The Bloom At Royal Harem

The Bloom At Royal Harem
24. Titik Terang


__ADS_3

Gelap, satu kata yang dapat mengambarkan keadaan sebuah kamar yang ditempati seorang wanita yang duduk meringkuk memeluk kakinya. Keadaannya sangat berantakan, matanya yang menghitam karena lunturan eye-liner, lipstick yang telah acak-acakan. Dan kakinya yang penuh luka karena terkena pecahan gelas ketika hendak minum.


Gaun tipis dan dinginnya malam tak hiraukan. Pikirannya kalut, ketika mengingat kembali pertemuannya dengan sosok pria yang sangat ia rindukan. Sosok yang menjadi cinta sekaligus musuh pertamanya. Sosok pria yang mengajarkannya tentang luka dan sakitnya ditinggalkan. Sosok yang sangat ingin ia temui sekaligus ingin ia hindari. Sosok ayah yang seharusnya ada namun tidak pernah ada.


"Kenapa harus sekarang? Kenapa?" Racaunya.


Dia adalah Vio. Vio yang tengah berada di puncak mimpi buruknya setelah terjadinya pertemuan yang sangat ia nantikan.


Tak lama pintu ruangan tersebut terbuka, menampilkan seorang wanita dengan lilin di tangannya. Wanita itu berjalan menghampiri Vio, wanita itu terduduk menyamakan posisinya dengan Vio. Perlahan, tangannya menarik Vio, memeluk dan mendekapnya dengan erat membuat Vio seketika menangis menyalurkan kesedihannya yang sedari tadi ia tahan.


"Menangislah, Kak. Biarkan hatimu tenang" ucap wanita itu.


"Chella, kenapa? Kenapa baru sekarang dia hadir? Kenapa baru sekarang dia menemuiku?" Tanya Vio dari balik punggung Nachella.


Vio nampak rapuh, tubuhnya bergetar hebat. Membuat siapa saja yang melihatnya juga ikut merasakan sakit.


Nachella semakin mengeratkan pelukannya.


"Kak, aku tahu kau marah padanya. Namun aku juga tahu, bahwa kau sangat merindukannya. Jangan biarkan kebencianmu membuatmu semakin jauh dari sosok yang kau rindukan" ucap Nachella.


"Marahlah padanya, tapi jangan biarkan jarak di antara kalian semakin melebar. Mintalah penjelasan darinya dan itu akan membuat kalian akan saling memahami" lanjut Nachella lagi yang kini secara pelahan melonggarkan pelukannya.


Kini, tatapan Vio dan Nachella bertemu. Nachella tersenyum tipis menutup kesedihannya melihat keadaan kakak angkatnya itu yang nampak menyedihkan. Tangan Nachella perlahan terulur ke arah kaki Vio yang di penuhi luka.


"Saviòr Herëtic" ucapnya merafal mantra, hingga sebuah cahaya putih bersinar bersamaan dengan sembuhnya luka di kaki Vio.


"Kak, temui ayahmu ya. Aku ingin kakak menyelesaikan kesalahpahaman kalian" ucap Nachella dengan senyum lebarnya.


Vio masih bungkam. Otaknya masih berpikir keras mengenai ucapan Nachella yang tidak seperuhnya salah. Bagaimana pun Kaisar Andreas adalah ayahnya. Sosok yang sangat ia harapkan kehadirannya.


"Baiklah aku akan menemuinya besok. Tapi, aku ingin kau ikut" ucap Vio.


"Baiklah"


⚜⚜


Di sudut lain Kekaisaran Visilion. Terlihat seorang pria parubaya yang tengah sibuk berkutat dimeja kerjanya. Dihadapannya terdapat sebuah dekrit kekaisaran yang baru selesai ia cap, sebagai bukti jika dekrit tersebut berstatus resmi.


Hingga sebuah ketukan pintu mengalihkan perhatiannya. Perlahan seorang wanita datang sembari membawa nampan berisi sup yang masih panas.


"Suamiku, aku membawa sup biji teratai. Minumlah selagi panas untuk menghangatkan tubuhmu" ucap Rova yang langsung meletakkan mangkuk berisi sup tadi kedepan Andreas.


Sekilas, senyum penuh kharisma terpancar dari wajah Andreas yang mulai memasukkan sesendok sup kedalam mulutnya. Namun tatapannya menjadi sendu saat dirinya kembali mengingat kejadian beberapa waktu lalu saat di Kerajaan Courlage.


"Aku tahu apa yang kau pikirkan. Bagaimana jika kita memberitahu pengawal untuk langsung mempersilahkan Putri kita Vio dan Putri Nachella masuk?" Saran Rova.


Seketika Andreas menoleh kearahnya. Dilihatnya senyum manis yang terpancar dari wajah Rova yang masih nampak awet muda di usianya yang hampir 40 tahun itu.


"Kau benar, istriku" ucap Andreas membenarkan saran istrinya, Rova.


"Akash!"


Tak lama, seorang pria dengan seragam ksatria masuk menghadapnya.


"Salam Yang Mulia Kaisar, Salam Yang Mulia Permaisuri. Anda memanggil saya?" Tanyanya setelah memberi salam.


"Ya, beritahu semua pengawal dan pelayan untuk langsung mempersilahkan Putri Vionnary dan Putri Nachella masuk, tanpa perlu persetujuanku lagi!" Perintah Andreas yang langsung disanggupi Akash.


"Baik, Yang Mulia. Kalau begitu saya pamit undur diri" ucap Akash yang kemudian berjalan mundur sebelum menghilang dari balik pintu.


Sepeninggal Akash, Andreas tersenyum getir menatap Rova.


"Akankah dia memaafkanku, Rova? Apakah Vio akan kembali?" Tanya Andreas sendu.


"Tentu, aku yakin dia akan kembali" ucap Rova sembari membawa kepala Andreas bersandar dibahunya.


⚜⚜


Kicauan burung menyambut pagi. Pagi ini, suasana dingin berselimut salju bersih menyelimuti kota yang nampak sepi tanpa aktivitas.


Hingga sebuah kereta kuda melintas, meninggalkan jejak roda diatas salju yang terhampar indah layaknya permadani.


Di dalamnya, terlihat dua orang wanita dengan mantel tebal yang membungkus tubuhnya. Sebuah mahkota juga melekat di atas kepala mereka dengan gaun sheath berwarna oat yang nampak kontras dengan salju.


"Kak" panggil seorang wanita dengan tangan yang menggenggam tangan kanan wanita di depannya yang nampak gugup dengan tangannya yang mencengkram erat mantel yang dipakainya.


"Ah, iya Chella. Ada apa?" Kaget Vio.


"Tidak ada kak. Aku hanya ingin memberitahu kakak jika diluar pemandangannya sangat indah" ucap Nachella sembari membuka tirai kereta kuda hingga terlihatlah hamparan salju putih bersih yang menyelimuti kota layaknya sebuah selimut berukuran raksasa. Atap rumah penduduk di yang dilapisi salju dan pohon-pohon yang berubah menjadi putih adalah pemandangan yang dapat mereka temui sepanjang jalan.


Bagi Nachella, kejadian ini merupakan hal yang membahagiakan. Terlebih di dunianya dulu dia tidak pernah merasakan hal semacam ini. Namun ada satu hal utama dibalik itu semua, yaitu dirinya yang bisa bermain salju kapan pun dan dimana pun tanpa merasakan dingin. Bahkan kali ini pun gaunnya hanya dilapisi kain bludru yang sangat berbeda dengan Vio yang memakai mantel tebal dari bulu rubah.


"Kau benar, Chella. Pemandangannya sangat indah" ucap Vio.


Tak lama, kereta berhenti tepat di depan sebuah gerbang besar yang dijaga banyak orang.


"Siapa di dalam?" Tanya penjaga.


Segera Nachella membuka tirainya, sembari tersenyum ia melempar senyum yang tanpa sadar dibalas para penjaga yang melihatnya.


"Putri Nachella dan Putri Vionnary dari Kerajaan Courlage"


"Salam Yang Mulia Putri Nachella dan Putri Vionnary, Anda dipersilahkan masuk" ucap penjaga itu sembari memberi salam.


"BUKA GERBANG!" Perintah penjaga tadi.


Tak lama terbukalah sebuah gerbang besar yang kini menampilkan labirin kosong yang dilapisi tembok berukuran besar disisi kanan dan kirinya. Hingga terlihatlah jejeran gedung menjulang tinggi yang nampak berkilap berwarna hitam.

__ADS_1


Kereta kuda terus melaju perlahan, sebelum akhirnya berhenti tepat di depan sebuah air mancur berukuran sedang yang juga disambut para pelayan layaknya tamu kehormatan.


"Silahkan, Putri. Yang Mulia telah menunggu anda di Taman Vedora. Mari saya tunjukkan" ucap salah seorang pelayan yang langsung menunjukkan jalan.


⚜⚜


Cukup lama bagi Vio dan Nachella mengitari istana hingga tak terasa akhirnya keduanya sampai di depan sebuah pintu masuk yang terbuat dari rangkaian tanaman yang membentuk sebuah gapura berukuran sedang.


"Yang Mulia, silahkan masuk. Saya pamit undur diri" ucap pelayan tadi.


"Terima kasih" sahut Vio.


Vio dan Nachella perlahan masuk ke dalam gapura tadi. Hingga terpampanglah sebuah taman yang sangat besar dan indah. Dikelilingi hamparan bunga berwarna-warni, bahkan kupu-kupu terlihat terbang bebas mengitari bunga satu ke bunga yang lainnya. Tepat di tengah taman, terdapat gazebo berukuran sedang yang telah di tempati seorang pria. Pria itu nampak menunggu seseorang sembari ditemani kicauan burung camar yang terbang bebas di atasnya.


"Kak, pergilah. Aku akan menunggu di luar" ucap Nachella sembari mendorong pelan punggung Vio. Membiarkannya berbicara berdua dengan pria itu sedangkan dirinya pergi keluar, mengitari kerajaan yang nampak indah di dalam namun terlihat menyeramkan dari luar.


"Baiklah. Hati-hati" ucap Vio yang langsung melangkah menghampiri pria tadi.


Author POV END


⚜⚜


Vio POV


"Salam Yang Mulia Kaisar Andreas" ucapku sesaat setelah sampai di ambang gazebo.


"Duduklah, putriku" ucap Kaisar Andreas yang tidak lain adalah ayah kandungku. Aku memang belum siap memanggilnya ayah, terlebih setelah banyaknya kejadiannya yang terjadi antara aku dan dia.


"Ayah kira kamu tidak akan mau menemui ayah. Terima kasih" ucap Kaisar Andreas sendu.


Dapat kulihat, lingkaran hitam dimatanya, bibirnya juga pucat. Bahkan pelipisnya nampak berkeringat, padahal cuaca sedang dingin. Entah apa yang terjadi padanya. Padahal kemarin ia terlihat sangat sehat, namun apa ini? Apa dia sakit?


"Anda sendiri tahu betul, Yang Mulia. Saya tidak akan kesini jika bukan karena Putri Nachella yang memaksa saya. Jadi berterima kasihlah padanya dan sebaiknya anda bisa langsung ke inti permasalahannya karena saya pun tahu jika anda sangat sibuk hingga terlihat jelas lingkaran hitam besar dimata anda" ucapku.


Kulihat dia sedikit tersenyum.


Apa dia salah minum obat tadi pagi?, pikirku.


"Ya, aku akan berterima kasih pada Putri Nachella nanti dan tampaknya kamu sangat perhatian pada ayahmu ini, Putri Vionna"


"Jangan mengalihkan pembacaraan, Yang Mulia" ucapku.


Kulihat dia kembali dengan tatapan sendunya sebelum menatap langit yang semakin banyak menjatuhkan butiran salju.


"Baiklah. Aku akan menjelaskan kepadamu kuharap kau tidak memotongnya" ucapnya.


~~


17 tahun yang lalu. Di arena pertarungan


Denjatan senjadi saling beradu, memukul siapa saja yang siap membela kejahatan. Namun senjata itu bukanlah pedang sungguhan melainkan tongkat kayu yang dijadikan sebagai alat latihan.


"Yang Mulia, apa hanya segitu kekuatan anda?" Tanya wanita itu dengan nada mengejek seorang pria.


Pria yang merupakan lawannya itu telah dipenuhi peluh di tubuhnya. Sedangkan wanita itu masih nampak cantik dengan rambut hitam panjang yang ia gerai, tidak ada setetes pun keringat membasahinya. Bahkan senyumnya masih tetap merekah, seiring berjalannya waktu pertandingan.


"Ugh, kau terlalu membanggakan diri, Anne. Aku yakin, kali ini kau yang akan kalah" ucap pria itu yang entah sudah kesekian kalinya mengucapkan hal yang sama, namun lagi dan lagi pria itu tetap saja kalah. Bahkan kini tubuhnya telah di penuhi memar kemerahan.


"Benarkan? Mari kita buktikan, Yang Mulia"


Tak lama, pertandingan kembali dimulai. Hingga sebuah tongkat terlempar ke udara bersamaan dengan bunyinya kedua benda yang saling bertubrukan membuat siapa saja yang melihatnya seketika meringis dibuatnya.


DUG!


"Aku menang Yang Mulia" ucap wanita itu.


"Baiklah, kau minta hadiah apa?" Tanya pria itu.


Ya sesuai dengan dugaan, lagi-lagi pria itu kalah dan dia tadi terkena pukulan tepat di punggungnya setelah wanita itu melempar tongkat yang di pegangnya hingga melayang di udara.


"Aku minta.."


Namun belum selesai wanita itu mengucapkan permintaannya, seorang pria dengan pakaian ksatria menghampiri keduanya dan langsung membisikkan sesuatu kepada si pria yang membuat pria itu langsung pergi tanpa meninggalkan sepatah kata pun.


--


Latar berganti menjadi aula rapat kerajaan.


Terdapat seorang pria parubaya dengan pakaian kebesarannya. Tubuhnya berdiri tegak, dengan kepala yang sedikit mendongak keatas.


"Ada apa Vincent?" Tanya seorang pria yang datang dari ambang pintu menuju kursi singgasananya.


Ya, pria itu adalah Andreas yang semula sedang menikmati waktu luangnya dengan Selir Anne yang kemudian diganggu oleh kehadiran adik tirinya, Vincent Noel Eiderlands.


"Salam Yang Mulia Kaisar Andreas, Semoga Dewi Anocia melindungi Anda" salam pria bernama Vincent.


"Langsung intinya saja!"


"Sepertinya aku mengganggu kalian berdua ya, kakakku?" Ucap Vincent dengan senyum yang sulit diartikan.


Muak, satu kata yang mewakili pemikiran Andreas saat ini melihat tingkah adiknya yang selalu angkuh.


"Katakan, apa maumu?" Tanya Andreas yang mulai habis kesabarannya.


"Baiklah, kau tahu bukan mengenai permasalahan di perbatasan. Apakah kau tidak ingin mencaritahu tentang siapa dalang dibalik permasalahan itu?" Tanya Vincent.


Seketika Andreas mengingat serangkaian permasalahan yang terus muncul di perbatasan. Dari terkendalanya irigasi sampai adanya pemberontakan terkait pakaian hangat yang biasa dibagikan kekaisaran saat musim dingin tiba. Namun benar seperti ucapan Vincent, hingga saat ini dirinya belum mengetahui dalang dibalik serangkaian masalah itu.

__ADS_1


"Maksudmu apa?"


"Selirmu, Anne. Dia dan ayahnya adalah dalang dibalik kejadian ini semua" ucap Vincent yang langsung mendapat acungan pedang Andreas.


"Apa maksudmu, Vincent? Kau tahu bukan Anne adalah selirku dan ayahnya adalah orang kepercayaanku!" Bentak Andreas.


"Dan kau tahu juga Andreas, jika Richard adalah panglima militer dan Anne bahkan mampu mengalahkanmu dalam berpedang dan karena alasan itulah kau selalu menggunakan tongkat kayu saat latihan dengannya" jelas Vincent yang memang benar adanya.


"Tidak. Aku tau itu semua salah. Aku tidak percaya itu"


"Percaya tidak percaya itulah kenyataannya, Andreas dan kau harus menerima fakta itu" jelas Vincent yang langsung keluar dari aula rapat dengan smirk tipisnya.


Disisi lain, tanpa sepengetahuan keduanya. Seorang wanita bersembunyi di balik tirai yang menggantung di jendela yang berada tepat di samping pintu aula rapat.


Semua percakapan kedua pria tadi telah sampai di telinganya tanpa celah. Bagai petir di siang hari, ia langsung berlari ke kamarnya mengemas pakaian dan membawa putri kecilnya yang masih berusia 3 tahun pergi dari kediaman tersebut.


--


"Vio, ayah bawakan coklat untukmu" ucap Andreas setengah berlari mendatangi sebuah ruangan yang nampak sepi tak berpenghuni.


Ruangan itu terasa dingin, seolah tidak ada makhluk hidup didalamnya. Andreas semakin masuk, kakinya melangkah menyusuri setiap sudut ruangan itu mencari keberadaan 2 wanita yang sangat berarti dalam hidupnya.


"Vionna, ayah bawakan coklat untukmu. Apa kau sedang bermain petak umpat dengan ayah?" Tanyanya. Namun sekali lagi tidak ada sahutan, hanya angin yang berhembus pelas mengibas surai silvernya.


"Vionna! Anne!" Panggilnya.


"Anne!"


"Vionna!"


Kini pikirannya kacau, ada rasa kekhawatiran tentang keberadaan kedua wanita itu. Ia melangkah keluar ruangan dengan tergesa-gesa menghampiri beberapa pelayan yang tengah sibuk membersihkah halaman istana.


"Salam Yang Mulia"


"Apa kau melihat Selir Anne dan Putri Vionna?" Tanya Andreas tegas.


"Menjawab, Yang Mulia. Saya tidak melihat Selir Anne dan Putri Vionna"


"Kau?"


"Maaf, Yang Mulia saya juga tidak melihat Selir Anne dan Putri Vionna"


Pikiran Andreas semakin kacau. Ia berlari menuju istana utama. Berpikir jika Selir Anne dan putrinya itu sedang bersama dengan Permaisuri Rova untuk sekedar berbincang. Namun sekali lagi, tidak ia temukan keberadaan keduanya bahkan Permaisuri Rova juga tidak mengetahui keberadaan Selir Anne yang merupakan satu-satunya sahabatnya di istana.


"Anne kau dimana?" Ucap Andreas.


--


Musim telah berganti, udara dingin menyeruak menyebar ke seluruh sudut daerah Kekaisaran Visilion. Cahaya lampion, menerangi jalan yang dipenuhi kabut salju yang kian terasa menusuk.


Diujung jalan, terlihat seorang pria dengan jubah putih rubah berjalan tertatih sembari sembawa setumpuk kertas berlukis wajah manusia. Tangan keriputnya mengambil perekat yang kemudian ia taruh di atas lembaran kertas yang ia tempel pada dinding-dinding kios dan pohon yang dipenuhi salju.


Telah sejak lama hal itu ia lakukan, berharap sebuah keajaiban dapat mempertemukannya lagi dengan dua wanita yang dicarinya. Namun sepertinya takdir belum berpihak padanya. Bahkan setelah kepulangannya dari medan perang, tak kunjung mempertemukannya dengan istri dan anaknya yang sangat ia rindukan.


Hingga sebuah panggilan mengalihkan perhatiannya.


"Yang Mulia, Pangeran Alcarax telah ditemukan" ucap seorang pria dengan tudung yang menutupi wajahnya.


"Tangkap dan penggal dia. Buang tubuhnya ke hutan" ucap pria yang dipanggil 'Yang Mulia' itu.


Sepeninggal orang tadi, pria itu menatap lukisan wanita yang menempel di batang pohon. Tersirat kerinduan dari matanya hingga tanpa sadar sebuah tetes bening menyeruak keluar dari pelupuk matanya.


"Cepatlah kembali, Anne" ucapnya.


~~


Tanpa sadar, Vio menangis mendengar cerita Andreas yang seolah ikut membawanya mengenang masa-masa indah dan kelam keduanya.


"Maafkan ayah, Vionna. Ayah tidak bermaksud meninggalkanmu dan ibumu. Ayah mencintai kalian dan ayah juga tidak tahu jika ibumu, Anne mendengar percakapan antara ayah dan pamanmu Alcarax"


"Namun ayah bersumpah, ayah tidak pernah mempercayai ucapan Alcarax yang merupakan penipu ulung. Ayah bahkan telah menghukum mati pria itu" lanjut Andreas.


Tanpa Andreas duga, Vio berlari berhamburan memeluknya dengan tangis yang mengalir deras dari pelupuk matanya.


"Aku percaya ayah, aku percaya. Maafkan aku" ucap Vio yang tidak dapat lagi menahan tangisnya.


Andreas segera membalas pelukan anaknya itu. Tangannya bergerak mengusap surai silver Vio dengan senyum yang ia tarik secara paksa berusaha menengkan Vio.


"Terima kasih telah mempercayai ayahmu ini, Vionna" ucap Andreas yang langsung mendapat anggukan Vio.


"Jadi maukah kau kembali ke istana ini, Vionna?"


"Bolehkah aku bersama Nachella sampai acara debutnya?" Tanya Vio yang secara perlahan melonggarkan pelukannya dengan Andreas.


"Apakah kau tidak merindukan ayahmu ini?"


"Aku rindu, tapi Nachella sudah aku anggap seperti adik kandungku sendiri"


"Apa kamu serius, Vionna?"


"Aku serius, yah"


"Baiklah, jika itu maumu. Aku akan menyetujuinya dengan terpaksa" sahut Andreas, sebuah helaan napas kasar terdengar darinya dengan senyum yang ia tarik secara paksa.


Vio yang mendengar hal itu, seketika tersenyum lebar. Ia kembali memeluk sosok pria yang ia rindukan. Ada kelegaan yang teramat besar dalam hatinya. Terlebih setelah ia mengetahui fakta yang selama ini terus berkecamuk dalam hatinya.


Terima kasih, Dewi, ucap Vio dalam hati.

__ADS_1


⚜⚜


TBC


__ADS_2