The Bloom At Royal Harem

The Bloom At Royal Harem
Kepergian Nachella


__ADS_3

Semburat jingga mulai hadir di langit yang kian temaram. Para warga telah bersiap menggantung lampion di depan rumah mereka, menerangi malam yang sebentar lagi akan hadir.


Disudut lain istana, seorang wanita yang nampak sibuk merapikan deretan gaun santai yang ia kemudian ia masukkan ke dalam tas lebar. Hingga sebuah ketukan pintu mengalihkan atensinya. Terlihat seorang pria masuk dengan gelas yang ia letakkan diatas nampan. Seketika membuat wanita itu menggunakan sihirnya untuk membuat tubuhnya tembus pandang bersamaan dengan tangannya yang memeluk tas itu.


"Chel.. Eh, kemana dia?" Ucap pria itu sembari menoleh ke kanan dan kirinya. Sebelum akhirnya pergi meninggalkan gelas berisi coklat panas yang tadi dibawanya.


Sesaat setelah kepergian pria tadi, wanita itu kembali menampakkan wujudnya.


***


Kokkokokkkk


Kicauan burung menyambut pagi cerah. Cuaca hari ini sedikit lebih hangat dibanding hari sebelumnya. Salju telah menipis seiring berkurangnya jumlah butiran salju yang jatuh ke bumi.


Aroma harum perpaduan vanila dan coklat menyeruak keluar dari sebuah ruangannya yang dipenuhi asap tebal. Tak lama seorang wanita keluar sembari membawa nampan penuh berisi kue warna warni. Dipipinya di penuhi tepung terigu.


"Uwaw, wangi apa ini?" Ucap seorang pria yang tanpa izin mengambil kue diatas nampan.


"Kak, ih! Ini buat stok makan aku" ucap wanita itu yang tidak lain adalah Nachella.


"Gak boleh pelit begitu, Chella" ucap pria lain yang datang tiba-tiba dan ikut serta mengambil kue lain.


Nachella cemberut, memajukan bibirnya beberapa centi melihat tingkah kedua kakaknya yang selalu seperti itu setiap harinya.


"Makanlah yang ada di dapur. Jangan mengambil punyaku lagi" ucap Nachella yang langsung melenggang pergi menuju kamarnya.


Sepanjang jalan, Nachella bergumam tidak jelas merutuki sifat kedua kakaknya yang tidak pernah berubah. Padahal usia mereka sudah sangat pas untuk menikah tapi kedua itu masih sibuk melajang mengganggu dirinya yang masih sendiri tanpa pasangan.


Sesaat setelah Nachella masuk kedalam kamarnya, ia melepas cincin berukir naga. Cincin itu bukanlah sembarang aksesoris, melainkan benda magis yang dapat menyimpan banyak benda didalamnya atau lebih dikenal dengan sebutan cincin ruang.


Dengan perlahan, ia memasukkan satu persatu kue yang tadi dibawanya ke dalam cincin itu. Di dalam cincin itu juga sudah terdapat tas berisi gaun santai yang ia persiapkan semalaman. Hal itu bukanlah tanpa alasan, karena dirinya berniat pergi keluar istana untuk memperdalam ilmu sihirnya sekaligus mengenal dunia luar.


"Sebaiknya aku berangkat saat tengah malam nanti" ucap Nachella dengan senyum lebar diwajahnya.


***


Udara dingin, tak nyurutkan perjalanan sebuah kereta kuda yang melaju perlahan membelah jalan setapak hutan dengan dijaga puluhan kesatria berkuda yang siap menjaga tuannya yang sedang tertidur lelap di dalamnya.


Pria itu nampak damai dalam tidurnya. Tubuhnya dibalut mantel coklat yang terbuat dari bulu beruang yang baru ia dapatkan awal musim saat perburuan. Di sampingnya, sebuah pedang nampak berkilauan dengan dilapisi kain yang menjadi simbol kebanggaan sekaligus statusnya.

__ADS_1


"Sonny, hentikan kereta. Kita akan bermalam disini" ucap pria itu.


"Baik Yang Mulia" ucap pria yang dipanggil Sonny itu.


Tak lama kereta kuda berhenti yang juga diikuti para ksatria yang kini mulai sibuk membangun tenda di dalam hutan yang sepi dan dingin.


***


Suara serangga malam berbunyi, bersamaan dengan semakin tingginya bulan di langit.


Terlihat seorang wanita berjalan mengendap, bersembunyi dari balik tembok menghindari beberapa orang yang mondar-mandir sibuk menjaga sebuah kediaman besar yang nampak sepi. Wajar saja, hari sudah menunjukkan tengah malam. Dimana sang pemilik rumah telah asik masuk ke alam mimpinya yang penuh fantasi.


Kriett.


Tanpa sengaja wanita itu menginjak sapu gagang yang sontak menarik perhatian para penjaga yang langsung mendatangi tempat kejadian. Ia segera melompat, melewari atap-atap hingga keluar istana. Pengejaran pun telah berakhir, ia berjalan santai menyusuri hutan dengan sebuah lentera ditangannya.


"Ugh, sepi banget" ucap wanita itu yang tidak lain adalah Nachella.


Tubuh Nachella dibalut gaun abu-abu, dengan jubah bertudung hitam yang menutupi sebagian wajahnya yang polos tanpa hiasan termasuk mahkota yang biasa melekat di puncak kepalanya.


Nachella semakin masuk kedalam hutan, hingga terlihatlah sebuah gua berukuran lumayan besar yang sangat cocok untuk dijadikan tempat beristirahat, menunggu pagi tiba. Dengan cepat Nachella berjalan menghampiri gua tersebut.


Begitu sampai di dalam gua, Nachella melihat tumpukan kayu, batu dan tikar yang terbuat dari jerami yang telah digelar diatas tanah. Tanpa pikir panjang, Nachella langsung menyusun tumpukan kayu tadi sembari membuat sihir petir hingga tercipta percikan api dari kayu tadi.


***


Pagi hari nan cerah, di sebuah kediaman nampak heboh dengan kabar menghilangnya seseorang saat terjadinya badai salju kemarin. Terlihat beberapa orang berlalu lalang menyusuri setiap sudut kediaman, namun tidak satupun yang bisa menemukan orang itu yang tak lain adalah putri dari sang pemilik kediaman, Nachella.


Ya, mereka baru menyadari hilangnya Nachella saat Vio datang mengetuk pintu kamarnya sembari membawa segelas coklat hangat yang sangat disukai Nachella. Namun kenyataannya berbeda, Vio justru menemukan ruangan kosong nan rapi seperti tidak ada seorang pun yang menempati ruangan itu sejak semalam.


"Khak, apakah kau sudah menemukan Chella?" Tanya Vio dengan napas terengah. Ia telah mencari ke setiap sudut ruangan sejak 2 jam yang lalu.


"Belum. Bagaimana denganmu, kak?" Tanya Alaskar lagi pada Leon yang baru datang sembari membawa selusin prajurit dibelakangnya.


"Belum. Aku akan coba bertanya pada ayah" ucap Leon yang hendak berbalik, namun suara bariton dari balik punggungnya seketika membuat ia menghela napas kesal.


"Aku tidak menemukannya" ucap Alexander dengan wajah datarnya.


"Ini semua salah kalian, kenapa tidak menjaga adik kalian. Sekarang bagaimana keadaannya? Diluar dingin, dia bisa sakit" ucap Alexander khawatir memikirkan keadaan putri kecilnya itu.

__ADS_1


***


Sedangkan di sisi lain, seorang wanita nampak berguling tak nyaman diatas sebuah mantel besar yang membalut tubuhnya. Matanya perlahan membuka, menampilkan netra biru miliknya yang sangat mampu menyihir siapa saja yang melihatnya. Tak lama ia berdiri, dengan tangan yang ia rentangkan ke atas.


"Huahh, selamat pagi dunia!" Sambut Nachella dengan senyum merekah di bibirnya.


Segera setelahnya, ia merapikan kekacauan yang ia timbulkan semalam sebelum melanjutkan perjalanannya menuju Bukit Eurydice yang terkenal dengan danau birunya yang indah, dikelilingi hamparan bunga sakura disekelilingnya. Membayangkannya saja, Nachella sudah tersenyum senang.


***


"Yang Mulia, apakah kita langsung kembali ke istana?" Tanya seorang pria dengan pakaian ksatria menghampiri seorang pria yang tengah membasuh rambut merahnya yang menyala di dalam kegelapan tenda.


"Nanti saja, aku ingin menikmati pemandangan di kota ini yang katanya sangat indah. Dimana tempat terbaik yang bisa ku kunjungi di daerah ini" ucap pria yang dipanggil "Yang Mulia" itu.


Sonny nampak berpikir, sembari mengingat setiap perkataan warga yang di sedari kemarin mereka lewati. Hingga ia mengingat ucapan seorang wanita tua yang melewatinya tadi pagi saat dia dan prajurit lain sedang mencari sarapan untuk tuannya.


"Ada Yang Mulia, tadi saya dengar dari seorang wanita tua katanya di daerah sini ada sebuah danau yang terkenal dengan pemandangan indahnya. Kalau tidak salah namanya adalah Danau Eurydice, Yang Mulia" ucap Sonny sembari menampilkan senyum lebarnya.


"Baiklah, ayo kita kesana" ucap pria itu.


***


Nachella POV


Tak terasa, 2 jam telah berlalu. Kini aku telah sampai dihamparan padang luas yang di penuhi bunga sakura yang sangat memanjakan mata. Udara disini pun terasa sangat sejuk, membuat siapa saja akan merasa tenang, kecuali diriku sendiri.


Bayangkan saja, niat hati ingin liburan sembari menengkan diri dari hiruk pikuk kota yang dipenuhi politik istana yang memuakkan namun berakhir dengan pusingnya kepala karena terlalu banyak panggilan telepati yang masuk ke otaknya.


"Mungkin di kehidupan yang lalu aku telah melakukan dosa besar, hingga sekarang aku tidak bisa mendapat ketenangan walaupun hanya sehari" ucapku sembari membuang napas kasar.


Dengan terpaksa, aku menjawab panggilan Vio yang langsung di sambut deretan pertanyaan yang entah harus mulai ku jawab dari mana. Saking banyaknya, aku sampai terdiam sembari terus berjalan menghampiri danau hingga tidak kusadari seorang pria telah berada tepat di depanku, dan.


Brak!


Kami jatuh bersamaan di atas rumput, sebelum saling menunjuk satu sama lain.


"Kau!"


"Kau!"

__ADS_1


Nachella END POV


***


__ADS_2