THE MOON: Isaac Adventure

THE MOON: Isaac Adventure
Neva kembali


__ADS_3

"Sah, bangun!"


Isaac mengerjap perlahan, mengusap kedua mata yang lembab. Sayup-sayup suara itu terdengar tidak asing, sedikit cempreng kalau berseru.


Saat kesadaran sepenuhnya mengambil penglihatan, Isaac terperanjat begitu tahu siapa yang ada di hadapannya.


"Neva?"


"Hm, ini aku!"


Isaac mengusap kedua mata, terbangun dalam keadaan basah sambil terbatuk-batuk. "Nggak mungkin, mimpi lagi pasti!"


Karena tidak percaya, Isaac menampar pipinya berulang kali sampai terasa nyeri. Neva yang ada di hadapannya berusaha menghentikan, tapi Isaac tidak mau. Tamparan keenam kali, barulah Isaac mengaduh keras.


"Kamu kenapa, sih? Ini beneran aku." Neva meraih tangan Isaac lalu diarahkan ke arah pipinya.


Rasa hangat yang mengalir seakan memompa jantung Isaac sampai mengembang, kemudian meledak ketika ditekan. Ia spontan memeluk Neva sambil tertawa.


"Beneran? Nggak bohong?"


"Kamu pikir di depanmu sekarang setan tiga dimensi?"


Isaac terus tertawa, menginterpretasikan dirinya adalah orang paling bahagia saat itu. Namun, Neva cepat-cepat menyuruhnya berdiri dan pulang. Banyak orang mengelilingi mereka akibat aksi heroik Isaac. Neva tidak nyaman.


Sebagian orang berkumpul mengucapkan terima kasih kepada Isaac, terutama remaja pria yang hampir tenggelam. Setelah selesai mereka bergegas kembali ke toko.


Langkah ke toko terasa panjang meski berjalan cepat sambil melihat wajah-wajah asing berlalu lalang. Isaac sendiri berjalan dengan menatap kosong ke depan. Terus melangkah melewati keramaian.


Isaac benar merindukan dan membutuhkan Neva, tapi kini malah hatinya bertanya-tanya.


Kok bisa tiba-tiba muncul? Nggak ada pemberitahuan sama sekali dari Blue Moon. Beneran Neva, kan?


Isaac bimbang. Sebelumnya ia senang, tapi sekarang kembali ragu. Demi memastikan benar atau tidak di hadapannya adalah sang pacar, tangannya pelan-pelan meraih milik Neva. Namun, seketika berhenti karena ia teringat sesuatu.


Kalau aku pegang nanti kekuatannya muncul. Ya, kalau dia bener-bener udah sembuh. Itu kan memakan energi. Kalau juga dia betulan Neva.


"Kamu yang menyelamatkan aku?"


"Iya, kenapa?"


"Kalau Neva nggak begitu, tapi terima kasih."


"Kamu ini aneh, memangnya aku bakal diam lihat kamu mau tenggelam? Aku ini tetap Neva tahu." Neva berdecak kesal.


Isaac menekurkan wajah. "Aku hanya takut kamu tenggelam seperti di alam bawah sadarku sebelumnya."


Langkah Neva terhenti di tengah-tengah animo masyarakat akan segala aktivitas di pantai. Gaun putih selututnya tampak berkibas ringan seperti ujung rambut Isaac. Kemudian, mereka sama-sama terpaku setelah berminggu-minggu tidak berjumpa.


"Kamu boleh merasa takut, tapi aku rasa kamu terlalu berpikir jauh. Aku dijamin aman kok." Neva mengacungkan jempol.

__ADS_1


"Jadi, kamu beneran Neva, ya?"


Neva spontan menggenggam tangan Isaac demi memberi jawaban. Isaac terkejut lalu menarik lengannya kembali. Alis Neva berkerut saat melihat respons sang pacar.


"Aku nggak mau pegangan tangan."


Neva menghela napas lalu bersedekap. "Terus gimana caranya buat membuktikan?"


Isaac berdeham dan memberi instruksi harus menjawab pertanyaannya. Kalau benar semua maka dipastikan Neva yang asli. Neva pun mengangguk walau yang dilakukan Isaac agak konyol. Apa wujud Neva sekarang tampak berbeda?


Tanpa ragu Isaac mulai bertanya seperti di mana letak toko Mesh, siapa nama kakak dan ayahnya, apa makanan favoritnya. Semua pertanyaan sederhana tersebut dijawab dengan benar oleh Neva, sehingga membuat Isaac memeluk erat sang pacar. Memutar tubuh yang menggendong Neva dengan kuat.


Isaac seolah jatuh dari langit saking senangnya. Sudah lama waktu yang dihabiskannya untuk menunggu dan berharap. Seperti berjalan sampai ribuan mil selagi berharap Neva akan segera kembali. Nyatanya, doa itu dikabulkan secepatnya.


Setelah Isaac menurunkan Neva, barulah ia bertanya, "Kenapa nggak kasih tahu aku, sih? Tiba-tiba banget."


"Namanya juga kejutan!" seru Neva.


"Wah, sekarang main kejutan, ya?" Isaac mengacak-ngacak rambut atas Neva saking gemasnya.


Akan tetapi, yang digemasin justru merengut sambil menyisir rambutnya. "Ish, nggak usah acak-acak rambut!"


Isaac terkekeh selagi menarik lengan Neva. "Yuk, kita secepatnya ke toko! Ada banyak hal yang mau aku tanyakan sama kamu."


Neva memandang Isaac tanpa menjawab apa pun. Ia merasa aneh. Ada perbedaan pada Isaac yang dulu suka menggenggam tangannya sampai berkeringat.


"Kenapa nggak mau pegangan tangan, Sah?"


Kali ini Neva bersikeras menarik telapak tangan Isaac. Empunya kaget sampai menoleh, tapi tidak terjadi apa-apa. Neva berkata bahwa dirinya sekarang bisa mengontrol kekuatan dari telapak tangan berkat pihak kerajaan Blue Moon.


Isaac malah tersenyum. "Berarti kita bisa berpegangan tangan sepuasnya dan kamu bisa memegang tangan orang lain juga."


"Ya, nggak perlu khawatir lagi." Neva ikut tersenyum.


...•••...


Di ruang tamu tersaji es kelapa penghilang dahaga saat Neva menceritakan apa yang ia lihat di Blue Moon. Mulai dari ruang pemulihan berisi peralatan canggih, termasuk tabung penyembuhan yang digunakannya. Dekat dari ruangan tersebut, ada ruangan khusus lagi untuk mengajar beberapa orang mengendalikan kekuatan dalam waktu singkat.


Berpindah pada keadaan Blue Moon. Alam bahkan makhluk Blue Moon hampir serupa dengan Bumi dan seisinya. Namun, ada pemandangan paling menakjubkan saat pertama Neva keluar dari kastil kerajaan. Ada sebuah planet mirip Saturnus menyembul dari awan tebal yang menyelimuti langit sekitaran kastil.


Makhluk Blue Moon dengan minoritas kelinci berwujud manusia juga sangat ramah. Suasana di sana terasa damai dan sejuk seperti berada di negeri dongeng.


Isaac menatap bola mata Neva yang berdilasi ketika antusias. Ia senang mendengar celoteh panjang dari sang pacar seolah terhipnotis.


"Dengarin aku nggak, sih?" seru Neva.


Isaac malah cengengesan. "Iya, aku dengarin sampai kamu ngejar-ngejar monyet biru. Sekarang nggak nge-fans sama ikan lagi, nih?"


"Ish, mau marah nggak jadi, deh."

__ADS_1


"Jadi, kamu beneran udah sehat? Apa masih perlu bolak-balik Blue Moon?"


"Masih bolak-balik, tapi cuma sebulan sekali aja, Sah."


Di tengah ruangan itu Isaac mengangguk. Tak apa jika kembali demi kesehatan Neva. Ia akan terus mendukung sebagai pemeran pendamping. Kemudian, Neva bertanya bagaimana keadaannya setelah puas bercerita tentang Blue Moon.


Mendengar cerita yang dipadatkan Isaac, tentu perasaan Neva tercampur aduk dan membuatnya tidak nyaman. Ada rasa marah, sedih, dan terkejut menekan-nekan dada. Dengan gegas ia mengecek kondisi tubuh Isaac dengan raut khawatir.


"Aku udah gapapa, buktinya bisa berenang."


"Gapapa terus. Sekali-kali teriak atau mengeluh bahkan ngamuk gitu lho, Sah."


Isaac tersenyum. "Terima kasih dan maaf, Sayang."


Neva berhenti di tempat, di sisi kiri Isaac. Ia belum pernah mendengar Isaac berbicara dengan lirih dan mengucapkan kata 'sayang' yang terngiang-ngiang di kepalanya. Entah mengapa, jantungnya serasa diremas kuat.


"Kenapa bilang begitu?"


"Terima kasih udah mengkhawatirkan aku dan maaf kalau aku membuatmu khawatir. Aku memang selalu membuat orang-orang khawatir, tapi sekarang di hadapanmu juga. Aku jadi seperti pecundang. Padahal ingin sekali diandalkan."


Mata redup. Telapak tangan yang tak bertenaga. Perubahan Isaac di mata Neva makin jelas.


"Membuat orang khawatir itu bukan masalah, tapi orang-orang di sekitar yang sangat menyayangimu. Dan kamu memang bisa diandalkan dan punya banyak bakat kok, nggak sepertiku."


Isaac melempar tatapan nyalang saat Neva duduk di sampingnya. "Bisa-bisanya bilang begitu. Kamu orangnya sangat mandiri dan bisa segalanya."


"Meski mandiri nyatanya aku selalu mendapat bantuanmu, kan? Membuatmu khawatir juga, kan?" Neva menatap Isaac.


"Tapi berbeda denganku, Nev."


Neva yang masih menatap, mendadak menggenggam tangan Isaac. Ia berkata bahwa, "Mari kita berjuang keras bersama supaya nggak dikhawatirkan orang lain dan atas hal-hal lain."


Kemudian, pandangan mereka tertuju ke arah pantai karena ramai. Rupanya orang-orang berkumpul untuk melihat anak-anak penyu menetas dan berusaha merangkak mencapai lautan.


Melihat keindahan itu, Neva dan Isaac sadar bahwa mereka harus bekerja keras seperti anak penyu juga. Kemudian, secara bertahap mereka akan menemukan jalur yang tepat.


"Dan aku yang selalu diselamatkan juga nggak akan pernah menaiki ombak sepertimu, Sah."


Neva spontan menutup kedua mata Isaac. Empunya sendiri juga tidak menolak.


"Saat melakukan hal-hal lain, berpikirlah seperti saat kamu menaiki ombak. Kemudian, berenang jika kamu terjatuh dan aku akan jadi pelabuhan amanmu. Saat perlu istirahat, panggil aja aku kapan pun kamu mau."


Isaac segera menurunkan tangan Neva. "Berapa lama aku bisa terus mendapat bantuanmu?"


"Satu minggu, satu bulan, satu tahun, lima tahun, atau sepuluh tahun. Bahkan sampai menjadi kakek-kakek."


Mereka pun bertatapan. Sebenarnya, Isaac tidak mau berharap banyak. Namun, mendengar perkataan Neva, ia merasa harus percaya sama seperti sebelumnya.


"Apa kita ... sampai menikah?"

__ADS_1


Neva tersenyum, tidak menanggapi pertanyaan Isaac. Namun, wajah Isaac dan Neva makin mendekat sampai bayangan mereka saling tumpang tindih. Untuk pertama kalinya kedua insan itu berciuman di bawah sinar mentari menembus jendela.


__ADS_2