
Meski pertunjukan berdarah itu mengganggu konsentrasi mereka, Isaac berhasil menyelamatkan Neva dan membawanya ke pinggir pantai. Mereka nyatanya masih ada di alam bawah sadar Ernando.
Ernando menghentikan pertarungan, menangis sejadi-jadinya karena sadar akan kesalahannya. Maka Isaac berusaha membangunkan Neva dengan cara apa pun.
Setelah melihat keadaan Ernando, Izel mendatangi Isaac dengan wajah teduhnya.
“Isaac, kita kembali ke dunia nyata.”
“Baik, Yang Mulia. Lalu, Neva bagaimana?”
“Prosesinya akan sama sepertimu, tenanglah.”
Izel kembali memegang kepala Isaac sambil menyuruhnya memejamkan mata. Di saat itulah, ia melihat sekelebat memori masa lalu yang datang silih berganti begitu cepat. Sampai Isaac tak sadar telah kembali ke tubuhnya.
“Neva!”
Walau dalam kondisi terhuyung, Isaac buru-buru berlari menuju ruangan di mana Neva dibaringkan. Sampai sana, ia hanya duduk seperti pangeran yang menunggu sang putri tersadar.
Neva, aku akan terus menunggumu seperti biasa.
Meski berkata begitu, Isaac akhirnya memejamkan mata kembali karena merasakan kantuk luar biasa. Ia berharap saat bangun nanti, sang pujaan hati tersadar dengan senyum cerah.
Neva adalah perempuan nomor dua paling penting bagi Isaac setelah sang ibu. Ia tentunya akan selalu menjadi yang terbaik dan selalu berjuang untuk Neva.
Beberapa jam berlalu, di mana Isaac sudah bangun dari tidurnya dan melihat para moon rabbit bergerombol di ruangan tersebut. Mereka juga masih menunggu Neva terbangun.
"Kenapa Neva belum sadar juga?" ucap Isaac, selagi menggenggam tangan Neva.
"Coba tunggu sebentar lagi," sahut Anima.
Setelah pertarungan dan kejadian berdarah tak diduga, ada beberapa sosok di dalam kamar tamu sambil menatap Neva. Isaac, Anima, dan Ilhuima. Gadis itu masih saja belum sadar padahal sudah lima jam lewat setelah kejadian tersebut.
Izel bersama Ernando, anggota kelompok Ernando, dan dibantu Nochli sedang menguburkan Eranda di Tempat Pemakaman Umum setelah beribadah kepada Dewa di dalam ruangan pelindung.
Ernando dan anggota kelompoknya tetap ditangkap atas tuduhan niat pembunuhan dan merusak alam. Mereka akan dibawa ke Blue Moon untuk disidang lalu mendapat vonis hakim.
"Dia masih bernapas, masih ada denyut nadi, tapi ...," ucapan Ilhuima terputus begitu mendengar suara pintu terbuka.
"Maafkan aku."
Yang melayangkan permintaan maaf adalah Ernando, didampingi Izel dan Nochli. Ia kembali dengan mata sembab dan memerah.
"Selama kamu sekap, kamu apakan dia?" Isaac spontan berdiri, menatap tajam.
"Sebenarnya, selain menyembuhkannya, aku mencoba eksperimen dimensi lain sebanyak dua kali. Itu kulakukan saat dia tampak lebih sehat."
Mendengar pengakuan keluar dari mulut Ernando, Isaac mendekat sambil mengepalkan tangan.
Tiba-tiba saja ia meninju pipi kanan Ernando sangat kuat, sampai pria itu terduduk. Baru kali ini dirinya merasakan puncak amarah akibat perkataan orang asing.
__ADS_1
Izel menarik Ernando dan menyuruhnya berdiri, sementara Ilhuima menarik lengan Isaac untuk mundur. Pandangan Ernando terhalang oleh Anima, jadi ia tidak bisa melihat jelas ekspresi Isaac.
"Bisa-bisanya ... kamu sudah tahu dia sempat mimisan, kan? Kenapa masih dicoba walau sambil disembuhkan, hah?" Isaac menyeru sambil ditahan Ilhuima.
"Maaf,” ucap Ernando.
"Maaf nggak akan bisa mengembalikan semuanya!" teriak Isaac dengan suara bergetar. "Aku sangat marah!"
Isaac menangis. Tangis penuh amarah. Kemudian, ia berdiri dan mencengkeram kerah baju Ernando dengan kuat. Bahkan kalau khilaf, bisa-bisa Ernando dicekik sampai mati.
Akan tetapi, apa beda dirinya dengan Ernando jika melakukan itu?
"Aku ... aku marah pada diriku sendiri juga yang nggak bisa berbuat banyak."
Isaac tiba-tiba melepaskan cengkeraman lalu duduk dengan lesu. Ini adalah puncak kemarahan Isaac.
Sudah lama para sosok di sana tidak melihat tangisan penuh amarah. Malam di cuaca panas itu pun berubah menjadi haru, semua kejadian bagaikan dalam mimpi.
"Kamu juga berperan penting, kamu sudah melakukan banyak hal," ucap Izel.
"Benar apa kata Yang Mulia. Karenamu kita sudah sejauh ini dan mengetahui semuanya," kali ini Anima angkat bicara.
"Tapi, tetap saja aku ini manusia yang terbatas. Berbeda dengan kalian."
Isaac melepaskan tangan Ilhuima yang menahannya lalu menyembunyikan wajah dengan tangan kirinya. Ia tidak mau melihat berpasang-pasang mata di sekitarnya.
Entah sejak kapan perasaan menyesal masih bercokol di hatinya, meski sudah berulang kali disingkirkan. Entah sejak kapan rasa amarah membuatnya menangis seolah hati disayat begitu dalam.
Begitu pintu ditutup, Isaac menumpahkan tangisan di atas tangan Neva. Di dalam hatinya selalu terucap doa supaya sang pacar segera sadar dan tersenyum padanya, supaya mereka bisa jalan-jalan sambil makan arum manis lagi, atau sekadar membeli barang couple di pasar tradisional.
"Aku selalu saja terlambat, ya?" Isaac mengusap cincin di jari manis Neva. "Aku juga minta maaf, Neva."
Waktu bergulir dengan cepat. Tak peduli betapa gelapnya langit di luar, terdengar suara burung hantu di mana-mana, Isaac belum merasakan kantuk. Ia masih meletakkan kepala di atas tangan Neva dengan tatapan hampa.
Tiba-tiba ketukan pelan menyadarkan Isaac, tapi ia enggan berdiri sehingga pintu terbuka sendiri.
"Sak, makan dulu," ucap Noah, mendekati Isaac.
"Nggak nafsu, Kak."
"Aku tahu kamu sangat mengkhawatirkannya, tapi pikirkan juga dirimu. Kalau kamu ikutan sakit gimana? Nggak bisa jagain Neva, dong?"
Isaac masih terpaku pada cincin di jemari Neva, tidak berusaha menoleh pada sang kakak. "Iya, taruh aja di meja, Kak."
Noah adalah satu manusia yang tidak tahu permasalahan Isaac dan Neva sebenarnya. Isaac beralasan lagi sebelumnya pada Noah bahwa Neva sedang tidak enak badan, jadi lebih sering berada di kamar.
Noah selalu menyuruh Isaac membawa Neva ke rumah sakit, tapi ia beralasan kembali kalau Neva tidak mau. Sampai di titik Neva tidak sadarkan diri, Noah terus mendesak Isaac membawa Neva ke rumah sakit.
Beberapa orang yang datang pun dikira Noah adalah keluarga Neva. Noah juga sempat berbincang dengan mereka dan ia mendapat jawaban. Izel berkata Neva akan dibawa oleh keluarganya besok dan sekarang dirinya sedang memberi tahu Isaac.
__ADS_1
Isaac yang belum tahu apa-apa itu langsung bangkit, keluar dari kamar menuju ruang makan. Ia sama sekali tidak tahu ada rencana membawa Neva. Lalu, akan di bawa ke mana?
"Neva akan di bawa ke mana?" todong Isaac tiba-tiba.
Mereka saling berpandang-pandang. Suasana hangat ruang makan berubah sedingin es. Namun, Izel yang akhirnya angkat bicara.
"Kita berencana membawa Neva ke Blue Moon untuk mendapat perawatan intensif dengan peralatan canggih."
"Kenapa nggak bilang padaku dulu?"
"Rencana itu baru dibuat tadi, saat kakakmu bertanya pada kami," jawab Ilhuima.
"Apa aku bisa ke sana juga?" tanya Isaac.
Anima berdeham lalu menjawab, "Maaf, manusia nggak bisa ke sana."
Seketika Isaac menekurkan wajah. Meski memaksa, tidak ada satu cara pun yang bisa membawa manusia seutuhnya ke Blue Moon. Beberapa saksi mata di sana menyaksikan raut Isaac tampak sangat sulit menerima hal ini.
"Bagaimana? Kalau menurut kami, Yang Mulia Izel sudah memutuskan yang terbaik untuk Neva," kali ini Nochli ikut berkomentar.
"Kamu tinggal menunggu kabar dari aku." Anima meletakkan kartu namanya di meja.
Kemudian, Isaac mempertanyakan barang-barang Neva yang berada di hotel. Izel malah menyerahkan tanggung jawab itu padanya karena tak apa tidak membawa barang ke Blue Moon. Nanti akan disediakan khusus.
Isaac menghela napas. "Kalau memang itu yang terbaik, maka lakukanlah. Aku hanya bisa membantu dengan doa."
Ilhuima segera mengajak Isaac makan bersama, tapi ditolak mentah-mentah. Ia segera kembali ke kamar tanpa meninggalkan sepatah kata pun. Hatinya masih galau meski berkata seperti itu. Berarti aku dan dia jauh-jauhan lagi.
Sekembalinya ke kamar, rupanya Noah masih mempertahankan diri untuk duduk di samping nakas. Seolah menjaga Neva saat Isaac pergi sebentar.
"Perasaan yang sama saat menunggu Bunda. Ya, kan?" Noah menunduk.
Isaac menoleh, menatap lekat Noah. Pertama kalinya aku mendengar nada suara Kakak seperti itu, pikirnya. Selama ini Noah terkenal sebagai orang yang keras dan tidak pernah terlihat bersedih.
Bila dibandingkan dengannya yang sering mengutarakan perasaan bahkan bersedih, bagai langit dan bumi. Tanpa bisa menyembunyikan kesedihan, Isaac mendatangi Noah dan duduk bersebelahan.
"Apa Kakak teringat Bunda?"
"Ya. Hari itu aku menangis di kamar mandi rumah sakit."
"Kenapa Kakak harus menyembunyikannya?"
Noah menghela napas. "Aku hanya berusaha kuat, menjadi panutan."
"Aku paham, nggak semua hal bisa diperlihatkan ke depan publik. Tapi, jangan merasa terbebani sebagai panutan. Cukup jadi diri Kakak sendiri, begitu juga denganku." Isaac menepuk punggung Noah.
Noah malah tersenyum. "Kenapa jadi kamu yang bijak?"
Kemudian, mereka tersenyum bersama. Sampai di situ Isaac menghirup udara baru, dialirkan begitu saja ke paru-paru.
__ADS_1
Entah karena suasana malam yang sepi di lantai dua, entah karena keinginan hati Noah sendiri untuk berbicara, kedua pundak kakak-beradik itu menjadi lebih ringan.
Kemudian, Noah membiarkan Isaac bersama Neva dan berharap agar makanan segera dimakan. Namun, Isaac hanya menatap bulan bersinar di luar jendela. Hatinya kosong. Isi pikirannya penuh.