
Di sebuah ruangan besar bernuansa putih berukir emas yang di penuhi dengan aroma bunga lavender yang menenangkan. Terbaring seorang gadis kecil dengan surai berwarna silver dan gaun berwarna biru muda membungkus tubuh kecilnya yang juga di lapisi sebuah selimut untuk menutupi tubuh gadis itu hingga pangkal leher. Wajah gadis itu pucat, bibirnya memutih bersamaan dengan kedua matanya yang tertutup sempurna. Disana, dia tidaklah sendiri. Ada banyak orang di sekitarnya, yang sedang harap-harap cemas menunggu kesadarannya.
Tanpa mereka sadari, perlahan tangan gadis itu yang berada di balik selimut bergerak secara perlahan. Matanya masih tetap terpejam, meskipun kesadarannya mulai muncul secara perlahan.
“Tuan Putri, maafkan saya. Saya mohon, Tuan Putri sadarlah!” ucap seorang wanita dengan pakaian pelayan yang di pelupuk matanya sudah di penuhi air mata, yang kian mengalir membasahi wajahnya.
“Enghh..” erang gadis itu yang secara perlahan membuka kedua matanya, menampilkan netra berwarna biru sejernih lautan yang mampu menghanyutkan siapa saja yang melihatnya.
“Tuan Putri, anda sudah sadar? Ternyata Dewi Anocia mengabulkan doa saya, terima kasih Dewi” ucap pelayan tadi yang kini berjalan menghampiri tubuh gadis itu, kemudian membantunya untuk duduk.
“Terima kasih” ucap gadis itu.
“Itu tugas saya, Tuan Putri” sahut pelayan itu.
⚜⚜
Nachira POV
Aku membuka mataku yang terasa sulit terbuka, seolah mataku itu sudah di beri lem tikus. Mataku terpaku, melihat sebuah ruangan besar berdesain klasik dengan ukiran rumit yang begitu mewah berwarna putih emas. Di sekeliling ruangan tersebut terdapat 2 jendela besar yang tertutup tirai tipis berwarna emas. Mataku seolah tidak lelah mengedar, melihat ke sekeliling yang terdapat beberapa vas bunga daisy berwarna putih, dan ranjang berwarna emas dengan tirai yang menjuntai ke bawah perpaduan antara warna putih, krem, dan coklat tua yang menurutku sangat enak di pandang.
Hingga tatapanku tertuju pada sekumpulan orang dengan pakaian aneh, seperti pakaian pelayan kerajaan eropa yang pernah aku tonton di televisi, bahkan kini tak jauh dari tempat tidurku seorang wanita dengan pakaian sama berjalan mendekat, membantuku untuk duduk sembari mengucapkan kalimat aneh yang baru pertama kali aku dengar, namun juga tidak asing dalam otakku seolah aku pernah membaca atau mengucapkannya di suatu tempat.
“Terima kasih” ucapku pada wanita yang tidak aku ketahui namanya itu.
“Itu tugas saya, Tuan Putri” sahut wanita itu.
Tunggu, Tuan Putri? Siapa Tuan Putri? Apa aku di tolong oleh keluarga bangsawan? Tapi seingatku dulu aku tidak pernah mengenal keluarga bangsawan, batinku berbicara.
“Tuan Putri? Siapa Tuan Putri yang kalian maksud dan siapa kalian?” tanyaku sembari mengernyitkan dahi.
“Tuan Putri, apa yang terjadi pada anda? Tunggu sebentar saya akan memanggilkan dokter untuk anda” ucapnya sebelum melenggang pergi.
Aku kembali mengedarkan mata, menatap ke arah kerumunan tadi dan interior ruangan yang terlihat sangat asing. Dengan cepat, aku menyibak selimut yang tadi aku gunakan yang kini menampilkan sebuah gaun berwarna biru muda dengan motif bunga mawar di bagian roknya serta pita kecil dengan warna navy.
Hal yang sangat berbanding jauh dengan apa yang mereka semua kenakan, kenapa pakaian ku terlihat lebih istimewa? Sedangkan mereka hanya memakai gaun terusan dengan panjang selutut berwarna coklat yang di padu padankan dengan celana berwarna sama bagi wanita dan untuk laki-lakinya hanya memakai kemeja dengan luaran rompi berwarna coklat dengan celana polos dengan warna yang sama. Bahkan dari segi bahan pun sudah terlihat beda. Gaun yang ku kenakan ini sangat halus sedangkan mereka dari jauh saja sudah terlihat jika baju yang mereka kenakan itu terbilang cukup kasar.
Tidak mungkin kan aku dibawa oleh bangsawan eropa? Atau mungkin ini adalah sindikat penjualan wanita atau daging manusia?, pikirku yang semakin tidak jelas.
Putri ya tadi mereka bilang? Atau mungkah aku sudah berada di surga dan mereka ada pelayan yang di utus secara khusus oleh para malaikat untuk melayaniku?, pikirku lagi yang kali ini dibarengi dengan senyum lebar membuat mereka sedikit mengernyit bingung.
Belum sempat bagiku untuk menenangkan diri, menyesuaikan dengan keadaan sekitar. Sebuah derapan langkah di ikuti suara menggelegar terdengar di telingaku bersamaan dengan pintu kamar yang di dobrak secara paksa hingga terbuka lebar dan membuatku terperanjat kaget.
BRAK!
Anjir, jantung aman kan?, tanyaku dalam hati sembari memukup pelan jantungku agar kembali normal.
“MINGGIR KALIAN!” perintah seorang pria dengan suara tegas dari balik tembok.
Mataku kembali terpaku, melihat orang pria dengan tinggi kira-kira 185 centi, rambut lurus berwarna blonde yang di sisir ke atas menampilkan dahi mengkilap serta putih bersih dan mulus miliknya. Hidung mancung, dengan mata berwarna biru terang, bibir sedikit bervolume berwaran merah muda, dan rahang tegasnya yang menawan. Aku perkirakan jika pria itu pasti berumur antara 21 sampai dengan 27 tahun, lebih dari itu mustahil. Karena mau di lihat dari segi manapun pria itu terlihat sangat tampan, rupawan, mapan, dan penuh kharisma.
TAK!
Sebuah jitakan mendarat mulus di puncak kepalaku, menyadarkanku dari lamunan menikmati hasil karya Tuhan yang paling indah. Bahkan jitakan itu terasa lebih menyakitkan di bandingkan jitakan Pak Ronald, guru sejarah di SMA yang dulu yang terkenal akan ke-killer-annya.
“AUW!” ringisku sembari memegang kepalu yang berdenyut sakit.
__ADS_1
Hingga tanpa ku sadari ternyata pria itu telah berada tepat di depanku, sembari duduk di bibir kasur. Tangannya perlahan bergerak mengusap puncak kepalaku yang terasa sakit, kemudian meniupnya secara perlahan. Kemudian tersenyum, disusul dengan membawa telapak tangan kecilku ke dalam dekapan tangannya.
Tunggu, tangan kecil?, heranku saat menyadari keanehan pada tubuhku.
Dengan cepat aku menarik kembali tanganku, kemudian melihatnya dengan lekat dan saksama. Satu hal yang terlintas di otakku, kecil.
Aku menyusut?, pikirku.
Aku kembali melihat ke seluruh tubuhku yang baru kusadari telah menyusut seperti anak berusia 6 atau 7 tahun. Hingga beberapa helaian rambut berwarna blonde menghalangi pandanganku yang dengan cepat pula aku singkirkan dengan sedikit kasar yang kemudian menimbulkan rasa sakit di kepalaku.
“Apa yang kau lakukan, Chella?” tanya pria itu membuatku mengernyit bingung.
Tadi Tuan Putri, sekarang Chella? Siapa mereka?, pikirku.
“Maaf, Tuan. Siapa Chella yang anda maksud itu? Dan siapa anda?” tanyaku.
TAK!
Lagi, sebuah jitakan mendarat sempurna di puncak kepalaku meskipunkali ini terasa lebih santai tidak seperti tadi yang sakitnya masih terasa hingga sekarang.
“Kau melupakanku? Berani sekali kau?” ucap pria itu dengan nada marah yang di akhiri dengan senyum.
Melupakannya, memang siapa anda? Jodoh saya? Minta restu duli gih, ke ayah sama ibu di kampung, pikirku.
“Nachella, aku ini ayahmu?” ucap pria itu membuatku menghela napas kasar sembari ber-OH ria.
Gagal sudah, menikah di usia muda, ucapku dalam hati.
“Eh, tunggu! Nachella? Siapa Nachella?” tanyaku lagi. Nama itu terasa tidak asing bagiku, seperti nama dari...
“Kau,” tunjuknya padaku, sebelum melanjutkan kembali ucapannya. “Kau adalah Nachella putriku, Nachella Neiderfold Courlage, Putri satu-satunya dari Kerajaan Courlage, Alexander Courlage, Raja Negara ini” jelas pria itu.
Aku memukul pipiku beberapa kali hingga ku yakin jika warna semerah tomat sudah tercetak jelas di kedua pipiku. Aku ingin sekali terbangun dari mimpi ini, yang memang sedari awal aku yakini bahwa saat ini aku sedang berada di dalam mimpi dan sedang melakukan lucid dream. Bagimana bisa aku menyerahkan masa mudaku untuk merasakan kematian di usia muda apalagi ini bukanlah dunia asliku.
Tak terasa sudah berapa kali aku memukul atau mencubit kedua pipiku secara bergantian, hingga sebuah tangan menghentikan pergerakanku. Kepalaku mendongak,mencari tau sumber tangan yang tanpa ijin memegang tangan kananku.
“Nachella, apa yang kau lakukan?” tanya Alexander sembari menarik tangan ku ke dalam genggaman tangannya yang terasa nyaman dan hangat.
“I... itu... a... aku” ucapku bingung harus mengatakan apa.
Alexander membuang wajahnya ke sudut lain ruangan, mata tajamnya yang menusuk dan tajam seperti pedang seolah siap menebas siapa saja yang dilihatnya. Aku meringis pelan, melihat hal itu, terutama wajah takut dan gemetar para pelayan yang meskipun sudah menundukkan kepala masih cukup terlihat jelas di mataku.
“Mohon ampun, Yang Mulia. Tuan Putri ketika terbangun langsung seperti itu. Menanyakan kepada kami siapa dirinya dan juga kami” ucap pelayan wanita yang tadi sempat pergi. Dia telah kembali 10 menit yang lalu bersama seorang pria parubaya berjenggot putih.
Alexander kembali melihat kearahku dengan tangan yang masih terus menggenggam kedua tangan ku. Mata tajamnya kian meredup saat bertatap dengan mataku yang sedikit gemetar di tatapnya. Siapa pula yang tidak tremor di tatap pria tampan dengan tatapan tajam yang sangat... hmmm menawan?
Tangan kanan Alexander mengusap pelan surai blondenya yang tergerai panjang, kedua matanya menatap dari ujung kepala sampai kakiku yang seperti tubuh anak kecil hingga membuatku sedikit berdecak kesal karena perubahan ukuran tubuhku yang terlalu jauh. Tapi mau bagaimana punaku harus bersyukur, setidaknya aku memasuki tubuh seorang gadis kecil dengan wajah rupawan yang juga sangat imut. Meskipun, takdir gadis asli ini harus memiliki nasib yang begitu mengenaskan karena mengenal cinta.
Tapi tiba-tiba dalam pikiranku terlintas dalam otakku, kisah akhir pemilik tubuh asli ini yang sangat bertentangan dengan keinginanku yang tentunya ingin selalu mempertahankan hidup, setidaknya sampai umur 50 tahun.
“Hei, apa yang kau pikirkan? Jawab pertanyaanku?” ucap Alexander yang langsung menyadarkanku dari lamunan.
Apa yang harus aku katakan? Tidak mungkinkan kalau aku bilang jika aku bukanlah Nachella, putri atau tuan putri mereka. Yang ada mereka akan memanggilkanku dukun karena mengira kalau aku sedang kerasukan, atau bisa jadi mereka akan menghukumku di penjara bawah tanah, di cambuk, di siksa, tanganku dan lidahku di potong, kemudian memberikan hukuman penggal dan membuang kepalaku ke hutan untuk di makan serigala. Oh, tidak aku masih sayang nyawa!, pikirku dalam hati.
“Ah, maafkan aku ayah, aku salah. Aku janji, lain kali aku tidak akan bermain terlalu dekat dengan danau pesona” ucapku setelah sekian lama berkutat didalam otak, kemudian memeluk tubuh Alexander untuk menyembunyikan ketakutanku.
__ADS_1
Nachira END POV
⚜⚜
Author POV
Nachira a.k.a Nachella membuka matanya saat merasakan hawa dingin yang kian menjalan ke seisi kamarnya, menusuk kulit putihnya yang sudah terbungkus selimut berwarna hitam. Matanya mengedar, mendapati sebuah jendela besar yang masih terbuka lebar hingga membuat tirai di sekitarnya berkibar mengikuti arah angin. Entah siapa yang membuka jendela tersebut, padahal hari sudah larut malam.
Kaki kecilnya melangkah turun mendekati meja rias yang berada tepat di depan jendela kamarnya yang terbuka lebar. Dengan perlahan, Nachella menaiki kursi di depan meja tersebut berusaha meraih knop jendela dan menutupnya. Usahanya pun tidaklah sia-sia, kini jendela tersebut telah sepenuhnya tertutup bersamaan dengan tirai yang tidak lagi berkibar. Namun hawa dingin masih tetap bisa di rasakannya.
Dengan langkah tergontai, Nachella kembali turun mendekati perapian. Tangannya mengambil beberapa batang kayu panjang, meletakkannya di dalam perapian hingga menggunung, kemudian tangannya mengambil lilin, membakar kayu tersebut hingga menciptakan hawa hangat yang menyeruak memenuhi isi kamarnya yang semula dingin.
Nachella menjauhkan tubuhnya dari sanan melangkah menuju meja belajarnya yang di penuhi tumpukan beberapa buku. Ia sepertinya tidak akan melanjutkan tidurnya, karena rasa kantuknya telah menguap hilang entah kemana. Oleh karena itu, dia lebih memilih menghampiri meja tersebut dan menyibukkan diri dengan membaca beberapa buku untuk melewati malam.
Matanya seketika mengerjap saat mendapati semua buku yang bertumpuk disana ternyata kosong. Dengan terpaksa ia tetap duduk disana, karena dia sudah terlampau nyaman berada di tempat itu di bandingkan harus kembali lagi ke kasur yang belum tentu juga bisa membuatnya kembali tidur. Hingga sebuah ide cemerlang melintas di otaknya.
Tangannya bergerak lincah, mengambil sebuah buku, pena, dan larutan tinta. Jari lentiknya seolah menari sembari terus membuat guratan-guratan memanjang yang kian memenuhi isi buku.
Kkokkokkok... (anggap suara ayam ya gaes)
Tanpa ia sadari, hari kian menunjukkan warnanya menjadi biru bercampur cahaya jingga matahari yang mulai terbit dari timur, masuki kamarnya yang semula hanya berhias cahaya lilin dan perapian.
Matanya menatap binar penuh semangat saat melihat hasil kerja kerasnya selama semalaman. Rasanya tidak sia-sia baginya untuk begadang, jika hasilnya semenakjubkan itu. Kakinya kini mulai ia tegakkan hingga mampu menopang tubuhnya yang sudah berdiri penuh semangat sembari memegang buku hasil harya tulisnya.
“Oke, kita baca ulang. Pertama.... “ ucapnya dengan senyum yang tidak pernah luntur.
Tok!! Tok!! Tok!!
“Haish, mengganggu kemaslahatan umat manusia aja!” gumam Nachella kesal yang coba ia tahan.
“Masuklah!”
Terlihat seorang wanita setengah parubaya dengan pakaian pelayan yang baru ia ketahui beberapa jam yang lalu sembari membungkuk 90 derajat. Wanita itu bernama Adele, usianya 35 tahun, dia adalah pelayan pribadi sekaligus pengasuh yang telah melayaninyya sedari ia lahir.
“Salam Tuan Putri Nachella, selamat pagi” ucap Adele.
“Selamat pagi, Adele. Berdirilah” perintah Nachella dengan senyum yang ia paksakan mengembang.
“Terima kasih, Tuan Putri”
“Ada apa?”
“Izin menjawab, Tuan Putri. Yang Mulia Raja meminta hamba untuk memanggil Anda agar segera menemuinya dan sarapan bersama para pangeran”
“Baiklah, aku akan segera kesana. Terima kasih, kau boleh keluar” ucap Nachella yang langsung di sanggupi Adel yang menunduk sebelum berjalan mundur dan hilang dari balik pintu yang mulai menutup.
Nachella berjalan tergontai menuju kamar mandi untuk memulai ritual mandinya yang tidak boleh di ganggu siapa pun termasuk para pelayan yang tentu saja selalu ingin melayaninya yang langsung ia tolak secara tegas. Dirinya yang sudah berusia 25 tahun tentu saja merasa malu, meskipun dalam kehidupan ini usianya masih 6 tahun, namun tetap saja ia akan merasa malu. Terlebih di kehidupan dulunya saja, dia sudah terbiasa mandi sendiri sejak usia 3 tahun, sebuah prestasi yang cukup bisa di banggakan di dunia ini.
Kakinya terhenti di jejeran lemari yang tersusun rapi di dalam sebuah ruangan yang juga terdapat sebuah kaca berukuran sangan besar, kira-kira bisa untuk mengaca 10 orang. Tangannya bergerak membuka lemari yang kini mulai menampakkan jejeran gaun-gaun cantik yang tergantung rapi di dalamnya. Ada gaun tidur, gaun santai, bahkan gaun pesta yang totalnya lebih dari 20, tentunya dengan warna dan motif yang berbeda, bahkan ada yang berhias batu kristal dan berlian yang tentu saja harganya sangat mahal.
Orang kaya mah bebas, pikirnya.
Matanya mengedar, memilih gaun-gaun cantik yang seolah melambai padanya. Hingga tatapannya terhenti di sebuah gaun panjang off shoulder berwarna panjang, dengan rumbai yang menutupi bagaian dada berwarna putih juga, dan ukiran bulu merak yang menyatu dengan bunga mawar berwarna emas yang panjangnya hingga mata kaki. Gaun tersebut tampak ringan, karena bagian luarnya yang tipis sehingga memudahkannya dalam bergerak. Dengan cepat dia mengambil gaun tersebut, kemudian melangkah memasuki kamar mandi yang berada tepat di samping ruangan itu.
Author END POV
__ADS_1
⚜⚜
TBC