THE MOON: Isaac Adventure

THE MOON: Isaac Adventure
Di batas indah dan perih


__ADS_3

Empat tahun berlalu. Isaac sedang berada di dalam ruangan dengan bersimbah keringat. Melakukan kegiatan yang selalu lama setiap tahun, setiap perayaan hari raya, dan setiap pergantian itu tidak ada bedanya. Hanya saja tidak ada seseorang yang dicintainya.


Mengisi kesedihan dengan padatnya kesibukan merupakan keahlian Isaac akhir-akhir ini. Bukan berharap melupakan Neva, melainkan mengalihkan perasaan sesaat.


"Sak, papan pesanan Om 23 sudah selesai, kan?"


Isaac mendengus kesal. "Hadeh, kenapa sih nama pesanannya aneh gitu?"


"Lha, emang Kakak yang ngasih? Omnya sendiri itu."


Di dalam sebuah *workshop *malam hari, Isaac masih berusaha keras menyelesaikan satu papan lagi.


Meski ada dua pegawai yang bekerja di sana, ia tetap saja menyusup ke workshop seperti maling. Dengan dalih tak ingin keterampilannya memudar kalau hanya menikmati hasilnya.


Begitu selesai sampai tahap pengecatan, Isaac meregangkan otot-otot di tengah suasana sepi. Ia spontan memandang jendela yang mengacaukan tirai.


Isaac setiap hari masih sering berjalan-jalan tanpa punya tujuan di pesisir pantai, setelah berselancar dan melatih beberapa orang.


Masih membuat papan selancar yang kini ia jadikan kanvas kenangan. Isaac menggambar setiap momen keajaiban yang ia lalui bersama Neva.


Di batas indah dan perih, Isaac menggambar semua itu seakan sambil melihat bintang berpendar terang di atas kepalanya. Namun, tak bisa dicapai.


Meski bintang bersinar itu adalah masa lalu, ia tetap menggambarnya tanpa harapan apa pun.


Isaac selalu mengingat momen bersama Neva melalui pandangan orang-orang yang membeli atau sekadar menyewa papan.


Banyak momen penuh tawa tanpa kepalsuan, momen saling berargumen ketika bertatapan, momen berbagi perasaan dan kejutan saat berpegangan tangan. Momen di mana cinta tumbuh dengan bahagia.


Mungkin Isaac akan menjalani hidup selagi merindukan Neva seperti sekarang.


"Isaac, sekarang beristirahatlah. Sudah malam banget lho." Osric muncul di ambang pintu sambil mengomel.


"Iya, Ayah. Baru aja aku mau keluar kok." Isaac melepaskan baju pelindung lalu mencuci tangan.

__ADS_1


"Ke mana dia, Ayah? Biasanya suka ngikutin ora-"


"Bwaaa!" Sesosok anak blasteran berusia dua tahun menyembul dari balik kaki Osric.


Osric sendiri terkejut sampai latah membuat keduanya tertawa. Kemudian, bocah kecil itu berlari ke arah Isaac dengan raut secerah mentari. Kedua pipi gembul yang memerah membuat dirinya gemas sendiri.


"Aduuuh ... kok belum bobo, sih?" Isaac mendusel pipi anak itu.


"Ng...gak mau."


"Lho, kenapa nggak mau? Maunya apa dong?"


"Tasya mau bobo cama Om!" Anak itu memencet hidung Isaac seperti tombol.


Kedua manusia itu kalau sudah bertemu sulit untuk dipisahkan. Osric sebagai sang kakek saja sering diabaikan, bahkan Noah sebagai ayah dari anak itu pun tak lagi laku apalagi sang ibu. Sampai sering kali orang-orang mengira Tasya adalah anak kandung Isaac saking dekatnya.


"Tasya mau bobo sama Om? Ayo." Isaac menggendong tubuh mungil tersebut di punggung. "Mari kita luncurkan roketnya, Kapten Tasya!"


"Ciaaap!" seru Tasya, selagi memperagakan gaya terbang ala Superman.


"Dasar tuh anak berdua. Kakeknya sampai jadi patung di sini."


Andai saja Neva masih ada di sini, Isaac ingin sekali bercerita banyak hal dalam empat tahun terakhir. Ada banyak perubahan semenjak gadis itu pergi.


Noah telah menikah dengan seorang turis asing yang menjadi pelanggan tetap pelatihan selancar dua tahun silam.


Toko Mesh sendiri berkembang secara bertahap dan sudah memiliki toko yang lebih bagus dan memiliki pegawai. Namun, toko lama masih digunakan.


Banyak turis asing maupun lokal memesan papan selancar karena tertarik dengan gambaran Isaac. Omset naik berkali-kali lipat dengan perjuangan keras.


Sebelumnya, Isaac pasti menangis setiap kali memikirkan dan melihat barang-barang Neva. Sekarang, dirinya bisa tertawa lepas saat berhadapan dengan hal membahagiakan.


Isaac bisa bertahan sejauh ini, meski ombak cukup keras menghantam dinding pertahanannya.

__ADS_1


Akan tetapi, di hari-hari seperti ini apalagi menjelang malam tiba, ia merasa kesepian karena tidak adanya Neva.


Isaac keluar dari kamar Tasya setelah satu jam berusaha menidurkannya. Mengendap-endap dirinya berjalan mendekati pintu dapur, ingin berjalan-jalan sebentar.


Gelombang mulai bersahutan di kedalaman samudera begitu Isaac menginjakkan kaki di pesisir pantai. Bintang dan rembulan menemani langit hitam.


Isaac menengadah, menatap bintang-bintang itu. Sangat indah. Betapa indahnya kalau seandainya ia bisa bertemu lagi dengan Neva seperti dulu.


Ada banyak hal yang ingin Isaac lakukan bersama Neva. Ia butuh sekali lagi saja kesempatan untuk bertemu gadisnya, tak ada lagi yang Isaac inginkan.


Isaac tiba-tiba menunduk. Sorot mata gagah berani berubah sayu. Karena hal seperti itu, tidak akan pernah terkabulkan. Takdir dan Tuhan lebih menyayangi Neva.


Ketika menunduk itu, Isaac melihat sesuatu. Fenomena cahaya biru kembali menghiasi garis pantai sepanjang mata memandang. Kemudian, ia berbalik lagi menatap lautan dangkal yang juga mengalami hal serupa. Bioluminescence.


Ia tersenyum dan terus menatap air laut yang membawa titik biru itu pergi. "Ada satu hal mencengangkan lagi yang aku sendiri nggak pernah tahu, Neva."


Isaac membuka telapak tangan, mengarahkannya pada air yang surut. Kemudian ditariknya kembali air tersebut dan diam di tempat. Sambil tersenyum memandang segalanya, Isaac tiba-tiba menghela napas.


"Aku adalah reinkarnasi dari Dewa Laut."


Rupanya, Izel tidak berbohong saat mengatakannya empat tahun lalu. Ia berkata bahwa selama Isaac koma, tubuh dan pikiran membaur jadi satu bersama sebuah energi reinkarnasi tersebut.


Pantas saja saat berada di alam bawah sadar, selain memikirkan Neva, laut dan bumi yang melintas di pikirannya jika menutup mata.


Penyatuan tubuh masa kini dan jiwa reinkarnasi itu terbaca dari aliran darah serta nadi Isaac yang tampak berbeda. Ada sedikit titik kebiruan mengalir di bawah kulitnya.


Rambut pun ternyata bukan beruban, melainkan berwarna kebiruan gelap. Informasi itu didapat setelah mendesak sang kakak mati-matian dua tahun lalu. Noah dan Osric sengaja menutupi hal itu karena tidak mau Isaac terkejut.


Osric menambahkan, keadaan Isaac dulu sempat ditanyakan kepada temannya yang seorang dokter kulit. Akan tetapi, temannya tidak tahu menahu dan bilang mungkin itu bukan penyakit. Sehingga sampai dewasa dibiarkan dengan disemir hitam.


Isaac sekarang memiliki sedikit kekuatan untuk mengendalikan laut dan seisinya, tidak lagi malu akan warna rambutnya. Karena fakta mengejutkan itu, Isaac masuk dalam pengawasan orang-orang Blue Moon termasuk Izel.


Keluarga tidak ada yang tahu sama sekali tentang itu. Hanya dirinya, Neva, dan orang-orang Blue Moon.

__ADS_1


"Terima kasih, Neva. Terima kasih pernah hadir dalam hidupku dan mengubah semuanya."


__ADS_2