THE MOON: Isaac Adventure

THE MOON: Isaac Adventure
Kejadian aneh ketujuh


__ADS_3

Semua orang di pantai tiba-tiba berkumpul di satu titik untuk melihat sesuatu. Bukan air laut atau ada atraksi lain pada pagi itu.


Isaac dan Neva yang baru saja tiba juga tertarik dengan kerumunan manusia. Padahal niat mereka adalah berselancar tanpa adanya hambatan.


"Permisi, ada apa, ya?" Isaac melempar pertanyaan pada siapa saja yang ingin menjawab.


Seorang anak kecil berambut afro menunjuk sebuah lubang besar di pasir. Seingat Isaac di sana ada sebuah pohon kelapa sangat besar. Ke mana perginya pohon itu? Mengapa menghilang bersama pasirnya? Sehingga menyisakan lubang besar sangat dalam.


"Ini nyata. Kenapa tiba-tiba menghilang?"


"Pagi-pagi ada mobil besar atau dengar suara mesin nggak, Sah?"


"Nggak ada. Dan ini bukan ulahmu, kan?"


Neva menyikut lengan Isaac. "Heh, kekuatanku bukan begini. Kamu kan tahu."


Isaac mengangguk lalu membubarkan massa yang memancing petugas di sekitar pantai. Salah satunya mulai bertanya pada beberapa orang, siapa tahu menemukan saksi mata.


Mereka memilih untuk berselancar saja, tidak memedulikan ulah siapa dan bagaimana walau terasa janggal. Apa mungkin ada traktor atau alat berat mengambil pohon? Isaac hanya bisa menggaruk kepalanya.


Mereka telah sampai di pinggir pantai, bertemu sinar mentari yang mulai bersembunyi di balik awan, seolah mendukung mereka untuk segera mengarungi lautan tanpa perlu kepanasan.


“Hari ini ombaknya bagus, udah aku cek. Sekarang kita pemanasan dulu sebelum memaksimalkan ombak.”


Neva langsung paham begitu Isaac melakukan pemanasan sampai teknik dasar berselancar. Isaac ingat kalau Neva mempelajarinya saat masuk ke alam bawah sadarnya, jadi tidak perlu repot mengajari dari awal.


"Wah, kamu memang pintar dalam segala hal!" Isaac menyeru di pinggir pantai.


"Memuji terus, nggak capek?" Neva juga menyeru, tapi masih fokus dengan teknik popping up.


"Nggak dong, yang dipuji emang nyatanya gitu. Sekarang stand up dengan posisi hunchback!"


Neva mengangguk lalu disusul Isaac dengan cepat. Mereka sama-sama berselancar.


Stand up merupakan teknik berdiri di atas papan selancar setelah berhasil melakukan paddling dan popping up. Memerlukan keseimbangan sempurna agar tidak tergulung ombak. Neva sendiri telah melatih diri didarat dengan berdiri di atas bola.


Kunci keberhasilan teknik tersebut adalah harus tenang, pandangan lurus ke depan, dan hindari berdiri tegak di atas papan selancar.


Sedangkan hunchback adalah membungkukkan badan agak bisa mengendalikan ombak dengan baik.


Neva melakukan semua teknik dengan benar, tapi tidak bertahan lama di atas papan. Hanya bertemu ombak kecil sekali, ia memilih menyerah. Isaac malah keasyikan sendiri begitu ombak kedua lebih besar datang.


Neva memerhatikan Isaac dari atas papan kuning polosnya. Ia memandang cara pacarnya mempertahankan posisi dan seolah menyatu dengan permainan ombak. Pantulan biru yang mengenai wajah Isaac tampak seperti kristal bening dan membuat Neva terpaku lebih lama.


"Oh iya, apa semua pekerjaan dan jurusan kuliah yang kamu sebut itu betulan?" Isaac mendekati Neva yang santai di pinggir pantai.


Neva sadar dari lamunannya dan langsung menatap Isaac. "Semua benar, kok. Aku berniat kemari juga setelah mengajukan cuti selama seminggu."

__ADS_1


"Yah, sebentar banget dong?" Isaac terdengar kecewa.


"Kamu kan bisa datang ke tempatku kapan aja, dasar."


Di saat Isaac menyengir selagi mengangkat papan selancar, tiba-tiba datang seorang pria berhidung mancung memegang pundaknya. Ia spontan menoleh dan berkata, "Eh?"


"Apa kamu tahu siapa pelatih di toko Mesh itu?" Pria itu tersenyum sambil menunjuk toko ayah Isaac.


"Saya sendiri pelatihnya. Ada apa, ya?" Isaac menatap bingung.


Pria itu memperkenalkan diri dengan sopan, namanya Eranda Putra. Seorang yang datang dari Jakarta untuk berlibur sekaligus belajar berselancar. Eranda mengetahui toko milik ayahnya Isaac dari media sosial.


Ia tertarik dengan konten serta kerapihan postingan di Instagram. Bermodalkan nekat tanpa mencoba bertanya dulu, Eranda akhirnya bisa menemukan toko Isaac.


"Kalau ingin menyewa silakan datang ke booth, Kak. Nanti akan dibuatkan antrian. Kalau sekarang saya sedang sibuk mengajari satu orang."


"Oh begitu, mengajar secara khusus, ya?" Eranda melempar senyum pada Neva yang melirik ke arah Isaac.


Isaac segera memblokir pandangan Eranda dan menyuruh pria itu pergi mendaftar di toko dengan tegas. Eranda kemudian meminta maaf lalu berbalik pergi. Kemeja putih dipadupadankan dengan celana hitam yang tidak sesuai dengan tema pantai itu menyilaukan pandangannya meski sudah menjauh.


"Orang aneh. Ngapain senyum nggak jelas gitu?"


"Yah, ada yang cemburu," ejek Neva.


"Nggak, ya. Cuma ngerasa dia agak aneh aja," gerutu Isaac.


Akan tetapi, Isaac malah berdecak kesal. Neva mengekor dengan membawa papan. Mereka sudah berniat angkat kaki dari pinggir pantai saat seseorang mencengkeram bahu kirinya. Isaac terkejut sampai menoleh.


"Kok selancarnya udahan?" Tangan Izel belum juga melepaskan bahu Isaac. Ia menekannya lagi, seperti ingin menghentikan langkah Isaac.


Spontan saja Isaac berseru bersamaan Neva, "Yang Mulia Izel!"


"Aku ingin bicara pada kalian di tempat lain."


Setelah mereka mengiyakan dengan anggukan, Izel memerintahkan Neva untuk menggunakan kekuatan teleport sambil bergandengan tangan.


Tentunya Isaac tercengang, tapi segera menggenggam tangan pacarnya sementara Izel meraih tangan Isaac. Setelah itu, Izel menyebutkan satu tempat yang cukup jauh.


Neva menyuruh dua pria itu tutup mata seperti dirinya, lalu memikirkan tempat yang disebutkan Izel. Dalam kegelapan itu Isaac tak melihat apa pun, hanya merasa seluruh isi kepalanya berputar hebat.


Tidak butuh waktu lama, mereka membuka mata saat Neva berkata, "Kita sudah sampai."


Rupanya mereka berada di teras sebuah restoran yang sedang tutup sementara. Segeralah Izel duduk bersama Neva dengan nyaman di salah satu batu di teras sana. Sedangkan Isaac masih merasa bingung sambil memegang pilar teras, kepalanya sangat pusing dan perut terasa mual.


"Dia baru kali ini, ya?"


"Benar, Yang Mulia."

__ADS_1


Izel mendekati Isaac, memegangi pundak Isaac lagi dengan senyum. Entah kenapa Isaac merasa ada sebuah energi menjalar dari tangan itu.


Terasa hangat dan membuatnya nyaman. Perlahan pusing dan rasa mualnya berkurang. Setelah cukup menyembuhkan, Izel mengajak duduk Isaac.


Pria memakai kaus oblong dan celana pendek abu-abu itu menatap serius lautan sambil membuka topik yang terjadi tadi pagi. Ia tahu dari media sosial dan langsung kembali. Bahkan sampai jam sepuluh ini masih ada orang yang berkumpul di sana.


Neva mewakilkan Isaac bertanya, "Apakah salah satu manusia moon rabbit?"


"Sepertinya. Dan apa kalian tahu ke mana pohon itu pergi?"


"Ke mana? Apa Yang Mulia tahu?" tanya Isaac.


Izel mengeluarkan ponsel, memperlihatkan sebuah video dari salah satu akun Instagram. Tampak orang-orang terkejut melihat gundukan tanah dengan pohon kelapa tertanam. Lokasinya berada di pantai Jimbaran.


Keduanya saling menatap, tidak bisa membendung keterkejutan. Lokasi antara pantai Kuta dengan Jimbaran itu cukup jauh.


Orang tersebut menggunakan kekuatan apa untuk memindahkan pohon setinggi itu tanpa dilihat oleh manusia lain? Sekuat apa?


"Aku rasa manusia setengah moon rabbit kali ini punya kekuatan besar. Biasanya energi mereka bisa terdeteksi olehku, tapi sedari tadi aku belum mendapatkannya. Dia mungkin sedang menekan energinya," jelas Izel, kemudian mengunci layar ponselnya. "Kita harus segera bertemu dengannya sebelum terjadi kekacauan yang lebih parah."


Isaac makin antusias sampai memajukan wajah ke arah Izel. "Apa ada ciri khusus untuk mereka di mata manusia biasa, Yang Mulia?"


"Rambut hijau neon, Sah." Neva menatap Isaac di samping kirinya.


Izel yang duduk di samping kanan Neva mengangguk pelan. Isaac kembali disengat rasa terkejut, tapi tetap penasaran.


Kalau keturunan manusia setengah moon rabbit memiliki rambut hijau neon, mengapa Neva tidak? Rambut pacarnya malah berwarna hitam sedikit kecokelatan.


"Oh, tunggu. Apa kamu mewarnai permanen rambutmu, Nev?" Isaac menunjuk rambut Neva.


"Iyalah, mana mungkin aku keluyuran dengan rambut mencolok gitu."


"Yah, susah dong nemuinnya. Orang itu pasti juga mewarnai rambutnya."


"Kalau orang itu muncul membawa energi, aku pasti tahu juga kok. Tapi, aku harus pindah dekat sini dulu."


Izel menatap Neva. "Benar. Kamu bersedia membantuku, kan?"


"Dengan senang hati, Yang Mulia." Tunduk Neva hormat.


Isaac menunjuk dirinya ketika ada celah, dengan maksud bertanya apa ia boleh bergabung dalam misi ini karena tidak bisa membiarkan Neva dan Izel bekerja sendiri saat ini. Tentu saja Izel memperbolehkannya.


Izel pun memberitahu mereka, sebelum bantuan datang, maka mereka bertiga yang akan mencari dan mengurus orang tersebut.


Di saat sedang menghirup aroma perpindahan antara pagi ke siang, Izel dan Neva mendadak bergeming lalu menatap satu sama lain. Mata mereka sama-sama membulat.


"Ada apa?" Isaac bertanya-tanya.

__ADS_1


"Kami merasakan sebuah energi." Izel berdiri, mengedarkan pandangan.


__ADS_2