
Disinilah mereka sekarang, Nachella, Felix, Vio, Aryna, Orlando, Sean dan Frigid yang baru sampai ketika mendapat telepati Felix. Ruangan tersebut nampak gelap dan dingin, hanya terdapat satu jendela tempat keluar masuknya cahaya matahari yang mengarah tepat ke sebuah objek di atas meja.
"Apakah kau mengenalnya?" Ucap salah seorang pria dingin.
Di tangan pria itu sebuah pedang menancap tepat di objek diatas meja hingga terdengar retakan. Bau anyir dan amis semakin menyeruak di hidung mereka, mengundang beberapa lalat hinggap di atasnya.
"Ya, saya mengenalnya Putra Mahkota" ucap pria lain kepada pria tadi, Felix.
"Jadi apa pendapatmu, Frigid. Dia hampir membunuhku dan gadis itu"
Frigid seketika menoleh ke arah gadis yang di tunjuk Felix. Gadis itu diapit oleh dua gadis lain di sisi kanan dan kirinya
"Maafkan kecerobohan saya Putra Mahkota dan maafkan saya Putri Nachella" ucapnya sembari menundukkan kepalanya 90 derajat.
Felix seketika menarik kembali pedangnya, kemudian dia arahkan tepat di leher Frigid yang nampak gemetar.
"Sudahlah, kak. Lagian mana mungkin pria itu dapat membunuhmu" ucap Orlando sembari menahan lengan Felix.
Felix melirik sekilas sembari melayangkan tatapan tajamnya pada Orlando yang tengah nyengir kuda. Pedangnya ia sarungkan kembali hingga terdengar sebuah helaan napas lega milik Frigid.
"Kau selamat hari ini!"
"Dan untuk mu, Orlando. Aku memang selamat, tapi jika aku terlambat mungkin dia sudah jadi tulang berulang disana" ucap Felix.
Nachella memutar bola matanya malas. Padahal niatnya ia akan berterima kasih, tapi melihat sikap pria itu ia jadi mengurungkan niatnya.
"Ugh, maaf pangeran aku bisa melindungi diriku sendiri"
"Benarkah? Bahkan setelah napasmu terenah seolah itulah napas terakhirmu" ejek Felix.
"Percayalah, Putra Mahkota Felixious sejujurnya saya tidak pernah meminta tolong kepada anda untuk membantu saya dan perlu anda tahu, jika menolong itu harus dengan suka rela. Bukan justru menjatuhkannya" jelas Nachella diiringi senyum lebar di akhir katanya.
Tangannya sudah terapit di depan dadanya, dalam hati ia sudah siap merapalkan sihir portal perpindahan.
"Mau kemana kau?"
"Tentu saja, pergi!" Ucap Nachella saat perlahan sebuah pintu cahaya muncul di depannya.
Kakinya hendak melangkah masuk, sebelum kembali lagi ke tempatnya menarik dua gadis yang hendak ia lupakan.
"Tanpa perhomatan umum, balik kanan bubar. Jalan!" Ucapnya dengan nada seperti sedang melakukan baris berbaris sebelum menghilang bersamaan dengan portal yang tertutup dan menghilang.
"Tidak sopan!" Sarkas Felix.
⚜⚜
Nachella segera memangku dagunya dengan kedua tangan yang menempel pada sebuah meja panjang berwarna putih. Matanya menatap sekitarnya yang terdapat jejeran buku-buku yang tersusun rapi dalam sebuah rak yang menjulang tinggi berwarna putih yang sama dengan tembok ruangan tersebut.
Kakinya ia langkahkan menyusuri lantai marmer yang nampak mengkilap memantulkan cahaya. Hingga langkah kakinya berhenti saat dilihatnya sebuah rak khusus dengan banyak ukiran berwarna emas di sekelilingnya. Matanya menelisik penuh penasaran, tangannya menelusuri setiap buku yang di tariknya sebentar sebelum di taruh kembali di tempatnya.
Sebuah buku tiba-tiba bersinar cukup terang, sebelum akhirnya keluar dan jatuh tepat di telapak tangannya yang telah terbuka.
"Argetlam" gumamnya saat membaca judul buku berwarna biru tua dengan sentuhan warna perak yang membingkai sampulnya.
Ia membalikkan buku tersebut, membaca bagian belakang layaknya novel yang biasa ia baca hingga secara perlahan satu persatu huruf mulai timbul membentuk serangkaian kata yang sedikit sulit ia mengerti.
"Ah, jadi buku ini tentang sihir" ucapnya saat selesai membaca bagian belakang buku.
__ADS_1
Jari jemarinya membuka lembaran buku tersebut yang langsung bersinar sebelum akhirnya menghilang bersamaan dengan timbulnya tulisan dan gambar bergerak di dalamnya. Nachella semakin penasaran pada buku yang di pegangnya. Dengan cepat ia segera berjalan kepustakawan tentunya untuk meminjam buku tersebut selama beberapa hari untuk ia baca dan pelajari.
"Nachella Naiderfold Courlage, tahun kedua. 7 hari" ucapnya sebelum melenggang pergi meninggalkan perpustakaan.
⚜⚜
Di sudut lain kekaisaran, terjadilah sebuah perjamuan yang di datangi cukup banyak orang dengan memakai topeng menutupi sebagian wajahnya. Tubuhnya mereka balut dengan sebuah mantel berbulu dengan panjang selutut berwarna putih.
"Tuan, rencana kita gagal lagi" ucap salah satu disana, seorang pria dengan postur badan tinggi dan kurus.
"Benar Tuan, bagaimana jika kita melakukannya lagi malam ini" ucap pria dengan badan lumayan besar dibagian perutnya.
"Hmm.."
Pria yang mereka panggil dengan sebutan tuan hanya berdehem pelan, perlahan ia berjalan menghampiri pria berbadan besar tadi dengan sebuah pedang yang tersampir di pinggangnya. Dengan cepat tangannya menarik keluar pedang tersebut mengarahkannya pada leher pria tadi.
Crashh..
Atensi mereka seketika tertuju pada pria berbadan besar yang terjatuh dengan leher bersimbah darah. Sebuah deheman kembali terdengar, menarik kembali fokus mereka kepada tuannya yang nampak tersenyum miring.
"Hanya orang bodoh yang dapat menyarankan hal itu dan aku membenci orang bodoh" ucap pria dengan sebutan tuan tadi.
"Kau, bersihkan tubuh itu dan buang di hutan!" Perintahnya sebelum pergi keluar dari perjamuan dengan wajah penuh amarah.
⚜⚜
Brak!
Nachella berjengkit kaget dari duduknya saat pintu kamarnya di dobrak secara paksa bersamaan dengan datangnya dua orang gadis yang meneriakkan namanya.
"NACHELLA APA MAKSUDMU MENINGGALKAN KAMI?" Ucap kedua gadis itu bersamaan hingga langkah mereka terhenti tepat di depannya yang hanya menatap bingung kedua gadis itu.
"Ada apa? Kau melupakan kami, Chella!" Ucap Aryna sembari bersedekap dada.
Nachella mengernyit, setahunya sedari tadi ia sendiri di dalam kamar. Bagaimana bisa mereka bil...
OMG, gue lupa mereka kan tadi bareng gue di perpus, ucapnya dalam hati.
Nachella menepuk keningnya merutuki penyakit lupanya yang kian menjadi. Hingga sebuah tangan menahan pergerakannya. Kelopak matanya kembali terbuka yang langsung mendapat sambutan hangat, bukan sambutan tapi tatapan tajam kian menusuk dari kedua gadis di depannya.
"Udah inget sekarang?" Tanya Aryna yang di balas anggukan singkatnya.
"Hehe, ingat kak. Maaf" cicitnya sembari menundukkan kepala.
"Hah, apa?" Tanya Aryna lagi.
"Maaf" ucapnya.
"Jadi seorang tuan putri tuh harus tegas. Mana ada putri yang ngomong kayak gitu" sarkas Aryna.
Oh, ayolah. Demi dewa 19, mereka pasti lagi pura-bura budeg, batin Nachella menjerit.
Nachella menarik napasnya perlahan, sebelum menghembuskan napasnya kasar. Kepalanya ia angkat, matanya menatap fokus ke arah dua gadis di depannya yang tengah bersedekap dada.
"Maafkan aku Kak Aryna, Kak Vio. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi" ucapnya dengan tegas diiringi dengan rasa penyesalannya.
Kini tatapan fokusnya telah tergantikan puppy eyes nya yang seolah meminta mereka memaafkan kesalahannya. Hingga sebuah tangan berada tepat diatas kepalanya, mengusap surai merahnya.
__ADS_1
"Kami memaafkanmu, Putri" ucap Vio dengan senyumnya yang jujur saja sangat membuatnya merasa nyaman.
"Mengapa kakak memanggilku putri lagi? Padahal tadi saat di pintu, kakak memanggilku Nachella" tanya Nachella dengan wajahnya yang dibuat layaknya sedang menuntut penjelasan.
"Maaf, itu kesalahan"
"Aku lebih suka kakak memanggilku seperti itu, hanya nama buka tambahan 'putri atau semacamnya" ucapnya.
"Emm, itu.."
"Sudahlah, Vio. Turuti saja bayi kecil kita ini" ucap Aryna.
"Aku bukan bayi kakak, usiaku 10 tahun sekarang"
"Oh, baiklah anak kecil"
"Aku sudah besar kakak"
"Kau masih kecil. Lihat, baju akademi saja terlihat sangat besar di tubuh kecilmu itu. Berarti kau masih kecil!" Ucap Aryna sembari menunjuk baju yang dikenakannya.
Nachella mendengus pelan. Memang benar kata gadis didepannya yang bernama Aryna ini jika tubuhnya masih kecil. Tapi jiwanya sudah berumur, woy! Mereka gak sopan sama yang lebih tua.
"Aku menyerah, aku lucu, aku imut, aku sabar, aku diam" ucapnya pasrah yang langsung disambut gelak tawa kedua gadis di depannya.
"Jadi bagaimana Kak Vio?" Tanyanya pada Vio sembari menaik turunkan kedua alisnya.
"Baiklah" ucap Vio terdengar pasrah.
"Yeyyy!!" Teriaknya kencang.
Tanpa mereka sadari, jika interaksi ketiganya tidaklah terlepas dari perhatian dua orang pria yang tengah memperhatikan mereka dari sudut pintu kamar. Kedua pria itu bersembunyi dengan sihir tembus pandang yang mereka gunakan sedari tadi sembari menyusuri ruang akademi. Mereka nampak menikmati tontonan di depan mereka, hingga salah seorang dari pria tersebut menarik sedikit sudut bibirnya membentuk senyum tipis.
"Ayo kita pergi!" Ucap pria itu yang langsung diikuti pria di belakangnya.
Sesekali pria di belakangnya tersenyum lebar, saat melihat wajah penuh kebahagiaan gadis kecil di depannya tadi.
"Tetaplah tertawa, Putri" ucapnya sebelum pergi mengekori pria yang sudah berada cukup jauh dengannya.
⚜⚜
Di sudut lain akademi, seorang gadis membanting barang-barang di sekitarnya penuh dengan amarah. Tangan kanannya mengambil pisau buah di dekatnya sebelum melemparkannya asal hingga ke membentur tembok ruangan tersebut. Gaun merahnya sudah tidak lagi terbentuk akibat banyaknya sayatan yang ia timbulkan sendiri. Tangannya menarik kasar surai pirangnya hingga terasa sakit yang tidak ia pedulikan.
Tanpa ia sadari, sebuah asap hitam perlahan masuk melalui jendela kamarnya yang gelap tanpa penerangan. Tentu saja ia melakukannya dengan sengaja, agar kegiatannya di kamar ini tidak dapat diketahui orang lain.
"Argh!" Erangnya saat asap hitam memasuki tubuhnya secara perlahan.
"Sakit" ucapnya lagi sembari menarik kembali rambutnya.
"ARGHH! SAKIT" teriaknya sebelum kesadarannya menghilang
Mata kembali terbuka, menampilkan netra hitam kelam kian menusuk bersamaan dengan munculnya api berwarna hitam di sekitarnya.
Tap.. Tap.. Tap..
Terdengar langkah kaki semakin mendekat kearahnya. Matanya dengan cepat berubah seperti semula, magenta.
⚜⚜
__ADS_1
TBC