The Bloom At Royal Harem

The Bloom At Royal Harem
25. Tanda


__ADS_3

Nachella melangkah, menyusuri lorong istana yang nampak sepi, hanya beberapa orang pelayan yang terlihat berlalu-lalang sembari membawa alat kebersihan di tangannya. Hingga pandangannya tertuju pada seorang pria yang tengah mengayunkan pedangnya, membelah angin yang tiada henti menghempasnya.


Tanpa ia sadari, kakinya perlahan berjalan menghampiri pria itu. Menembus butiran salju yang turun ke bumi.


"Ada apa?" Tanya pria itu dingin sesaat setelah jarak Nachella tersisa beberapa langkah darinya.


Pandangan pria itu masih fokus ke depan, tanpa memperdulikan kehadiran Nachella yang berada di sampingnya.


"Mampir, sekaligus mengantar Kak Vio" sahut Nachella tak kalah dingin.


"Panggilah dia dengan Putri Vionna" ucap pria itu yang masih setia dengan pedang di tangannya.


"Tidak, bahkan Kak Vio tidak keberatan dengan panggilanku. Jadi mengapa kau mempermasalahkannya?" Tanya Nachella yang sedikit protes dengan ucapan Felix yang dinginnya bahkan melebihi salju hari ini.


Felix menghentikan ayunan pedangnya. Kini tatapannya lurus ke arah Nachella yang melihat pemandangan tempat disekitarnya yang nampak indah di penuhi berbagai pohon yang telah berubah menjadi seputih salju.


"Karena dia adikku dan statusnya jauh lebih tinggi dibandingkan dirimu" jelas Felix.


"Ya, terserah kau saja. Tapi aku akan tetap dengan pendirianku" ucap Nachella tak mau kalah.


Setelah percakapan itu, keduanya hanya berdiam diri sembari menikmati udara dingin yang timbul dari salju yang turun layaknya tirai tiada akhir. Hingga sebuah pergerakan Felix mengalihkan atensi Nachella.


"Pakailah mantel ini, udara dingin tidak baik untuk kesehatanmu" ucap Felix sembari meletakkan mantel bulu beruang di bahu Nachella, membuatnya seketika tenggelam karena tubuh mungilnya yang tertutup sempurna oleh mantel itu yang memang dibuat khusus untuk Felix.


"Terima kasih. Kalau begitu, aku pergi dulu. Salam Yang Mulia Putra Mahkota" ucap Nachella yang langsung melenggang pergi setelah selesai mengucapkan salam. Meninggalkan Felix dengan senyum tipis diwajahnya.


"Padahal tadi dia tidak memberi salam" ucap Felix.


⚜⚜


Nachella POV


"Putri Nachella dan Putri Vionna telah kembali" ucap penjaga gerbang sesaat setelah kereta kuda yang dinaikiku dan Kak Vio berhenti tepat di depan gerbang Kerajaan Courlage.


Cukup lama kereta berjalan, sebelum akhirnya berhenti di depan tiga orang pria yang menyambutku dengan kedua tangan terbuka di depan mereka.


Jadi, mana yang harus ku pilih?, pikirku.


Aku melihat ketiga pria itu yang tak hentinya tersenyum menampilkan wajah tampan mereka yang tentu sudah terkenal seantero kerajaan bahkan kekaisaran.


Dapat kulihat, ditangan mereka masing-masing membawa sebuket bunga dengan beragam jenis dan bentuk. Hingga tatapanku berhenti tepat di sebuah buket berwarna biru yang didalamnya berisi mawar biru dan putih yang dihiasi bunga edelweiss kecil disekelilingnya. Sangat indah.


Aku pun melangkah menghampiri pria pemegang buket itu dengan senyum lebar yang ku pasang. Tangan kananku bergerak mengambil buket yang kemudian kubawa kepelukanku, sebelum tangan kiriku menggandeng tangan Kak Vio membawanya masuk tanpa membalas uluran tangan ke tiga pria yang kini tengah cemberut karenaku.


"Chella, kau mau kemana?" Teriak Leon yang kuhiraukan sebelum ada teriakan lain yang datang dari kedua makhluk ciptaan tuhan yang paling sempurna lainnya.


⚜⚜


"Hei, Chella kau menolak kami tapi justru kau menggandeng tangannya" protes Alaskar yang mencegatku masuk ke kamar.


Aku tersenyum tipis yang kemudian ku sembunyikan di balik buket yang sengaja ku taruh tepat di depan wajahku.


"Memangnya kenapa? Aku kan bebas menentukan pilihanku, iya kan Kak Vio?" Tanyaku tanpa berdosa.


Dapat kulihat ketiga pria itu yang mulai merajuk membuatku dan Kak Vio tidak lagi bisa menahan tawa kami yang memang sedari tadi telah memaksa keluar.

__ADS_1


"Haha, kalian lucu sekali" ucapku yang langsung memeluk ayah, Kak Leon, dan Kak Alaskar bergantian, hingga terbitlah semburat kemerahan di masing-masing pipi ketiganya.


Menggemaskan itulah yang dapat kugambarkan mengenai tingkah mereka saat ini. Yang terkadang bersikap dingin layaknya kulkas saat berada di depan banyak orang, namun bersikap kekanakan saat berada di dekatku. Rasanya aku seperti merawat 3 bayi raksasa yang sangat tampan hingga untuk memarahi mereka rasanya aku tidak akan sanggup.


Jadi dewi, ku mohon jangan tambah bayi besarku lagi. Kuharap pria yang kusukai dan berjodoh denganku kelak tidak memiliki sifat kekanakan seperti mereka, pintaku dalam hati.


"Baiklah kak, aku izin masuk dulu ya. Aku lelah setelah 8 jam perjalanan" jelasku yang memang perjalanan menuju istana Kekaisaran Visilion memiliki jarak yang cukup jauh dan menghabiskan setidaknya 3 jam. Namun karena cuaca tidak mendukung, jadilah perjalanan tadi 1 jam lebih lambat.


"Ya, baiklah. Selamat ber.."


"Eh tunggu, bukankah tadi kau tidak memakai mantel beruang dan sejak kapan kau menyukai mantel seperti itu? Terakhir kali kau selalu meminta mantel rubah dan serigala, mantel itu juga terlihat sangat besar di tubuhmu" ucap Kak Alaskar penuh selidik, memotong ucapan Kak Leon.


"Ah, benar juga, Chella. Seingat ayah, ayah tidak pernah membelikanmu mantel ini" ucap ayahku dengan tangan yang mengangkat sedikit menggunakan dua jari mantel pemberian Felix.


"Felix, apakah ucapan ayah dan Alaskar benar?" Tanya Kak Leon yang seolah ikut terpancing.


Aduh, aku harus jawab apa?, pikirku dalam hati.


"Putri Vionna, tadi adikku menggunakan apa saat pergi bersamamu ke istana?" Lanjut Kak Leon yang sepertinya sangat tidak sabar menunggu jawabanku.


"Sepertinya tadi Chella hanya memakai mantel bludru saat dikereta" ucap Kak Vio.


Mati, ku kira Kak Vio akan menyelamatkanku, batinku meringis.


"Ah, ini. Kakak pasti salah lihat. Tadi aku membawa mantel ini kok. Hanya saja tadi saat dikereta aku tidak memakainya" ucapku berusaha menghindari fakta.


"Benarkah, tapi sepertinya ta.."


"Tidak mungkin kak aku hanya memakai mantel bludru. Aku akan beku jika memakai pakaian setipis itu di udara yang dingin seperti ini. Lihatlah salju yang turun semakin banyak, pemandangannya sangat indah" ucapku mengalihkan perhatian mereka menunjuk ke sembarang arah.


Hingga punggungku terasa panas yang segera ku berbalik menghadap Kak Leon yang tengah menatapku tajam dengan tatapan penuh menyelidik.


"Baiklah, kau istirahat. Udara dingin tidak baik untuk kesehatanmu" ucap Kak Leon.


"Aneh, apakah para pria menggunakan kamus untuk berbicara dengan wanita?" Gumamku ketika kembali mengingat ucapan Felix tadi.


"Kau bicara apa, Chella?" Tanya Kak Alaskar.


"Ah tidak ada, Kak" ucapku yang langsung masuk ke dalam kamar menghindari percakapan yang akan semakin membuatku tertekan.


Nachella END POV


⚜⚜


Author POV


Disudut lain Kekaisaran Visilion. Dalam kegelapalan, sebuah ruangan yang nampak berantakan dipenuhi pecahan kaca dan mayat seseorang yang tergantung pada sulur hitam yang di keluarkan seorang wanita.


Wanita itu nampak berantakan dengan jejak tangisan yang mengalir di pipinya sebelum sebuah tawa memekakkan telinga terdengar dari mulutnya. Matanya perlahan terbuka menampilkan netra hitam kelam yang sama dengan sulur yang ia keluarkan dari dalam tubuhnya.


Brak!


Bantingnya pada mayat seseorang dengan pakaian yang telah compang-camping. Tubuh orang itu nampak keriput kebiruan, seolah hanya tersisa tulang dan kulit saja.


"Mengapa si bodoh itu belum tertindak? Aku masih ingin bermain dengan bonekaku seperti dulu" ucap wanita itu.

__ADS_1


Tangannya mengibas diudara, menampilkan seorang wanita yang tengah di pasangkan mantel oleh seorang pria. Giginya saling bergemelatuk, melihat kejadian memuakkan yang sebelumnya tidak pernah terjadi.


"Mengapa alurnya berubah?" Tanya wanita itu.


"Seharusnya alurnya masih sama waktu itu" lanjutnya.


"Kau akan mati. Entah mati ditangan si bodoh itu atau mati di tanganku" ucap wanita itu lagi sebelum tubuhnya menghilang bercambur dengan awan hitam yang melayang melintasi hutan.


⚜⚜


Kicauan burung menyambut pagi nan cerah dan dingin yang telah menjadi rutinitas sepekan terakhir.


Keheningan tercipta di sebuah meja makan yang ditempati 3 orang, hanya terdapat dentingan sendok dan garpu yang saling beradu dengan piring. Hingga sebuah atensi mengalihkan ketiganya, tak terkecuali seorang pria muda yang langsung bergegas keluar dari ruangan tersebut.


Langkah kakinya ia lebarkan, seiring berjalannya waktu yang ia habiskan hingga terlihatlah seorang wanita dengan gaun peach yang melekat di tubuhnya.


"Salam Yang Mulia Putra Mahkota" ucap wanita itu yang menunduk 90 derajat.


"Berdirilah! Ada apa?" Tanya pria itu dingin yang tentunya sangat berlainan dengan jantungnya yang saat ini tengah berpacu layaknya kuda di arena balap.


"Ini, saya ingin mengembalikan mantel ini. Terima kasih dan ya, mantel ini telah saya cuci" ucap wanita itu yang tak lain adalah Nachella.


"Ambil saja, aku tidak biasa memakai barang yang sudah dipakai orang lain" ucap Felix yang langsung melenggang pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun, lagi.


"Eh, tapi.."


Dari kejauhan, terlihat sepasang suami istri yang melihat tingkah putra mereka yang sedang memainkan peran tarik ulur dengan Nachella. Mereka perlahan berjalan menghampiri Nachella yang menatap kepergian Felix seorang diri.


"Ambillah, Putri Nachella. Felix memang keras kepala. Bahkan aku yang ibunya saja merasa pusing dengan tingkahnya" ucap Rova yang datang bersama Andreas yang merangkul bahunya.


Nachella tersenyum tipis mendengar ucapan Rova. Ia segera memberi salam dan pamit dari keduanya.


"Suamiku, putra kita sudah besar yah. Apa kita bisa menjodohkannya dengan Putri Nachella? Menurutku Putri Nachella adalah pribadi yang baik dan sopan. Jadi kurasa dia adalah kandidat terbaik untuk mendampingi anak kita, Felix" ucap Rova.


"Kau benar istriku. Mungkin aku akan membicarakannya dengan Alexander" sahut Andreas membenarkan ucapan istrinya. Setelahnya keduanya saling melempar senyum menatap hamparan tanaman yang dipenuhi salju tebal.


⚜⚜


Di kamar Felix. Pria itu tengah sibuk membanting bantal dan gulingnya yang kemudian ia tata dan banting kembali. Kegiatannya anehnya itu telah berlangsung sejak pertemuan pertamanya dengan Nachella beberapa hari lalu saat dirinya memberikan mantel beruang miliknya.


Entah saat mengingat kejadian itu, muncul gelanyar aneh di hatinya yang seketika menghangat dan harinya berubah manis seolah ada peri gula yang menaburkan gula tepat diatas kepalanya.


Seperti halnya tadi, setelah pelayan mengumumkan kehadiran Nachella, pria itu langsung berlari menghampiri Nachella yang tengah berdiri menghadap taman yang di hujani salju.


"Agh, ku kira dia akan mengucapkan perkataan manis" kesal Felix.


Namun pikirannya kembali menghangat, ketika mengingat wajah cantik dan tubuh mungilnya yang dibalut ballgown peach dengan motif bunga mawar dibagian ekornya. Rambut blondenya yang tergerai dengan mahkota bunga yang melekat di kepalanya. Membuatnya terlihat seperti peri bunga yang turun bersamaan dengan jatuhnya salju ke bumi.


Tanpa sadar, Felix tersenyum mengingat pertemuannya tadi dengan Nachella yang membuat jantungnya berdegup kencang.


"Dewi, perasaan apa ini? Tidak bisa kuhilangkan dan hanya bisa ku tambahkan seiring dengan pertemuanku dengan Nachella" ucap Felix sembari memegang jantungnya yang berdegup kencang.


Ia membanting tubuhnya ke kasur, membiarkan pikirannya beristirahat bersama dengan harinya yang tengah dipenuhi taman bunga.


Author POV END

__ADS_1


⚜⚜


TBC


__ADS_2