
Tepat pukul tiga sore, di mana cahaya mentari mulai menampakkan semburat oranye teduh di langit. Isaac tiba-tiba teringat sesuatu.
Ini adalah masa lalu. Masa di mana Isaac tumbuh tak acuh dan tak peduli pada orang tua. Ia menganggap bahwa orang tua akan hidup lebih lama, menyaksikannya tumbuh dan memiliki anak.
Astaga, aku lupa! Kalau aku ada di masa kelas tiga SMA, tandanya saat ini bunda masih hidup!
"Kita pindah lagi? Sedangkan aku masih berkuliah di sini?" nada menginterupsi itu datang dari Noah.
"Kalau kamu nggak usah pindah, kos aja di sini. Nanti Ayah yang membiayai semuanya."
Jika wajah dua individu di hadapannya kusut, Isaac bagai bohlam lampu bersinar terang tampak ceria.
"Ayah, di mana Bunda? Kok nggak ada?"
"Kok malah tanya Bunda? Bukannya ikut protes atau apa gitu."
"Kakak aja kali yang protes, aku lagi pengen ketemu Bunda aja."
Noah melirik sinis. "Hah, kenapa sama kamu?"
"Dari 7,8 miliar jiwa di dunia, udah keseratus sekian individu tanya kaya gitu ke aku."
"Hah, mana ada 7,8 miliar di tahun 2013 akhir ini."
Osric memijat pelipis saking tidak ramahnya pada suara dua anak laki-lakinya ini. "Kalian bisa akur sebentar nggak, sih?"
Sebenarnya, di dalam benak Isaac terjadi pergolakan cukup berat. Seandainya, ia berhasil menggagalkan rencana perpindahan ini, apa benar tidak apa-apa? Apa masa lalu tidak akan berubah? Akan tetapi, sang bunda tidak mungkin hidup lagi.
"Ingat, Ayah pokoknya harus pindah. Kalau nggak mau, bisa-bisa dipecat tahu."
Isaac menatap sang ayah. "Beneran nggak bisa? Meski aku gagalin gitu?"
"Isak! Jangan coba-coba, ya!"
"I'm hoooome, sweetie!"
Suara lembut nan kecil itu membawa Isaac melaju ke pintu masuk rumah dengan berbinar-binar. Sang bunda justru bingung menghadapi anak yang sedang memeluknya erat.
"Bunda, Isak kangen banget sama Bunda!"
"Bunda cuma arisan sebentar kok, kenapa jadi kangen banget? Kamu habis hanyut di laut mana? Pasti habis coba-coba main surfing lagi, ya?"
"Bunda ngomel terus aja gapapa, asalkan Isak bisa lihat bunda sehat begini."
Awalnya ceria, malah berubah jadi isak tangis sesuai nama depannya. Membuat seluruh anggota keluarga heran bukan kepalang. Setelah berhasil membujuk Isaac duduk, Osric mulai bicara serius.
__ADS_1
Lalu Noah mencerca habis-habisan seperti kritikus di televisi, Osric sedang berbincang serius dengan istrinya, sedangkan Isaac sibuk menempel pada pundak sang bunda.
"Sayang, gapapa, kan? Habis Isak dapat ijazah dan segala macam kita harus beberes untuk pindah."
Sang bunda, biasa dipanggil Mira, menjawab dengan anggukan selagi mengusap kepala Isaac yang berisikan banyak pertanyaan. Karena banyak kehangatan yang ia lihat, Isaac tidak jadi menggagalkan perpindahan ini. Akan tetapi, setidaknya is bisa melihat sosok bunda yang membuatnya tenang.
"Sak, kamu nggak mau protes juga? Apa tangisanmu ini bentuk protesnya?"
"Nggak, Bun. Ini bukan tanda protes, tapi rasa haru bisa lihat Bunda."
"Bunda selalu di sini, nggak ke mana-mana. Lagian, terharu yang gimana, sih?"
Isaac mengusap kedua mata sembabnya. "Bunda, besok kita ke rumah sakit buat medical check up, ya?"
Bukan hanya Mira, Osric, dan Noah tak kalah melotot mendengar kemauan aneh Isaac.
"Kamu tuh kenapa, sih?" tanya Noah, mengguncang kewarasan Isaac.
"Bunda sehat aja tuh, kenapa tiba-tiba disuruh medical check up?"
"Supaya bunda terus hidup dan menemani aku sampai menikah nanti, ya?"
Sudah putus urat kesabaran Noah, sehingga ia merasa patut untuk melepaskan Isaac dari punggung bundanya. Jelas si pelaku pembuat keonaran berseru keras, Osric sampai melerai Noah dan menyuruh keduanya masuk ke kamar saja bersama Mira.
"Maafin tingkahku selama ini jadi anak nyebelin, ya? Maafin aku yang selalu habisin leci kalengan Bunda juga, maafin aku yang suka merengek kaya anak kecil. Pokoknya, meski begitu, aku sayang banget sama Bunda. Nggak mau Bunda sakit apalagi pergi ninggalin aku."
"Nak, nggak ada manusia yang bisa hidup abadi. Mereka pasti pulang ke tangan Tuhan cepat atau lambat. Jadi, kamu harus mempersiapkan hatimu."
"Aaaah ... jangan bikin aku tambah sedih dong! Ayo kita ke rumah sakit sekarang aja, deh!"
Isaac sebenarnya bimbang. Jika meminta sang bunda melakukan cek kesehatan, apa menjamin bisa hidup lebih panjang?
Apa Isaac sendiri juga akan tinggal lama di dunia fatamorgana ini? Penuh ilusi ini?
Namun, nyatanya, lidah Isaac tak bisa dikontrol. Terus saja berujar semau hati. Menangis brutal sesuka hati. Benar-benar kacau.
...•••...
Pukul lima sore, di pantai yang sama sebelumnya. Neva tampak bingung saat menatap Isaac yang seringkali menghela napas.
"Kenapa tiba-tiba telpon aku ketemuan di sini lagi?"
Isaac spontan memeluk Neva. "Aku mau pindah dari sini."
"Pindah? Ke mana?"
__ADS_1
Neva tampak lesu. Tidak seceria sebelumnya begitu melihat lekuk wajah Isaac.
"Ke Amlapura, ayahku dipindahtugaskan ke sana tiba-tiba."
Neva mengangguk pelan. Rambut lurus sebahu itu bergerak lembut. Isaac makin merengkuh tubuh yang penuh aroma stroberi tersebut. Melawan segala harumnya sea minerals.
Isaac benar-benar melaksanakan hal yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya. Padahal yang ia ingat, setelah mendengar harus pindah, Isaac kabur dari rumah sendirian. Lalu, tidak berani menunjukkan wajah pada Neva barang sedetik pun sampai benar-benar pindah.
Isaac saat itu takut mengucapkan perpisahan. Isaac takut untuk menghadapi reaksi Neva. Takut dan takut saja yang mengitari hatinya. Namun, itu dulu. Semuanya adalah di mana zaman Isaac masih tidak stabil dan membawanya pada penyesalan tiada akhir.
"Tapi, jangan lupakan aku, ya? Kasih kabar dan jaga gelang itu baik-baik."
"Gelang?"
"Misanga dari tugas prakarya kita, yang kita pakai selalu. Masa kamu lupa? Atau jangan-jangan kamu nggak pakai?"
Isaac buru-buru mengangkat satu per satu pergelangan tangan, merogoh saku jeans, terakhir saku jaket. "Nah, akhirnya ketemu!"
Isaac mendapati misanga triwarna di sebelah kiri saku jaket kulitnya itu. Campuran dari oranye, kuning, dan putih.
"Kok ada di kantong? Kalau hilang gimana?"
"Oh, tadi lupa. Habis mandi nggak langsung dipakai."
Neva melepas pelukan yang tercetak jelas di serat sweater merah mudanya. "Janji, ya?"
"Iya, aku pasti tepatin janji. Dan sekarang kamu tutup mata, oke?"
Mengikuti arahan Isaac dengan cepat, maka sebuah kotak mungil tersaji dalam telapak tangan Neva. Ia pun membulatkan mata saat membuka tutup struktur padat itu.
"Apa ini?"
"Cincin buatmu dong, tanda persahabatan kita juga."
"Kamu berlebihan, aku nggak butuh ini. Gelang prakarya kita aja udah cukup."
"Jangan menolak. Aku juga punya tuh, udah pakai duluan tadi. Jaga baik-baik sampai kita bertemu lagi, ya?"
Neva akhirnya menunduk lesu, tanda menerima hadiah tersebut. "Ya, kita pasti bertemu lagi."
Begitu cincin tipis sederhana itu terpasang di jari masing-masing, Isaac berinisiatif mengambil gambar polaroid dengan gaya bebas. Kemudian, ia tuliskan sebuah kalimat di balik kertasnya. Neva, Isaac, dan Kuta.
"Kok tiba-tiba Kuta? Bukannya kamu ke Amlapura?"
"Siapa tahu di masa depan aku pindah ke sana juga, kan?"
__ADS_1
Meskipun begitu, Isaac berpikir tak mungkin merubah garis besar takdirnya. Cukup hal-hal kecil dan sederhana ini akan membungkus rasa sesalnya menjadi kebahagiaan tak terlupakan. Meski dalam kenyataan tidak ada yang berubah sama sekali.