
Nachella POV
“Jadi apa saranmu?” tanyaku yang langsung dibalas senyum lebar Sean.
“Bagaimana dengan berlatih memanah? Saya yang akan mengajari anda” tawar Sean penuh semangat.
Benar juga, Sean kan putra dari Guru Frigid yang katanya memang akan mengajarkan cara memanah. Ah kenapa gak dari tadi, sih?, ucapku sedikit protes dalam hati.
“Itu jika anda mau” lanjut Sean yang seolah tersadar atas reaksi berlebihan yang dibuatnya di depanku.
“Aku mau, ayo!” ucapku yang langsung menarik tangan Sean menuju lapangan.
⚜⚜
Disinilah aku berdiri, menunggu Sean yang sedari tadi pamit izin mengambil busur dan anak panah untukku. Namun hingga sekarang pria itu masih belum menunjukkan batang hidungnya. Padahal aku yakin jika aku sudah cukup lama berdiam diri di tempat ini seperti anak ilang, hingga rasanya sebentar lagi lumut dan rumput liar akan menjalar ke sekujur tubuhku.
Mataku mengedar, bosan menunggu pria bernama Sean hingga tanpa sengaja tatapanku bertemu dengan tatan Felix yang entah sejak kapan sedang menatapku.
“Kenapa dia?” gumamku saat melihat Felix dengan ekspresinya yang sulit diartikan.
Tak lama seorang pria tampan yang sedari tadi ku tunggu datang menghampiriku sembari membawa 2 busur dan 2 keranjang berisi anak panah ditangannya. Senyumku merekah, menampilkan binar kekaguman saat melihat dua benda itu. Hanya satu harapanku.
Semoga busur dan anak panah itu tidak seberat pedang tadi, ucapku penuh harap di hati.
“Pu..”
“Nachella, Sean!” ucapku memotong ucapan pria yang hampir membuatku lumutan.
“Putri, ini di tempat umum. Saya tidak berani memanggil anda dengan nama. Bagaimana jika kita berada di tempat umum, maka saya akan memanggil anda, Putri?” tawar Sean.
Aku menganggukkan kepala, karena benar juga ucapan Sean. Bagaimana pun pria itu bisa saja di hukum jika ketahuan orang lain. Hal itu bisa dianggap sebagai penghinaan terhadap bangswan, terutama bangsawan kelas atas yang dapat membuat keluarganya akan ikut terkena hukuman.
“Hm, baiklah. Jadi bagaimana cara menggunakan benda itu?” ucapku yang sedikit ragu mengangkat busur yang berada di telapak tangan Sean.
“Angkatlah ini, Putri. Ini tidak seberat pedang tadi” ucap Sean yang sedikit terkekekh melihat tingkahku.
Aku segera mengangkatnya dan benar ucapan Sean, benda ini tidak seberan pedang. Bahkan ini lebih ringan dari perkiraanku.
“Jadi gimana cara menggunakannya?” tanyaku tidak sabar karena terlampau penasaran.
Nachella POV END
⚜⚜
Author POV
“Akan saya ajarkan, Putri. Mari!” ucap Sean yang kini mulai mengambil posisi di samping kiri Nachella.
Nachella mulai berdiri tegak. Menyamakan posisinya dengan Sean yang mulai membuka kakinya selebar bahu yang tentunya juga diikuti Nachella. Badannya ia hadap serong, tangan kirinya mengambil busur yang ukuran hampir setengah ukuran tubuhnya, sedangkan tangan kanannya mengambil anak panah yang langsung ia arahkan ke tengah busur. Matanya menatap lurus ke papan sasaran berbentuk lingkaran. Tangannya kanannya secara pelahan menarik busur, sebelum melepaskannya bersamaan dengan anak panah yang melesat dan menancap di papan sasaran.
Nachella membuka mulutnya lebar. Mata dan hatinya tidak henti-hentinya berdecak kagum pada pria di sampingnya itu, hingga tanpa ia sadari tangannya telah bertepuk tangan mengapresiasi penuh terhadap hasil panahan Sean.
Tidah ingin larut terlalu lama karena kekagumannya pada Sean, dengan cepat tangan Nachella mengambil busur dan anak panah. Gerakannya ia samakan dengan gerakan Sean, seperti yang ia lihat dan ingat sebelumnya. Pandangan matanya kini lurus ke arah papan sasaran yang terbilang cukup jauh. Hingga tangan kanannya menarik busur bersiap untuk melemparkan anak panah yang akhirnya terpental. Membuatnya seketika kaku di tempat, saat melihat hasil tembakan panahnya yang terbilang sangat memalukan.
__ADS_1
“Hahaha, Tuan Putri. Hahahah!” gelak tawa Sean kini memenuhi gendang telinga Nachella.
Nachella sebisa mungkin menahan malunya yang kini mulai menjalar ke dua pipinya hingga menciptakan rona merah di wajahnya. Bagaimana bisa dirinya hanya melemparkan anak panah tidak lebih dari meter? Memalukan.
“Sean, diamlah! Aku malu!” ucap Nachella yang sudah menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
Kakinya ia hentakkan ke tanah hingga menimbulkan sedikit tebaran debu mengambang di udara.
“Ukhuk.. Ukhuk..! Haachuuh..”
Sean menampilkan wajah khawatir saat melihat Nachella yang terbatuk dengan hidung dan mulut yang ditutup dengan kedua tangan.
“Putri, anda tidak apa-apa?” tanya Sean khawatir.
Nachella mengangguk pelan, menandakan dirinya baik-baik saja. Meskipun hidung dan tenggorokannya sedikit gatal karena debu tadi.
“Aku baik-baik saja, Sean” sahutnya berusaha menyingkirkan ke khawatiran pria itu yang mulai membuang napasnya lega.
Terima kasih, Dewi, ucap Sean dalam hati.
Nachella yang melihat itu ikut tersenyum. Hidung dan tenggorokannya juga sudah tidak gatal lagi, mungkin debunya sudah keluar saat batuk dan bersin tadi.
“Sean,” panggil Nachella.
“Ya, Putri”
“Bisakah kau ajarkan aku cara memanah?” tanya Nachella sembari menjulurkan busur yang di pegangnya ke arah Sean.
Sean tersenyum tipis yang menurut Nachella terlihat sangat manis, memunculkan gemelatup rasa di hatinya. Sean mengambil busur yang berada di depannya sebelum mengangguk menatap wajah berbinar milik Nachella.
Sean mulai berdiri tegak, kedua kakinya ia seukuran bahu lebarnya yang terlihat sangat pas untuk di jadikan sandaran, oke skip. Tanpa menunggu perintah, Nachella yang melihat itu langsung mengikuti Sean, melebarkan kakinya selebar bahu. Tanya kembali melirik ke Sean untuk melihat langkah selanjutnya, yang saat ini tengah mengambil sebuah anak panah, lalu ia arahkan di tengah busur dengan ujung anak panah berada di tali yang kemudia ia tarik hingga menyentuh hidung mancungnya. Jari tangannya mengapit ujung anak panah, matanya ia sipitkan, melihat lurus penuh konsentrasi ke arah papan sasaran.
Srash..
Anak panah kembali melesat jauh melintas di depan mereka hingga akhirnya tertancap di tengah sebuah papan berbentuk lingkaran.
Nachella kembali berdecak kagum pada pria di sampingnya yang tengah menampilkan deretan gigi dengan wajah penuh kebanggaan. Ia mencoba mengikuti kembali apa yang Sean lakukan barusan. Ia berkali-kali mencoba mengingat kembali setiap langkah yang tadi Sean lakukan. Tapi hasilnya nihil, ia lupa semuanya yang ia ingat hanya wajah mempesona saat rambut tebalnya tertiup semilir angin yang bertiup tanpa permisi.
Nachella melihat ke arah Sean sembari menunjukkan puppy eyes andalannya, berharap Sean akan mengerti dan langsung menunjukkan langkah-langkah memanah lagi. Namun harapannya sia-sia, pria itu justru meninggalkannya dari balik punggungnya. Nachella yang melihat itu meringis di tempat, merutuki kelemahannya dalam mengingat langkah-langkah memanah yang bahkan sudah di tunjukkan dua kali secara khusus padanya.
Tiba-tiba tanpa Nachella duga, deruan napas hangat mulai berhembus di kulit lehernya yang dapat ia yakini jika seseorang kini tengah berada tepat di belakang. Secara perlahan tangan orang itu meraih tangan Nachella, mengarahkannya kembali lurus ke depan. Lalu tangan yang satunya lagi mengambil anak panah yang langsung ia letakkan di tangan Nachella, sebelum membawa untuk di tempatkan di tengah busur. Nachella mendongak ke belakang hingga tatapannya kini bertemu dengan seorang pria yang juga tengah menatapnya lekat sembari tersenyum hangat padanya.
“Se...Sean?”
“Fokuslah ke depan, Putri” ucapnya lirih.
Oh, Tuhan! Tolong cabut nyawaku sekarang, aku tidak kuat dengan jantung yang hendak keluar ini!, batin Nachella yang hampir menjerit saat senyum Sean seakan menghipnotisnya.
Nachella masih menatap Sean lekat, hingga sebuah pegangan di tangannya lepas dan menarik kesadarannya yang sempat melayang di udara, nachella menggeleng pelan, matanya kembali tertuju pada arah anak panah yang kian melesat melewati seorang pria dengan seragam yang sama dengan warna abu yang menandakan jika berada di 3 tingkat di atasnya. Anak panah itu terus melesat hingga mengenai anak panah milik Sean yang di lontarkan Sean tadi, membelahnya menjadi dua sebelum akhirnya mengenai papan sasaran.
“Aku bisa memanah. Kau lihat itu, Sean! Aku memanah. Aku sangat senang! Terima kasih Sean” ucap Nachella penuh semangat dengan raut wajah yang terlihat sangat bahagia hingga tanpa sadar ia memeluk tubuh Sean yang kini mematung di tempatnya.
“Put.. Putri” panggi Sean berusaha menyadarkan perbuatan gadis kecil di depannya. Nachella yang tersadar pun langsung menjauhkan tubuhnya dari Sean Ia merasa sangat malu sekarang, bagaimana bisa dia memeluk Sean bahkan di usianya yang semuda ini?
__ADS_1
Tapi bukankah hal itu adalah sesuatu yang wajar dilakukan anak kecil, pikir Nachella dalam hati.
“Ah, maafkan aku, Sean” ucap Nachella dengan tubuh yang hampir membungkuk yang langsung Sean tahan dengan kedua tangannya yang menahan bahu Nachella.
“Tidak apa-apa, Putri?” sahut Sean.
Dalam hati Nachella masih merutuki perbuatannya.
Benar-benar deh, bagaimana jika orang lain melihatnya? Akan terkena masalah bagiku dan juga Sean. Aku benar-benar benci status ini!, ucap Nachella dalam hati sembari membuang napasnya kasar.
Nachella segera pergi meninggalkan Sean yang terpaku menatap kepergiannya yang tanpa kalimat perpisahan dengan wajah penuh tanda tanya.
Apakah aku membuat kesalahan?, pikir Sean.
⚜⚜
BRUK!
Terlihat ,sebuah ruangan besar dengan keadaan yang tidak bisa dikatakan baik-baik saja seolah ruangan tersebut habis terkena badai tornado. Tirai yang berjatuhan, pecahan kaca yang berserakan, dan beberapa potong gaun yang compang-camping tidak beraturan.
“Akan ku buat dia menderita” ucap seorang gadis menatap pentulan dirinya di cermin. Dialah dalang di balik semua keadaan di kamar itu. Beberapa umpatan ia sembunyikan dibalik setiap teriakan yang ia lontarkan hingga tanpa di ketahuinya jika orang lain dalam wujud transparan berada di tempat itu, memperhatikannya dalam jarak yang cukup sedari tadi.
Author POV END
⚜⚜
Nachella POV
Aku melangkah menyusuri lorong akademi yang masih sepi lantaran para murid sedang berlatih seni bela diri, berbeda denganku yang masih saja merutuki tindakanku yang sangat tidak patut di contoh kaum bangsawan lain. Bahkan jika aku mengingat kejadian di lapangan saat bersama Sean tadi dapat kupastikan akan membuat rona di wajahku. Tapi untunglah, sepertinya Sean tidak menyadarinya tadi.
BRUK!
“Suara apa tuh?” tanyaku pada diri sendiri, ya karena memang di sekitarku tidak ada satu pun orang yang lewat. Bahkan semut pun aku rasa tidak ada yang lewat.
Dengan langkah cepat aku mencari sumber suara hingga sampailah di depan sebuah pintu besar berwarna coklat yang sangat mirip dengan pintu kamarku di akademi. Bisa kupastikan jika orang di dalam sana adalah sesama murid di akademi ini, sama sepertiku. Bedanya kamarku selalu dalam keadaan tenang, sedangkan kamar ini sangat gaduh bahkan suaranya terdengar dari jarak 200 meter, kurasa.
“Akan ku buat dia menderita” ucap seorang gadis dari balik pintu yang belum ku ketahui siapa pemiliknya.
Jiwa detektifku seketika muncul bersamaan dengan tanduk runcing berwarna merah, menandakan jika tingkat penasaranku sudah berada di di tahta tertinggi apalagi saat mendengar ucapan penuh amarah gadis itu sembari menyebutkan kata-kata yang bahkan tidak sampai satu menit itu.
“Siapa yang akan dia niat menderita? Dan siapa dia?” tanyaku pada angin yang verlalu lalang tanpa permisi.
Apa aku ketuk saja?, ideku yang terbilang cukup konyol tiba-tiba melintas begitu saja.
Belum sempat tanganku melayang di udara untuk mengetuk pintu, seorang gadis bersurai hitam serta seragam yang sama seperti milikku keluar dari balik pintu sembari menatap terkejut ke arahku yang juga terkejut, tapi untung segera ku sembunyikan.
“Chel.. Ah, maafkan saya. Putri Nachella apa yang kau lakukan disini?” tanya gadis itu.
“Ah, aku hanya lewat dan ingin bertegur sapa dengan para pemilik kamar di sekitar kamarku dan ternyata itu kau, Katterina” ucapku senatural mungkin sembari menutupi keringat yang kian mengalir sampai telapak tangan.
Jujur saja aku sedikit terkejut saat mengetahui pemilik kamar ini adalah malaikat mautku yang bahkan tadi terdengar sangat-sangat berbahaya. Tapi siapa yang ingin ia buat menderita? Kenapa? Apa ada dendam pribadi? Ya aku harap orang itu bukanlah aku.
Nachella POV END
__ADS_1
⚜⚜
TBC