The Bloom At Royal Harem

The Bloom At Royal Harem
14. Duel Singkat


__ADS_3

Beberapa bulan telah berlalu. Kini Nachella sudah mampu mengangkat pedangnya, bahkan sudah menguasai ilmu berpedan, begitu pula dengan keahliannya dalam memanah. Di beberapa latihan, dia kerap menunjukkan kebolehannya dalam memanah 3 anak panah secara bersamaan membuat orang yang melihatnya seketika berdecak kagum.


Gadis itu kini tengah berada di sebuah padang rumput bersama Vio, Frigid dan semua murid akademi termasuk Felix. Matanya sesekali menatap sekitarnya yang terdapat pohon-pohon menjulang tinggi yang berada cukup jauh dari posisinya saat ini.


"Baiklah, dalam setahun biasanya para bangsawan melakukan setidaknya satu kali acara perburuan. Oleh karena itu, sekarang kalian berlatih cara berburu dengan baik. Gunakan senjata yang kalian miliki dan jangan menggunakan sihir kecuali dalam keadaan mendesak. Mengerti?" Ucap Frigid.


"Mengerti guru" ucap para siswa serempak penuh dengan semangat.


Perlahan sebuah cahaya bersinar cukup terang di barengi dengan berubahnya kostum dan pakaian dari masing-masing siswa yang kini sudah memakai atasan lengan panjang dengan warna coklat hitam, yang di bagian lengannya terdapat sebuah pangkat yang menandakan level kekuatan yang dimilikinya, kuning untuk level 1, hijau untuk level 2, biru tua untuk level 3, dan maroon untuk level 4 yang hanya di miliki Felix dan Sean. Sedangkan untuk Nachella, dia berada di level 2 bersama dengan Vio dan Katterina. Untuk bagian bawahnya dipadukan dengan celana panjang berwarna hitam dengan ukiran ringan berbentuk akar tanaman disisi kanan dan kiri celana. Kakinya dibalut dengan sepatu boot berwarna coklat. Di tangan masing-masing siswa di bekali sebuah alat perlindungan diri sesuai dengan keahliannya. Felix pedang, Sean dan Nachella panahan, Vio dan Katterina tombak.


Nachella segera memegang tangan kanan Vio agar mereka tidak terpisah, karena sebentar lagi secara otomatis mereka akan berteleportasi secara acak ke dalam hutan. Dan benar saja, sesaat setelah tangan Nachella memegang tangan Vio dirinya tersadar jika sudah berada di dalam hutan.


Untung saja tepat waktu, ucapnya dalam hati.


Dilihatnya ke arah Vio yang tengah memperhatikan sekitarnya dengan tombak yang di pegangnya cukup kuat.


"Kak Vio, kita barengan ya" ucap Nachella sembari menunjukkan puppy eyes nya.


Vio tersenyum lebar, tangannya bergerak mencubit kedua pipi gadis itu hingga sedikit melebar.


"Ugh, kakak itu menyakitkan" ringis Nachella membuat Vio terkekeh pelan sebelum melepaskan kedua tangannya.


"Baiklah, ayo kita cari apapun yang bisa di buru!" Ajak Vio sembari menarik lengan Nachella masuk ke dalam hutan.


⚜⚜


Srreekk..


Terdengar suara dari balik hutan, bersamaan dengan melesatnya puluhan anak panah membelah kebisingan hutan. Anak panah itu terus mengejar, seolah tengah memburu nyawa para siswa layaknya hewan buruan.


"Siapa disana?" Teriak seorang pria dengan nada beratnya.


Di tangan pria itu, tergenggam erat sebuah pedang panjang mengkilap dengan ukiran teratai di ujungnya. Tangannya ia kibaskan, membentuk sebuah serangan menembus dedaunan dan rumput yang sempat mengeluarkan anak panah tadi.


"KELUAR!" Perintahnya lagi, namun tidak juga mendapatkan balasan ataupun bentuk fisik seseorang menghampirinya.


Sebuah bayangan hitam tiba-tiba keluar dari balik rerumputan, melesat jauh sebelum akhirnya menghilang di balik pepohonan.


"Sial"


⚜⚜


"Ah, kakak. Mengapa tidak ada hewan sama sekali disini?" Ucap seorang gadis dengan kesalnya.


Di punggung gadis itu terdapat puluhan anak panah, menanti untuk di tembakkan. Namun hingga sekarang tidak satu pun hewan melintas di dekatnya. Padahal waktu sudah berjalan cukup lama dan dia pun yakin jika dirinya dan kedua gadis yang berada di dekatnya kini sudah berada di tengah hutan.


"Sabarlah, Chella. Mungkin sebentar lagi kita akan melihat kelinci kecil" ucap Aryna.


Nachella hanya tersenyum kecut mendengar ucapan gadis yang baru dekat dengannya selama beberapa bulan terakhir. Aryna Kaziofanny Vicomte, dalam cerita di jelaskan jika nantinya gadis itu akan menikah dengan kakaknya, Leon. Meskipun seharusnya pertemuan perdana Nachella dan Aryna adalah saat dirinya debut, namun dirinya cukup senang pertemuannya yang cukup cepat itu. Terlebih Aryna adalah tipe gadis yang pintar, baik, ramah, dan sabar terhadap sikapnya yang kadang menyebalkan. Memikirkan semua poin milik Aryna saja membuatnya kadang merasa iri. Terlalu sempurna.

__ADS_1


"Syutt.."


Nachella dan Aryna seketika menghentikan langkah kakinya. Matanya kini tertuju pada sebuah tempat yang di tunjuk Vio. Ketiga saling melempar pandangan, sebelum dengan cepat Aryna melesat membawa pedang di tangannya.


"Kakak, jangan. Ini terlalu lucu untuk di makan" ucap Nachella yang melesat lebih dulu sebelum memangku hewan yang lehernya hendak terpotong pedang milik Aryna.


Matanya penuh binar menatap hewan di pangkuannya. Seekor kelinci dengan bulu seputih salju, matanya berwarna biru yang sama dengan miliknya. Senyum di bibirnya kembali merekah, membentuk sebuah ceruk di kedua pipinya.


"Uluh.. uluh.. lucunya" ucapnya sembari menimang kelinci layaknya seorang bayi.


Vio dan Aryna yang melihatnya seketika membuang wajahnya ke arah lain, sembari menahan diri untuk tidak ikut tersenyum. Hingga tanpa disadari keduanya kini Nachella telah berada di tengah-tengah mereka sembari menggedong kelinci di tangannya.


"DOR!" Teriak Nachella sembari menepuk pundak keduanya dengan tangan bayangan hingga berjengkit kaget.


"Ketawalah jika kakak-kakak ingin ketawa. Lihat pipi kakak sudah merah, tuh" ucapnya sembari menunjuk pipi Vio dan Aryna.


Vio dan Aryna serempak menutup kedua pipinya. Bibirnya mereka majukam membentuk pose cemberut.


"Hahaha, kakak lucu" ucap Nachella sembari memegang perutnya yang terasa sakit karena tertawa terlalu kencang.


Sreekkk..


Mereka seketika terdiam saat merasakan pergerakan dari dalam hutan yang terasa cukup dekat dengan mereka.


Wuushh..


Sreekkk..


Pergerakan kembali mereka dengar, namun kini berasal dari belakang Aryna. Aryna seketika memutar tubuhnya, melesat jauh meninggalkan Nachella sendiri menatap kepergian keduanya.


"Kak, tunggu aku!" Ucap Nachella sembari menoleh ke kanan dan berbalik secara bergantian.


Dirinya cukup bingung hendak mengikuti siapa. Keduanya sama-sama penting dalam hidupnya. Hingga tanpa disadarinya, sebuah bayangan melesat maju menghampirinya sembari mengarahkan pedangnya ke kepalanya. Nachella seketika membalikkan tubuhnya saat menyadari pergerakan angin yang semakin mendekat padanya.


Busur di tangannya kini telah berubah menjadi pedang dengan bantuan sihir manipulasinya. Meskipun dilarang, namun ini termasuk kegiatan mendesak yang memperbolehkannya menggunakan sihir.


Trang.. Trang.. Trang..


Kedua pedang kini saling beradu, menghindar dan melesat secara bersamaan hendak melukai lawannya.


"Kau, hanya anak kecil. Terimalah takdirmu" ucap pria bertudung hitam dengan pakaian serba hitam.


Pria itu semakin membabibuta menyerang Nachella yang mulai terenah-engah.


"Ugh, mimpilah paman. Aku tidak akan menyerah semudah itu" ucap Nachella sembari melayangkan pedangnya ke leher pria itu yang langsung di tepis.


Nachella meringis pelan melihat setiap serangannya yang begitu mudah di tangkis. Ia menarik napasnya pelahan, menetralkan kembali pikirannya.


Wuushh..

__ADS_1


Seorang pria melesat jauh ke sampingnya, menyerang pria bertudung hitam secara cepat hingga Nachella tidak dapat melihat pergerakan keduanya. Merasa dirinya tidak berguna, Nachella perlahan mundur dan bersembunyi di balik pohon besar yang ternyata juga terdapat seorang pria dengan pakaian yang sama sepertinya dan juga dengan pria yang membantunya.


"Hei, siapa kau?" Tanya pria itu.


"Aku? Nachella dan siapa kau?"


"Aku Orlando"


"Orlando?" Ucap Nachella sembari mengernyitkan dahinya.


"Iya, Orlando Federic Eiderlands. Putra kedua Kaisar Andreas" ucapnya dengan membumbungkan dadanya.


Ugh, sombongnya, pikir Nachella.


"Sa.."


"Tak usah terlalu formal denganku. Kau tahu, gaya formal seperti itu sangat memuakkan bagiku" ucap Orlando yang langsung memotong ucapan Nachella.


"Tidak baik seorng bangsawan tingkat atas berbicara sepeti itu dan kenapa anda tidak kesana untuk membantu kakakmu?" Ucap Nachella sembari menunjuk dua orang yang masih bertarung menggunakan pedang.


"Untuk apa? Dia sendiri sudah cukup. Lihat!" Ucap Orlando sebari menunjuk ke arah kakaknya, Felix.


Nachella membuka kedua matanya lebar, saat mendapati sebuah kepala terlumuri darah menggelinding dan jatuh tepat di depannya.


"Ugh" ringisnya.


Felix mendatanginya dan Orlando sembari membawa pedang yang masih dipenuhi darah. Tangannya bergerak, menyingkap tudung hitam yang masih merekat di kepala pria itu.


Ketiganya saling melempar pandang saat melihat wajah pria yang nampak tidak asing diingatan. Pria bermata besar, dengan sebuah tato berbentuk elang dan huruf S yang melingkarinya. Mereka mengenali pria itu, seorang pria yang selalu membukakan gerbang akademi saat pertama kali penyambutan murid.


Wuushh..


Ketiganya seketika mengacungkan senjata masing-masing ke arah pergerakan tadi, sebelum akhirnya berhenti saat melihat dua orang wanita dengan napas terengah-engah dan khawatir langsung memeluk tubuh kecil Nachella.


"Nachella? Kau tidak apa-apa?" Ucap Aryna.


"Putri, maafkan saya" ucap Vio.


Nachella membalas pelukan keduanya sembari tersenyum hangat.


"Aku baik-baik saja kakak. Ini semua berkat Pangeran Mahkota Felix dan Pangeran Orlando" ucapnya yang seketika membuat Vio dan Aryna melepas pelukannya sebelum menunduk hormat ke Felix dan Orlando yang langsung melenggang pergi tanpa permisi.


"Tidak sopan!" Sarkas Nachella yang langsung mendapat tatapan tajam Aryna dan Vio.


"Ma..maaf" cicitnya.


⚜⚜


TBC

__ADS_1


__ADS_2