The Bloom At Royal Harem

The Bloom At Royal Harem
13. Bola Sihir


__ADS_3

Di sebuah aula besar yang di kelilingi kaca, kaca itu bukanlah kaca sembarangan. Kaca itu merupakan potongan kristal yang sangat langka berusia ribuan tahun yang konon sudah ada sejak dua ribu tahun yang lalu. Kaca yang mengandung unsur magis di dalamnya, mampu memperlihatkan kekuatan sihir seseorang namun tidak dapat membahayakan orang lain yang berada di sekitarnya. Kaca itu menangkap sihir, lalu mengembalikannya kembali ke dalam tubuh pemiliknya tanpa merusak atau melukai orang lain.


Dan sinilah para siswa akademi berkumpul. Mereka menggunakan seragam akademi yang berbeda beda sesuai dengan tingkat sihir yang mereka miliki. Hitam untuk tingkat 1 dan 2 atau pemula, biasanya untuk seragam ini di pakai siswa yang baru masuk ke akademi atau bisa juga dipakai oleh siswa lama namun energi sihirnya sulit berkembang sehingga ia masih berada di tingkat 1 dan 2. Abu untuk siswa tingkat 3 dan 4 atau senior, pada tingkatan ini para siswa sudah mampu mengendalikan sihir miliknya dan gerakannya juga sudah lumayan sulit dibaca lawan. Biru untuk siswa tingkatan 5 dan 6, pemilik tingkatan ini sudah bisa menciptakan sihir sendiri sesuai dengan sihir yang mereka miliki. Pemilik tingkatan 5 dan 6 disebut langka karena dianggap sangat sulit di temui dan biasanya pemilik tingkatan ini adalah bangsawan kelas atas seperti kaisar, permaisuri, raja, ratu, pangeran dan putri yang jumlahnya sangat terbatas. Adapula merah, pemilik seragam ini di sebut istimewa kerena sangat jarang di temui dan jumlahnya yang terbatas berada di tingkatan 7 atau tingkat sempurna. Menurut cerita pemilik tingkatan 7 pernah muncul 300 tahun yang lalu bersamaan dengan lahirnya pemilik sihir cahaya. Hingga sekarang pemilik tingkatan ini masih belum di temukan lagi.


Para siswa membentuk barisan memanjang sesuai dengan seragam yang ia kenakan dan lencana emas bertulis ‘Tritilion’ yang mendakan bahwa mereka merupakan murid resmi akademi tersebut. Di belakang mereka telah siap hamparan meja dan kursi yang dapat mereka duduki sesaat setelah kedatangan ketua akademi dan anaknya, Frigid dan Sean yang berjalan di atas panggung mirip altar dengan sebuah bola kristal yang berada di tengahnya.


“Selamat pagi! Sekarang saya akan menyebutkan nama kalian satu persatu, kemudian yang merasa namanya di panggil silahkan maju dan memegang bola sihir ini untuk mengetahui jenis kekuatan sihir yang kalian miliki” ucap Frigid yang seketika mengalihkan atensi para murit yang langsung tertuju padanya.


Mendengar hal itu, membuat para siswa akademi begitupun dengan para murid pemula yang segera mencari tempat kosong untuk mereka tempati sembari menunggu namanya di panggil.


Tangan Frigid perlahan membuka lembaran kertas yang semula tergulung hingga mulai terbuka dan panjangnya hanya menyisakan satu meter dari murid di barisan paling depan.


Ugh, panjang banget kayak cicilan ibu-ibu arisan, batin Nachella yang berada di sudut aula tersebut, di sebuah meja besar yang kosong dan hanya di tempatinya serta Vio.


“Axelian Dormantilius” panggil Frigid.


Tak lama seorang pria dengan rambut di belah tengah berwarna hitam mulai berjalan membelah kerumunan yang nampak ramai saat namanya disebut. Terlihat jika pria itu cukup tengil apalagi dengan gaya jalannya yang terkesan di buat-buat. Sangat tidak cocok dengan wajahnya yang terbilang biasa saja.


Pria itu kini berdiri di hadapan bola kristal, tangannya langsung menyentuk bola tersebut yang secara perlahan memunculkan cahaya terang berwarna hijau tua disusul dengan tanaman merambat mengelilinginya yang entah tumbuh dari mana.


“Kau seorang pengendali tumbuhan, silahkan kembali” ucap Frigid.


“Angelina Fradenmusk”


Kini seorang gadis dengan rambut pendek sebahu berwarna coklat maju. Matanya yang tertutup kacamata tidak menutupi wajah serta paras imut yang ia miliki, belum lagi dengan netra berwarna coklat yang terlihat sangat serasi dengan warna rambutnya menambah kesan tersendiri untuknya.


Bola itu kembali bersinar sesaat setelah gadis itu meletakkan tangan di atasnya. Cahaya terang berwarna coklat di susul dnegan bunyi retakkan dari inti bumi menimbulkan sedikit kegaduhan disana. Mata mereka kini tertuju pada sebuah patung yang terbuat dari tanah yang kemudian melebur seketika saat gadis itu menarik kembali tangannya dan kembali ke posisinya semula.


“Kau pengendali bumi” ucap Frigid tanpa menghiraukan Angelina yang sudah berlalu dari hadapannya.


Nachella menarik napasnya dalam. Ia sangat grogi saat ini terlebih lagi dia masih belum mengetahui jenis sihir apa yang ia miliki. Dalam cerita, nachella asli tidak pernah mengetahui sihir yang ia miliki sampai ia meninggal. Sedangkan dalam dunia nyata, Nachira tidak pernah menjelaskan sihir apa yang Nachella miliki. Sungguh ini adalah situasi yang sulit baginya. Di tengah kegundahannya, sebuah atensi menyadarkan dan menariknya secarapaksa kembali ke dalam keadaan.


“Nachella Naiderfold Courlage”


Deg.. Deg.. Deg..


Kini semua mata tertuju padanya, bersamaan dengan detak jantungnya yang kian berpacu layaknya kuda di arena balap. Matanya melihat sebentar ke arah kanannya yang terdapat seorang gadis yang juga tengah menatapnya sembari tersenyum hangat.


“Semangat, Putri” ucap Vio.


⚜⚜


Nachella POV


“Semangat, Putri” ucap Kak Vio.


Aku tersenyum getir mendengar ucapnya yang menggebu-gebu sembari menunjukkan kepalan tangannya di udara.


“Terima kasih, Kak” sahutku yang langsung berdiri tegak, berjalan menghampiri Sean yang sedari tadi melambaikan tangannya memintaku untuk mendatanginya atau lebih tepatnya ke mendatangi bola kristal yang sedari tadi seolah sedang mengejekku.


Aku melirik sekilas ke arah Sean dan guru ternyata juga tersenyum tipis ke arahku.


“Peganglah, Tuan Putri” ucap Frigid saat melihat keraguan yang muncul dari manik mataku.


Dengan ragu, perlahan aku mulai meletakkan tangan di atas bola sihir hingga cukup lama bagiku memegang batu ini namun tetap tidak ada satu pun warna cahaya yang keluar dari sana. Bahkan bisa ku dengar di belakang sana bisikan-bisikan penuh dengan nada mengejek.


Apa aku beneran gak punya sihir? Aduh, kenapa juga dulu gak akun cantumin jenis sihir Nachella sih. Ayolah ku harap, aku punya sihir yang dapat membuatku merasakan indahnya dunia ini, ucapku penuh harap.


Aku mendengus pelan. Perlahan aku menutup kedua mataku, berharap keajaiban dapat muncul disini hingga tanpa kusadari sebuah cahaya terang mulai muncul dari bola sihir yang kemudian bersinar semakin terang.

__ADS_1


“Chella, bukalah mataku” perintah seseorang.


Mendengar namaku di panggil, aku secara perlahan membuka mata hingga terlihatlah seorang wanita yang sangat cantik dengan pakaian khas dewa-dewi yunani berwarna putih yang melekat di tubuhnya. Tangannya dibalut sebuah gelang memanjang sampai dengan siku yang juga tersambung cincinnya yang berwarna emas, selendang tipis berwarna putih yang seperti lebih lebut dari kain sutra, dan mahkota emas berbentuk sulur akar melengkung tinggi dengan bagian tengahnya yang berbentuk bunga teratai, membalut surai peraknya yang lurus panjang. Wanita itu tersenyumhangat sembari menghampiriku.


“Selamat datang di duniaku” ucap wanita itu.


Aku masih saja terpaku menatap wanita itu. Jika aku yang wanita saja sudah terpesona begini, apalagi pria. Sudah ku pastikan para pria-pria itu sudah mati berdiri karena kecantikan wanita di depanku.


“Apakah aku secantik itu?”


“Ya, e.. eh” kagetku yang seolah membongkar jika sedari tadi aku terpesona olehnya.


“Kau siapa? Jangan bilang kau malaikat maut, mana ada malaikat maut sepertimu?” tanyaku.


Dapat kulihat wanita itu terkekeh pelan. Aku yang melihat itu seketika membuang wajahku kesembarang arah hingga mataku dibuat melotot saat melihat para murid akademi Tritilion menutup matanya seolah ada sesuatu yang menghalangi mereka melihat kejadian saat ini. Aku melihat ke sekelilingku yang lain, hingga terlihatlah Felix, Vio dan guru Frigid yang masing membuka matanya dengan raut wajah aneh.


“Aku? Aku adalah Dewi Anocia”


“Dewi Anocia? Apa aku beneran sudah mati?” tanyaku kaget hingga dia kembali terkekeh menampilkan senyumnya yang menyilaukan mata.


“Apakah sebegitu inginnya kau mati?”


“Ugh, tentu saja. Tidak!” ucapku sembari membuang napas kasar.


Siapa juga yang mau mati muda di kedua kali? Aku cukup senang berada di tempat ini. Tempat yang udaranya sangat bersih, jauh dari pusat kota yang hingar bingarnya di penuhi polusi udara dan polusi suara yang kerap kali membuat kepalaku berdenyut nyeri.


Dewi Anocia mengedarkan pandangannya kearah pandanganku tadi.


“Kau memiliki sihir yang sempurna, sehingga kau dapat memanggilku. Berbeda dengan mereka. Mata mereka terhalang oleh cahaya yang kuhasilkan saat turun menemuimu, sedangkan bagi beberapa orang yang memiliki tingkatan yang cukup tinggi mampu melihat kejadian ini meskipun mereka tidak dapat mengetahui inti dari pertemuan ini” ucapnya panjang lebar.


“Aku ada tugas untukmu, Chella”


“Tapi maaf dewi, aku Nachira bukan Nachella. Aku hanyalah jiwa yang tersasar dan tak tau arah jalan pulang” ucapku menyela.


“Ya aku tahu itu. Tapi aku tidak bisa meminta tolong kepada orang lain. Mereka lemah sedangkan kau kuat, kau memiliki segalanya. Sesuatu yang ku butuhkan untuk memperbaiki dunia ini yang hampir rusak karena sebentar lagi bahaya akan datang menyebabkan kehancuran dunia ini. Orang terdekatmu, ayah, kedua kakakmu, sahabatku, dan orang yang kau cintai akan mati di tangannya. Tentu kau tidak ingin hal itu terjadi bukan? Maka, ku mohon bantulah aku perbaiki dunia ini jagalah dunia ini dan akan ku kirimkan seorang teman untuk membantumu menjalankan tugas berat ini”


“Pilihannya ada di tanganmu dan kembalilah sekarang. Mereka semua menantimu” ucap Dewi Anocia yang perlahan menghilang.


“Tunggu, jadi aku harus bagaimana?” teriakku pada cahaya Dewi Anocia yang kian memudar.


Nachella POV END


⚜⚜


Author POV


Cahaya perlahan meredup disusul dengan terbukanya mata para siswa. Kini bola sihir yang semula berwarna putih kebiruan berganti warna menjadi biru laut disusul dengan munculnya air dari kolam teratai yang letaknya tidak jauh dari aula tersebut. Air itu tertarik oleh sesuatu, mirip seperti magnet tak kasat mata. Air tersebut nampak berbutar mengelilingi tubuh Nachella yang dibalut gaun putih magis, membuat mereka yang melihatnya seketika merasa takjub. Hingga cahaya dari bola sihir kembali berganti menjadi abu-abu yang mulai memunculkan sengatan petir di dalam aliran air tadi. Sengatan listrik itu kian memanjang, membentuk sebuah kubah yang berada tepat di atas kepala Nachella.


Nachella yang menyadari hal aneh seketika menarik kembali tangannya bersamaan dengan efek sihirnya yang mulai sirna. Gaun magisnya telah kembali seperti semula menjadi seragam akademi siswi tahun pertama, air dari kolam teratai pun telah kembali ke tempatnya.


“Kau..” ucap Frigid yang nampak ragu atas apa yang baru saja dilihatnya.


“Putri Nachella memiliki keajaiban, anda pengendali petir dan sihir langka air” lanjutnya yang langsung di sambut tepuk tanganpara siswa.


Jujur saja Frigid bingung dengan kejadian yang baru saja terjadi. Tidak bisa di pungkuri olehnya jika keturunan Courlage merupakan pengendali air yang mungkin saja diturunkan oleh ibunya yang merupakan pengendali air juga sebelum kejadian nahas harus di terima keluarga itu. Tapi meskipun begitu, pengedali air sangat sulit ditemukan, bahkan biasanya hanya ada 10 diantara 1001 orang yang dapat memilikinya dan Nachella adalah pengecualiannya. Terlebih lagi dengan cahaya kebiruan yang sempat muncul di awal, dia masih belum mengetahui jeis sihir apa itu.


Yang ia tahu, di Kekaisaran Visilion hanya terdapat 6 jenis kekuatan sihir. Api milik keturunan Kekaisaran Visilion, petir untuk keturunan Kerajaan Courlage, air sihir langka yang berasal dari Kerajaan Grabelin, sihir bumi dan tanaman yang biasanya dimiliki para bangsawan, dan angin yang dimiliki kaum biasa atau rakyat.


“Vionarry Rosevelt Embrige” panggil Frigid yang mencoba memusatkan kembali perhatiannya.

__ADS_1


Namun lagi-lagi pikirannya kembali kacau saat mendapati nona yang sedari kemarin bersama dengan Putri Nachella mengeluarkan elemen cahaya yang sangat jarang, warna putih yang juga disusul dengan warna merah yang menyala dengan sangat terang. Tubuhnya juga kini di balut dengan sebuah gaun magis dengan api berkobar di sekelilingnya.


Dia, pengendali cahaya dan api?, pikir Frigid yang langsung ia tepis.


"Ka.. Kau pengendali air, nona Vio" ucapnya lalu mempersilahkan Vio untuk turun.


⚜⚜


Felix hanya menatap lurus kearah seorang gadis yang tengah melempar senyumnya ke arah gadis lain yang kini hendak menghampiri Frigid. Hingga sebuah cahaya putih terang disusul dengan warna merah sama seperti miliknya kembali menyadarkannya. Gadis itu tanpa di duga mengganti bajunya secara tiba-tiba dengan sebuah gaun berwarna merah yang berkobar api dan tombak berhias kristal berwarna putih yang berada di tangannya. Rambut silvernya tergerai dan berkibar selayaknya ada sebuah angin kencang yang menerpanya.


"Siapa gadis itu?" Tanya Felix.


⚜⚜


Terlihat dua orang gadis dengan pakaian santai berwarna kuning memasuki tempat makan yang sudah di penuhi banyak siswa. Matanya mengedar, mencari bangku kosong yang bisa mereka tempati untuk mengisi perut mereka yang telah di demo habis-habisan oleh para cacing di perut.


"Kak, disana kosong!" Ucap Nachella penuh semangat sembari menunjuk 2 buah bangku kosong dengan meja panjang di sudut ruangan.


Tanpa menunggu jawaban gadis di sampingnya, Nachella langsung menarik tangannya menghampiri kursi tersebut agar tidak didahului orang lain.


Karena cukup jauh dari pintu masuk, sesekali mata keduanya dapat melihat jika orang di sekitar menatap mereka dengan berbagai ekspresi. Ada kekaguman ada pula yang seperti bergunjing, tak terkecuali Katterina yang langsung tersenyum palsa saat tatapan mereka tidak sengaja bertemu.


Ugh, menjijikan!, pikir Nachella.


Mereka akhirnya mendudukan dirinya di kursi sesaat setelahnya 3 orang pria menghampirinya hingga terdengar pekikan dan teriakan para gadis menyambut mereka.


"Putri, bolehkah saya duduk?" Tanya Sean.


Belum sempat Nachella menjawab, Felix dengan cepat menyahut.


"Tentu saja, memangnya siapa yang bisa melarang kita?" Ucap Felix dingin.


Nachella membuang napasnya kasar, rasanya ia ingin meninggalkan tempat tersebut tapi lagi-lagi dirinya gagal. Saat mendapati Frigid mulai memasuki ruangan disusul dengan ketukan 3 kali pada gelas kaca yang terletak di depannya. Dengan terpaksa ia kembali duduk bersama Vio, Sean, Felix dan adiknya, Orlando.


"Terima kasih karena para putri, pangeran, dan nona bangsawan sudah bersedia mengikuti pembelajaran akademi. Untuk menghilangkan semua kelelahan yang kalian rasakan, silahkan dinikmati semua hidangan yang telah tersedia" ucapnya sembari membuka lebar kedua tangannya.


Tak lama, sebuah cahaya sihir terbentuk bersamaan dengan munculnya berbagai macam jenis makanan dan minuman yang telah tersusun rapi di atas meja.


Nachella yang melihat itu, menatap penuh lapar. Dirinya sudah tidak sabar melahap ayam goreng, daging panggang, kentang, dan sejenisnya, terlebih cacingnya terus berdemo yang membuat pipinya semakin memerah takut jika orang lain mendengarnya.


Nachella dengan cepat mengambil 5 ayam goreng bagian paha, 2 buah daging panggang, dan sebuah kentang kukus ke atas piringnya. Kemudian tangannya juga mengambil dua gelas berisi air soda lemon, dan jus mangga kesukaannya tanpa memperdulikan tatapan sekitarnya yang tengah menatapnya heran.


"Apakah di kediaman Courlage tidak ada makanan?" Tanya Felix yang heran dengan porsi makan Nachella yang terbilang cukup banyak untuk seorang gadis bangsawan.


Nachella hanya mendengus pelan, tanpa berniat menjawab pertanyaan menyebalkan Felix. Dirinya kembali fokus melahap ayam goreng yang kini hanya tersisa tulangnya saja.


Di lain meja, Katterina menatap penuh amarah kearahnya sekaligus jijik dengan sikap Nachella yang seolah mencorengkan gelar bangsawan kelas atas yang dimilikinya.


"Lihatlah, Putri Nachella terlihat lucu saat makan"


"Iya, padahal porsi makannya banyak tapi dia tetap langsing"


"Ah, aku jadi sedikit iri"


Katterina membuang napas kasarnya pelahan, kemudian sudut bibirnya secara terpaksa ia angkat membuat semburat senyum.


"Iya, Putri Nachella sangat imut. Aku jadi ingin berteman dengannya" ucap Katterina dengan seringai tipisnya.


Author POV END

__ADS_1


⚜⚜


TBC


__ADS_2