The Bloom At Royal Harem

The Bloom At Royal Harem
Si Rambut Merah


__ADS_3

BOOM!


Untuk kesekian kalinya ledakan kembali terjadi. Diatas kemilauan Danau Eurydice, terlihat dua orang saling beradu kekuatan melemparkan sihir airnya yang berada di tingkat 5. Sedangkan jauh di bawah sana, terlihat beberapa prajurit yang menatap takjub sekaligus ngeri melihat kejadian menegangkan itu.


"Siapa wanita itu? Mengapa dia memiliki sihir air setingkat dengan Yang Mulia?" Tanya Sonny setengah bergumam.


Berkali kali dia mencoba mengingat wajah itu, namun tak pernah seorang pun dari negara yang dipimpin tuannya itu memiliki wajah cantik dengan cahaya kebiruan yang memantul dari matanya.


"Hei, Tuan! Apakah anda tidak lelah? Saya sarankan anda untuk menyerah" ucap Nachella sembari melempar senyum terbaiknya.


"Yang Mulia, sebaiknya anda beristirahat terlebih dahulu. Sebentar lagi malam akan tiba, anda bahkan belum makan sejak tadi pagi" ucap Sonny khawatir dengan keadaan tuannya yang keras kepala itu.


Wajar saja Sonny khawatir, karena pertarungan sengit itu telah terjadi sejak pagi setelah keduanya tanpa sengaja saling bertabrakan dan jatuh di padang rumput. Hanya karena tidak satu pun yang mau meminta maaf, pertarungan itu pun terjadi. Bahkan udara di danau itu terasa sangat dingin karena sihir air yang diciptakan keduanya.


"Yang Mulia? Ah, apa kau seorang pangeran? Wah, pangeran dari negara mana dengan rambut merah menyala seperti api itu?" Ucap Nachella meledek dengan sihir yang masih tetap ia arahkan ke pria itu.


"KAU!" Geram pria yang di panggil Yang Mulia itu.


"Ya, saya. Kenapa? Saya cantik, terima kasih atas pujian anda" ucap Nachella dengan senyum lebar yang semakin membuat pria tadi kehilangan kesabaran.


"Kau! Tidak sopan! Apakah kau tidak tahu siapa saya?"


"Tidak! Dan tidak ingin tahu, tuh!"


"Sudahlah, saya lelah dan hanya pria lemah yang berani melawan wanita"


"Saya adalah Raja. Jadi saya tidak mungkin lemah seperti pria yang kau sebutkan itu!"


"Raja? Huh!"


"Maksud anda apa?"


"Raja dari negara mana? Saya rasa anda hanya perantauan dan pria yang dibawah sana adalah partner anda untuk menipu orang lain. Tapi itu tidak mempan untuk saya dan harus saya akui sihir anda lumayan bagus" jelas Nachella panjang.


"Saya adalah Kearney Castor Grabelin, Raja dari Kerajaan Grabelin" jelas Alcarax dengan smirk di wajahnya.

__ADS_1


-Grabelin? Itu bukannya..-, pikir Nachella dalam hati.


Perlahan Nachella menarik kembali sihirnya, sebelum dirinya mulai turun menghampiri Sonny yang kini menatapnya setengah ngeri.


"Ada apa, nona? Apakah anda sudah menyadari kesalahan anda?" Tanya Kearney.


"Kau, Raja Grabelin? Sungguh?" Tanya Nachella memastikan.


"Ya"


Singkat, padat, jelas. Jawaban yang sangat Nachella perlukan saat ini dari pria di depannya yang kini menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.


-Apa dia adik ibuku?-, Pikir Nachella lagi dalam hatinya.


Cukup lama dirinya berkutat dalam pikirannya sendiri, sebelum lambaian tangan menariknya kembali ke kenyataan.


"Apa anda adik dari Permaisuri Lauryl?" Tanya Nachella yang seketika membuat semua mata tertuju padanya termasuk Alcarax yang menatapnya diam.


***


Felix perlahan melangkah menuju balkon kamarnya dimana terlihatlah hamparan hutan pinus ditambah suasana sejuk yang sangat menengkan. Pikirannya kembali melayang, ketika kilasan ingatan melintas di otaknya, bagai kaset rusak yang ingin selalu ia putar.


Senyum dibibirnya merekah bersamaan dengan sihir yang ia ciptakan hingga terbentuk ilusi bayangan seorang wanita yang menghantui pikirannya sejak beberapa bulan yang lalu. Dalam keheningan, gelak tawa terdengar sebelum akhirnya pudar bersamaan dengan ketukan pintu kamarnya.


***


"Jadi kau adalah anak dari adik Permaisuri Lauryl?" Tanya Nachella yang kali ini hanya dibalas anggukan kepala.


"Tunggu! Apa hubunganmu dengan Permaisuri Lauryl?" Tanya Kearney menyelidik.


Nachella terdiam, dalam pikirnya ia tidak ingin seseorang mengetahui statusnya. Setidaknya untuk saat ini. Dia masih ingin bermain-main, menikmati alam tanpa polusi udara yang sangat menyejukkan ketika ia hirup.


"Ah, saya adalah salah satu pelayan di Kerajaan Courlage" bohong Nachella.


"Benarkah?" Tanya Kearney memastikan dengan mata memicing, sedangkan disisi kanannya sebuah pedang telah siap dilayangkan Sonny padanya.

__ADS_1


Nachella tersenyum hambar


"Benar, Tuan. Saya saat ini sedang dalam masa cuti, karena itu saya berkeliling Kekaisaran mencari tempat untuk menenangkan pikiran"


"Baiklah, lalu mengapa kau memiliki sihir air tingkat 5?"


"Karena saya adalah pelayan pribadi Tuan Putri Nachella. Ibu saya berasal dari Kerajaan Grabelin oleh karena itu saya memiliki sihir itu. Saya bahkan baru mengetahuinya jika saya memiliki sihir tingkat 5" jelas Nachella setenang mungkin. Namun jantungnya saat ini sedang berdebar kencang. Terima kasih kepada Dewi Anocia yang telah meniupkan angin kencang hingga membuat daun menari menutupi degup jantungnya.


"Yang Mulia saya meminta maaf atas kecerobohan saya" lanjut Nachella yang hanya di balas deheman pelan.


"Baiklah Yang Mulia, saya pamit undur diri terlebih dahulu. Maaf telah mengganggu waktu anda" ucap Nachella sebelum pergi menggunakan sihir teleportasinya.


"Sonny, apakah dia sungguh hanya seorang pelayan dan bukan mata-mata yang selama ini berniat untuk membunuhku?" Tanya Kearney.


Sonny berpikir sejenak. Jika dipikir-pikir pertanyaan tuannya itu ada benarnya. Tidak mungkin seorang pelayan memiliki sihir tingkat 5. Rasanya mustahil. Bahkan dirinya yang telah melayani Kearney selama bertahun-tahun hanya memiliki sihir tingkat 4.


"Sepertinya anda benar, Yang Mulia. Terlalu mustahil jika wanita tadi adalah seorang pelayan. Bisa jadi wanita itu adalah salah satu komplotan yang ingin menyerang anda" jelas Sonny.


Kearney kali ini mengangguk menyetujui ucapan pengawal pribadinya itu. Perlahan smirk diwajahnya tercetak bersamaan dengan ide yang terbesit diotaknya.


"Kita ikuti dia!" Ucap Kearney tanpa menghilangkan senyum di wajahnya.


"Tapi, Yang Mulia.." ucap Sonny terpotong saat mendapat delikan tajam Kearney. Mau tidak Mau semua rombongan mengikuti keinginan Kearney yang merupakan tuannya itu untuk mencari wanita tadi yang tidak lain adalah Nachella.


Disisi lain, Nachella tengah sibuk memperhatikan pasar disekitarnya yang tampak ramai. Padahal malam akan segera tiba, namun rasanya pasar itu justru semakin ramai dan sesak. Tak lama beberapa orang wanita keluar dengan wajah cantik dan puluhan tangkai mawar putih di tangannya yang diberikan kepada orang di sekitarnya, termasuk Nachella sendiri yang kini berjalan tak tentu arah menyurusi sungai yang dipenuhi lampion teratai warna warni.


Tak terasa, bulan hampir berada di puncak kepalanya. Terlihat di kanan dan kirinya. Masing-masing orang telah siap dengan lampion harapan sebelum akhirnya mereka lepaskan secara bersamaan tepat setelah kembang api dilepaskan ke udara.


Matanya menatap langit berbintang ditemani cahaya lampion yang memanjakan mata. Tangannya perlahan mengepal dengan mata terpejam, puluhan kata penuh harap ia lafalkan dalam hati. Berharap keinginannya itu menjadi kenyataan.


"Ku mohon, Dewi. Wujudkan keinginanku ini" pinta Nachella.


Tak lama, angin bertiup pelan menerbangkan rambutnya coklatnya yang tergerai tanpa hiasan. Perlahan matanya terbuka, menampilkan cahaya kebiruan dimatanya yang disambut tatapan sendu pria di depannya yang kini tersenyum lebar menatap wajahnya.


"Kau!"

__ADS_1


***


__ADS_2