
"Kamu ke mana aja?"
"Nggak perlu tahu." Ernando menyandarkan tubuhnya lalu bersedekap.
"Kenapa kamu mengikuti aku ke Bali?"
"Aku ingin liburan, nggak boleh?"
Eranda memajukan wajah, menatap lekat saudara kembarnya. "Ingin liburan? Kamu justru membuat onar di sini. Nggak lihat sampai masuk TV?"
Ernando bangkit, melempar tatapan dingin. "Nggak usah ikut campur, semua itu urusanku bukan urusanmu. Dan kalau kamu mengajakku bertemu karena ingin ceramah, lebih baik aku pergi."
Eranda menahan lengan Ernando. Ia tahu bahwa saudara kembarnya punya tujuan tertentu jika melakukan sesuatu dengan serius. Namun, Ernando bersikukuh bahwa cuma untuk pamer kekuatan saja di depan manusia.
"Memangnya aku nggak tahu kamu?" Genggaman Eranda makin menguat. "Kamu menggunakan kekuatan untuk memancing seseorang, kan?"
Kafe yang jauh dari keramaian meski berada di pinggir pantai ini menjadi saksi atas bungkamnya Ernando. Akan tetapi, saat terik sinar mentari pagi menembus wajah Eranda membuat Ernando angkat bicara.
"Jika aku cerita yang sejujurnya, apa kamu mau bergabung dengan kelompokku?"
"Kelompokmu?"
Ernando duduk kembali dan membuat kesepakatan kalau Eranda mau bergabung dengannya barulah ia akan menjelaskan semuanya.
Sampai di situ, Eranda mengangkat wajah. Ia memainkan jemari di meja, alis pun berkerut sedang memikirkan semua.
Eranda menatap Ernando. "Baiklah."
Hampir tak sabaran dan semua jadi membosankan, bahkan pesanan jus pun baru datang padahal mereka sudah duduk lama.
Ernando menjelaskan secara detail rencananya termasuk menyekap Neva di alam bawah sadarnya. Akan tetapi, percobaan yang berhasil dilakukan Ernando berada dalam alam bawah sadar. Belum dicoba di dunia nyata.
Teman Ernando yang memiliki kekuatan penyembuh sedang berusaha memulihkan Neva di alam bawah sadarnya. Jika sudah memungkinkan, maka membuat pintu ke dimensi lain menjadi mungkin.
"Aku ingin mencobanya di dunia nyata, tapi aku membutuhkan tubuhnya Neva. Apa kamu bisa membantuku mengambil tubuhnya?"
Eranda meneguk ludah. Suasana sunyi meliputi teras kafe. "Kamu pasti sudah gila, Nando."
"Demi kaum kita yang lebih unggul dari manusia. Di dimensi itu kita bebas menggunakan kekuatan!"
"Bukan demi kaum, tapi kepuasan dirimu sendiri."
Ernando berdecak kesal. "Kamu ini katanya mau bergabung? Bagaimana, sih?"
"Oke, oke, sekarang bagaimana caranya mengambil tubuh perempuan itu?"
Karena sudah percaya pada saudara kembarnya, Ernando menjelaskan rencana kedua yang disusun bersama teman-teman satu kelompoknya.
Eranda tak habis pikir, Ernando sekarang telah berubah sangat drastis. Berbagai skenario tidak masuk akal dan rencana picik ini membuat kepala Eranda makin sakit.
Setelah berbicara terus, Ernando dengan gegas menghabiskan jus apelnya. Terdengar suara ribut dari sedotan, menutupi riuh orang-orang di pesisir pantai. Eranda pun juga buru-buru menyesap jus melon miliknya.
__ADS_1
Setelah jus habis, Ernando bangkit sambil berkata, "Sekarang ikuti aku."
...•••...
Toko Mesh pada tanggal 3 April itu tampak ramai. Noah yang sudah terlanjur menulis nama seseorang tertawa dan mengikuti saran Isaac untuk menggantinya. Tampak di antrian berikutnya, dua orang mengenakan kaus tanktop hitam.
"Bapak tua satunya ke mana, ya? Biasa ada di toko?" Pria langsing dengan kulit eksotis yang bertanya.
Noah pun menjawab, "Oh, itu Bapak saya. Beliau sedang menginap di rumah keluarganya."
"Oh, begitu."
Keduanya adalah pria berwajah sangar seperti Yakuza dengan tato naga menghiasi lengan dan dada. Salah satunya yang berambut afro, tak sengaja menjatuhkan deretan papan selancar dekat pintu masuk.
Orang itu berlaku seolah tidak terjadi apa-apa, kemudian sambil memperbaiki rambut, ia berkata, "Wah, pada jatuhan nih papannya."
Isaac mendatangi pria itu dengan senyum. "Waduh, Kakak bisa bantuin saya beresin nggak?"
"Bisa aja, setelah temen saya selesai daftar."
Isaac menoleh ke arah Noah. Nyatanya teman pria itu belum menyelesaikan registrasi untuk mengambil paket pembelajaran selancar, tapi malah ingin buang air besar.
"Temen Kakak mau ke kamar mandi, pasti lama. Mending sekarang aja bantu saya. Kan Kakak tadi yang nggak sengaja menyenggol ini."
Pria itu menghela napas. "Oke, oke, saya bantu sekarang."
Begitu teman satunya masuk melewati ruang tamu, ada satu kamar mandi di ujung lorong dekat tangga ke lantai dua. Namun, pria langsing itu tidak memasuki kamar mandi, melainkan naik ke lantai dua setelah tahu tidak ada orang di dalam.
"Ini dia yang dicari Ketua."
Sedangkan di toko, Noah pamit mau mengajar satu kelompok yang sudah menunggu di pantai. Isaac mengiyakan lalu segera mengunci pintu dan mengganti tanda di pintu yang semula buka menjadi tutup begitu bayangan Noah sudah menjauh. Bahkan jendela tak luput ditutup juga.
Pria berambut afro itu sadar dengan kelakuan Isaac sampai bertanya, "Ada apa ini?"
"Ada apa?" Isaac berbalik menatapnya. "Mau pura-pura, ya, Kak?"
Tak lama terdengar bunyi gong besar dan memekakkan sampai mereka merunduk selagi menutup telinga. Rumah dan toko itu disorot oleh cahaya putih tak diketahui dari langit. Pria berambut afro itu mengumpat setelah tahu apa yang terjadi. Saat mencoba berdiri, ia melihat sosok Anima berdiri dengan santai.
"Kamu pikir, kita bakal tertipu?" Anima tersenyum sambil memasang kuda-kuda.
Sementara di lantai dua, pria langsing yang hendak membopong tubuh Neva sudah dihajar habis-habisan oleh Izel di luar jendela. Sehingga tubuh Neva sekarang berada di pelukan Izel.
Mereka melayang-layang di udara yang sekelilingnya telah dilindungi oleh kekuatannya.
Manusia di luar batas cahaya pelindung itu tidak tahu apa yang terjadi, di mata mereka semua tampak normal. Toko tutup dan tidak ada orang sama sekali yang terlihat.
Kecuali mereka seperti Isaac yang sudah berada di dalam sebelum cahaya itu menyorot, maka manusia biasa akan bisa melihat apa yang terjadi.
Suara gaduh bahkan terperangkap di dalam lingkaran cahaya, ledakan kekuatan yang dikerahkan moon rabbit juga tidak keluar dari sana. Sungguh hebat kekuatan pelindung milik Izel, kata hati Isaac.
Isaac yang tidak bisa berbuat apa-apa karena tidak memiliki kekuatan, berlari ke luar melewati jendela. Sedangkan Anima sibuk berguling ke sana kemari di halaman depan bersama pria berambut afro itu.
__ADS_1
Izel yang melihat Isaac segera turun. "Pasti sebentar lagi Ernando akan kemari, karena anak buahnya nggak kunjung datang."
Kedua kubu ternyata punya rencana masing-masing. Mundur ke waktu di mana Eranda duduk di kafe bersama Ernando, rupanya ada alat penyadap suara yang terpasang di bawah meja mereka.
Segala percakapan didengar oleh mereka yang duduk bersembunyi di belakang kafe, Isaac dan Anima. Setelah mengetahui itu, Anima menghubungi Izel untuk berjaga-jaga lalu mereka pun kembali ke toko.
Noah sendiri kena tipu Isaac begitu tiba di toko. Isaac berkata bahwa dirinya tidak enak badan dan akan menutup toko begitu Noah pergi mengajar batch pertama. Ia tahu mengajar hari itu akan lebih lama karena banyak anak-anak yang susah diatur.
"Lalu, Yang Mulia Izel akan memenjarakan Ernando di Blue Moon? Bagaimana dengan anggota kelompoknya?"
Izel menghela napas. "Tentu anggota kelompoknya juga, entah berapa banyak itu. Aku juga sedang menunggu bantuan lain sebanyak mungkin."
"Yang Mulia, apa benar kekuatan Neva dan Ernando akan berhasil membuka gerbang dimensi itu di dunia?"
"Setahuku agak mustahil. Manusia setengah moon rabbit nggak sekuat kami yang seutuhnya."
Isaac mengangguk saja. Kaus putihnya berbaur dengan cahaya di sana. Jari-jarinya yang menonjol keluar dari saku celana berubah menjadi dingin. Ia tidak bisa menyingkirkan rencana lanjutan yang diingatkan Izel barusan. Rencana yang dirancang untuk Isaac sementara yang lain bertempur nantinya.
Tak lama kemudian, datanglah dua moon rabbit dari langit menembus cahaya lalu mendekati Izel. Ilhuima dan Nochli. Mereka membungkuk hormat selagi melirik ke arah Isaac.
Belum saja berkenalan, Ernando dan Eranda bersama tiga sosok lain telah masuk ke dalam cahaya di atas langit.
Dengan cepat Izel menjentikkan jemari. Sorot cahaya yang awalnya lurus dari langit, perlahan berubah bentuk menjadi ruangan persegi panjang. Kemudian, mengangkat seluruh makhluk yang berada di dalamnya ke langit.
Ditambah kekuatan dinding Nochli, maka cahaya pelindung itu berubah menjadi dinding putih sekeras fiber glass yang sulit pecah.
Terlihat dua anak buah Ernando sudah terkapar dan terjebak di dalam kubus buatan Anima. Ernando tiba-tiba berteriak keras karena kesal.
Kesal dua anak buahnya gagal dan kesal karena tidak bisa memanggil anggota kelompok lainnya untuk membantu. Terlambat.
"Bagaimana kalian bisa tahu semua ini?" seru Ernando.
"Itu nggak penting. Yang paling penting adalah serahkan dirimua baik-baik dan lepaskan Neva," ucap Izel, menyerahkan Neva pada Isaac yang duduk di belakang Ilhuima dan Nochli.
Neva sendiri berada di dalam gelembung pelindung buatan Izel dan melayang-layang.
Ernando tertawa meremehkan. "Menyerahkan diri? Kalian ini siapa, sih? Polisi?"
"Kami ini seutuhnya moon rabbit, bukan sepertimu yang hanya setengah keturunan kami," jawab lantang Nochli.
"Oh, jadi aku dan saudaraku serta kelompokku itu disebut setengah keturunan kalian, ya? Aku baru tahu sekarang."
Perempuan berambut pirang kemerahan tanpa aba-aba menukik ke arah Ilhuima. Namun, Anima dengan cepat memukul wajah perempuan itu sampai menabrak dinding pelindung.
Karena ulah satu orang, maka semua sumbu mulai terpancing untuk saling berkelahi. Termasuk Ernando dengan Izel. Eranda justru bingung, tak tahu harus melakukan apa.
Isaac sendiri makin duduk di pojokkan ruangan putih itu sambil menjaga Neva. Ia sedang menunggu momen dari pertarungan Izel dan Ernando.
Tak diduga, Eranda berlari cepat ke arah Isaac seperti ingin menyerang. Hal itu semata-mata dilakukan untuk meningkatkan kepercayaan Ernando atas dirinya.
Isaac sigap berdiri, menutupi gelembung yang melindungi Neva. Makin mendekat, ia merasa bahwa Eranda akan benar-benar menyerangnya.
__ADS_1
Apa Eranda sudah berubah haluan?