The Bloom At Royal Harem

The Bloom At Royal Harem
19. Ujian


__ADS_3

Nachella POV


"Pagi ku cerahku, matahari bersinar. Ku gendong tas coklatku di pundak" nyanyiku dengan sedikit lompatan-lompatan kecil menyambut pagi ini yang cerah ditemani cahaya mentari dari ufuk timur.


Di punggungku telah terpasang sebuah tas punggung yang terbuat dari bambu warna coklat berbentuk kotak yang di lapisi kain sebagai alas bagian dalam. Tas itu terinspirasi dari drama-drama china yang biasa ku nonton saat masih di duniaku dulu.


Saat dulu, aku sangat menyukai kisah fantasi, baik itu di dunia virtual, modern, atau kerajaan. Aku sangat menyukainya. Karena menurutku membayangkan sesuatu yang mustahil untuk terjadi adalah sesuatu yang indah dan sulit dijelaskan dengan kata-kata. Oleh karena itu, aku sangat menyukai cerita seperti itu hingga sampai terbentuk naskah cerita ini yang membuatku masuk ke dunia antah berantah.


Aku tidak menyesalinya, meskipun dalam dunia nyata mungkin aku sudah menjadi seorang script writer yang sangat sukses. Tapi di dunia ini, aku bisa menikmati sesuatu yang sangat ingin ku rasakan saat masih di dunia dulu. Sihir, pedang, panah, dan hidup kaya raya tanpa harus bekerja. Bedanya dalam dunia ini aku harus berhati-hati dalam bertindak atau bisa saja nyawaku yang melayang seperti kapas yang terbang di udara.


Aku melangkah menyusuri koridor akademi, mencari seseorang yang sedari kemarin ku cari namun belum juga ku temui. Hingga mataku tertuju pada seorang pria yang tengah duduk bersantai di bawah pohon rindang. Sepertinya pria itu tengah menikmati semilir angin yang bertiup lembut melewati kulitnya, membuat beberapa helaian rambut berkibas kesana kemari.


Aku segera menghampiri pria itu, karena memang sosok pria itulah yang sedari kemarin ku cari.


"Guru" panggilku yang langsung menarik perhatiannya.


"Putri Nachella, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Frigid.


Ya, benar pria itu adalah Frigid. Guru sekaligus pemilik akademi ini. Dan tujuanku menemuinya adalah untuk menjalankan misi ke 2 yaitu menghindari pertemuan dengan kedua malaikat maut, Felix dan Katterina. Ya meskipun aku tahu, jika pertemuanku dengan kedua orang itu sudah terjadi sejak beberapa tahun yang lalu. Tapi namanya usaha, ya kan??


"Gini guru, saya dan Kak Vio ingin mengikuti ujian tahun ini" ucapku penuh percaya diri.


Ku lihat Guru Frigid menampilkan raut terkejut, namun aku tetap bersikap santai seperti biasanya. Padahal dalam hatiku sedang deg deg-kan menunggu jawaban Guru Frigid.


Jujur saja, aku sudah menantikan kejadian ini sejak awal masuk akademi. Aku bahkan memaksa Kak Vio untuk belajar ekstra agar bisa lulus lebih cepat. Sehingga sebelum acara debut aku sudah memiliki jarak yang cukup jauh dengan Felix, terutama si wanita ular Katterina yang selalu mengekoriku layaknya benalu.


"Maaf, Putri. Apa saya salah dengar?" Tanya Guru Frigid yang langsung ku balas gelengan kepala.


"Tidak guru, anda tidak salah mendengar. Saya dan Kak Vio memang sudah mempersiapkannya dari awal masuk ke akademi ini dan kau sendiri juga tau bukan, jika keluarga Courlage selalu lulus lebih cepat dibandingkan murid lain" ucapku yang kembali mengingat betapa gilanya sistem belajar kedua kakak tampanku, Leon dan Alaskar.


"Ya, saya tahu, Putri. Tapi untuk Nona Vio.."


"Guru tidak perlu khawatir. Kakakku itu belajar bersamaku dan dia juga punya kecerdasan di atas rata-rata bangsawan. Kalau aku boleh jujur, aku merasa jika dia adalah anak bangsawan" ucapku mengutarakan isi otakku yang selama ini ku simpan.


Aku ingat bagaimana hebatnya daya ingat Kak Vio yang bahkan mengalahkan Kak Aryna yang merupakan Putri Mahkota Kerajaan Vicomte. Oleh karena itu, aku kerap berpikir jika Kak Vio merupakan putri dari seorang raja yang dipisahkan karena sebuah kejadian besar.


"Ah itu, baiklah jika anda memang telah siap. Maka saya izinkan. Ingatlah Putri Nachella, jika ujian akan dilaksanakan 3 hari lagi. Jadi persiapkan dirimu dan juga Nona Vio" ucap Frigid.


"Baik, Guru. Kalau begitu saya izin undur diri" ucapku yang langsung melenggang pergi setelah membungkuk 90 derajat.


Hatiku saat ini seolah ada bunga-bunga yang bermekaran, bahkan di sekeliling tubuhku dapat kurasakan kupu-kupu terbang seolah sedang memberi selamat atas keberhasilanku berbicara dengan Guru Frigid yang harus kuakui sukses besar.

__ADS_1


Nachella END POV


⚜⚜


Author POV


Hening, satu kata yang menggambarkan suasana pagi ini. Akademi yang biasanya selalu ramai saat jam 8 pagi kini berubah menjadi sepi seperti di kuburan. Burung-burung yang biasanya berkicau kini digantikan dengan sihir hening yang diciptakan Frigid. Hal itu bukanlah tanpa alasan, pasalnya pagi ini adalah jadwal ujian akademi yang menentukan keberhasilan para murid selama di akademi. Apakah mereka lulus atau kembali belajar 1 tahun lagi.


Suara kibasan kertas kian berbunyi seiring dengan perpindahan jarum jam matahari yang menunjukkan waktu menjelang siang. Hari ini merupakan ujian pertama akademi, berisi tentang materi tata krama dan lafal mantra sesuai dengan kekuatan yang dimiliki masing-masing siswa.


Sukses hari ini belum tentu dengan hari esok yang merupakan penentu akhir hasil ujian. Besok atau hari kedua adalah hari dimana akan di tes ilmu bela diri yang digabungkan dengan kemampuan mengendalikan sihir. Tentu semua itu ada sebuah hadiah besar yang menanti untuk di jemput, yaitu sebuah keahlian khusus berbahasa asing.


"Waktunya habis, silahkan dikumpulkan!" Ucap Frigid dengan suara menggelegar keseluruh ruangan yang di penuhi murid-murid dengan raut wajah yang sulit dijelaskan.


Perlahan kertas di atas meja masing-masing menghilang dan berpindah ke meja Frigid hanya dengan jentikan jarinya.


Murid-murid pun berhamburan keluar, tak terkecuali Nachella dan Vio yang sedari tadi menjadi pusat perhatian. Pasalnya jadwal ujian mereka seharusnya masih di lakukan 2 tahun lagi, tapi mereka memajukan menjadi hari ini.


"Putri Nachella" panggil Frigid yang langsung menghentikan langkah Nachella dan Vio.


"Iya, Guru"


"Bagaimana soal tadi? Apakah sulit?"


"Baiklah, kembalilah ke kamarmu. Persiapkan untuk besok" ucap Frigid yang langsung dibalas anggukan kepala Nachella dan Vio sebelum keduanya melenggang pergi.


Author POV


⚜⚜


Nachella POV


"Kak, besok ingatlah untuk mencari piala dan kita akan bertemu lagi di kelas keahlian khusus bahasa asing" ucapku yang langsung dibalas anggukan kepala.


"Chella, bukankah piala itu hanya ada satu. Jadi bagaimana caranya kita berdua bisa masuk ke kelas khusus berdua?" Tanya Kak Vio.


"Ah, itu rahasia. Pokoknya kakak fokus saja dengan piala dan kita pasti berdua akan bertemu dia kelas khusus itu" ucapku sembari mengarahkan pandangkanku ke sebuah ruangan besar yang katanya dijadikan sebagai kelas khusus.


Dapat kulihat Kak Vio kembali menganggukkan kepalanya. Aku tersenyum, ketika mengingat persyaratan kedua masuk ke kelas khusus yang sangat jarang diketahui orang kecuali Frigid dan diriku sendiri yang merupakan pencipta dunia ini.


Nachella POV END

__ADS_1


⚜⚜


Author POV


Pagi hari bersama mentari yang baru menunjukkan cahaya jingga tipisnya di ufuk timur. Bulan bahkan belum sepenuhnya tenggelam, terlihat satu sampai dua bintang yang masih menghias langit biru. Namun hal itu tidak dipeduli para siswa akademi tritilion yang telah siap dengan baju armournya dan senjata di tangannya. Mereka telah berbaris rapi di depan lorong labirin yang masing-masing berjarak 5 meter.


Laùcova Vionarry, ucap Nachella dalam hati sembari membentuk formasi tangan di depan dada


'Ada apa Chella?' Tanya Vio dari balik telepati yang di sambungkan Nachella.


'Kak, semangat. Semoga kakak sukses dan hati-hati' ucap Nachella sembari tersenyum tipis yang tentu saja tidak dapat terlihat Vio. Karena telepati hanya suara saja yang sapat terdengar sedangkan raut wajah tidak bisa terlihat.


'Semangat juga, Chella. Kau juga harus berhati-hati, mengerti' ucap Vio dengan raut khawatir memikirkan keselamatan majikan sekaligus seseorang yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri.


'Mengerti kak' ucap Nachella sebelum memutus sambungan telepati.


Tidak lama suara terompet panjang terdengar, menandakan telah dimulainya ujian hari kedua. Dimana hari ini ada 34 murid yang mengikutinya. Dari ujian inilah para siswa mengetahui tingkatan sihir yang mereka miliki.


Nachella perlahan masuk kedalam labirin yang berbentuk matriks dan dipenuhi tanaman merambat yang menjulang tinggi melebihi tinggi tubuhnya yang sekarang sudah 160 centi.


Matanya ia tajamkan, memperhatikan sekitarnya yang mungkin saja akan membuatnya dalam bahaya. Begitupun dengan pegangan tangannya di busurnya yang semakin kencang semakin dalam langkah kakinya memasuki labirin.


Lacostà vencinźo, ucapnya dalam hati sembari memikirkan sebuah benda yang ia pikirkan sejak kemarin. Hingga tiba-tiba dirinya telah berpindah tempat di sebuah area yang cukup luas dan bisa ia pastikan jika tempat itu merupakan pusat labirin.


Matanya menelisik ke kanan dan ke kiri mencari benda yang menjadi tujuan utamanya datang ke tempat itu bahkan sampai menggunakan sihir teleportasi.


Srekk..


Sebuah pergerakan terdengar di telinganya membuat pegangan tangannya ke busur semakin kencang. Busurnya perlahan ia angkat dan diarahkan ke sumber suara yang mulai berubah menjadi suara langkah kaki yang semakin mendekat ke arahnya.


Perlahan sinar panjang meliuk-liuk di antara busur, sebelum akhirnya tercipta sebuah anak panah berwarna abu-abu yang mengandung unsur petir di dalamnya.


"Siapa?" Tanya Nachella.


Namun tak satu pun yang menjawabnya, hingga sebuah suara lafal sihir keluar dari mulut seseorang bersamaan dengan munculnya puluhan tanaman menjalar yang keluar dari dalam tanah, mengincar Nachella yang terus menghindarinya.


"Fresta dacòvo"


Author POV END


⚜⚜

__ADS_1


TBC


__ADS_2