
Vio POV
BRAK!
Bantingku pada pintu tak bersalah. Suasana hatiku sedang tidak enak, terlebih pada pria yang saat ini sedang duduk beruncang-uncang kaki di ranjangnya. Kulihat pria itu sedikit tersentak kaget, sebelum kembali lagi ke mode kerennya yang sama sekali tidak cocok menurutku.
"Hei, kau. Bisakah ketuk pintu terlebih dahulu?" Protes pria itu.
Aku memutar bola mataku malas. Benar kata adik angkatku Nachella, berurusan dengannya jauh lebih memuakkan daripada harus mendengarkan debat di ruang rapat.
"Sungguh saya tidak peduli, pangeran"
"Kau, jangan karena Nachella menganggapmu kakak dan Leon menganggapmu adik maka kau bisa berbuat seenaknya. Ingat ini istanaku"
"Maaf, Pangeran Alaskar ini bukan istanamu. Melainkan istana Raja Alexander, ayahmu" jelasku membenarkan ucapannya yang sedikit salah.
Alaskar, pria yang saat ini sedang beradu mulut denganku. Entahlah sejak kapan, saat melihat atau tanpa sengaja bertemu dengannya membuatku merasa kesal. Apalagi saat ini, disaat aku harus mengeluarkan kekesalanku karena melihat tingkahnya pada Nachella.
Bayangkan saja, bagaimana bisa Nachella memakai 4 gaun sekaligus dengan aksesoris yang berbeda-beda pula? Memang dia kira Nachella memiliki kembar 4?
"Ya, terserah kau saja. Jadi ada apa kau kemari?" Tanya Alaskar.
"Aku ingin protes"
"Pada siapa?"
"KAU" jelasku sembari menunjuknya.
Kulihat dia mengernyit heran, sembari menatapku dengan wajah penuh tanya.
"Maksud anda apa, pangeran dengan mengirimkan adikku Nachella 4 gaun sekaligus?"
"Hei, sejak kapan Nachella menjadi adikmu?"
"Sejak 5 tahun yang lalu"
"Mengada" ucapnya dengan nada mengejek.
Andai saja, didekatku ada vas bunga. Ingin sekali aku melemparnya dengan vas bunga itu, biarkan saja wajah tampannya menjadi jelek.
Tunggu, tampan?, heranku dalam hati.
Gak. Dia jelek, sangat jelek, lanjutku lagi.
"Sudahlah pangeran, jangan mengalihkan pembicaraan. Jawab pertanyaanku! Maksud anda apa dengan mengirimkan Nachella gaun sebanyak itu dan memintanya untuk dipakai besok?" Tanyaku lagi yang berusaha meluruskan kembali topik pembicaraan.
"Tidak ada dan kau boleh keluar! Pelayan usir wanita menyebalkan ini dan jangan biarkan dia masuk ke kamarku lagi tanpa izin" ucap Alaskar.
Tak lama, dua orang wanita parubaya masuk ke kamarnya, menggandeng tanganku, memaksaku keluar atas perintah Alaskar.
"Sampai jumpa" ucapnya sembari melambaikan tangan.
Aku dengan pasrah membiarkan para pelayan ini membawaku keluar kamar Alaskar yang secara perlahan menutup pintunya dari dalam.
"KAKAK!" Teriak seseorang yang tentu sangatku kenali.
"Chella"
"Lepaskan, Kak Vio!" perintah Nachella yang langsung disanggupi para pelayan tadi yang kini telah membungkuk memberi salam padanya.
"Salam Tuan Putri Nachella"
"Ya, berdirilah! Kenapa kakakku kalian bawa seperti tadi?"
"Ampun, Tuan Putri. Tadi pangeran kedua meminta kami untuk mengusir Nona Vio keluar dari kamarnya" jelas salah seorang wanita yang tadi membawaku.
"Ah, kakak. Untuk apa kakak ke kamar Kak Alaskar?" Tanya Nachella dengan penuh selidik menatapku.
"Aku ingin memarahinya karena memberikanmu gaun yang cukup banyak sedangkan kau harus memakainya di satu waktu" jelasku.
"Karena itu? Sungguh?"
"Iya, sungguh untuk apa kakakmu ini berbohong?"
"Baiklah. Untuk gaun itu, kakak tenang saja aku sudah memikirkannya" ucapnya dengan senyum yang sulit diartikan. Sebelum akhirnya membawaku ikut bersamanya menyusuri taman istana.
__ADS_1
Vio END POV
⚜⚜
Author POV
Sehari telah berlalu. Malam ini begitu dingin, angin bertiup kencang bersamaan dengan jatuhnya ribuan tetes salju yang jatuh ke bumi. Jalan putih bersih nan dingin menyambut siapa saja yang keluar dari kediamannya, membuat orang itu harus menggunakan mantel tebal ditubuhnya.
Disudut lain Kerajaan Courlage, terlihat seorang wanita muda yang tengah berdiri menghadap beberapa pasang gaun berwarna-warni yang menggantung sempurna.
Jari jemari mungilnya perlahan mengambil sebuah gaun berwarna biru yang kemudian ia pakai. Matanya terpejam sembari merafal mantra.
"Mergèriast" ucapnya.
Seketika ketika dia membuka mata sebuah cahaya putih bersinar terang memenuhi ruangan tersebut. Ruangan itu kini nampak kosong, hanya terlihat beberapa benda disana. 3 buah gaun yang tergantung, sebuah cermin besar, dan beberapa mahkota yang tersusun rapi diatas meja rias. Disampingnya, terdapat wanita muda tadi yang sedang mengulum senyum indah menampilkan ceruk manis di pipinya.
Tangannya mengambil 3 gaun tadi, mendekap dan memeluknya dengan erat sebelum sebuah cahaya kembali bersinar terang dari tubuhnya yang melayang di udara sembari berputar. Tak lama kakinya kembali berpijak, bersamaan dengan cahaya yang mulai menghilang dari tubuhnya.
Ia perlahan melangkah, menghampiri sebuah cermin besar yang menggantung tanpa penyanggah. Dilihatnya pantulan dirinya sendiri yang dibalut gaun A-Line bludru berwarna biru dengan aksen jubah tebal di bagian punggungnya, garis pita kecil berwarna silver dan motif rasi bintang berwarna coklat pada bagian depan.
Kini tatapannya beralih pada jejeran mahkota. Dipegangnya kedua mahkota dengan kedua tangan kanan dan kirinya kemudian matanya kembali terpejam hingga sebuah sinar terang keluar dari mahkota yang perlahan berubah menjadi cahaya yang menyatu yang berputar diatas kepalanya. Iris birunya kembali terbuka, matanya menatap takjub hasil sihirnya. Sebuah mahkota berwarna hitam yang dibalut bunga hibiscus dan kristal biru bersinar yang sama dengan iris matanya.
Ctak!
Jentik jarinya, seketika suasana kembali seperti semula. Tidak ada lagi cahaya putih memenuhi ruangan yang kini telah menampilkan sederet perabotan.
Perlahan tapi pasti, langkahnya tertuju pada pintu besar bersamaan dengan terbukanya pintu menampilkan jejeran pelayan dan seorang wanita yang siap menyambutnya dengan senyum lebar.
⚜⚜
Udara dingin bercampur suasana dingin dan mencekam memenuhi ruangan yang dipenuhi beberapa pasang keluarga yang tengah duduk di beberapa meja bulat yang tersusun memenuhi ruangan.
Tepat di ujung ruangan, posisi tertinggi terdapat sebuah keluarga dengan pakaian bersinar menandakan status sosialnya yang berada dipuncak. Disampingnya terdapat meja lain yang nampak kosong belum di tempati seorang pun disana. Hingga sebuah pengumuman berkumandang bersamaan dengan terbukanya pintu besar menampilkan keluarga yang menjadi dalang acara hari ini.
Di barisan terdepan, seorang pria parubaya, Alexander yang tampak rapi dengan setelan jas berwarna merah, dengan aksen naga berwarna hitam dan mahkota besar terbuat dari emas yang melekat di kepalanya. Dibelakangnya berdiri Leon yang dibalut setelan jas berwarna putih dan emas dengan mahkota sedang di kepalanya menandakan dirinya yang seorang putra mahkota. Disampingnya Alaskar dengan senyumnya yang mempesona, tubuhnya dibalut jas biru dengan warna senada dengan wanita di belakangnya yang merupakan tokoh utama malam ini.
Wanita muda dengan senyum manis diwajahnya, tubuh rampingnya dibalut gaun A-Line berwarna biru. Rambut coklat panjangnya dibiarkan tergerai, hingga pinggang. Disampingnya berdiri seorang wanita dengan selisih 10 senti. Wanita itu tampak cantik dengan balutan ballgown berwarna aqua. Rambut silver panjangnya dirangkai dan direkatkan dengan hiasan menjuntai berbentuk bunga iris dengan beberapa aksen kristal biru di sekelilingnya.
Seketika semua mata tertuju pada mereka. Tak henti-hentinya beberapa pasang mata berdecak kagum melihat penampilan keluarga tersebut yang terlihat seperti lukisan dari negeri dongeng. Namun ada pula yang bertanya dalam hati mengenai wanita yang beriringan dengan sang tokoh utama, Nachella.
"Berdirilah" ucap Alexander yang langsung disanggupi para tamu.
Kini Alexander dan anak-anaknya berjalan menghampiri meja yang telah di persiapkan mereka. Namun langkah mereka terhenti tepat di sebuah keluarga dengan aura bersinar.
"Salam Yang Mulia Kaisar Andreas, Salam Permaisuri Rovalatus, Salam Putra Mahkota Kekaisaran Felixious. Semoga Dewi Anocia melindungi Anda" ucap keluarga Courlage bersamaan. Mereka nampak menunduk 90 derajat, dengan posisi yang masih sama seperti saat masuk keruangan.
"Berdirilah Alexander" ucap Andreas sembari memegang pundak Alexander yang langsung kembali ke posisi tegaknya.
"Kalian tidak ingin berdiri?" Tanya Rova dengan tawa tertahannya saat melihat Courlage bersaudara yang masih setia dengan posisi membungkuk.
"Izin menjawab permaisuri, Anda belum mempersilahkan kami berdiri dan sehingga kami tidak berani" ucap Nachella dengan posisi yang sama dengan ketiga kakaknya, Leon, Alaskar, dan Vio.
"Berdirilah. Apakah kau Putri Nachella yang terkenal itu?" Tanya Rova sesaat setelah Courlage bersaudara kembali ke posisi tegaknya.
"Terima kasih, Yang Mulia. Benar Yang Mulia, saya Putri Nachella. Namun sanjungan Anda terlalu berlebihan karena saya tidak seterkenal itu" sahut Nachella.
"Benarkah? Tapi aku telah sering mendengarmu dari Felix. Dia sering membicarakan tentangmu sejak kepulangannya dari Akademi. Iya kan, Felix?" Tanya Rova dengan tatapan yang kini tertuju pada putranya yang masih berdiri dengan tatapan lurus tanpa ekspresi menatap Nachella.
"Felix?" Panggil Rova menyadarkan Felix.
"I.. Iya, Bu" kaget Felix.
"Benarkan Felix yang tadi ibu katakan?"
"Benar, eh. Benar apa?" Tanya balik Felix yang masih linglung setelah kebungkamannya.
"Benar kau membicarakan adikku, Nachella?" Tanya Leon dengan tatapan tajam.
Disisi lain, Nachella dan Vio tengah mengernyit melihat reaksi Leon dan Alaskar yang telah siap dengan tangan terkepal yang mereka sembunyikan di balik jasnya. Tatapan tajam Leon pada Felix juga tak luput dari perhatian Nachella yang sedikit mengulum senyum menampilkan ceruk di pipinya.
"Siapa? Aku?" Tanya Felix.
"Ya, siapa lagi jika bukan anda, Putra Mahkota Felix?" Ucap Alaskar yang mulai habis kesabarannya.
Felix mengernyit, berusaha mencerna pertanyaan yang datang tiba-tiba padanya.
__ADS_1
"Aku tidak pernah membicarakannya. Siapa yang mengatakan seperti itu?" Elak Felix.
"Ibu" sahut Rova dengan senyum lebar tanpa dosanya.
Dilihatnya senyum Felix yang ditarik secara paksa, dengan tatapan penuh tanya ke ibunya.
"Ibu, kapan aku berkata seperti itu?"
"Setiap hari"
"Tidak!"
"Ya"
"Tidak!"
"Sudah cukup, kalian ini dimana-mana selalu memiliki dunia sendiri. Kita tamu disini, jadi diamlah" ucap Andreas berusaha melerai perdebatan ibu dan anak itu yang seolah tiada akhir.
Tatapan Andreas beralih pada sosok wanita muda bersurai silver yang berdiri di samping Nachella, terlebih dengan surai silver yang sama dengan miliknya dan semua keturunannya. Mata hijau yang menenangkan, dan senyum manis mempesona yang nampak tidak asing baginya.
"Alexander, siapakah wanita di samping Putri Nachella? Bukankah kau hanya memiliki seorang putri?" Tanya Andreas penuh selidik.
Seketika semua pasang mata tertuju pada wanita itu yang tak lain adalah Vio. Vio yang nampak terkejut, tanpa sadar merekatkan genggamannya pada Nachella hingga membuat Nachella menoleh ke arahnya.
"Izin menjawab Yang Mulia, dia adalah kakak angkat saya yang saya temukan di hutan, namanya Vionnary Rosevelt Embrige" ucap Nachella yang menyadari kegugupan Vio.
Vio segera membungkuk tanda penghormatan, lalu memperkenalkan dirinya sendiri dengan senyum tertahannya.
"Salam Yang Mulia, saya Vionnary Rosevelt Embrige. Atas kebaikan Putri Nachella, saya diangkat menjadi kakak angkatnya dan diperlakukan layaknya seorang putri dari Kerajaan Courlage" ucap Vio memperkenalkan diri.
Andreas segera mengangguk, tanda mengerti. Namun pikirannya kembali tertuju pada nama belakang yang melekat pada nama Vio. Nama yang sama dengan sosok wanita yang ia rindukan. Sosok yang telah meninggalkannya selama belasan tahun.
Anne, batin Andreas.
"Embrige? Margamu Embrige? Dari keluarga ayah atau ibumu nama itu berasal?" Tanya Andreas lagi.
"Izin menjawab, Yang Mulia. Dari marga ibu saya. Saya hanya tinggal berdua dengan ibu saya di sebuah kediaman yang dijaga beberapa orang, sedangkan ayah saya tidak pernah kembali menemui kami sejak usia saya 3 tahun" jelas Vio.
Andreas perlahan berjalan menghampiri Vio yang kini menunduk, menatap sendu lantai aula perjamuan.
"Anneline Desvre Embrige" ucap Andreas lirih.
Seketika Vio mendongak, melihat kearah Andreas dengan wajah tidak percaya. Karena belum ada satupun orang yang ia beritahu tentang nama ibunya, termasuk Nachella. Vio selalu menutup rapat rahasia itu, membiarkannya tersimpan bersamaan dengan luka dihatinya yang perlahan sembuh. Namun luka itu kembali terbuka, tepat sesaat orang nomor satu kekaisaran mengucapkan tiga kata yang membuat air mata mengalir dari pelupuk matanya.
"Ba.. Bagaimana Anda bisa tahu, Yang Mulia?" Tanya Vio yang masih tidak percaya.
Alexander yang mengerti situasi, mengucapkan maaf kepada para tamu dengan mengatakan bahwa perjamuan telah selesai yang seketika membuat aula itu nampak sepi hanya terdapat Keluarga Courlage dan Keluarga Eiderlands.
"Vio, maafkan ayah" lirih Andreas yang berusaha memegang pundak Vio yang langsung Vio tepis.
"Ayah, apa maksud, Anda Yang Mulia?" Tanya Vio dengan suara bergetar menahan isakannya.
"Ibumu, Anne adalah selirku. Dia wanita yang ceria, penyayang dan cantik. Memiliki mata sejernih purnama dengan bibir mungil tipis semerah cherry" jelas Andreas dengan pandangan kosong.
Dalam imajinasinya terlihat ingatan masa lalunya saat bersama Selir Anne yang tengah berlari menyusuri taman istana. Hingga langkah Andreas berhenti, tangannya bergerak memetik kamboja kemudian menyelipkannya di telinga Selir Anne yang tersenyum malu-malu menampilkan semburat kemerahan dipipinya.
"Selir? Lalu mengapa Anda meninggalkanku dan Ibuku? Apa salah kami hingga kau buang layaknya barang yang sudah tidak lagi berguna?" Tanya Vio dengan kemarahannya ketika mengingat tatapan kosong ibunya saat melihat lukisan keluarga yang menampilkannya, Vio yang berusia 3 tahun, dan seorang pria dengan bagian kepala yang telah di sobek.
"Maafkan aku, anakku. Aku tidak pernah berniat meninggalkanmu dan ibumu"
"Benarkah? Lalu kemana saja Anda selama ini? Sibuk dengan tugas kekaisaran, hingga ibuku meninggal saja kau tidak tahu? Dan kau bahkan tidak pernah mencari tahu tentang keberadaanku? Cukup, jika memilikiku adalah beban. Maka aku akan membiarkan namaku tanpa gelar bangsawanmu. Biarkan aku menjadi rakyat biasa" jelas Vio yang langsung pergi dengan wajah yang dipenuhi air mata.
Disisi lain, Andreas menatap sendu kepergian Vio. Sosok putri yang selama ini ia cari dan rindukan. Namun sepertinya takdir tidak berniat mempersatukan mereka atau mungkin takdir mempertemukan mereka di waktu yang kurang tepat.
"Yang Mulia, saya izin pamit undur diri" ucap Nachella yang langsung mendapat anggukan kepala Andreas.
Segera setelahnya Nachella berlari, mengejar Vio yang pergi entah kemana.
"Yang Mulia, sebaiknya Anda, Permaisuri dan Putra Mahkota pulang terlebih dahulu. Biarkan Putri Vio menenangkan dirinya. Nanti putri saya, Nachella akan mencoba menjelaskannya" ucap Alexander yang berusaha menenangkan Andreas yang kini punggungnya tengah diusap oleh Rova yang berusaha menenangkannya.
"Baiklah, Alexander. Aku tunggu kabar baiknya dan terima kasih telah menjaga putriku" ucap Andreas yang langsung pergi keluar ruangan dengan langkah tertatih.
Author END POV
⚜⚜
__ADS_1
TBC