
Begitu Eranda menerjang, Ernando pun meninggalkan lawan dan mengikutinya. Izel juga berbalik mengejar Ernando. Tiga sosok itu menuju ke arah Isaac dengan kecepatan tinggi.
Lutut Isaac sampai bergetar hebat, tapi masih mampu berdiri. Ia tidak boleh menyerah di saat yang lain berjuang, walau dirinya hanya manusia.
Begitu Eranda dan Ernando sejajar di depan Isaac, Izel segera memegang kedua kepala saudara kembar itu sampai mereka pingsan. Kemudian, tubuh mereka yang melayang-layang diletakkan di lantai hati-hati.
"Kamu siap, Isaac?"
"Siap, Yang Mulia."
Izel memejamkan mata selagi memegang kepala Isaac, lalu mereka juga tidak sadarkan diri sampai tergeletak. Makhluk lain tidak ada yang tahu karena sibuk dengan lawan masing-masing.
Isaac membuka mata perlahan akibat cahaya mentari menelusup tiba-tiba. Setelah mengusap kedua mata, ia mengedarkan pandangan. Di depan matanya terdapat laut biru yang luas, sementara tubuhnya berlumuran pasir pantai.
“Di mana ini?” tanya Isaac pelan.
“Alam bawah sadar Erando,” jawab Izel, kemudian berdiri.
Begitu Isaac mengikuti Izel, matanya melihat jelas ada sebuah peti putih mengambang di tengah lautan. Kemilau air laut yang memantul ke peti seolah memberi nuansa kristal yang membungkus seseorang di dalamnya.
"Apa itu Neva?"
“Kamu benar, jadi, selamatkan dia sementara aku melawannya.”
"Sialan! Bisa-bisanya kamu masuk ke dalam alam bawah sadarku!" seru Ernando pada Izel, sambil memegang kepalanya.
Izel tak menjawab Ernando, tapi langsung menyerang dengan kekuatan bayang. Tentu saja ditangkis dengan perisai transparan yang dibuat Ernando. Kemudian, Ernando menghilang dari hadapan Izel.
Izel menaikkan tingkat kewaspadaan. Seluruh panca indera dibuat peka dalam pertarungan petak umpet ini. Tubuhnya berputar perlahan mencari Ernando. Begitu dapat satu suara, Izel meletakkan tangan di pasir dan menjalarkan asap bayang untuk mengunci kaki musuh.
Wujud Ernando sudah terlihat, tapi menghilang lagi dengan gesit. Tiba-tiba ia muncul di belakang Izel yang sedang berbalik. Ernando menyerang Izel dengan pedang. Pedang itu hadir karena imajinasi Ernando yang berada di alam bawah sadarnya sendiri.
Spontan saja Izel membentuk perisai dengan bayangan berwarna biru kehitaman di kedua tangan. Saat itu juga, dentuman mendominasi udara sejuk di pantai itu. Mereka berdua sama-sama mundur, tapi pertarungan belum berakhir.
Kekuatan Izel dan Ernando terlampau timpang. Izel memiliki elemental murni yaitu Clipse (pengendali bayangan) dan kekuatan tambahan yang diperoleh dari latihan, terus menyerang Ernando yang hanya mempunyai kekuatan acak begitu menginjak 18 tahun: kekuatan telekinesis, memasuki alam bawah sadar, dan mengumpulkan energi sebagai senjata apa pun. Namun, sekarang energi Izel masih belum stabil dan hanya menyerang dengan teknik dasar elemental.
Ernando justru menaikkan kekuatannya tiga kali lipat di dalam bola energi berwarna putih. Tampak energi seperti angin berpusar dan mengelilingi tangan Ernando. Ketika sudah membesar, Ernando melempar bola ke arah Izel. Ledakan besar pun membuat dunia itu berguncang hebat.
"Katanya kalian lebih kuat, tapi kenapa kalah sama setengah keturunan?" Ernando tertawa.
"Siapa bilang aku kalah?" Izel berjalan keluar dari asap bekas ledakan tadi.
"Wah, rupanya masih hidup."
__ADS_1
"Tolong hentikan semua ini sebelum Dewa Bulan tahu."
Ernando tersenyum asimetris. "Dewa Bulan?"
“Apa kamu tahu, kaum moon rabbit tercipta dengan segala akal yang lebih maju dari manusia. Kemudian, bisa hidup dan tinggal di dua bulan yang diciptakan-Nya.”
Ernando seketika menatap kaku Izel yang masih berdiri di tempatnya.
“Aku juga mempunyai anak setengah manusia dan moon rabbit, Dewa Bulan turun menemui mereka lalu memberikan hukuman tambahan. Dewa Bulan juga berkata bahwa akan melenyapkan manusia setengah moon rabbit jika menggunakan kekuatan untuk hal-hal jahat dan membuat onar.”
"Apa aku termasuk golongan yang berbuat jahat? Kalau membuat onar aku setuju
... tapi, aku ingin membuat dunia sendiri untuk para manusia setengah moon rabbit agar bisa hidup bebas. Apa itu salah?"
Izel menatap tajam Ernando. "Dengan membuat dimensi lain untuk mereka? Itu hal mustahil dan kamu termasuk membuat onar bumi."
"Dari mana kamu tahu itu?" Ernando mengeluarkan pedang dari kumpulan energinya.
"Hentikan rencanamu itu dan hidup berdampingan dengan manusia biasa, itu saja."
Ernando tak terima dan langsung menerjang Izel yang sudah siap dengan kedua pedang bayang. Ledakan energi kembali mengguncang.
Di tengah sengitnya perkelahian, Eranda justru diam saja sementara Isaac berenang ke laut demi meraih peti. Inilah rencana yang dibuat Izel untuk Isaac.
"Sudah pasti itu Neva. Aku akan menyelamatkannya," celetuk Isaac.
Akan tetapi, Eranda tidak bergerak. Mulutnya pun seolah terkunci. Ia sepertinya bingung padahal sebelumnya memihak Izel.
"Bodoh! Cepat bergerak!"
"Aku nggak bisa!" seru Eranda.
Ernando mendorong Izel sampai tersungkur lalu melempar tatapan nyalang pada Eranda. "Apa maksudmu? Kita satu kubu, kan?"
"Sebenarnya aku ... aku yang membantu dan memberitahu mereka!"
"Apa?"
Ernando menggenggam erat pedang, emosi telah melampaui titik batas. Tak terima kalau Eranda berkata bahwa dirinya punya maksud saat mengajaknya ke kafe yaitu membantu pihak Izel. Ia tak tega jika Neva harus disekap di alam bawah sadar.
"Kamu seharusnya memihakku, bukan mereka!"
"Aku hanya ingin kamu berhenti dari semua kegilaanmu ini, Nando! Sadar! Nggak dengar apa yang dikatakan Izel barusan?"
__ADS_1
Meski Ernando berbicara pada Eranda, tubuhnya masih terus beradu dengan Izel. Isaac sendiri masih berusaha berenang mencapai peti yang makin bergerak ke tengah. Rencana Izel, ketika Isaac mendapatkan Neva, mereka berdua akan kompak menutup mata sambil fokus berpindah ke alam bawah sadar Neva.
Pikiran Ernando sekarang terpecah belah. Sibuk berkelahi dengan Izel, tapi kepikiran Isaac yang mengejar Neva. Belum lagi masalah pengkhianatan dari Eranda. Sambil terus bertarung Ernando harus memutuskan salah satu yang lebih penting.
Pedang mirip katana milik Ernando habis-habisan menyerang Izel yang terus bertahan. Kemudian, dengan dorongan kuat dengan menitikpusatkan kekuatan di ujung pedang, Ernando berusaha menusuk perut Izel. Namun, tidak bisa karena ada pelindung Izel yang dilebarkan sampai kaki. Alhasil Ernando memukul mundur Izel saja sampai jauh.
Ketika berbalik, Ernando kesal melihat Eranda yang hanya berdiri saat Isaac mencapai peti. Tak butuh waktu lama, Ernando terbang menuju Isaac selagi mengumpulkan energi pada pedang. Terlihat banyak asap mengelilingi tangannya.
"Mati kamu!"
Isaac menoleh dengan wajah terkejut. Dirinya tak bersembunyi meski mata pedang itu makin mendekat. Karena jika dia menenggelamkan diri, Neva yang akan kena. Sampai di detik ini rupanya Isaac lebih memikirkan orang lain ketimbang diri sendiri.
Akan tetapi, ada satu sosok berlari cepat dari belakang sampai pasir berhamburan menutupi pandangan. Isaac tak tahu itu siapa, tapi mampu menyusul Ernando.
Di tengah jalan, rupanya sosok itu berhenti lalu terbang dan menghadang seolah ikhlas menerima tusukan pedang Ernando. Sosok itu bersimbah darah kala pedang menembus area dada.
"E-Eranda?" Ernando baru sadar ketika jarak wajah mereka hanya sejengkal. "Ke-kenapa?"
"Su-sudah cukup," jawab Eranda terbata.
Seketika energi Ernando melemah.
Tubuh mereka yang melayang perlahan turun di pasir pantai. Darah terus mengalir dari dada Eranda meski pedang Ernando sudah hilang bagai asap.
"Eranda ... kenapa?" Tangan Ernando bergetar saat mengusap pipi Erando.
"Kalau bu-bukan aku yang menghentikanmu, lalu si-siapa?"
"Eranda ... ma-maaf."
Eranda tersenyum menggenggam tangan Ernando. "Mi-minta maaf pada me-mereka, bukan padaku."
"Semua ini terjadi karena dia. Kamu melindungi dia sampai begini!"
Ernando yang bangkit dihalang oleh Eranda yang menggeleng lemah. Kemudian, disusul dengan batuk berdarah.
"Niatku bukan untuk melindunginya, tapi melindungimu."
"Nggak ... nggak seperti ini caranya!"
"Lalu bagaimana lagi?" Ernando masih tersenyum.
Sosok Eranda makin lama terlihat transparan. Ada banyak titik-titik putih yang terbang dibawa angin laut dari tubuhnya. Namun, Ernando masih memeluk Eranda dengan kuat sambil menangis.
__ADS_1
"Jaga dirimu, akui kesalahanmu," ucap Eranda, sebelum menghilang dengan sempurna bagai asap.
Kesadaran telah pergi, maka Eranda telah berpulang. Denyut nadi sudah tenang dan jantung berhenti berdetak. Eranda meninggal dunia akibat serangan saudara kembarnya sendiri.