THE MOON: Isaac Adventure

THE MOON: Isaac Adventure
Dua dunia


__ADS_3

Kota Buleleng, Bali. Tengah malam, 30 Maret 2022. Kedua sosok tengah berbincang di sebuah rumah.


Mereka memandang laut sambil menerka-nerka apa yang selanjutnya terjadi dan membatasi apa yang mereka lakukan.


"Bagaimana? Apa sudah cukup, Neva?"


"Belum, Yang Mulia. Bagiku masih belum."


Izel tersenyum, selagi menatap kemilau laut. "Sudah aku bilang, panggil Izel aja. Kedudukanku di sini nggak berarti apa-apa."


"Tetap saja Anda adalah seorang raja di sana." Neva sedang asyik merapikan rambut di depan cermin di ruang tamu.


"Ya, terserah kamu saja."


Neva tersenyum. "Saya juga mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan Anda."


"Sudah tugasku, karena kamu memiliki darah sebagian kaum kami."


"Saya senang sekali masih memiliki seseorang sedarah dengan saya, yaitu papa kandung di atas sana." Neva menatap refleksi senyumnya di cermin.


"Kamu nggak marah? Nggak merasa sakit karena sudah ditinggalkan begitu saja?"


Lantas, Neva memblokir pandangan dari cermin. Sorot mata kini berpusat pada figur Izel di belakangnya. "Saya marah dan kecewa, tapi semua itu sudah berlalu. Saya hanya perlu menjalani kehidupan yang sekarang dan nanti."


"Mereka pasti bangga sama kamu."


"Biasa saja, justru orang tua Anda juga pasti bangga dengan Anda."


Izel menyanggah dengan kalimat, "Apa yang patut dibanggakan dari saya? Saya sebagai Raja Blue Moon telah melanggar larangan dan sekarang mendapat hukuman pengasingan setelah pergi dari sini."


"Tentu saja bangga karena bisa memimpin berjuta-juta makhluk dan yang melanggar bukan hanya Anda sendiri. Bahkan papa saya juga termasuk dan mendapat hukuman pengasingan di planet lain."


Izel bungkam, karena merasa dirinya tetap tak patut dibanggakan dari segi mana pun. Meski Neva bersikukuh akan hal tersebut.


Kanvas pemandangan dominan kebiruan di luar sudut pandang Izel mematahkan atensi Neva di depan cermin. Neva sekarang berdiri sejajar bersama pria moon rabbit berwujud manusia tersebut.

__ADS_1


Secara bersamaan, rambut-rambut pendek mereka tercalit lembut akibat semilir angin dari jendela terbuka. Ujung kemeja putih polos Izel mencuat acak-acakan, sementara piyama dongker Neva berkibas-kibas karena tuntutan angin.


"Bagaimana rasanya tahu punya kekuatan dan bisa mengendalikannya?" Izel membuka percakapan baru sambil menatap Neva.


"Rasanya aneh, tapi saya menyukainya. Dan semua itu berkat Anda yang tiba-tiba menghampiri saya di pinggir pantai lalu meminta izin untuk menggenggam tangan saya yang masih berusia dua puluh, mengajarkan saya bagaimana cara mengendalikan serta meningkatkannya."


"Sehingga kamu bisa melakukan ini padanya sekarang."


Neva mengangguk pasti. Rambut legam dengan sentuhan wavy nan panjang bergerak naik-turun juga. Di saat bersamaan, ia sesekali memikirkan kelemahannya. Yaitu ...


Bagaimana ia bisa tetap mempertahankan memori lama yang akan terhapus sebagian jika menggunakan kekuatan memasuki alam bawah sadar orang lain? Izel yang membaca isi pikiran Neva, dirinya tidak bisa berbuat apa-apa karena itu adalah resiko dari setiap kekuatan.


Turut andil memanipulasi. Penggerak jalan cerita sebagai pendamping tokoh utama. Semata-mata untuk menjalankan skema rancangan yang bercokol di hati. Neva memiliki kekuatan masuk ke alam bawah sadar seseorang.


Tetapi, sewaktu mengambil keputusan krusial untuk memasuki alam bawah sadar seseorang, ia pikir tidak punya banyak waktu bahkan satu milimeter pun untuk bimbang lagi. Dengan bantuan Izel sedikit, Neva berhasil mewujudkan eksplorasi itu terhadap seseorang yang jauh.


Semua pertanyaan kini dianggap masa lalu. Di mana semua perubahan pada dirinya terasa begitu aneh. Masih sulit menerima diri sendiri. Sekarang, ia tak punya hal apa pun untuk dikhawatirkan.


Meski aku bakal melupakan yang lama, dia sedang membuat sejarah baru dalam ingatanku, kata hati Neva.


"Apa lagi yang kamu tunggu? Sudah cukup lama sampai kamu bisa di tahap ini, kan? Lima tahun, ya?"


"Ya, saya tahu lokasinya. Tapi, Anda sendiri yang datang dan bilang padanya untuk mengungkapkan perasaannya jika ingin bebas. Jadi, saya hanya mengikuti itu."


"Maaf kalau aku terlalu ikut campur, tapi kenapa kamu mencari sebegininya? Apa kamu menyukainya, Neva?"


Ruang tamu berpola monokromatik biru dipadupadankan dengan putih menghasilkan efek menenangkan tak kalah dengan sketsa di luar rumah, untungnya tidak bisa menyorot elemen penting dari ekspresi Neva. Entah gugup, gelisah, bahagia, atau menghindar. Tidak ada yang tahu.


"Hari ini hari raya pagerwesi kan, Yang Mulia Izel?"


Izel spontan tertawa. "Kamu ini mau mengalihkan, ya?"


"Ternyata, saya tidak bisa berbohong sedikit pun."


...•••...

__ADS_1


Di sebuah kota destinasi wisata Indonesia, di tengah hiruk-pikuk deburan ombak dan suara manusia, Isaac dengan panik berlarian di dalam kamar.


Pukul tujuh pagi, 31 Maret 2022.


"Nggak ada ... di mana-mana nggak ada."


Setelah mematikan alarm, melirik layar ponsel, mengecek catatan, dan yakin waktu berjalan normal. Isaac kewalahan mencari misanga yang menjadi tanda persahabatannya dengan Neva.


Ke dalam lemari sudah, di bawah ranjang sudah, bawah bantal sudah, rak-rak buku sudah. Dikatakan seluruh penjuru kamar sudah dibedah habis-habisan. Tidak ada indikasi penampakan gelang itu.


"Jadi, gelang mencolok kemarin itu ... misanga itu? Kok bisanya aku lupa punya itu? Dan kenapa Neva nggak protes atau tanya gelang itu ke mana juga, ya?"


Saat menyeka keringat pada helaian rambut, sorot mata Isaac tertuju pada laci meja yang biasa terkunci. Sepertinya harus digeledah sekali lagi. Bergegas ia membukanya.


"Gelang, tunjukkan pesonamu dong ... oh, apaan ini?"


Saat menggeledah tanpa sabaran, kotak berserat biru tua polos menindih dua lembar polaroid bertuliskan 'school really cool' serta 'Neva, Isaac, dan Kuta.' muncul saat satu buku tulis ditarik olehnya. Menyusul sebuah cincin di sudut laci yang menyembul.


Isaac mencelang bukan main. Ngeri. Penemuan menggegerkan itu sangat mengerikan, sampai bulu kuduk berdiri tegak. Ia menganggap semua kejadian kembali ke masa SMA hanyalah bunga tidur yang kebetulan terasa nyata, sebatas itu. Ia merasa tidak akan pernah bisa mengulang masa lalu semudah itu.


"Nggak ... nggak mungkin aku masih di dalam mimpi, kan?" Isaac otomatis menampar pipi kanan kuat-kuat sampai mengerang. "Aku ada di dunia nyata, aku nggak mimpi!"


Jika foto 'school really cool' memang sudah ada sedari dulu, foto kedua dan cincin itu baru semalam di alam mimpi. Pikir Isaac awalnya. Tapi kenyataannya, ia telah mengubah sesuatu untuk masa depan. Isaac kembali ke masa lalu, bukan bermimpi.


Walau Isaac tidak bisa mencegah sang ayah pindah atau membawa sang bunda lebih awal ke rumah sakit, ia tidak menyesal sama sekali. Hatinya sudah terasa ringan.


Aksi berjingkrak, bersorak, lalu mesam-mesem dilakukan walau gelang tidak ditemukan. Sebelum akhirnya satu pasang cincin melekat di jari manis kanannya.


"Sekarang yang harus aku lakukan adalah menyatakan cinta."


Isaac menutup wajah dengan kedua tangan, malu-malu mau. "Aaaah ... kenapa rasanya aku lagi menjalankan misi, sih?"


Jantung yang berdebar itu menaikkan kinerja otak Isaac lebih cerdas. Segeralah secarik kertas dan pulpen diraih, huruf demi huruf tercetak jelas di tengah gesekan. Sambil sesekali menghela napas dan menengadah seolah menyusun kalimat.


"Neva, aku suka sama kamu. Aku beneran lho ... setelah setahun kabur karena takut, aku baru sadar akan perasaan itu. Hingga delapan tahun berlalu, aku menanggung perasaan yang nggak pernah berubah. Bahkan sampai detik ini. Karena akulah yang paling paham perasaanku sendiri."

__ADS_1


Selesai. Isaac melempar pulpen hitam itu kembali pada permukaan meja. Raut frustrasi ditujukan saat ia mengacak-acak seluruh rambutnya. Ia sadar, menyatakan cinta ternyata lebih rumit dibanding belajar berselancar atau menghafal seluruh spesies di lautan.


"Aku bisa. Aku pasti bisa. Jangan menunda sesuatu yang akan membuatmu menyesal, Sak. Kesempatan kedua itu jarang datang kembali, ingat."


__ADS_2