THE MOON: Isaac Adventure

THE MOON: Isaac Adventure
Menaiki Ombak


__ADS_3

Tanpa perintah siapa pun, Isaac menyewa sebuah mobil Crossover putih sebagai teman perjalanan mereka. Tak lupa di atas mobil terdapat dua papan selancar yang akan digunakan ketika sampai pada pantai yang dituju.


Neva melihat keluar jendela dalam diam. Birunya langit yang memantul pada permukaan air laut terlihat lebih menyilaukan. Terdengar mesin kendaraan yang tertib melintas. Bahkan ada sekumpulan wanita memakai sesanteng baru pulang dari sembahyang.


"Apa aku terlalu cepat atau terlalu lambat?"


"Ah, nggak keduanya kok."


"Terus, kenapa begitu?"


"Aku cuma mengantuk sedikit." Neva mengusap kedua matanya.


"Ya, karena kamu sibuk mencari baju untuk pergi jalan-jalan hari ini."


Neva spontan menoleh ke arah Isaac, pipinya bersemu merah. "Ah iya, apa kamu berpikir sesuatu saat mengambil baju-bajuku?"


"Ah, itu ... maksudmu apa, sih? Aku ambilnya sambil tutup mata kok!" Isaac menggaruk tengkuknya sambil terbata-bata.


Neva justru menarik telinga Isaac yang memerah. "Dasar, tukang mengelak! Tapi, makasih, ya. Makasih banget udah ambil barangku di hotel dan boleh menumpang di rumahmu sementara."


"Terima kasih, tapi jewer." Isaac melepaskan tangan Neva. "Eh, gimana dong sama kontrakanmu di sana?"


"Tenang, sudah aku hubungi pemiliknya kok. Bantuin aku ambil barang-barang besok, ya?"


"Jelas aku bantuin, dong."


Berikutnya, setelah menutup jendela dan merapikan rambut, barulah ia fokus menatap satu per satu daftar kegiatan dalam beberapa hari.


Selain berselancar dan mengambil barang, mereka akan melakukan banyak kegiatan berdua sebelum Neva mencari pekerjaan baru.


Isaac memberi respons mengangguk lalu ikut berkomentar dengan semangat. Kapan lagi bisa libur dari kegiatan toko dan liburan bersama pacar?


Di separuh jalan melewati pantai Soka, Neva mulai merasa bosan dan meminta Isaac memutar musik dari ponselnya. Seketika rasa kantuk kembali sirna saat melodi pertama memenuhi mobil.


Neva langsung bernyanyi meski Isaac menatapnya kagum. Sekon berikutnya, Isaac ikut bernyanyi karena mengetahui lagu tersebut. Lantunan lirik sang penyanyi seolah berterbangan di udara, notes dari melodi gitar klasik seolah menyatu dengan nuansa pantai.


Aku kira dia lupa sama lagu ini, ternyata nggak.


Lagu jadul keluaran tahun 2001 yang memperkuat tali persahabatan mereka di bangku SMA pada tahun 2011, sekarang diputar ketika sudah berpacaran. Lagu yang tidak lekang oleh waktu. Isaac pun berharap semoga mereka seperti itu.


Tibalah mereka di tempat tujuan setelah menempuh perjalanan kurang lebih tiga jam, pantai Medewi. Ombak di pantai itu sebenarnya relatif besar dibanding pantai Kuta, tapi masih bisa dijadikan tempat belajar untuk para pemula berselancar.


"Akhirnya sampai!" Neva meregangkan tubuh saat keluar dari mobil.


"Oke, langsung turunkan papan!" seru Isaac, sambil membuka ikatan papan selancar.


"Apa aku bisa, ya?"


"Tentu bisa kalau sering berlatih."


Neva membulatkan bibir saat melihat papan yang ia pinjam sendiri di toko Mesh. Papan selancar putih dengan gambar ikan paus kecil di ujungnya. Sementara papan kesayangan Isaac berwarna sama dengan Neva, tapi ada gambar gelombang putih di tengah-tengah seperti ombak.

__ADS_1


Saatnya berganti pakaian, mereka menuju kamar mandi umum. Kalau Isaac ganti baju di luar tak masalah, tapi Neva harus ganti di dalam. Tak berapa lama sang pacar keluar dengan rash guard hitam senada dengannya. Mereka otomatis berlari ke laut membawa papan masing-masing.


Melakukan pemanasan seperti biasa di sepanjang pantai berisi turis asing dan lokal yang membaur. Setelah menghirup aroma sea minerals dan disalurkan ke seluruh tubuh, rasanya nada lagu di dalam mobil tadi mengisi kegiatan mereka. Seolah menjadi soundtrack khusus hari itu ketika mengarungi lautan dan menunggu ombak.


"Terus dayung, membungkuk, ada ombak!" seru Isaac.


Isaac dengan cekatan melakukan tiga gaya dalam berselancar, meliukkan papan ke kanan lalu kiri, fokus pada keseimbangan di tubuh.


Pantai dengan pasir berbatu itu identik dengan ombaknya yang panjang dan Isaac tidak akan menyerah mengarunginya.


Sedangkan Neva yang baru berdiri saja sudah terjatuh, tergulung ombak. Dirinya hanya menyaksikan penampilan keren Isaac saat menaiki ombak selagi menepi.


Kulit cerah yang seolah kebal dengan terik matahari itu kontras dengan rambut legam Isaac. Papan seolah melebur dengan lautan. Karena begitu terpana, Neva tak sadar Isaac mendatangi dirinya.


"Lho?" Neva seolah berpikir sejenak. "Kayanya rambutmu lebih hitam. Diwarnai?"


"Em, yah ... diwarnai jadi lebih hitam aja. Aneh, ya?"


"Nggak, sih. Kelihatan lebih bersinar aja." Neva cengar-cengir sambil mengacungkan jempol seperti biasa.


"Kamu mau jadi ahli nggak? Malah cengar-cengir natapin pacarnya doang." Isaac memencet cepol rambut Neva seperti tombol.


Neva spontan berteriak. "Jangan sentuh antenaku!"


"Kalau kamu teriak sambil bilang gitu beneran mirip alien!"


"Alien tapi pacarmu." Neva melempar simbol hati kepada Isaac dengan tatapan menggoda. Namun, yang digoda membuang mukanya yang memerah.


Kemudian, Isaac menyuruh Neva kembali mencoba berselancar dan dilihat olehnya dari pesisir. Neva jelas berjuang demi bisa menaiki ombak setelah melakukan teriakan semangat.


Neva terus mendayung, berenang, dan berusaha keras. Hanya sekali saja dirinya berhasil berdiri, tapi ombaknya kecil.


Beberapa jam sudah berlalu, mentari semakin terik menyentuh area pantai, mereka beristirahat sejenak di sebuah kedai. Masih menggunakan rash guard, masih membawa papan selancar, dan Neva juga masih tersengal-sengal sampai menunduk.


"Aku ... harus ... bisa ... supaya ... terlihat ... keren ...," ucap Neva terbata-bata.


"Hei, pelan-pelan aja belajarnya. Lama-lama bisa kok."


Isaac menyodorkan sebotol air mineral yang langsung dihabiskan Neva sampai menghela napas. Sang pacar pun berusaha mengatur napas selagi menyandarkan punggung pada kursi.


"Aku ... iri sama pacarku. Dia keren banget kalau berselancar. Tapi, lebih keren lagi pas datang menyelamatkanku dari bahaya."


"Ah, jangan memuji terus. Mentang-mentang kemarin aku sempat down."


"Aku serius, Sah."


"Aku juga serius ... sama kamu."


Neva spontan memukul lengan Isaac. Bukan merasa sakit, tapi malah tertawa dan tidak merasa hawa lembap di rambut mereka pun sudah kering. Kemudian, Isaac dan Neva saling menyantap makanan yang sudah memberi sinyal pada perut.


Selang beberapa jam kemudian, setelah bergantian tidur di mobil, pada pukul tiga sore tubuh mereka kembali bertenaga dan pergi ke lautan.

__ADS_1


Isaac menjadi pendukung yang terus berseru sambil duduk di atas papan. Kepercayaan diri Neva saat berselancar pun meningkat bertahap.


Awalnya ia terus tercebur, tapi kini tubuhnya mulai terbiasa setelah melakukannya berulang kali. Sungguh menyenangkan saat keseimbangan tubuhnya berbaur dengan ombak.


Melihat hal itu Isaac berenang mencari ombak. Ingin berselancar bersama walau Neva belum ahli, walau hanya bisa bertahan sebentar di atas papan. Berselancar bersama pacar rasanya lebih seru.


Cukup bermain-main dengan ombak, mereka berbaring di atas papan sambil menatap langit. Rasanya seolah berada di pusat bumi. Isaac merentangkan kedua tangan dan membuka lebar matanya yang memantulkan langit sore.


Isaac merasa seperti diselimuti oleh alam. Berpikir bahwa bukan bumi yang berputar melainkan sekitarnya. Tubuhnya terombang-ambing di lautan karena sesekali dihantam ombak rendah. Akan tetapi, Neva menarik tangannya agar tidak menjauh.


"Apa mau coba berenang, Sah?"


"Boleh, tapi taruh dulu papannya dekat mobil."


Dengan gegas Isaac berlari lalu meletakkan kedua papan di atas mobil. Sekembalinya dari sana, ia melihat Neva sedang memutar bahu dengan raut kesakitan.


"Bahumu sakit? Nggak usah kalau gitu."


"Nggak, cuma salah gerak aja kok. Ayo kita berenang sekarang!"


Belum sempat bicara apa pun, tangan Isaac sudah ditarik oleh Neva. Lantas ia hanya bisa mengikuti kemauan sang pacar, berenang sampai ke tengah laut yang sepi. Berbanding terbalik dengan pemandangan di belakang mereka.


"Oke, cukup sampai di sini." Neva menyembul dari air lalu meraih tangan Isaac.


"Eh, mau ngapain? Aku curiga lho."


"Udah, pejamkan aja matamu dan jangan memikirkan apa pun."


Lagi-lagi Isaac mengikuti kemauan Neva dengan senang hati, entah keajaiban apalagi yang ditampilkan sang pacar. Isaac merasakan sesuatu yang sama seperti semalam.


"Nah, sekarang coba buka."


Isaac membuka mata dan takjub dengan sesuatu yang melayang di udara. "Gelembung?"


"Nggak bakal pecah." Neva memukul-mukul gelembung sabun di hadapannya.


"Terus, kita mau apa dengan gelembung yang bertebaran di udara begini?"


"Yak!" suara Neva berkumandang, selagi mencoba menaiki gelembung besar di hadapannya.


Saat itu juga Neva jatuh, tapi kembali menaiki gelembung. Kali ini keseimbangannya bisa terjaga. Tubuh pun mulai bergerak dengan jantung sebagai pemimpin dan kaki mendukung dari belakang. Ia memacu daya lenting.


Tubuhnya terangkat tinggi oleh telapak kaki mungilnya seolah tak memiliki bobot. Neva melompat ke gelembung lain yang lebih tinggi. Lompatan yang lebih tinggi dari siapa pun.


Saat melompat, mata Neva menangkap berbagai spektrum warna. Saat ini rasanya ia bisa melakukan apa saja, bisa melompat ke mana saja. Sampai ke tempat yang paling membahagiakan di dunia.


Isaac memandang dengan mulut terbuka lebar. Baru kali ini dirinya melihat kemampuan Neva yang lain. Melompati banyak gelembung seperti ahli parkur.


"Ayo, pasti kamu bisa juga!" seru Neva dari atas.


Baiklah, kata hati Isaac. Tanpa ragu ia menaiki satu gelembung tak jauh dari jangkauannya. Meski bisa menyeimbangkan diri di atas papan, rupanya berbeda ketika di atas gelembung.

__ADS_1


Dirinya terjatuh dua kali sebelum akhirnya melompati gelembung mengikuti cara Neva. Mereka terus menggapai gelembung lalu menjatuhkan diri bersama ke laut dari ketinggian.


Tidak ada yang melihat mereka saat melompati gelembung, bahkan gelembung itu sendiri menembus tubuh manusia lain. Kemudian, mereka berdua tertawa bersama ditemani kicauan burung dan berciuman.


__ADS_2