
Brak!
Suara itu kembali terdengar bersamaan dengan ambruknya tubuh seorang gadis yang mendarat mulus di tanah. Wajah gadis itu sudah tidak beraturan, penuh memar dan debu bahkan ujung bibirnya telah robek sama seperti pakaian yang di gunakannya.
Gadis itu menatap tajam ke arah lawannya. Seorang gadis dengan ukuran tubuh lebih kecil darinya, memakai setelan khas orang latihan berperang sama sepertinya hanya berbeda warna. Dirinya berwarna kuning, sedangkan gadis itu berwarna biru tua.
Perlahan, benda berukuran panjang ia tarik dari sarung di pinggangnya. Menampilkan sebuah pedang panjang dengan ujung mengkilap yang runcing dan tajam. Tetapi gadis itu tidak terlihat takut sedikitpun, bahkan sekarang gadis itu tengah menampilkan seringai tipisnya seolah mengejek.
"Kau tidak akan bisa mengalahkanku, Putri" ucapnya pada lawan bicaranya.
Gadis di depan hanya menatap datar, tanpa ekspresi menampilkan wajah dingin seolah sulit tersentuh.
"Benarkah? Coba saja kemari" ucap gadis itu sembari memiringkan wajahnya ke kanan dan ke kiri, bersamaan dengan lidahnya yang terjulur keluar.
Ia semakin menggeram melihat tindakan gadis di depannya. Kembali ia melesat maju, melayangkan pedang miliknya tepat hingga di depan wajah gadis lawannya. Gadis itu kembali tersenyum, bersamaan dengan tubuhnya yang kian kaku.
Sihir, dia telah menguasainya?, Pikirnya.
"Kau mengeluarkannya terlalu cepat, Putri Nachella"
"Ugh, tidak juga. Aku hanya iseng mencobanya, Nona Katterina"
Ya, kedua gadis yang tengah bertarung adalah Nachella dan Katterina. Mereka sedang bertarung dengan kurun waktu kurang lebih 1 jam. Bisa kalian lihat siapa pemenangnya, ya dia Nachella dan bisa kalian lihat juga jika Katterina selalu tidak mau menyerah dan mengalah padanya. Padahal gadis itu mukanya sudah bonyok seperti maling yang di gebuki warga, sedangkan wajah Nachella masih cantik jelita seperti biasanya.
Katterina berdehem geram, matanya memerah, dengan kedua tangan saling mengepal. Perlahan cahaya sihir keluar dari tubuhnya bersamaan dengan munculnya undakan tanah yang menjulang tinggi sebelum akhirnya terbang dan melesat mendekati tubuh Nachella.
⚜⚜
Nachella POV
Aku terbungkam, menatap takjup kejadian tersebut. Jujur saja, aku senang bisa melihat hal tersebut, hal yang tidak mungkin ada di dunia aslinya -bumi. Tapi apa boleh buat, aku juga tidak mau mati mengenaskan. Dengan segera, mataku terpejam, merapalkan mantra sihir pelindung yang telah ku pelajari sebelumnya.
Covändŕamënte sirêrtamiè, ucapku dalam hati.
Perlahan, sebuah sihir berwarna biru tua membentuk sebuah kubah, sebelum akhirnya membungkus tubuhku layaknya sedang berada di bola transparan.
BOOM!
Bunyi ledakan tak terhindarkan, tanah hasil sihir Katterina bertemu dengan sihir pelindungku. Tanah itu hancur berkeping-keping kemudian menghilang bersamaan dengan angin yang ku buat.
"Kau, hanya melindungi tubuhmu! Seranglah aku, Putri" ucap Katterina dengan nada mengejek.
Uh, aku tidak akan termakan bujuk rayuanmu, setan, batinku mengejek.
"Dia telah kembali" ucap seseorang mirip seperti bisikan tepat di telingaku.
Aku melihat sekeliling, namun tidak menemukan satu pun orang berada dekat denganku.
"Siapa? Siapa kau?" Ucapku lantang.
"Kau kenapa, Chella?"
Aku seketika menoleh ke sumber suara hingga wajah khawatir bercampur bingung milik Aryna dapat terlihat jelas di mataku. Aku menggeleng pelan sebagai jawaban, sebelum suara itu kembali terdengar di telinga hingga membuat kepalaku sakit.
"Dia kembali! Hancurkan dia sebelum merusak!"
"Hancurkan dia!"
"Dia berbahaya!"
Ucap suara itu berkali-kali.
"AGH, CUKUP HENTIKAN!" ucapku sembari memenggang kepala yang berdenyut sakit.
__ADS_1
"Ugh, ada apa Putri? Apakah kau akan menyerah?" Ucap Katterina dengan wajah mengejek.
Aku mendengus pelan, kembali merafalkan mantra "Antês damirŕe" ucapku hingga sebuah kilatan petir muncul di langit yang masih berwarna biru terang.
"Aku bahkan belum melakukan apapun nona Katterina. Jadi hindari atau lawan sihirku ini" ucapku sembari melemparkan kilatan petir tadi yang sudah berubah menjadi puluhan anak panah kecil yang dapat membuat Katterina kejang jika terkena anak panah itu.
Satu anak panah bahkan setara dengan 250 volt. Jadi kalikan sendiri puluhan anak yang yang melesat dengan 250 volt. Sudah kupastikan dia akan mati di tempat.
Kulihat Katterina membentuk sebuah formasi dengan mata yang ia pejamkan, hingga terlihatlah sebuah kubah pelindung yang cukup besar membungkus tubuh mungilnya.
Aku tersenyum remeh melihat hal itu, karena percuma saja dia membuat kubah pelindung itu jika kenyataannya tidak dapat melindungi tubuhnya yang saat ini sudah siap dihantam puluhan anak panahku.
"AGH!" teriak Katterina. Ia terpental setelah bertubi-tubi terkena anah panahku.
Dapat kulihat Katterina terpental jauh menabrak tumpukan jerami. Dari sudut bibirnya keluar cairan kental berwarna merah. Kedua tangan gadis itu memegang perutnya yang mungkin terasa sakit, apalagi dengan wajahnya yang sulit dikondisikan. Membuktikan jika dirinya memang sedang merasa sakit.
"Nona Katterina, anda tidak apa-apa?" Ucap Sean yang langsung lari terburu-buru menghampiri Katterina.
Aku memutar bola mataku, adegan ini memang benar seperti pada naskah cerita dimana Sean selalu peduli dan perhatian pada gadis yang tidak mencintainya.
Sungguh tragis, pikirku.
"Minggir, aku tidak butuh bantuanmu!" Ucap Katterina menyingkap uluran tangan Sean dengan kasar.
"Hai, nona. Sudah bagus ada yang berniat membantumu, bukannya berterima kasih malah nyolot begitu" ucapku.
Aku tidak tahan melihat Sean yang diperlakukan dengan tidak baik seperti itu. Apalagi di hadapan orang banyak, ya meskipun mereka adalah murid akademi. Tapi tetap saja hal itu bisa membuat reputasi Sean hancur.
Memang dasarnya Sean juga yang salah, kenapa dia malah memperdulikan orang seperti Katterina? Padahal banyak banget orang yang lebih baik, contohnya Kak Vio yang tentu saja jauh lebih cantik di banding wanita ular itu.
"Anda terlalu banyak ikut campur nona, terimalah seranganku ini" ucapnya menggebu-gebu.
"Sudahlah Nona Katterina, lebih baik anda sekarang masuk kamar, cuci kaki, cuci muka, sikat gigi, tidur deh. Aku yakin besok seluruh tubuhmu akan kaku" ucapku mengejek.
Apakah tadi terdengar lucu? Aku rasa tidak, pikirku.
"KAU!" Ucapnya yang hendak menyerangku.
Aku segera menutup mata, berniat untuk menerima serangan Katterina. Karena aku ingin mencari tahu seberapa besar kekuatan gadis ular ini, apakah sekuat ucapannya yang sangat berbisa atau tidak?
Tapi entah mengapa sampai sekarang Katterina tidak juga memberikan serangannya. Mataku seketika terpaku, saat punggung besar nan lebar sudah berdiri tegak di depan tubuh kecilku, seolah melindungiku. Tangan kanannya memegang tangan Katterina yang sepertinya niat dia layangkan kearahku.
"Yang Mulia" lirihku yang masih terkaget.
"Segeralah kembali ke kamarmu, nona!" Perintah Felix.
Kulihat Katterina pergi dari lapangan dengan wajah ditekuk menahan amarah. Belum sempat aku tertawa, napasku terasa tercekat saat Felix tiba-tiba memutar tubuhnya hingga menghadap kearahku yang hanya berjarak tidak lebih dari dua meter.
TAK!
"Apa kau bodoh? Dia ingin menyerangmu dan kau malah menutup mata?" Protesnya sembari menjitak kepalaku.
"Mohon maaf Yang Mulia, tapi saya tidak bodoh" protesku sembari menekuk kedua tanganku di depan dada.
"Bodoh! Jelas kau bodoh! Untung saja aku melindungimu, jika tidak bagaimana?" Ucapnya dengan nada semakin tidak menyenangkan.
"Saya tidak bodoh Yang Mulia Putra Mahkota" ucapku.
"Dan satu lagi, saya tidak pernah meminta ada untuk melindungi saya. Jadi saya tidak akan berterima kasih" lanjutku.
Aku segera pergi meninggalkan lapangan, tanpa memperdulikan pria menyebalkan itu. Aku sedang tidak berminat adu mulut dengan pria dingin seperti Felix. Bahkan saat ini seluruh wajahku telah panas menahan amarah.
"Dasar gila!" Gumamku.
__ADS_1
Nachella POV END
⚜⚜
Author POV
Terlihat seorang gadis dengan gaun tidur santai berwarna putih yang terbuat dari sutra. Surai coklat tuanya tersapu desiran angin malam yang membelai lembut kulit putih pucatnya. Netra biru sejernih lautan menatap indahnya langit biru bertabur bintang.
"Ayah sekarang lagi ngapain ya? Kak Leon dan Kak Alaskar juga? Ah jadi kangen ketiga pria tampan itu" ucap gadis itu.
Ia berjalan menyusuri taman berbatu, menyusuri jalan setapak hingga terhenti di sebuah ayunan kayu yang nampak usang berwarna coklat. Tubuhnya menganyun ke depan dan belakang dengan kepala yang mengadah ke langit. Selendang sutra birunya ia eratkan saat angin malam tiba-tiba berhembus kencang.
Pluk, sebuah jubah merah di taruh di bahunya. Kepalanya seketika menoleh, mencari tahu orang yang meletakkan jubah itu.
"Sudah malam, masuklah ke dalam, Putri" ucap seorang pria dengan nada00 rendah yang terdengar sangat lirih.
"Yang Mu.."
"Berhentilah memanggilku seperti itu" ucap pria itu.
"Tapi itu tidak sopan, terlebih anda menggunakan kalimat informal saat di lapangan tadi"
"Apakah tidak boleh, Nachella?"
"A.. Itu"
Gadis itu adalah Nachella yang tiba-tiba di kagetkan dengan kehadiran Felix yang langsung meletakkan jubah merah di bahunya.
"Sudahlah sekarang kau masuk, angin malam tidak baik untuk kesehatan. Aku permisi, sampai ketemu besok" ucap Felix sebelum melenggang pergi.
Nachella menatap hening kepergian Felix. Berbagai pertanyaan timbul di otaknya.
"Kenapa dia tiba-tiba baik begitu?" Heran Nachella hingga tiba-tiba telinganya berdengung bersamaan dengan timbulnya rasa sakit di kepalanya. Kepalanya itu berasa sedang di ikat sesuatu yang sangat kencang dan kuat.
"AUW! SAKIT" teriak Nachella sembari memegang kepalanya dengan kedua tangan.
"Dia telah kembali!"
"Dia akan menghancurkan segalanya!"
"Langit akan gelap!"
"Semua akan hancur!"
Lagi-lagi suara itu terdengar di telinga Nachella. Nachella melihat ke kanan dan kirinya, seperti dugaannya tak ada satu pun orang berada di dekatnya.
"Siapa? Siapa kau? Siapa dia yang kau maksud?" Ucap Nachella setengah teriak.
"Dia telah kembali!"
"Hancurkan!"
"Hancurkan dia!"
"Cukup, cukup sudah. Sakit jangan ngomong lagi. Keluar lo! Kasih tau siapa orang yang lo maksud!" Ucap Nachella yang sudah tidak kuat menahan sakit di kepalanya.
Perlahan sakit di kepalanya mereda bersamaan dengan hilangnya bisikan-bisikan di telinganya. Hatinya seketika menjadi tidak baik saat memikirkan ucapan wanita tak kasat mata yang sangat mirip dengan suaranya, seolah suara itu sedang memperingatinya akan sesuatu yang buruk.
"Aku harus mencari tau. Pasti ada yang tidak beres dengan dunia ini seperti ucapan Dewi Anocia waktu itu" tekad Nachella, ia segera berjalan masuk ke kamarnya.
Author POV END
⚜⚜
__ADS_1
TBC