THE MOON: Isaac Adventure

THE MOON: Isaac Adventure
Membuat dimensi baru


__ADS_3

"Jika kau mau menawarkan kerja sama, kamu harus menampakkan wujud asli dan tunjukkan semua rencanamu padaku," jawab Neva.


Sempurna. Inilah waktu yang dinanti-nanti Neva. Lawan telah jatuh ke dalam perangkap walau mendadak sekali. Semoga saja Yang Mulia Izel segera datang, batin Neva.


Inilah usulan Neva yang membuat semua orang khawatir, yaitu mengizinkan sepenuhnya terduga pelaku masuk ke dalam alam bawah sadarnya. Kemudian, Neva memancing sosok itu memperlihatkan rencana dan menunjukkan diri karena tubuh yang digunakan sekarang sampai suara pun bukanlah sosok asli.


"Jadi, aku diperbolehkan masuk ke dalam alam bawah sadarmu?"


"Ya, aku mengizinkanmu masuk. Jangan lagi datang seperti pencuri." Neva berucap dengan sangar, seperti tidak mengindahkan sopan santun lagi.


"Wah, terdengar kasar sekali sekarang bahasamu."


"Kamu mau atau kita batalkan?"


"Baiklah, ajak aku berpindah tempat sekarang."


Neva menyuruh pria itu memejamkan mata dan memusatkan seluruh kekuatan di dahi sampai kesunyian dan kegelapan mulai menyelimuti. Suara detak jantung menyusul terdengar nyaring. Isi pikiran tampak seperti benang merah yang terlilit.


Lembar demi lembar potongan wajah sosok-sosok yang berjasa dalam hidup mereka bergerak cepat, menembus tubuh. Sebuah angin entah dari mana menyusup ke pori-pori kulit. Berputar-putar seolah nantinya akan berubah jadi angin topan.


Dalam hitungan menit, tubuh mereka berhadapan di atas bukit yang ditiup angin sepoi-sepoi. Tempat di mana Isaac melihat Neva tertidur. Mereka kembali dengan pakaian serba putih yang entah sejak kapan berubah.


Saat mata mereka terbuka, pandangan langsung tertuju pada wajah masing-masing. Neva di mata pria itu tampak seperti seorang putri, sedangkan pria itu tampak seperti peri.


Sosok tersebut adalah seseorang yang dikenal Neva dengan setelan pakaian monokrom. Namun, rambutnya berbeda, begitu panjang serta pirang.


"Kak Eranda?"


"Terserah kamu memanggilku apa. Tapi, ada jaminan dua orang yang bersamamu nggak akan pernah tahu perihal ini?"


Ada keraguan di hati Neva, terlihat dari dirinya yang menelan ludah. Yang dipanggil Eranda itu malah tersenyum miring.


"Baiklah, mereka nggak akan aku kasih tahu."


"Aku nggak yakin, tapi aku tetap menunjukkan itu padamu dan pasti akan takjub.


Neva mengangguk pasti. "Ya, tunjukkan."


Pria itu memegang kedua tangan Neva. Tubuh mereka terpaku seolah mengakar pada bumi. Pipi Neva mulai terasa hangat, bertabrakan dengan suhu udara di sekitarnya. Eranda menyuruh Neva tutup mata dan alirkan segala kekuatan pada telapak tangan.


Tidak terhitung berapa lama mereka memejam, sampai rasanya angin berubah menjadi panas karena tak berhenti bersikulasi.


"Buka matamu sekarang."


Saat mengedarkan pandangan, alis Neva berkerut saat mendapati pemandangan yang hampir sama. Hanya ada tambahan beberapa pohon saja. Rumput masih bergerak bebas seperti biasa. Namun, yang tak biasa adalah aliran darah keluar dari hidungnya.

__ADS_1


Neva segera meraba area mulut dan hidung. Ia tahu bahwa tubuhnya sudah berada di ambang batas. Eranda yang menyaksikan langsung membantunya mengusap darah itu. Rasanya tak elok menatap wajah seseorang penuh darah.


"Setelah ini kamu harus istirahat dengan cukup, atau kalau mau disembuhkan oleh temanku."


"Nggak perlu basa-basi. Kenapa semuanya sama saja? Dunia itu bagaimana bentuknya? Kenapa ingin sekali membuat dimensi lain?"


"Aku akan menjawab pertanyaan pertama dan kedua. Dunia itu sudah kamu injak sekarang. Memang nggak begitu berbeda, tapi aku bisa membawamu melaluinya."


Ajakan Eranda ditolak keras oleh Neva yang menggeleng. Akan tetapi, pria itu juga tidak memaksa untuk saat ini karena kondisi tubuh Neva yang lemah.


"Jawaban untuk pertanyaan ketiga, tujuan membuat dimensi lain untuk menampung para keturunan setengah moon rabbit agar tidak berbaur dengan manusia. Capek rasanya terus bersembunyi padahal kami adalah makhluk yang unggul. Benar, kan?"


"Salah. Semua pemikiran Kakak salah besar. Makhluk hidup diciptakan untuk berdampingan."


Eranda mencengkeram lengan Neva. "Jadi, kamu nggak setuju?"


"Ya, nggak setuju banget," nada berambitus rendah itu muncul dari belakang Eranda.


Muncul sosok Isaac dengan tangan kosong sambil menatap tajam Eranda. Tentu tidak menyangka kalau Isaac bisa masuk seenaknya, Eranda murka sampai urat-urat di wajah menonjol dengan tangan masih mencengkeram Neva seperti sandera.


"Kamu kenapa bisa ada di sini?"


"Lepasin Neva!" seru Isaac, selagi berlari ke arah mereka.


Neva yang masih menyeka darah hendak dihampiri oleh Isaac, tapi Eranda menyerangnya kembali sampai terguling. Tiba-tiba saja tubuh Isaac melewati sebuah tirai besar yang menggambarkan pemandangan bukti serta awa. Hal itu membuatnya berpindah tempat ke pinggir laut. Tidak hanya Isaac, Neva pun sama terkejutnya. Dimensi yang dihasilkan oleh Eranda dan Neva ternyata seperti itu.


"Isaaah!"


Isaac basah kuyup karena berguling ke air laut, kemudian datang Eranda yang menembus tirai dan langsung mencekik Isaac.


"Kamu pikir, kamu pahlawan?" bisik Eranda.


Eranda terus mencekik sambil mengangkat tinggi-tinggi tubuh Isaac yang meronta hebat. Di alam bawah sadar ini, kalau kesadaran siapa pun hilang, maka tubuh bisa mengalami koma. Isaac ingat betul kata Izel yang baru saja datang. Sehingga Isaac meninju wajah Eranda dengan mengumpulkan semua tenaga di kepalan tangan.


"Aku memang bukan pahlawan, tapi aku harus menyelamatkannya."


Eranda tersungkur sesaat lalu bangkit lagi. Sambil meraba area pipi yang sakit, ia tersenyum asimetris. Eranda menoleh dan mendapati Neva sedang dipegang oleh Izel. Raja Blue Moon itu langsung mencengkeram badan Eranda dari kejauhan menggunakan kekuatan bayang. Musuh meronta hebat dan mengerang.


Akan tetapi, Eranda bisa melepaskan cengkeraman bayang tersebut sampai Izel terdorong bersama Neva. Izel sendiri masih dalam tahap pemulihan pasca kejadian besar di Jakarta saat mengambil zircon terakhir, sehingga dirinya sekarang tidak bisa mengeluarkan banyak kekuatan.


"Isaac, di dunia ini kamu bisa melalukan apa saja seolah memiliki kekuatan!" seru Izel.


Dengan gesit, Eranda terbang lalu menukik dengan sasaran kepala Izel. Isaac yang melihat itu langsung berlari dan melompat setinggi mungkin, menghadang Eranda dari sisi bawah. Tabrakan pun tak terelakkan, Isaac yang terkapar di tanah. Manusia memang bukan tandingan makhluk bernama moon rabbit atau yang hanya setengah keturunannya.


"Aku datang baik-baik, tapi kalian menyerangku. Well, untung aku nggak menaruh ekspetasi apa pun pada Neva, jadi nggak kaget dengan semua ini." Eranda menatap tajam Izel. Rambut pirang panjangnya berkibas diterpa angin.

__ADS_1


Setelah itu, Eranda kembali menyerang Izel yang bertahan menjaga Neva. Namun, karena serangan itu bisa membahayakan Neva, Izel mendorong Neva menjauh. Inilah yang ditunggu-tunggu Eranda. Pria itu berputar posisi lalu mundur seperti kilatan cahaya ke arah Neva. Begitu didapat, Eranda menutup matanya lalu menghilang tanpa jejak.


Isaac yang masih tergeletak di tanah memukul rumput. "Sial, dasar aku nggak berguna!"


Dalam sekejap, hanya sekali berkedip, mereka sudah kembali ke dunia nyata. Tubuh mereka bangkit dari kursi sampai terjatuh, sementara Neva masih terbaring di ranjang dengan darah yang membanjiri area hidung.


Isaac menanggung sakit luar biasa di sekujur tubuh saat meregangkan otot, lalu membersihkan darah di wajah Neva pelan-pelan.


"Aku memang nggak berguna." Isaac mengacak rambutnya.


"Jangan berkata seperti itu, semua salahku," tukas Izel.


"Lalu, kita harus apa sekarang? Mencari Eranda ke mana? Dia pasti nggak bakal muncul di sekitar toko."


"Apa kamu lihat penampilannya?"


"Jelas, wajahnya pun jelas."


"Sudah aku ceritakan, orang yang menggunakan kekuatan super besar itu memang berambut pirang dan gondrong, wajahnya pun seperti itu. Kalau yang bernama Eranda?"


Isaac menatap Izel lekat. "Eranda berambut pendek hitam biasa."


"Jelas mereka beda orang, Isaac."


"Tapi, wajah mereka sama dan aku mendengar bahwa dia mengakui kalau dirinya itu Eranda!"


Isaac bangkit dengan kemarahan di dada. Ia berniat bertanya pada seseorang di bawah, mungkin bisa menemukan keberadaan Eranda. Izel menghela napas sambil mengikuti pria muda itu.


"Di alam bawah sadar, rupa atau wujud yang muncul nggak bisa dimanipulasi, Isaac."


"Bagaimana kalau bisa?" Isaac masih sibuk berjalan tanpa menoleh.


"Moon rabbit pun nggak bisa."


"Nggak ada yang nggak mungkin, Yang Mulia."


Isaac menuruni tangga tanpa mengindahkan sang ayah yang menegurnya. Sedangkan Izel hanya membalas senyuman. Suara jerit kayu pada tangga sampai membuat ngilu akibat langkah Isaac yang berat.


Ia menuju seseorang di toko. Orang pertama yang patut ditanyai adalah Noah karena Eranda pernah ikut kelas pelatihan dan berkas pendaftaran pasti masih tersimpan.


"Kak!" Isaac menggebrak meja kasir.


"Kenapa? Kok kaya marah-marah gitu?" Noah berjengit.


"Aku minta nomor hape-nya Eranda Putra, sekarang!"

__ADS_1


__ADS_2