THE MOON: Isaac Adventure

THE MOON: Isaac Adventure
Berbeda


__ADS_3

Keesokan hari, Isaac terbangun dengan rasa lelah. Gara-gara terjatuh ke dalam lubang dan omelan Noah yang tidak berhenti.


Akan tetapi, lengan dan kaki yang memerah sudah menghilang. Rasa nyeri akibat pembengkakan juga sudah berkurang. Tubuh bagian kiri tak begitu kaku dan kaki juga tidak terlalu pincang.


Isaac terpaku menatap sebuah cermin sambil memegang rambutnya. Terasa menebal karena dipenuhi banyak pasir dan sangat kasar.


"Kenapa dengan rambutmu? Mau dicat lagi?" Noah datang membawa nampan berisi egg sandwich dan susu.


"Dicat lagi? Oh ... kalau ada uban lagi biasanya Kakak yang melakukannya."


"Nah, coba kulihat sekarang rambutmu."


Kebiasaan mengecat rambut yang dilakukan Noah pada Isaac sudah terjadi semenjak dari tingkat delapan SMP. Sang kakak tak sengaja melihat ada uban tumbuh di beberapa area saat membersihkan kepala Isaac sehabis main di pantai.


Uban tumbuh di usia muda seperti Isaac rupanya bukan karena penyakit, melainkan faktor genetik dari sang ayah. Meski begitu, ia tetap malu dan ingin menutupinya.


Isaac tidak menceritakan keadaannya pada siapa pun termasuk Neva. Ia takut Neva merasa seperti gadis yang didekati kakek-kakek berwajah tampan.


"Gimana, Kak?"


"Hm, nggak parah. Tapi, apa mau semuanya lagi dicat? Biar lebih baru dan bersinar."


"Terserah Kakak aja."


"Oke, mandi sana dulu sambil keramas. Bau apek!" Noah menekan ubun-ubun Isaac sampai empunya berteriak. "Habis itu harus beneran makan, jangan kaya semalam. Dan berhenti membuatku khawatir."


Benar, pikir Isaac. Di mata para keluarga, Isaac selalu mengkhawatirkan siapa pun. Tidak begitu cekatan dan terkadang terburu-buru. Sang kakak jadi terbeban untuk melindunginya.


Maka dari itu Isaac berusaha untuk menjadi pribadi yang bisa melindungi seseorang, berguna bagi seseorang. Berusaha mengendalikan ombaknya sendiri, tapi selalu gagal. Sampai dirinya bertemu dengan Neva.


Nama Neva yang melintas tiba-tiba, membuat tangan Isaac tergerak meraih ponsel di meja belajar. Dering telepon beradu dengan suasana berisik di pantai dan Isaac terus menunggu.


Benda langit terbesar di galaksi Bima Sakit berpendar kekuningan, panasnya mulai menyengat mata Isaac karena menunggu lama.

__ADS_1


Isaac akhirnya menyerah lalu menghela napas, kemudian mengambil handuk dan pakaian ganti. Saat dirinya mengusap rambut yang basah, muncul Noah dari ambang pintu membawa semir rambut hitam. Sang kakak menyuruhnya untuk duduk di lantai.


"Ayah sudah pulang?"


"Sudah, ada di toko. Tadi pagi sempat masuk sini, tapi kamu masih tidur," ucap Noah, sambil meracik cat rambut dengan hati-hati.


"Kelas pelatihan gimana, Kak?"


"Ditiadakan dulu hari ini supaya aku bisa ngawasin kamu."


Aktivitas Isaac terhenti, lalu menoleh pada sang kakak. "Aku sudah dewasa, bisa mengurus diri sendiri. Sekarang juga udah mendingan kok, cuma emang nggak bisa buka kelas pelatihan aja."


"Jangan bawel, Sak." Noah meluruskan kembali kepala Isaac.


Dengan lihai Noah memasang plastik di belakang telinga, leher, dan area bahu. Begitu selesai, Noah mengaplikasikan semir mulai dari akar rambut perlahan. Suasana hening yang tercipta tiba-tiba membuat Isaac mengingat satu pertanyaan di kepalanya.


"Kejadian waktu aku ditabrak gimana, Kak? Setahuku truk besar lho itu. Kenapa aku cuma lecet gini doang?"


Noah dengan lantang menjelaskan semua menurut ucapan para saksi di tempat kejadian. Saat Isaac mengambil bola, kondisi lampu lalulintas berwarna kuning. Begitu truk melintas, Isaac bisa menghindari dengan mundur. Namun, saat mundur itulah muncul mobil berkecepatan sedang menabrak sang adik sampai pingsan.


...•••...


Isaac kembali melewati sarapan, tapi saat makan siang hanya makan sedikit. Padahal sang ayah sudah memasak makanan enak. Hanya Noah yang tampak menikmati makan siang sampai perutnya menyembul di balik kaus.


Dengan rambut lebih legam, Isaac menyembulkan kepala di jendela kamar. Ia masih mencoba menghubungi nomor Anima beberapa kali.


Apa lagi sibuk, ya?


Dengan berat hati, Isaac memutus panggilan telepon lalu menghela napas. Dari sudut pandangnya, manusia yang antusias dengan berbagai aktivitas di pantai tampak lebih kecil. Seperti terperangkap dalam lensa kamera.


Terlebih ada satu pria menarik yang bermain dengan ombak bersama papan selancar oranye. Isaac menatap sosok ahli berselancar itu cukup lama.


Telunjuk Isaac terangkat lalu diarahkan ke pria tersebut. Jemari bergerak seolah menekan layar sentuh ponsel dengan spontan. Detik itu juga, pria yang dituju langsung jatuh tergulung ombak.

__ADS_1


Isaac terkejut sampai mengusap kedua mata. "Mana mungkin, kan? Kebetulan aja kali."


Setelah keisengan berakhir, Isaac kembali menghubungi nomor Anima. Dengan harap-harap cemas menunggu, akhirnya panggilan itu diangkat. Isaac langsung mengajukan pertanyaan seperti biasa dan dijawab yang sama oleh Anima.


"Belum sadar dan belum ada perkembangan."


Kalimat itu terus terulang untuk hari dan minggu demi minggu berikutnya. Sampai tanggal sembilan pun terlewat dengan sepi karena Isaac hanya diam di rumah. Meski umat Hindu di Bali sedang ramai-ramainya bersujud syukur terhadap Sang Hyang Widhi Wasa, yang turun ke dunia dan memberikan ketajaman pemikiran kepada manusia.


Di tanggal tersebut padahal Neva mengajak Isaac untuk melihat Tumpek Landep.


Hari-hari yang dilalui Isaac kembali seperti semula setelah luka-lukanya sembuh. Ia kembali membuka kelas pelatihan, menjaga toko, membuat berbagai papan selancar.Begitu pekerjaan selesai, pasti dirinya akan menghubungi Anima kembali.


Siklus monoton berteman dengan kehidupan pesisir pantai terkadang membuatnya terdistraksi dari Neva. Membuatnya lupa menelepon Anima dalam kurun beberapa jam setelah berselancar melepas beban. Begitu melihat ponsel, baru terburu-buru menelepon.


Isaac merasa dirinya jadi berbeda ketika Neva pergi. Ada rasa kesepian di hatinya. Lutut terbalut celana pendek itu didekapnya erat lalu berpikir, apa ini yang dirasakan Neva dulu saat kutinggalkan?


Hari demi hari yang baru saja terlukis oleh warna-warni tinta mendadak habis seolah tak pernah diisi kembali. Isaac kehabisan amunisi untuk menghias hati.


Tepat di hari Jumat, tanggal 29 April 2022. Baru merasakan semilir angin dan sejuknya air laut di pagi yang mendung, Isaac melihat seseorang melambai-lambai di hadapannya. Tanpa pikir panjang dirinya berlari ke laut, berusaha mendekati seseorang tersebut.


Makin dilihat sosok itu makin terseret ke tengah, Isaac buru-buru berenang saat tangan melambai itu hilang.


Isaac menyelam dan membuka mata lebar-lebar. Seorang remaja pria dengan rash guard hitam meluncur ke dalam birunya laut.


Dengan perasaan gelisah dirinya terus berenang dengan kecepatan penuh, kemudian meraih tangan remaja tersebut.


Riak air laut yang semula tenang berubah menjadi ganas. Ikan-ikan kecil bersirkulasi bebas di sekitar tubuh Isaac lalu pergi menjauh. Rasanya aneh, tapi ia tetap berenang ke permukaan.


Setelah berada di permukaan, Isaac menggunakan gaya dorong penuh pada kaki mencapai daratan. Orang-orang tampak berkerumun sementara ada yang melempar pelampung ke arahnya.


Remaja pria itu dipasangkan pada pelampung dan menyuruh mereka menarik pelampung itu.


Saat Isaac sedang mengatur napas, tubuhnya ditarik oleh laut seolah menginginkannya. Sampai membuat ombak tinggi yang menggulung tubuhnya tanpa jeda.

__ADS_1


Akan tetapi, sebuah cahaya menembus molekul air. Membentuk wujud manusia yang mengulurkan tangan. Isaac justru fokus pada gaun berwarna putih meliuk-liuk akibat gerakan renang teratur. Bahkan rambutnya panjang.


Siapa dia?


__ADS_2