THE MOON: Isaac Adventure

THE MOON: Isaac Adventure
Berharap kembali


__ADS_3

Isaac tidak menyangka harus mengalami situasi seperti ini. Sepanjang perjalanan dari toko ke ruang tamu, ia merasa lesu. Sambil mendengar desis angin, ia membayangkan apa yang akan terjadi hari ini.


Pagi yang panas di bulan April. Pagi di mana Neva akan di bawa ke Blue Moon. Jelas Isaac gelisah, tapi rasa aman dari Izel dan kawan-kawan sanggup meniup kegugupan itu pergi hingga ia merasa nyaman.


Tepat pukul sembilan pagi, semua orang sudah bersiap. Namun, Ernando dan Nochli saja yang tidak terlihat karena sudah kembali semalam bersama Ilhuima serta anggota kelompok Ernando yang sudah dikumpulkan. Sekitar ada sepuluh orang.


Isaac tepat berdiri di tengah-tengah mereka, menatap Neva yang masih tertidur. Gadis itu tampak bersinar saat sinar menembus jendela. Sosok bersinar yang akan dirindukannya lagi.


"Apa kakakmu sudah pergi ke pantai?" tanya Anima.


"Sudah." Isaac menjawab tanpa menoleh.


"Baiklah, kami akan pergi, Isaac. Kami berjanji akan merawat Neva semaksimal mungkin."


"Nggak perlu berjanji, itu sudah tugas Blue Moon dan Yang Mulia Izel."


Setelah Izel menepuk punggung Isaac, ia mengangguk pada Anima. Memberikan kode untuk memanggil penjaga gerbang dimensi antara bumi dengan Blue Moon.


Anima bersiap-siap menggendong Neva, sampai sinar mirip pantulan kristal biru ditimpa sinar mentari datang menyorot mereka.


Isaac dengan mata terbuka dan tubuh seolah mengakar pada lantai kayu, melihat mereka perlahan menghilang bagai hologram putih. Dalam sekejap, mereka sudah pergi.


Dengan lemas, Isaac terduduk di ranjang yang disinari mentari. Walau gumpalan awan melintas dan sempat memutus sinar itu, sorot mata penuh cinta Isaac tidak pernah pudar.


Tidak akan bisa secepat itu hilang. Banyak momen yang tercipta di antara mereka semenjak SMA.


Sesaat, Isaac mengalihkan tatapannya pada dompet milik Neva. Dompet berbulu lembut berwarna putih berisi kartu akses hotel, kartu tanda pengenal, kartu kredit, dan sebuah photo box.


Satu foto berisi empat pose, menangkap dua figur tertawa dan tersenyum seolah hari itu paling membahagiakan. Isaac dan Neva. Foto itu diambil saat mereka jalan-jalan malam, sehari setelah mereka berpacaran. Pose demi pose mulai saling terhubung di depan matanya.


Pose pertama, mereka saling merangkul sambil tersenyum. Terselip banyak emoji hati dan wajah mengejek. Setelah itu, ia ingat sekali kalau Neva kesal karena ada emoji tersebut.


Pose kedua, Isaac spontan mencium pipi Neva. Emoji hati lebih banyak dari pose pertama. Isaac teringat kembali kalau dirinya tersipu malu setelah melihat hasilnya. Sekarang pun masih sama.


Pose ketiga, di mana Neva iseng memakaikan bando kuping kelinci pada Isaac. Kali ini emoji hati absen, hanya tanda seru dan tertawa.

__ADS_1


Isaac ingat, mereka langsung mengganti pose dengan cepat sambil menggerutu tidak jelas. Pikirnya waktu itu mungkin saja orang yang lewat merasa terganggu.


Masuk ke pose keempat, begitu kamera merekam gambar, Isaac memberanikan diri untuk melebarkan kedua pipi Neva karena gemas. Namun, Neva malah marah-marah karena wajahnya terlihat bulat dan jelek.


Dalam dunia kecil berbentuk segi empat itu, potongan gambar muncul seperti proyektor tiga dimensi. Ketika satu per satu momen bergerak, Isaac sadar bahwa senyum bahagia mereka terkungkung di sana. Bukan di dunia nyata.


Isaac spontan menekurkan wajah. Perasaan bahagia terpendam selama delapan tahun terasa mudah mengambang, tapi kini meluncur sampai ke dasar hati dengan cara yang sama.


Benar kata orang-orang, harusnya aku berhati-hati dari awal.


Kebahagiaan seperti rasa manis yang datang tanpa jeda, tapi ada rasa pahit menunggu di akhir cerita. Kepedihan. Kesedihan. Perpisahan.


Ibarat kopi hitam yang diaduk bersama gula. Gula akan larut bersama air dan rasa manis di permukaan, sedangkan ampas hitam mengendap tenang di dasar cangkir.


Jika tidak hati-hati, ampas pahit itu bisa naik dan mempengaruhi rasa manis.


Isaac spontan mengusap kasar wajahnya setelah meletakkan foto pada dompet. Ia menatap ruangan kosong, tapi rasanya masih dipenuhi bayangan Neva.


"Aku akan mengambil barang-barangmu di hotel." Isaac bangkit, mengambil dompet. "Semoga kamu cepat pulih dan kembali kemari."


"Sah, bangun!"


Isaac mengerjap perlahan, mengusap kedua mata yang lembab. Sayup-sayup suara itu terdengar tidak asing, sedikit cempreng kalau berseru.


Saat kesadaran sepenuhnya mengambil penglihatan, Isaac terperanjat begitu tahu siapa yang ada di hadapannya.


"Neva?"


Isaac memindai keseluruhan tubuh gadis di hadapannya. Tampak Neva masih memakai gaun putih dengan senyum yang sama.


"Hm, cepat bereskan barangnya!"


Isaac menggeleng. "Nggak mungkin, mimpi lagi pasti!"


Karena tidak percaya, Isaac menampar pipinya berulang kali sampai terasa nyeri. Neva yang ada di hadapannya berusaha menghentikan, tapi Isaac tidak mau. Tamparan keenam kali, barulah Isaac mengaduh keras.

__ADS_1


Saat mata terbuka kembali, tidak ada siapa-siapa di hadapannya. Ruangan itu kosong. Hanya tersisa rasa nyeri bekas tamparan.


Sebenarnya, Isaac memiliki ketakutan sama seperti yang lain. Ia takut kalau setiap membuka mata, seseorang akan hilang dari hidupnya. Namun, kali ini dirinya harus segera bangun karena itu hanya mimpi semata.


Isaac tak ingin hidup dalam mimpi.


"Waktu itu pengen menginap ke rumahku, tapi nggak jadi, ya?"


Bukannya bergerak cepat mengemasi barang, Isaac malah duduk termenung menatap ke luar jendela. Koper biru dihiasi stiker-stiker ikan tergeletak kosong di hadapannya.


Kamar tipe deluxe bernuansa kontemporer itu tampak rapi setelah housekeeping datang. Tirai hijau lumut yang semula rapi diacak-acak oleh angin kencang. Selain adanya angin, sinar mentari juga menjadi teman akrab Isaac di kamar gelap itu.


"Sekarang waktunya bergerak." Isaac berdiri.


Pertama yang diambil adalah pakaian di dalam lemari. Tidak ada rasa canggung saat mengambil milik Neva termasuk pakaian dalam. Ia memilih menatap dinding kosong dibanding pakaian tersebut.


Isaac membuka koper lebar-lebar, aksen putih yang harusnya mencolok di ruangan gelap, malah dikalahkan satu benda yang menyita perhatian Isaac. Sebuah foto 'school really cool' terselip di kantung jaring.


Foto kenangan itu bukan hanya terlihat oleh mata, tapi hatinya turut merasakan sesuatu. Isaac tidak percaya, dirinya seolah tenggelam dalam ombak hidup.


Pertama kalinya mereka mengambil foto bersama setelah bersahabat. Pertama kalinya Isaac melihat sisi lain Neva. Pertama kalinya Neva mempunyai sahabat pria seperti Isaac. Semua serba pertama kali dalam selembar foto itu.


Isaac menguatkan hati setelah mengembalikan foto ke tempat semula. Ia selalu berkata di dalam hati bahwa Neva akan sembuh dan kembali. Meski itu adalah ekspektasi tinggi, ia juga memikirkan risiko paling buruk bisa terjadi.


Neva bisa saja pergi meninggalkan dunia ini. Meninggalkan dirinya.


Dengan cepat Isaac membereskan semua barang Neva lalu mengurus masalah check out ke bagian resepsionis.


Isaac berjalan cepat di tengah sekumpulan manusia yang sibuk dengan aktivitas masing-masing. Dirinya tampak lebih tenang dibanding kemarin. Namun, sesekali masih melamun tanpa alasan hingga menabrak anak kecil yang membawa bola basket.


Bola itu menggelinding ke zebra cross lalu Isaac spontan mengambilnya karena merasa bersalah.


Isaac memang sering melakukan hal spontan, kurang cekatan, tidak waspada. Bahkan ada truk datang saja tidak tahu, ia sibuk mengejar bola.


Truk makin dekat, orang-orang mulai berteriak ke arahnya, barulah Isaac sadar akan kematian di depan mata.

__ADS_1


Apa Isaac berhasil menyingkir?


__ADS_2