The Bloom At Royal Harem

The Bloom At Royal Harem
20. Perkara Angin


__ADS_3

"Fresta dacòvo"


Perlahan tumbuhan menjalar keluar dari dalam tanah, mengincar tubuh Nachella yang menghindar kesana kemari.


"Katterina?" Ucap Nachella yang menyadari kedatangan seseorang dari balik semak-semak.


Anak panahnya ia lontarkan ke arah Katterina yang dengan mudahnya di tahan tanaman yang semakin menjalar ke arahnya.


"Kau bisa menang waktu itu karena aku berbaik hati padamu, Putri. Tapi disini aku tidak akan berbaik hati lagi" ucap Katterina yang langsung mengerahkan sihir jerat setannya yang mulai meraih kaki Nachella. Menyeret tubuh Nachella kesana kemari, melayang di udara, sebelum menghempaskannya ke tanah dengan kencang.


"Micoldova" teriak seseorang, bersamaan dengan munculnya undakan tanah tepat di tempat Katterina berdiri, membuat sihirnya menghilang.


"Nona Katterina. Tidak baik seperti itu kepada seorang Putri" ucap wanita itu yang langsung menghampiri Nachella yang terduduk karena sakit di kakinya karena jerat setan yang sempat mengenainya.


"Siapa kau?" Tanya Katterina.


"Ah, kita belum berkenalan. Perkenalkan namaku Sandalina Cruel Xelophen" ucapnya sembari sedikit membungkuk khas salam bangsawan.


"Ugh, putri dari seorang pemilik butik saja sombong" ucap Katterina.


"Maafkan saya, Nona. Tapi butik keluarga saya bukanlah sembarang butik, bahkan saya rasa anda tidak mampu membeli sehelai pakaian pun di butik saya" ucap Sandalina yang sontak membuat gelak tawa Nachella. Berbeda dengan Katterina yang amarahnya telah memuncak.


"Louvãlotus Toùrya de Lacostà vencinźo" ucap Nachella yang langsung ia arahkan ke tempat Katterina berdiri.


Tak lama, sebuah pusaran angin terbentuk. Membungkus tubuh Katterina sebelum akhirnya menghilang bersamaan dengan Katterina yang juga ikut berpindah tempat.


"Putri, kemana Nona Katterina? Apa anda membunuhnya?" Tanya Sandalina.


Nachella tertawa mendengar pertanyaan Sandalina yang menurutnya lucu. Ia bahkan belum memiliki niat membunuh wanita menyebalkan itu, bagaimana bisa wanita di depannya ini justru berpikiran seperti itu?


"Tidak, aku hanya membuatnya berpindah bersama dengan tornado tadi" ucapku menjelaskan yang langsung di balas anggukan kepala.


"Ah, ya siapa namamu tadi?" Tanya Nachella.


"Perkenalkan, Putri. Nama saya Sandalina Cruel Xelophen" ucap Sandalina memperkenalkan diri.


Mendengar hal itu, lagi-lagi membuat Nachella tersenyum. Baginya nama wanita di depannya ini sungguh lucu dan seingatnya dia tidak pernah membuat dialog Sandalina, dan wanita ini hanya dicantumkan namanya di jajaran wanita penggemar Putra Mahkota Felix.


Sendal Selop, akhirnya kita ketemu. Hihihi, pikir Nachella sembari menahan tawanya.


"Perkenalkan aku Nachella Naiderfold Courlage. Senang berkenalan dengan anda, Nona Xelophen" ucap Nachella memperkenalkan diri sembari membungkuk khas bangsawan yang juga diikuti Sandalina.


"Senang berkenalan dengan anda juga, Putri Nachella. Boleh saya tahu, sedang apa anda disini? Karena setahu saya piala tidak berada di pusat labirin" ucap  Sandalina.


"Aku sedang jalan-jalan saja. Sekaligus mencarinya dan kebetulan tadi tidak sengaja bertemu Nona Katterina" ucap Nachella yang langsung di angguki kepala.


Nachella tidak mungkin mengungkapkan tujuan utamanya mendatangi tempat ini. Yang ada justru akan terjadi kejadian seperti tadi atau bahkan lebih parah. Karena dirinya sudah tahu jika Sandalina sudah mampu mengendalikan kekuatan yang ia miliki, tidak seperti sihir Katterina yang dengan mudahnya terpatahkan.


"Baiklah, Putri. Saya izin undur diri, salam Put.."


"Sudahlah, tidak perlu melakukan hal seperti itu dan terima kasih untuk tadi" ucap Nachella memotong salam Sandalina.


Sandalina pamit undur diri meninggalkan Nachella yang kembali fokus mencari benda yang di carinya.


Kakinya melangkah ke arah kanan tubuhnya, mencari sesuatu dari balik semak. Entahlah, rasanya seperti ada daya tarik sendiri yang membuatnya mencari ke arah sana. Hingga pantulan benda berkilau mengenai matanya. Tangannya mengais daun yang berguguran yang sepertinya telah menyembunyikan benda itu.


Tak lama, tangannya mengambil benda yang mirip seperti mahkota berwarna hijau dan terdapat sebuah batu permata besar di tengahnya berbentuk hati.

__ADS_1


"Akhirnya ketemu juga" ucap Nachella sembari bernapas lega.


Angin kembali bertiup, membuatnya sedikit terpontang panting terbawa angin yang semakin membawanya menjauh dari pusat labirin, hingga dirinya terjatuh tepat di pintu masuk labirin yang ia lewati pertama kali.


"Selamat Putri Nachella, anda mendapatkan harta berharga tersembunyi akademi ini" ucap Frigid penuh semangat sembari bertepuk tangan menyambut Nachella yang sedang menahan rasa sakit di bokongnya.


Nachella tidak kaget mendengar itu karena memang sedari awal ia berniat mencari harta tersembunyi yang tentu sangat bernilai itu.


Harta yang terbuat dari emas yang membentuk mahkota dengan ukiran mawar dan permata besar berbentuk hati di tengahnya. Mahkota itu bukanlah sembarang mahkota, karena mahkota itu merupakan sumber pondasi terbentuknya akademi ini.


Berawal dari Frigid yang mencintai seorang gadis bangsawan yang tingkat sosialnya cukup tinggi. Hingga orang tua wanita itu memberikan syarat agar Frigid membangun sebuah sekolah yang sekarang kita kenal sebagai Akademi Tritilion. Usaha Frigid pun berhasil dan membuat orang tua wanita itu menyetujui pernikahan mereka. Sebagai bentuk syukur, akhirnya Frigid membuat mahkota itu secara khusus dengan tangannya sendiri. Itu sebabnya, mahkota itu disebut Harta Berharga yang sangat istimewa di akademi.


"Mari, Putri Nachella. Saya antar ke aula untuk tahap terakhir ujian yaitu mengetahui tingkatan yang anda dan para bangsawan lain miliki" ucap Frigid dengan lengannya yang terbuka, memberi jalan.


"Terima kasih guru" ucap Nachella.


⚜⚜


Dua jam kemudian.


Lelah, letih, lesu, lunglai, lapar, dan ngantuk. Itulah yang dirasakan Nachella saat ini.


Kepalanya tidak henti-hentinya menoleh ke arah pintu, berharap ada orang datang ke ruangan yang ia tempati sedari tadi. Namun dua jam telah berlalu, tapi tidak satu pun yang datang atau walau hanya sekedar lewat. Sedari tadi hanya kucing saja yang lewat sembari membawa beberapa ekor nyamuk yang mengganggunya.


Plak!


"AUW!" Ringisnya sembari memegang pìpi kanannya yang sempat ia pukul karena menjadi tempat nyamuk hinggap.


Tap.. Tap.. Tap..


Nachella menggeleng pelan melihat tingkah wanita di depannya yang 2 tahun lebih tua darinya. Cukup lucu, apalagi ketika dia mengingat bahwa wanita itulah yang akan menikah dengan kakaknya. Membuatnya seketika membayangkan Aryna memakai gaun pernikahan dengan lengan yang menggandeng Leon. Ah membayangkannya saja, sudah sangat indah.


Nachella kembali ke kenyataan, di longgarkannya pelukan Aryna yang kini menatap wajahnya dengan raut khawatir sekaligus terkejut.


"Aku disini kakak dan bukan Kak Vio yang meninggalkanku, tapi akulah yang meninggalkannya dan juga dirimu" ucap Nachella.


Tak!


Sebuah jitakan lumayan keras mendarat di dahinya, membuat Nachella langsung mengelusnya.


"Kau kira aku bodoh, hm? Tak usah membelanya, akan ku beri dia pelajaran?" Ucap Aryna dengan tangan yang ia tekuk di depan dada.


"Apa yang akan kau ajarkan padaku, Putri?" Tanya Vio dari balik pintu dengan senyum lebar di wajahnya.


Aryna yang melihat hal itu seketika merasa geram, ia pun sedikit berlari kecil menghampiri Vio yang juga di ikuti Nachella yang khawatir jika kedua wanita itu akan melakukan simulasi perang.


"Kenapa kau meninggalkannya? Dia masih kecil dan disana gelap? Kau tidak tau bahwa disana tadi ada pusaran angin yang sangat besar, bahkan aku lihat ada nona bangsawan di dalamnya" protes Aryna tepat setelah berdiri di depan wajah Vio.


Vio menoleh ke arah Nachella yang telah tersenyum layaknya orang bodoh.


"Hehe, Kak Aryna itu ulahku" ucap Nachella sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Aryna seketika memberikan tatapan tajam ke arah Nachella, lidaknya berdecih pelan sembari menghembuskan napas beratnya.


"Apanya yang ulah kau, anak kecil?" Tanya Aryna dengan emosi yang ia tahan dengan senyum palsu yang ia paksakan tarik.


"Aku bukan anak kecil, kakak. Angin, angin itu adalah ulah ku dan orang yang berada di salamnya adalah Nona Katterina" ucap Nachella yang langsung mendapat tatapan tajam dari dua arah.

__ADS_1


Seketika hawa panas menjalar dari balik punggung ke seluruh tubuhnya. Kedua wanita depannya itu seolah sedang melempar laser yang dapat membakar tubuh Nachella.


"Ya, itu adalah ulahnya" ucap seseorang.


Nachella, Vio, dan Aryna seketika menoleh ke arah pintu yang sekarang menampilkan dua orang wanita dengan seragam yang sama memasuki ruangan. Katterina dan Sandalina.


Katterina masuk dengan gaya angkuh yang melekat di wajahnya. Kepala yang terangkat, serta jalan tekap dengan mata yang menatap lurus ke depan. Sedangkan Sandalina masuk dengan gaya santai, dengan matanya lurus ke arah Nachella dan sudut bibirnya yang melengkung sempurna.


"Putri tidak sepenuhnya salah, Nona Katterina" ucap Sandalina yang langsung mendapat tatapan tajam Katterina.


"Kau membelanya?" Protes Katterina, menunjuk ke arah Nachella dengan telunjuknya. Sebuah sikap yang dianggap kurang sopan bagi bangsawan.


"Bukankah sedari awal kita memang berniat dekat dengannya, tapi kenapa sekarang kau justru menganggap Putri Nachella seperti musuh?" Heran Sandalina.


"BETUL!" ucap Nachella, Vio, Aryna serentak dengan kepala yang ia anggukan tanda setuju dengan pertanyaan Sandalina.


"Aku memang ini berteman dengan Putri Nachella. Ta.. tapi untuk saat ini kita semua adalah lawan. Iya lawan" ucap Katterina sedikit tergagap.


"Oh, benarkah itu? Jadi apakah kita sekarang bisa berteman?" Tanya Nachella yang kini membuat semua pasang mata tertuju padanya.


Mata Nachella melirik kesekitarnya. Ia tidak sadar jika aula yang semula sepi sekarang sudah sangat ramai. Bahkan karena keributan ini membuat semua pasang mata tertuju ke arahnya.


"Tentu" ucap Katterina yang kembali membuat semuanya terkejut.


Belum sempat Nachella menjawab, Frigid, Sean, Felix dan Orlando memasuki ruangan. Di tangan kanan Frigid memegang sebuah piala dengan logo Akademi Tritilion di tengahnya, sedangkan di tangan kirinya memegang sebuah mahkota yang tadi ditemukan Nachella.


Terlihat beberapa orang berdecak kagum melihat kedua benda tersebut. Satu benda yang di cari sedari tadi oleh mereka semua namun tidak berhasil mereka dapatkan, bahkan sekarang pun mereka masih belum mengetahui siapa penemu benda berbentuk piala tersebut.


"Selamat sore para Putra, Putri, Nona dan Tuan Bangsawan. Saya selaku pemilik akademi ini mengucapkan terima kasih kepada Anda semua karena telah mengikuti serangkaian kegiatan ujian hari kedua jilid satu. Kepada dua pemenang yang telah menemukan kedua benda yang saat ini berada di tangan saya dapat segera maju, menerima hadiah" ucap Frigid yang sontak membuat aula menjadi gaduh dengan suara manusia.


Tak lama, Nachella maju sembari menggandeng lengan Vio yang langsung menahannya. Kepala Nachella seketika menoleh, melihat raut wajah Vio yang berubah sendu sembari menatap lantai kayu.


"Maaf Chella, kakak gagal" ucap Vio lirih.


Nachella seketika melonggarkan gandengannya. Kedua tangannya menangkup wajah Vio, memaksanya menatap ke arahnya.


"Tidak apa-apa, kak. Kakak hebat, lain kali pasti kakak bisa mendapatkan yang lebih baik" ucap Nachella dengan senyum lebar di wajahnya.


Mendengar hal itu, Vio kembali tersenyum. Ada kelegaan dihatinya.


"Terima kasih, kau cepatlah kesana. Terima hadiahmu" ucap Vio yang langsung di angguki kepala Nachella.


Nachella perlahan berjalan kearah Frigid, hingga dirinya tepat bersebelahan dengan Sandalina. Orang yang berhasil mendapatkan piala yang seharusnya menjadi milik Vio, itulah pikirannya.


"Kalian berdua merupakan Putri dan Nona terbaik negeri ini. Karena itu, sesuai dengan janji saya. Saya akan berikan hadiah khusus kepada kalian, yaitu mempelajari bahasa asing" ucap Frigid yang sontak membuat Nachella dan Sandalina berbinar, begitupun dengan siswa lain yang terperangah mendengar hadiah itu.


Belajar bahasa asing bukanlah hal yang lumrah disana. Hanya orang-orang tertentu yang bisa menguasainya. Itu pun harus memiliki izin resmi dari Kaisar dan beruntunglah yang masuk ke akademi ini karena semua yang di lakukan di akademi ini sudah atas izin Kaisar termasuk izin mempelajari bahasa asing.


"Guru, kalau boleh tau kita akan mempelajari bahasa apa?" Tanya Nachella penuh semangat.


"Bahasa Inggris, Putri"


"Apa?"


⚜⚜


TBC

__ADS_1


__ADS_2