putri ini memberi salam” ucap Nachella seraya membungkuk 90 derajat.


Alexander yang melihat itu hanya mendengus pelan melihat tingkah anak gadisnya itu. Ia bahkan tidak berniat menjawab salam Nachella, dengan tujuan membuatnya gadis itu kesal dan dia pun dapat tertawa nantinya. Dan dugaannya benar, sesaat kemudian terdengar suara protes dengan nada lucu membuatnya seketika tertawa lepas.


"Ayah, kapan akan izinkan aku berdiri?"


"Ayah, kenapa ayah ketawa?"


"Ayah, ih" ucap gadis kecil itu yang langsung duduk di samping Alaskar.


"Kakak, liat ayah. Dia menggodaku lagi" protes Nachella sembari menarik lengan Alaskar yang masih fokus dengan makanan yang akan disuapnya ke mulut.


"Haish, kau ini seperti baru mengenal ayah saja" sahutnya.


"Nachella kenapa kau melakukan formalitas seperti itu? Apakah aku sebagai ayahmu begitu menakutkan?" Tanya Alexander dengan suara yang dibuat jika ia terkesan marah.


Mendengar hal itu, dengan cepat Nachella berlari memeluk lengan Alexander yang masih terdiam tanpa memperdulikannya, bahkan melihatnya saja tidak.

__ADS_1


Oh, ayolah tampan! Jangan mudah marah, Oke!, ucap Nachella dalam hati.


Ingin sekali rasanya ia berucap seperti ini, namun tentu saja tidak bisa. Akan seperti apa nantinya jika dia berkata seperti itu, mungkin kerajaan akan gempar atau mungkin akan terdengar sampai ke telinga rakyat dan akan di taruh dimata muka cantiknya itu jika kabar tersebut nyebar.


"Ayah, aku kan.. aku kan hanya bercanda" ucapnya yang kini mengayunkan tangan Alexander ke kanan dan ke kiri pelan.


"Ayah, tahukah ayah? Seharusnya aku yang kesal dengan ayah" lanjutnya lagi.


Seketika, Alexander dan kedua anak laki-lakinya melihat ke arah Nachella. Kedua alisnya mengernyit bingung, mendengar ucapan anak gadis dan adiknya itu. Sedangkan disisi lain, Nachella tersenyum penuh kemenangan. Rupanya triknya kali ini berhasil.


"Kenapa?" Tanya Alexander bingung.


"Karena ayah jarang ada waktu untukku, bahkan ayah juga menyuruh Kak Leon dan Kak Alaskar ini dan itu sehingga membuat mereka tidak bisa menemaniku bermain" ucap Nachella sembari mengerucutkan bibirnya.


Mendengar hal itu, Alexander menundukkan kepalanya. Memikirkan ucapan anak gadisnya yang 100% benar adanya. Namun apa boleh buat, tugasnya sebagai penguasa negara ini mewajibkannya untuk melakukan pekerjaan yang bahkan sering mengganggu waktu tidurnya.


"Maaf" ucap Alexander lirih.


Nachella mengerjapkan kedua matanya, dia tidak bermaksud seperti itu.


"Hahahahaha, ayah aku hanya bercanda. Aku sama sekali tidak marah. Aku sayang ayah" ucap Nachella seraya memeluk Alexander yang masih terduduk dengan lesu.


Alexander yang mendengar itu seketika tersenyum tipis. Tangannya bergerak membalas pelukan anak gadisnya itu. Sesekali tangan kanannya ia arahkan ke kepala, mengelus surai merah Nachella.


"Kamu tidak marah?" Tanya Alexander menatap Nachella yang langsung menggeleng.


Nachella yang melihat Alexander masih sedih pun mengambil sendok yang berada tidak jauh darinya. Menyendok bubur kacang hijau lalu mengarahkannya ke Alexander.


"Aa.." ucapnya sembari terus mengarahkan sendok ke mulut Alexander.


Alexander pun segera membuka mulutnya menerima makanan yang di berikan Nachella kepadanya.


"Ayah baru menyadarinya, kenapa hari ini kamu terlihat lebih cantik?" Tanya Alexander saat melihat putri tunggalnya itu yang nampak berbeda dari biasanya.


"Aku kan memang selalu cantik ayah" ucapku sedikit menyombongkan diri meskipun aku tahu sombong itu tidak baik.


"Iya sudah. Mereka juga bilang akan membawa anak-anaknya terutama anak gadisnya agar Nachella dapat memiliki teman" sahut Alexander yang kini sudah memangku Nachella dipahanya.


"Ayah, siapa saja yang ayah undang? Apakah Tuan Bacley juga diundang?" Tanya Nachella yang tidak kalah penasaran.


Tentu saja ia sangat penasaran, terlebih lagi dengan 2 biang masalah dalam naskah cerita yang dibuatnya. Terutama pada satu-satunya pria itu yang bernama Katterina Laviric Bacley, si ular berbisa.


"Tentu saja karena dia merupakan menteri disini dan ayah dengar dia memiliki anak perempuan yang usianya sama denganmu. Ah siapa ya namanya, sebentar biar ayah ingat ingat dulu" sahut Alexander yang kini mengetukkan kepalanya sendiri berusaha mengingat nama wanita itu.


"Katterina, kan yah?" Tanya Nachella pura-pura tidak tahu.


"Iya, kau benar. Bagaimana kamu bisa tahu? Apa kalian sudah berteman?" Tanya Alexander meneliti.


"Ah tidak, Yah. Aku hanya menebaknya asal. Aku beberapa kali mendengar nama itu" ucap Nachella yang langsung mengambil makanan di depannya tanpa ada niatan melanjutkan percakapan lagi.


⚜⚜


Siang berganti malam. Kini kediaman Courlage atau lebih tepatnya Istana Courlage telah ramai dipenuhi para bangsawan yang turut hadir untuk merayakan ulang tahun anak perempuan dari keluarga Courlage.


Di sudut lain istana, seorang gadis kecil nampak di kelilingi banyak orang yang tengah menata rambutnya dan menghias wajah mungilnya. Bibirnya yang pink alami, diberi sedikit pewarna berwarna peach yang membuatnya terlihat lebih segar. Belum lagi dengan gaun apron semata kaki berwarna indicolite yang di padu dengan untaian kain panjang yang terletak di bagian belakang berwarna pervenche, menambah kesan segar dan enak di pandang. Rambutnya ia kepang di kedua sisi, lalu menyatukannya di depan rambut bagian belakang yang masih tergerai. Puncak kepalanya memakai sebuah mahkota berwarna emas dengan kedua sisinya berbentuk seperti sayap, dan langsung menyatu pada hiasan untuk bagian belakang rambutnya berbentuk kupu-kupu yang diapit dua bunga hibiscus, dengan hiasan menjuntai kaku berbentuk akar pohon.


"Putri sangat cantik. Saya yakin, Putra Mahkota pasti akan jatuh hati pada putri" ucap Vio.


Nachella yang mendengarnya tersenyum lebar. Ia tidak sabar bertemu dengan kakaknya.


"Tentu saja. Aku juga yakin dia tidak akan melepas genggaman tangannya" ucap Nachella antusias sambil membayangkan wajah Leon dan Alaskar.


"Ayo, Putri kita keluar. Raja, Putra Mahkota, dan Pangeran kedua pasti sudah menunggu anda" ucap Vio, seraya mempersilahkan Nachella turun dari kursi riasnya.


Matanya mengedar, melihat bulan yang seolah turut berbahagia dan mengucapkan selamat kepadanya. Sesekali senyum lebarnya bertemu dengan para pelayan yang menatap takjub pada penampilan gadis itu yang bergerak layaknya boneka hidup. Nachella hanya tersenyum lebar kepada mereka sambil sesekali ia melompat kecil menyusuri lorong kerajaan yang kini dipenuhi lampu-lampu cantik sebagai penerangan.


"Ayah, Kakak!" Pekiknya sembari berlari menghampiri ketiga pria yang kini menatap tajam kearahnya.


"Tidak bisakah kau untuk tidak berlari? Bagaimana jika kamu jatuh? Nanti wajah cantikmu menjadi jelek" protes Alaskar ketika Nachella sudah berada di dekatnya.

__ADS_1


Nachella yang mendengar itu hanya tersenyum lebar, menampilkan deretan gigi putihnya yang rapi.


"Sudah-sudah. Ayo kita masuk! Jangan sampai membuat mereka lama menunggu" ucap Alexander.


Mendengar hal itu, Nachella dengan cepat berjalan menghampiri ayahnya. Menggenggam tangan pria itu di sebelah kanannya dan tangan kirinya menggenggam tangan Leon. Sedangkan Alaskar, pria itu hanya mengekor ketiganya dengan wajah cemburu.


Tak lama terdengar teriakan yang membuat seluruh pasang mata langsung memusatkan perhatiannya kearah pintu besar yang kini telah menampilkan 2 orang pria yang menggandeng seorang gadis kecil yang sangat cantik di tengahnya. Di belakang mereka terdapat seorang pria muda, yang berusaha tersenyum ramah menyapa mereka.


"Salam Yang Mulia Raja Alexander, Putra Mahkota Leon, Putra Kedua Alaskar, Putri Nachella. Semoga langit melindungi Anda" ucap para hadirin serentak yang langsung di balas Alexander dengan mengangkat tangan kanannya tanda salam mereka telah di terima dan mereka dapat kembali ke posisinya semula.


"Salam, Yang Mulia Raja Alexander" sapa seorang pria dengan usia jauh lebih tua dari Alexander yang entah entah datang dari mana.


Pria itu berjalan menghampiri Alexander bersama dengan seorang wanita tua dan seorang gadis kecil ukuran badannya tidak terlalu jauh dengan Nachella


"Bangunlah!" Perintah Alexander yang langsung disanggupi pria itu.


"Tuan Bacley, kau cepat sekali datang ke acara adikku" ucap Leon membuka suara.


Bacley?, pikir Nachella.


"Tentu, Putra Mahkota. Saya juga membawa anak gadis saya agar bisa berkenalan dengan Putri Nachella" sahut pria itu seraya tersenyum.


"Katterina, cepat kesini dan berikan salam kepada Yang Mulia Raja, Putra Mahkota Leon, Putra Kedua Alaskar, dan Putri Nachella" ucapnya.


Tak lama seorang gadis yang semula berada disamping wanita tua tersebut maju dan berdiri disamping Tuan Bacley.


"Salam Yang Mulia Raja, Putra Mahkota, Putra Mahkota, Tuan Putri" salam gadis itu seraya membungkuk 90 derajat.


"Berdirilah!" Perintah Alexander.


"Siapa namamu?" Tanya Alaskar acuh.


"Izin menjawab, Pangeran. Nama saya Katterina Laviric Bacley" ucapnya memperkenalkan diri.


Nachella yang mendengar itu seketika tersenyum tipis. Dia sangat menantikan pertemuannya dengan gadis itu yang kini sudah terlihat jika gadis itu mempunyai sifat ular sedari ia masih kecil.


Matanya menelisik penampilan gadis di depannya dari rambut hingga ujung kaki. Mukanya cukup mungil namun terlihat licik, dengan rambut berwarna hitam, hidungnya mancung dengan bibir yang sedikit bervolume. Pinggang rampingnya ia balut dengan gaun merah polos berlengan dengan bahan beludru yang terkesan elegan.


Lumayan, batin Nachella.


"Hai, Aku Nachella. Salam kenal" ucapnya pura-pura antusias.


"Salam kenal, Putri" ucap Katterina dengan senyum yang sulit diartikan.


"YANG MULIA KAISAR DAN PUTRA MAHKOTA KEKAISARAN MEMASUKI RUANGAN" Teriak seseorang dari balik pintu.


Seketika semua mata tertuju pada pintu yang kini mulai terbuka menampilkan dua pria dengan pakaian formal mereka yang menyilaukan mata. Yang satu berwarna merah, hitam dengan hiasan benang berwarna emas merangkai pola naga, sedangkan yang satunya lagi mengenakan pakaian berwarna putih hitam dengan benang dan motif yang sama berbentuk naga emas.


"Hormat kami Yang Mulia Kaisar dan Putra Mahkota Kekaisaran semoga Dewi Anocia melindungi anda" ucap mereka serentak diiringi dengan sikap membungkuk 90 derajat.


"Berdirilah!" Ucap pria dengan wajah tegas yang tadi mengenakan pakaian berwana merah hitam.


"Berdirilah!" Ucap pria satunya lagi yang merupakan seorang pria kecil dengan wajah menggemaskan namun berbanding terbalik dengan wajah tegas dan dingin yang dipancarkannya.


"Terimakasih Yang Mulia Kaisar dan Putra Mahkota" ucap semuanya yang kini mulai menegakkan kembali tubuhnya.


Kedua pria itu kini mulai berjalan keatas, menghampiri singgasananya yang sudah tersedia diantara 4 singgasana di kanan dan kirinya.


"Nachella, lihatlah si es itu!" Ucap Alaskar sembari mengarahkan kepalanya ke pria yang kini duduk disamping kaisar.


"Memang dia siapa kak?" Tanya Nachella penasaran.


"Dia Felix, si gunung es Putra Mahkota Kekaisaran" sahut Leon.


"APA?!" Pekik Nachella.


⚜⚜


TBC

__ADS_1


__ADS_2