THE MOON: Isaac Adventure

THE MOON: Isaac Adventure
Mencoba menyatakan cinta


__ADS_3

Pukul sepuluh pagi, di sebuah area pinggir pantai yang sepi. Koloni dahan pohon kelapa tampak melindungi manusia yang berdiri di bawah mereka. Isaac berada di salah satunya.


Entah apa yang Isaac lakukan sambil memegang kertas seakan menghafal sesuatu. Ia terkadang mondar-mandir, menggaruk kepala, bahkan menghela napas berulang kali.


"Neva, aku suka sama kamu. Hm ... aku beneran loh. Setelah setahun kabur ... hmmmm ..."


Isaac sesekali menunduk, lalu mengangkat wajah kembali. Ia terus menelan ludah, ucapannya tersendat-sendat saking gugupnya. Pertama kali dalam hidupnya ia mencoba menyatakan cinta.


"Sah, ngapain kamu di sini?"


Gawat. Isaac bergegas menyembunyikan transkrip itu ke sela-sela rash guard pada area dada. Kemudian, berbalik dengan ekspresi canggung namun dipaksa tersenyum.


"Ah, anu, tadi berteduh sebentar di sini. Adem soalnya."


"Ayo cepetan ajarin aku surfing, aku penasaran banget nih."


"Oke, tapi hati-hati. Nanti pas pemanasan harus maksimal biar kakinya nggak kram lagi. Paddling sama popping up kamu dari kemarin belum bisa."


"Dih, kapan aku main? Kamu aja ngelarang aku waktu itu. Orang lain kali yang kamu ajarin."


Isaac menggaruk tengkuk. Percuma dijelaskan karena yang mengalami semua itu dirinya, bukan orang lain. Sehingga ia beranjak dari pohon kelapa, memapah papan selancar putih bergaris hijau stabilo ke bibir pantai.


Di tengah perjalanan, Isaac menyelidiki seluruh jemari Neva. Benar, ada cincin tersemat di jari manis kirinya. Lalu misanga oranye mencolok juga ada. Berarti masa depan berubah juga dong?


"Misanganya nggak putus, ya?" Isaac membuka percakapan.


"Hah? Ya, tandanya keinginanku belum tercapai dong. Punyamu sendiri mana? Udah putus atau sengaja nggak dipakai? Aku udah curiga dari kemarin lho, cuma lagi males tanya."


"Widih, panjang banget kaya ceramah. Ada aku simpan di kamar, takut lenyap kalau main sama ombak."


"Berarti belum putus? Emang keinginanmu belum terkabul?"


Isaac menggeleng. Ia enggan memberitahu karena tidak memaksa Neva juga, privasi tetap privasi.


"Eh iya, kamu nggak berusaha cari tahu asal-usul kekuatanmu?"


"Nggak usah deh, kan tinggal nggak kasih tangan aja sama orang kecuali kamu."


Esensi tergelitik dalam perut Isaac melempar tatapan teduh pada Neva. Tidak lepas sama sekali. Sosok gadis itu mengalahkan sketsa alam yang indah. Isaac ingin terus tertawa, tersenyum, bahkan terus berjalan bersama Neva seperti ini. Sangat mengindikasikan bahwa Isaac naik level menjadi salah satu manusia bucin di alam semesta.

__ADS_1


"Oh ya, kemarin malam aku belum selesai. Aku mimpiin kamu nangis tanyain kenapa aku pergi gitu aja, ditambah lagi ada suara pria."


"Namanya mimpi, kadang suka nggak jelas kadang juga berkebalikan sama kenyataan. Nggak usah dipikirkan."


Isaac mengernyit. "Ah, masa? Siapa tahu itu adalah petunjuk buat kita?"


"Petunjuk apa? Nggak ada jelasnya tahu, cuma nangis doang sama pria. Sekarang yang penting ajarin aku selancaran."


Sebenarnya ada, tapi mana mungkin aku kasih tahu.


Kini mereka fokus pada tujuan utama yaitu berselancar di ombak yang aman. Di bawah mentari yang bersembunyi pada gumpalan awan, Neva terus berusaha melakukan paddling ke popping up setelah melakukan serangkaian pemanasan dan instruksi lain seperti biasa.


Isaac sebagai instruktur berpengalaman, mengamati tingkah laku Neva agar tidak lolos seperti sebelumnya. Sambil melakukan yel-yel bak cheerleader tim basket.


Tak sengaja, terperangkap sosok asing di ekor mata tajam Isaac. Tiga pria dewasa dengan setelan jas hitam menghampiri toko. Bercengkrama bersama sang ayah pula.


Mereka tampak sangar seperti bisa memukul siapa saja dengan satu kepalan. Bahkan tubuh mereka pun lima kali lebih besar dari Isaac.


Siapa orang-orang itu? Kayanya dari kemarin nggak ada deh.


"Sah, coba lihat aku sekarang! Cepaaat!"


Seruan itu membawa sorot mata Isaac kembali pada Neva. Hampir tak percaya. Perempuan itu mampu melakukan teknik dasar berselancar, keseimbangannya sudah menyesuaikan diri dengan situasi.


Neva yang merubah gaya dari popping up itu menduduki papan karena cukup lelah. Menghabiskan waktu memandangi sketsa cakrawala di atas kepala.


Sangat biru, indah.


Tak ayal, tingkat kewaspadaan Neva menurun. Tak sadar papan selancar makin jauh membawanya. Dengan gesit, Isaac meraih lengan Neva untuk menghentikannya dengan senyum.


"Keren. Kamu hebat banget."


"Makasih. Itu juga dibantu sama kamu, Sah."


...•••...


Sore hari, pukul setengah enam. Keadaan toko sudah tutup. Keluarga kecil tanpa kehadiran seorang ibu berkumpul kembali. Isaac, Noah, dan Osric.


Noah sesekali mengatur napas. Dada berbalut jaket putih tipis terlihat bebas naik-turun. Tidak peduli seberapa berisiknya, Noah sedang berusaha menenangkan diri.

__ADS_1


"Apa? Maksud Ayah mereka adalah orang-orang yang tertarik membeli toko kita?"


Osric mengangguk pasrah. "Ya, sudah dari lama. Tapi, Ayah nggak pernah menceritakannya pada kalian."


"Terus, apa Ayah mau menjual toko ini pada mereka karena terancam gulung tikar gitu?" Isaac kali ini yang protes. "Beberapa hari terakhir orang-orang yang datang lumayan lho, Ayah lihat, kan?"


"Ayah kenapa begini, sih? Katanya mau lihat rencana Isaac. Sekarang udah kelihatan, Ayah malah jadi bimbang karena orang-orang tadi."


Isaac menelan ludahnya sendiri sampai terdengar suara glek, karena suara lantang Noah tidak seperti biasa. Sangat mengintimidasi siapa saja, bahkan sang ayah pun.


"Pokoknya jangan, kata Ayah tempat ini sangat berharga bagi kakek. Aku nggak akan terima kalau dijual!"


Isaac tak tahan. Ia memilih pergi dengan raut kecewa. Hanya bermodalkan setelan jeans biru cerah dan kaos oblong hitam polosnya. Tidak peduli seberapa kencangnya angin laut malam itu. Ia berjalan sambil menekrkan wajah seakan apa yang dilakukannya tak dihargai, dianggap tidak efektif malah.


"Sah, everything is okay?"


Wujud Neva berdiri tegas di ambang pintu samping dapur. Isaac teringat lagi tujuan yang seharusnya dilakukan hari ini, tapi isi hatinya kacau.


"Sah, mau pegang tanganku?"


Sambil menatap Neva yang tetap cengar-cengir, Isaac berpikir, dia berusaha mau menghiburku?


Tentu saja Neva merenggut tangan Isaac karena terlalu lama didiamkan. Perempuan itu tak mau Isaac terlarut dalam perasaan sedih. Dan terjadi sesuatu lagi.


Titik-titik putih bak pointilis dalam dunia seni rupa berkeliling di sekitar area mereka. Lama kelamaan benda tersebut membentuk gumpalan seperti permen kapas sangat besar. Partikel tersebut mulai menyusup di antara tubuh, lalu membawa mereka terbang tinggi.


Terus meninggi menuju langit yang tak menampakkan sahabatnya, bulan, dan bintang. Kemudian, ilusi pun tersebar di segala penjuru antariksa bumi. Banyak bintang jatuh. Bulan utuh berpendar terang.


"Gosh ... kamu ini tiba-tiba banget. Untung aku bukan orang tipe jantungan," omel Isaac. Matanya mengerjap cepat melihat semua keajaiban ini.


"Isah, biarkan dulu sejenak, ya? Semua kejadian ini indah, kan? Kita nikmati aja tanpa cari tahu sebabnya."


Bersamamu. Harusnya kalimat itu yang keluar, tapi pernyataan suka yang ia buat justru menggelinding bak bola basket melewati ring. Berhenti tepat di tengah lapangan yang tidak dihuni satu orang pun.


"Neva, sebenarnya aku itu ... hmmm ...,"


"Coba tutup matamu sejenak, rasakan aliran angin dan deburan ombak menjadi satu dengan jiwamu. Niscaya, kamu akan lebih tenang."


"Tapi ...,"

__ADS_1


"Aku paham, kamu lagi kecewa, kan?"


Padahal bukan itu yang ingin dikatakan Isaac, tapi pada akhirnya menurut saja. Tanpa berpikir panjang apa yang akan terjadi setelahnya.


__ADS_2