
Pagi yang sibuk, itulah pendapat Nachella tentang pagi ini. Nachella sedang sibuk membuka satu-persatu tumpukan buku yang berjejer di meja setelah semalaman ia tidak bisa tidur karena masih mengingat kejadian tiga hari lalu, saat Felix mengajaknya berdansa dan menanyakan tentang pertemuannya keduanya yang tidak pernah ia ingat apalagi rasakan. Anggaplah dirinya sial, karena harus bertemu dengan pria itu. Oleh karena itu ia sangat berharap jika itu adalah pertemuan pertama dan terakhir dengannya.
“Putri” ucap seorang wanita yang dapat Nachella yakini jika dia adalah Vio.
Benar seperti dugaannya, wanita itu adalah Vio yang tengah mencari keberadaan Nachella. Nachella segera menampakkan wajah yang semula tertutup dengan sempurna oleh beberapa buku yang menjulang tinggi.
“Aku di sini, kak” ucapnya.
Vio segera menghampirinya, melihat Nachella dengan raut wajah bingung hingga hampir saja Nachella menertawainya yang langsung ia tahan.
“Apakah anda semalam tidak tidur, Putri?” tanya Vio kaget karena kantung mata Nachella yang telah menghitam seperti panda.
“Iya, kak. Aku tidak bisa tidur” ucap Nachella dengan nada yang dibuat menyedihkan. Sungguh Nachella ingin memuji dirinya sendiri yang seperti ratu drama.
“Kak, apakah aku diizinkan masuk ke akademi sama seperti gadis lain seusiaku pada umumnya?” Tanya Nachella antusias.
Ia ingat benar, Nachella asli tidak diizinkan pergi ke akademi oleh Alexander karena takut jika hal buruk terjadi pada anak gadisnya itu. Belum lagi dengan lamanya waktu pendidikan akademi yang akan menguras habis masa kecilnya sampai dimana dirinya telah siap dan memulai debut di usia 17 tahun.
Wajar jika waktunya sangat lama, meskipun tidak selama pendidikian formal di dunia Nachella sebagai Nachira terdahulu yang sampai 12 tahun, itupun bisa saja lebih jika orang itu melanjutkan pendidikan lebih tinggi sampai ke universitas. Di sini, akademi akan mengajarkan banyak hal yang lebih banyak praktiknya dibanding materi. Seperti bela diri, sihir, etiket kesopanan, ilmu wawasan dan politik yang tentunya harus mereka kuasai dalam kurun waktu 7 tahun minimal sampai mereka berada di tingkat 3. Jika masih berada di tingkat 2, mereka akan mengulangnya atau di dunia Nachella akan di sebut dengan remedial. Sedengkan untuk sihir, minimal mereka harus ada di tingkat 2.
Dalam cerita, Nachella asli akhirnya di kirimkan seorang guru yang secara khusus mengajarinya berbagai pelajaran seperti bangsawan pada umumnya. Dirinya diajarkan etiket kesopanan saat berbicara, meminum teh, cara duduk, berjalan, maupun cara tidur katanya agar terlihat lebih anggun. Selain itu dia juga diajarkan keterampilan lain seperti memainkan musik, bernyanyi, ilmu politik, dan wawasan.
Aneh? Ya, tentu saja. Namun Nachella asli melakukan hal itu dengan semangat, meskipun jika ia masuk ke akademi dirinya akan dapat belajar lebih banyak dan keterampilan khusus lainnya atau jika peringkatnya masuk ke dalam tiga besar maka orang itu akan di ajarkan keterampilan khusus yang sangat langka, yaitu belajar bahasa asing.
“Sepertinya tidak, Putri” ucap Vio ketika dirinya mengingat kembali betapa protektifnya Raja Alexander, Pangeran Mahkota Leon, dan Pangeran Kedua Alaskar terhadap Nachella. Bahkan ketika Nachella ingin berkeliling istana saja harus dijaga oleh banyak pengawal dan pelayan. Tentu saja alasannya selalu sama, agar Nachella tidak terluka. Memikirkan hal itu seketika membuat dirinya menjadi sedih. Vio sangat merindukan ibunya yang selalu memperlakukannya dengan penuh kasih sayang, berbeda dengan ayahnya yang jarang datang menemuinya. Bahkan ia ragu jika ayahnya itu menganggapnya hidup.
Nachella tersenyum getir mendengar penjelasan Vio. Ia juga tahu betul bagaimana over protektifnya Alexander, Leon dan Alaskar. Namun kali ini, Nachella a.k.a Nachira ingin ia dapat pergi ke akademi agar ia dapat belajar langsung disana. Bertemu dengan orang baru dan pastinya dapat membuatnya mengenal karakter asli orang tersebut. Apapun yang terjadi, Nachella akan mengelurkan semua triknya agar ia diizinkan pergi ke akademi.
"Nachella" panggil seseorang dengan suara berat menghampiri Nachella yang kini menyembulkan kepalanya sembari tersenyum lebar.
"Ayah" ucapnya sembari berlari menghampiri ayahnya yang sudah siap dengan kedua tangannya yang terbuka lebar.
Hap, tubuh Nachella kini sudah berada dalam tubuh pria itu yang tak lain adalah Alexander.
"Hahahah, ayah aku geli" ucap Nachella bergeliat saat pinggangnya digelitiki oleh tangan kanan Alexander.
Dengan perlahan Alexander menurunkan Nachella yang sedari tadi duduk di tangan kanannya sembari memeluk lehernya membuat Nachella sedikit mengerucutkan bibirnya.
"Ayah" pinggil Nachella saat sebuah pikiran terlintas diotaknya.
Kedua jari telunjuknya saling beradu, dengan kepala yang ia tundukkan. Kaki kirinya ia jinjitkan sembari menggerakkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri. Imut, satu kata yang menggambarkan keadaannya saat ini.
"Kenapa, Sayang?" Tanya Alexander sembari menusuk-nusuk pipi Nachella gemas.
"A.. Ayah, bolehkah aku masuk akademi?" Tanya Nachella ragu.
__ADS_1
"Tidak boleh" sahut Alexander tegas.
Nachella membulatkan matanya, meskipun memang sedari ia sudah meyakini jika jawaban itulah yang akan diberikan Alexander padanya. Namun Nachella tidak akan menyerah karena di jiwanya yang sudah berumur 21 tahun itu masih sangat penasaran dengan sekolah di zaman itu. Terlebih lagi ada pelajaran tata krama, seni berpedang, memanah, ilmu politik, dan tentunya sihir yang tentu sangat ia nantikan. Jujur saja, sedari dulu ia sangat menyukai politik terutama berdebat. Jika saja orang tuanya tidak melarangnya mungkin sekarang dia akan terjun bebas ke dunia politik.
"Ayah, aku sudah besar. Lihatlah, bahkan anak lain seusiaku pada masuk akademi. Masa aku tidak?" Ucap Nachella sembari mengoyang-goyangkan lengan Alexander.
"Ayah, aku ingin belajar ilmu sihir, ingin berteman dengan banyak orang, aku ingin mengenal sifat mereka lebih dalam" lanjutnya saat melihat Alexander yang tidak bergeming sama sekali.
Haish, pria ini, pikir Nachella. Dia sudah hampir frustasi.
"Ayah, nanti aku ajak Vio untuk bersamaku masuk ke akademi. Dia yang akan menjagaku, ia kan Vio?" Ucap Nachella sembari menoleh dan tersenyum kearah Vio.
Oh, Kak Vio. Maafkan aku!, Ucapku dalam hati sembari menunjukkan puppy eyes ku ke Vio.
"Hamba tidak berani, Tuan Putri" ucap Vio membuat Nachella seketika menundukkan kepalanya. Dia sudah lelah saat ini, mungkin akan sia-sia saja.
Suara helaan napas kasar terdengar menyeruak di telinga Nachella, membuat gadis itu menoleh kearah sumber suara. Bertapa terkejutnya dia, saat mendapati ayahnya yang mulai berdiri yang berjalan menjauhinya lebih tepatnya Alexander berjalan ke arah Vio.
"Kau, jagalah anakku, Nachella. Dia sangat Nakal. Saya juga akan kirim kamu ke akademi bersama dengannya" ucap Alexander kepada Vio sebelum akhirnya pergi berlalu dari pintu kamar Nachella.
Nachella mengerjapkan matanya beberapa kali, berusaha mencerna ucapan ayahnya itu.
Dia mengizinkanku?, pikir Nachella dalam hati yang masih tidak percaya.
"Kakak, aku tidak salah dengar kan? Oh, ayahku terbaik!!" Ucap Nachella kegirangan.
Sedangkan disisi lain, Vio masih tidak percaya dengan tuan besarnya itu. Ini pertama kali dalam hidupnya, dianggap dan bahkan bisa merasakan pendidikan formal di akademi yang seharusnya hanya para bangsawanlah yang dapat merasakannya. Kali ini ia sangat beruntung dan itu semua berkat tuan putrinya, Nachella.
⚜⚜
Tak terasa 3 hari telah berlalu setelah kejadian dikamarnya waktu itu. Kini Nachella dan Vio telah bersiap pergi dari istananya dengan menaiki kereta kuda. Sesekali mata sembabnya melihat ke arah Alexander, Leon dan Alaskar. Ia sudah menangis semalaman karena sejujurnya ia tidak ingin meninggalkan istana terutama keluarga di dunia ini. Namun dunia ini kejam kawan, dia harus bisa bela diri terutama pedang agar dapat memastikan kehidupannya berjalan damai.
"Hiks, Ayah, Kak Leon, Kak Alaskar aku dan Vio pergi dulu ya. Dadah semuanya, jangan kangen aku ya" ucapnya sembari diikuti kekehan pelan diakhir ucapannya.
Nachella dapat melihat, jika ayah dan Leon wajahnya telah memerah menahan tangis yang sudah berada di pelupuk matanya. Sedangkan Alaskar, pria itu sudah menangis sejadi-jadinya sembari memeluk erat dirinya.
"Kakak jaga kesehatan baik-baik, ya" ucap Nachella menenangkan Alaskar yang masih belum mengendurkan pelukankan.
Dengan terpaksa, gadis itu mundur menjauhi Alaskar yang menatapnya sendu. Seutas senyum tercetak jelas di wajah imutnya. Entah mengapa ia begitu sedih, seolah ia benar-benar akan pergi jauh. Secara perlahan, Nachella mendekati dan naik ke kereta kuda yang sudah berisi Vio di dalamnya.
"AYAH! KAKAK! JAGA DIRI KALIAN YA!" Teriak Nachella dari dalam kereta yang perlahan keluar dari gerbang istana.
"KAMU JUGA SAYANG, JAGA DIRIMU!" Teriak Alexander tidak kalah kencang.
⚜⚜
__ADS_1
Langit biru berganti jingga, terlihat rombongan orang membawa kereta kuda melintasi jalan setapak membelah hutan yang tampak rimbun dipenuhi pohon. Perlahan rombongan itu terhenti saat sebuah padepokan dengan ukuran cukup besar semakin terlihat didepan mata.
"Tuan Putri, kita sudah sampai" ucap seorang pria yang merupakan kusir kereta kuda.
Gadis kecil yang dipanggil mulai membuka pelupuk matanya yang kemerahan karena sedari tadi ia terlelap dalam tidurnya selama perjalanan yang memakan waktu kurang lebih 5 jam dari istananya.
"Putri" ucap seorang wanita mengguncang tubuhnya perlahan.
Gadis kecil itu meregangkan tubuhnya, berusaha memenuhi ruangan dalam kereta kuda yang hanya mengangkut dia dan wanita disampingnya, Vio.
"Kak, Ayo kita keluar!" Ajaknya gadis itu sembari meraih pergelangan tangan Vio, meninggalkan kereta kuda yang memang tidak diizinkan masuk ke dalam padepokan.
Kedua sudut matanya berbinar saat matanya melihat lurus ke depan yang menampilkan sebuah padepokan mirip villa di dunia asalnya. Tempat itu sangat indah, diluarnya ditanami pohon-pohon rindang, gerbangnya dihiasi bunga yang menjuntai ke bawah.
Perlahan seorang pria parubaya keluar dari tempat tersebut. Menghampiri dirinya dan Vio sembari tersenyum lalu membungkuk 90 derajat.
"Salam Tuan Putri Pertama Kerajaan Courlage, selamat datang di Akademi Tratilion" sambutnya.
"Berdirilah, Tuan!" Ucap Nachella sembari tersenyum lebar.
"Silahkan masuk, Tuan Putri" ucapnya, lalu memimpin jalan Nachella dan Vio.
Keduanya tidak berhenti kagum melihat design dan arsitektur bangunan tersebut. Di depan yang Nachella yakini adalah ruang utama terdapat sebuah kolam teratai yang di tengahnya terdapat patung wanita yang membawa guci di pundaknya yang juga mengeluarkan air yang sangat jernih. Di sisi kiri, terdapat sebuah taman yang di penuhi bermacam bunga. Sedangkan di sisi kanannya yang terlihat lebih besar dipenuhi dengan kebun buah terutama apel merah yang membuat air liur Nachella seakan ingin keluar.
Langkah mereka terhenti di sebuah ruangan dengan nuansa klasik yang dipenuhi dengan rak buku dan beberapa meja panjang tanpa kursi, hanya alas untuk duduk di lantai.
Suara langkah saling bersahutan, mengalihkan pandangkan Nachella yang kini mulai mengedar mencari tahu siapa yang mendekatinya. Matanya tanpa sadar membulat saat mendapati Putra dan Putri para bangsawan yang telah hadir bersamaan menghampirinya.
Apa aku terlambat?, tanya Nachella dalam hati.
Oke, hari pertama dimulai dengan terlambat. Sangat bagus, lanjutnya sembari melirik Vio yang juga tengah melihatnya.
Matanya kembali mengedar, hingga tanpa sengaja matanya bertemu dengan sepasang mata berwarna merah darah yang terkesan angkuh dan ingin sekali ia hindari. Pria tersebut maju menghampirinya, membuat orang dilewatinya tanpa sadar membelah jalur menjadi 2 seolah mempersilahkannya berjalan dengan hormat tanpa hambatan.
"Kita bertemu lagi, Putri" ucap pria tersebut.
"Ya, salam saya kepada Yang Mulia Putra Mahkota Kekaisaran semoga Dewi Anocia melindungi Anda" ucapnya sembari membungkuk 90 derajat yang juga diikuti Vio.
Pria itu sedikit menyunggingkan senyumnya, membuat para putri bangsawan yang berada di sekitarnya berteriak histeris tanpa tahu tata krama.
"Putri Nachella, akhirnya kita bertemu lagi" ucap seorang wanita sembari memeluknya membuat tubuh Nachella membeku.
⚜⚜
TBC
__ADS_1