
5 tahun kemudian..
"Satu.. Dua.. Satu.. Dua.. Ya seperti itu" ucap seorang wanita parubaya dengan tongkat kayu di tangannya. Matanya tertuju pada sekumpulan gadis bangsawan yang dibalut gaun berwarna-warni.
"Ya, seperti itu kiri.. mundur.. kanan.. kiri.. maju" lanjutnya mengarahkan para gadis mengikuti ucapannya.
"Baik semua, kelas kita sudahi hari ini. Untuk kelas selanjutnya kita akan berdansa dengan para pangeran" ucap wanita itu yang langsung di sambut sorak sorai para gadis bangsawan, kecuali ketiga gadis dengan gaun model halter berwarna caramel. Ketiga gadis itu nampak mengerucutkan bibirnya ke depan.
"Chella gimana nih? Ah aku tidak mau jika harus dansa dengan pria-pria menyebalkan seperti mereka" ucap Aryna yang juga di setujui Vio.
"Aku juga tidak ingin kak. Bagaimana jika kita pura-pura sakit saja?" Saran Nachella.
"Tidak-tidak, itu akan sangat ketahuan. Mana mungkin kita sakit di waktu di waktu yang sama? Mustahil apalagi kita bertiga adalah teman dekat" jelas Vio.
"Ah, benar juga. Kenapa aku gak kepikiran? Ah, sudahlah kak nanti saja kita memikirkannya. Aku ingin ke kamar sekarang. Sampai jumpa di kelas tata krama nanti" ucap Nachella yang langsung bergegas pergi tanpa menunggu jawaban kedua gadis di depannya yang nampak bingung memikirkan solusi dari permasalahan yang akan mereka hadapi.
⚜⚜
Nachella POV
Srekk...Srekk..
Silih berganti lembaran kertas terbuka dihadapan seorang gadis yang tengah duduk bersila di dalam ruangan yang dipenuhi tumpukan buku yang berjejer rapi.
"Jadi sebenarnya ada 9 jenis kekuatan sihir dan aku adalah Lanixtra. Ah, kenapa bisa begini sih?" Ucapku saat membaca buku Argetlam yang beberapa hari lalu ku pinjam.
Mataku menatap fokus ke buku yang dibalut sampul berwarna biru tua. Buku ini tidaklah benar-benar hanya berisi mantra-mantra sihir. Melainkan ada beberapa sejarah Kekaisaran Visilion beserta kerajaan-kerajaan di bawahnya seperti Kerajaan Courlage milik ayah, penjelasan mengenai jenis-jenis kekuatan sihir, dan beberapa batu langka yang belum pernah ku dengar namanya.
Dalam buku diceritakan bahwa ada 3 kekuatan dengan tingkatan yang cukup tinggi, yaitu cahaya, es, dan kegelapan. Namun hanya kegelapanlah yang merupakan kekuatan buruk atau penghancur. Di ceritakan jika munculnya pemilik sihir cahaya dan es maka akan muncul pula pemilik sihir kegelapan yamg akan menghancurkan dunia.
"Aku harus menemukan pemilik sihir itu sebelum terjadi hal buruk" ucapku sembari menutup buku itu.
Nachella POV END
⚜⚜
Author POV
"Chella, Vio kapan kalian selesainya? Acaranya akan dimulai" ucap Aryna yang tidak sabar menunggu Nachella selesai menghias diri. Dirinya sudah siap setengah jam yang lalu saat kedua gadis yang ditunggunya sekarang bahkan belum melakukan apapun.
"Oh, ayolah kak. Ini hanya latihan, tidak perlu terburu-buru" ucap Nachella sembari memberikan polesan tipis di bibir cherry-nya. Vio yang mendengar itu seketika mengangguk setuju.
"Sudahlah, ayo kita berangkat jangan sampai terlambat atau kita akan jadi pusat perhatian" ajak Aryna
"Iya, iya baiklah kak ayo kita kesana" ajak Nachella yang langsung menautkan lengannya di kedua lengan Vio dan Aryna, sembari memasangkan topeng di wajahnya yang juga diikuti Aryna dan Vio.
Tap.. Tap.. Tap..
__ADS_1
Malam ini, langit bersinar terang ditemani cahaya temaram lampion-lampion teratai yang menggantung di tiap-tiap tiang akademi. Malam yang dianggap cukup spesial bari beberapa murid yang tengah berlalu lalang menyusuri koridor akademi menciptakan suara langkah kaki yang saling bersahutan dengan serangga malam.
Malam ini merupakan hari yang ditunggu beberapa siswa bangsawan yang kini tubuhnya telah dibalut gaun peasan bludru berwarna merah dengan aksen pita di dadanya dengan warna senada bagi wanita, dan jas hitam yang dibalut tuxedo berwarna merah darah dengan dasi kupu-kupu berwarna hitam bagi laki-laki.
Mereka tengah menikmati alunan musik yang mengalun ringan, diiringi gelak tawa tertahan yang tertutupi topeng wajahnya. Topeng, itulah tema pesta hari ini. Sebuah pesta dansa yang diselenggarakan khusus untuk melatih para anak bangsawan untuk tampil di depan umum, sekaligus menanamkan benih-benih cinta di hati mereka. Hingga pandangan mereka teralih pada sebuah pintu besar yang menampilkan 3 orang pria dengan setelan jasnya.
"Putra Mahkota Felix, Pangeran Orlando, Tuan Sean memasuki ruangan" teriak penjaga pintu.
Ketiga pria itu memasuki ruangan yang langsung di sambut bisikan-bisikan halus dari para wanita yang telah lengkap dengan hiasan tebal di wajahnya.
"Kak, lihat! Mereka seperti serigala yang kelaparan" ucap Orlando pada pria di sampingnya yang masih setia menampilkan raut wajah kaku layaknya pohon berjalan.
"Aku setuju denganmu, pangeran. Mereka seperti telah siap menyantap kita" ucap Sean bergidik ngeri menatap sekelilingnya yang dipenuhi gadis-gadis dengan riasan tebal di wajahnya yang menatapnya dan kedua pria di sampingnya dengan tatapan berkilat, seolah ada laser di matanya.
"Bukan menyantap kita, tapi menyantap kakakku yang tampan ini" ucap Orlando merangkul pundak kakaknya yang terpaut 10 centi darinya.
Sean memutar bola matanya, ia merasa jika dirinya juga tidak kalah tampan dari kedua pria disampingnya. Bedanya mereka punya jabatan tinggi, sedangkan dirinya hanya seorang anak pemilik akademi yang cukup terkenal seantero kekaisaran.
Teng.. Teng.. Teng..
Dentingan gong berbunyi menandakan telah di mulainya acara pesta dansa yang langsung di sambut sorak sorai beberapa siswa yang kian menuju tengah aula dansa.
"Putra Mahkota, bolehkan saya berdansa dengan anda?" Tanya seorang gadis sembari mengulurkan tangannya kearah Felix yang masih setia dengan wajah kakunya.
Gadis itu nampak manis dengan polesan lipstik berwarna coral di bibir mungilnya serta hiasan kecil berbentuk kupu-kupu di sisi kanan rambutnya. Senyum dibibirnya ia lepas, menatap penuh harap uluran tangannya akan diterima pria di depannya.
"Maaf nona, sepertinya kakakku ini tidak berminat dengan gadis" ucap Orlando sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Baiklah, pangeran" ucap gadis itu dengan napas yang tertahan. "Saya permisi, Salam Yang Mulia Putra Mahkota, Salam Pangeran Orlando" ucapnya sembari mengundurkan diri dari hadapan ke tiga pria tadi.
"Aku gak disebut nih?" Heran Sean yang langsung mendapat jitakan keras di puncak kepalanya.
"Mimpi!" Sarkas Felix.
"Akhirnya kakak aku ngomong, terima kasih Dewi Anocia" ucap Orlando yang hampir bersimpuh di lantai. Ia sangat senang, pasalnya kalimat ah tidak lebih tepatnya kata tadi merupakan yang pertama diucapkan kakaknya sejak masuk ke aula yang sangat bising ini.
Tak!
"Sekali lagi ngomong gitu, kakak usir dari istana" ancam Felix sebelum melenggang pergi meninggalkan kedua pria tadi yang saling memandang menampilkan raut bingung.
⚜⚜
Di sudut lain akademi, ketiga gadis bergaun merah tengah berlari menyusuri koridor sembari mengangkat gaunnya dengan kedua tangan hingga sebetis. Peluh keringat telah membasahi wajah ketiganya yang masih tetap menampilkan sisi anggun khas gelar bangsawan yang di pegangnya.
"Ka.. Kak, aku sudah tidak kuat. Kakak pergi duluan sajah. Nantih, aku menyusul" ucap Nachella dengan napas tersenggal menatap dua gadis di depannya.
Kedua gadis itu nampak saling bertatapan sebelum akhirnya mengangguk mengiyakan ucapan Nachella yang langsung duduk terkulai lemas di lantai. Kakinya terasa bergetar, tidak sanggup untuk berlari lagi. Terlebih beberapa menit yang lalu gong telah berbunyi menandakan pesta dansa telah dimulai dan jika dirinya datang disana bisa di pastikan jika dirinya akan menjadi pusat perhatian.
__ADS_1
Selepas kepergian Aryna dan Vio, Nachella langsung menaikkan gaunnya sampai dengan betis. Mata kakinya terasa sakit, yang bisa ia pastikan sudah terdapat kulit yang terkelupas disana. Wajar saja karena dirinya harus berlari dengan hak tinggi, sedangkan dia saja masih belum terbiasa menggunakannya.
"Ugh, sakit" ringisnya sembari memegang mata kakinya yang telah memerah.
Terdengar suara langkah kaki yang semakin tertuju kearahnya, hingga sebuah tangan meraih tangannya, membuat Nachella seketika menoleh ke pemilik tangan.
"Kenapa?"
"Put.. Putra Mahkota" heran Nachella.
"Ikut aku!" Ajak Felix yang langsung menarik tangan kanan Nachella membuatnya mau tidak mau langsung berdiri mengikuti langkah lebar pria itu.
"Putra Mahkota, bisakah anda pelan sedikit? Kakiku sakit" ucap Nachella sembari menahan rasa sakit di kakinya yang kian menjadi.
Felix menghentikan langkahnya, bersamaan dengan kepalanya yang menoleh ke belakang tempat Nachella berdiri.
"Huft, lemah banget sih" protes Felix membuang napas panjangnya.
Nachella memutar matanya 360 derajat melihat tingkah calon penerus tahta kekaisaran itu. Dalam hati, ia sudah siap dengan beragam sumpah serapah yang ia layangkan ke pria di depannya yang mulai membungkuk memunggunginya.
"Naik!"
"Hah?" Heran Nachella.
Bayangkan saja siapa coba wanita yang tidak bingung mendengar ucapan setengah perintah yang keluar dari mulut seorang pria berwajah datar serta suaranya yang sedingin es.
"Naik!" Perintah Felix dengan sedikit geraman tertahan.
"Naik kemana?" Tanya Nachella bingung, pasalnya di sampingnya ada undakan kecil yang biasa dipakai untuk duduk sedangkan di depannya ada Felix yang sedang berjongkok sembari memamerkan punggung lebarnya yang dibalut jas hitam.
Dia gak mungkin kan nyuruh aku naik ke punggungnya, pikir Nachella.
Nachella perlahan berjalan menghampiri undakan, namun belum satu meter dia berjalan tangannya sudah dicekal seseorang yang menariknya masuk ke dalam pelukan seseorang.
"Aku memintamu naik ke punggungku, bodoh. Kenapa kau malah kesana?" Omel Felix yang masih memeluk tubuh Nachella.
Nachella yang tersadar segera menjauhkan tubuhnya, menyingkirkan tangan Felix yang semula memegang tangannya cukup kencang.
"Kau yang bodoh! Mana mungkin aku naik ke punggungmu, yang ada aku akan di hujat" protes Nachella.
Terdengar helaan napas dari kedua orang itu yang sekarang saling membuang pandangannya ke sembarang arah.
"Sudahlah, tidak baik berbicara dengan anak kecil sepertimu. Lebih baik aku kembali dan belajar untuk ujian" ucap Felix yang langsung melenggang pergi.
"Sudah ku bilang, aku bukan anak kecil. Usiaku sudah 15 tahun dan ujian itu juga akan ku ikuti!" Ucap Nachella sembari melempar kepalan tangannya dari jauh ke arah Felix yang telah menjauh dengan senyum tipis di wajahnya.
Author POV END
__ADS_1
⚜⚜
TBC