
Isaac tergopoh-gopoh saat di bibir pantai, sekitar sepuluh menit lagi menuju pukul sembilan. Begitu ia memasuki area penginapan, rupanya dari kejauhan tampak wajah mungil Neva yang duduk di selasar.
Dalam suasana ramai orang-orang di pinggir pantai, Isaac menghela napas. Hampir saja ia melewatkan janji temu dengan Neva karena pekerjaan. Kalau benar-benar tidak ingat, Neva bisa cemberut seharian atau tidak ingin bertemu dengannya.
Isaac antusias melihat Neva dengan senyum cerah dan segera mendekat. Namun, ada sosok pria lain datang dengan penampilan kasual nan menawan. Jeans dongker dipadukan dengan kaos polo abu-abu membuatnya curiga.
Itu, kan … cowok yang waktu itu ketemu di restoran? Mau ngapain lagi?
Arena berbunga yang sudah ditunggu-tunggu Isaac dalam sekejap menjadi arena rivalitas. Bagaimana bisa Neva dekat pria lain yang tidak diketahuinya? Dengan berani dan penuh kekesalan, Isaac nekat menghampiri Neva dan pria tersebut.
“Hai, Neva.”
Fokus mereka berdua otomatis pecah, Neva menatap figur Isaac di belakang pria tampan yang menoleh itu. Sementara Isaac lupa tujuan awal mendatangi Neva karena tak suka dengan pemandangan sekarang.
“Oh, ada Isah. Bikin kaget aja datang pagi-pagi.”
“Nih, aku bawa laklak sama susu melon. Kita makan sama-sama lagi, yuk.”
Neva tersenyum simpul. “Pas banget aku lapar lagi, tapi nggak bisa sekarang.”
“Oh, karena dia? Siapa, Nev? Teman baru yang waktu itu, kan?”
Setelah meletakkan bungkusan makanan di meja, Isaac segera berdiri di sisi kiri Neva. Supaya ia mudah melihat tampang pria yang berani mendekati gadisnya. Terdengar sedikit posesif, tapi Neva seperti tidak sadar dengan perlakuannya.
“Hai,” Isaac menyapa terlebih dahulu.
“Hai, kita bertemu lagi, kan?”
“Tunggu sebentar, suaramu kayaknya nggak asing deh? Pernah dengar di mana gitu.” Isaac menerka-nerka sambil bersedekap.
“Sah, bisa tinggalin kita sebentar nggak? Sebentar doang kok, please.”
Neva menatap Isaac lekat-lekat. Wajah memelas Neva yang ditatap beberapa detik itu membuat Isaac mengalah, mengangguk terpaksa, dan menjauhi mereka. Kalah telak, batin Isaac.
“Haah … kalau bukan Neva yang minta aku nggak bakalan pergi. Jangan merasa menang dan jangan berpikir aku bakal menyerah, ya,” celetuk Isaac, sambil sesekali menendang pasir karena kesal bukan main.
Sudah bertahun-tahun Isaac tidak merasakan semua ini. Perasaan suka menggebu-gebu, cemburu, selalu ingin dekat, menjadi yang terbaik, dan senantiasa melindungi. Kehidupannya datar seperti lempeng besi dingin setelah hidup jauh dari Neva.
__ADS_1
Melihat satu bahkan beberapa perempuan sepanjang tinggal di Kuta, mulai warga lokal sampai turis mancanegara, tidak ada yang membuat Isaac tertarik. Di dalam kepalanya hanya ada nama Neva.
Isaac yang awalnya bengong saja akhirnya mulai memikirkan kegiatan demi menghilangkan rasa kesal. Pagi di cuaca cerah terasa panjang baginya dan ia tak akan membuang sia-sia kesempatan itu. Isaac melakukan peregangan persis sebelum memulai selancar.
Setelah selesai melakukan peregangan, tubuh Isaac terasa panas bahkan sangat berkeringat. Ternyata memakai kemeja tipis adalah pilihan tepat karena nyaman digunakan.
Saat masih berusaha mengatur napas, ada pertanyaan besar dalam benak Isaac tentang pria tadi. Isaac yakin suara Izel yang di dalam mimpinya mirip dengan pria tersebut. Akan tetapi, pertanyaan itu lenyap setelah memandang ke arah Neva.
Mereka terlihat berdiri dan Neva akan menghampirinya. Pria tersebut berjalan ke arah lain setelah tersenyum memandang Isaac dari kejauhan. Orang itu ngapain, sih?
Isaac membuang muka, melakukan pemanasan ulang di saat para perempuan di sana memperhatikannya. Bagaimana tidak, wajah tampan keturunan chinese dan postur tubuh tinggi tegapnya sungguh menghipnotis. Namun, tidak berlaku untuk Neva.
“Ternyata tetap jadi perhatian orang-orang kamu, ya? Apalagi pakai baju pemberianku.” Neva datang sambil memanggul kantong plastik berisi makanan yang diberikan Isaac. “Kita makan di sini aja lebih enak, banyak angin.”
Neva dengan penuh semangat menarik ujung bawah kemeja Isaac. Terlihat asyik sendiri mungkin merasa bersalah. Sementara itu, ekspresi Isaac tampak datar saat menghentikan pemanasan.
“Siapa nama cowok tadi?”
“Kupikir kamu nggak tertarik, ternyata penasaran juga, ya?”
“Izel.”
Saat nama itu disebut, terasa angin berembus masuk ke pori-pori kulit Isaac. Kedua matanya terbuka lebar. Angin itu serasa mulai mengelilingi area sekitar, menandakan ada kehadiran Izel padahal tak ada di mana pun.
“Ke mana dia?” tanya Isaac dengan nada gelisah, sambil menggoyang kedua bahu Neva. Akan tetapi, bukan karena rasa penasaran.
Neva berdiri tegap, memainkan sobekan kantong. “Sudah pulang, memangnya kenapa?"
“Ya! Sudah aku duga dia adalah cowok yang sama. Ada implikasinya dengan mimpiku itu!”
“Keterlibatan?”
“Iya, cowok namanya Izel itu yang ada di dalam mimpiku dan kasih petunjuk! Mungkin petunjuk untuk memecah semua keanehan dari tanganmu sampai perputaran waktu!”
Neva sudah membuka mulut dan mengatakan ia tidak paham maksud Isaac, tapi kemudian berhenti bicara.
“Katakan siapa dia? Apa dia sama denganmu?”
__ADS_1
“Kamu terlalu memikirkan Izel, makanya terbawa mimpi. Bahkan perputaran waktu? Benar-benar nggak habis pikir aku. Itu tidak akan pernah terjadi.”
Isaac bungkam. Ini pertama kalinya ia mendengar Neva yang berdiri di hadapannya bicara seperti itu. Jadi, aku selama ini aku memang gila? Tapi, nggak mungkinlah.
“Neva, jangan-jangan kamu nggak mau cari tahu karena sudah tahu, kan? Perputaran waktu dan mimpi itu? Kamu tahu kalau Izel benar sama denganmu? Bahkan kamu menyuruhku menutup mata semalam juga ada maksudnya, kan?”
Setelah itu, Neva diam. Suasana kembali senyap. Pertanyaan Isaac datang bagai peluru datang berbondong-bondong dan Neva tak tahu bagaimana harus menjawabnya.
“Kalau kamu tahu, kenapa nggak mau kasih tahu aku saat pertama kali berbuat begitu? Kenapa malah mengalihkan saat aku berbicara tentang mimpi itu? Kenapa semuanya disembunyikan?” tanya Isaac, merasa sedang berusaha mengumpulkan kepingan *puzzle *berserakan sendirian.
“Kamu sudah tahu semuanya?” Neva angkat bicara, sambil menunduk.
Isaac merengkuh kedua lengan Neva. “Semua kejadian aneh pada diriku ini semenjak ada kamu. Apa tujuanmu sebenarnya?”
“Kalau kamu udah tahu, bilang sekarang juga.”
“Maksudmu apa?”
“Jangan menyembunyikannya lagi,” jawab Neva, sambil menunduk.
Angin pun silih berganti menembus kulit, iramanya seakan menggedor-gedor jantung. Rupanya Neva sudah tahu, tetapi berpura-pura selama mungkin. Ia merasa kecewa, dipermainkan atas perasaannya sendiri.
“Kamu mempermainkanku, tapi aku nggak bisa membuang perasaan ini juga.”
Kini titik pusat berat tubuh Isaac menjadi satu di kedua tangan, lalu kedua mata tertutup. Di lain pihak, Neva menggigiti bibir bawahnya. Keduanya sama-sama menunggu sesuatu yang seharusnya didengar dan dikatakan dari dulu.
“Neva, aku … aku suka sama kamu! Hanya itu! Aku suka! Aku nggak peduli lagi sama isi kertas, nggak peduli tentang kamu mempermainkan aku! Aku suka kamu!”
Waktu seolah berhenti. Berhasil. Dalam sekejap. Namun, Isaac masih bisa membuka mata perlahan. Akan tetapi, Neva sudah tidak ada di hadapannya bahkan orang-orang. Ia sangat bingung. Kedua tangan serasa memegang kehampaan.
Dunia hening. Senyap. Serupa dengan dunia masa lalu Isaac yang membuat hatinya getir.
Kosmos Isaac seperti tak mempunyai inti lagi. Tatapannya tiba-tiba kosong seolah tak bernyawa. Biasa Isaac akan terus bertanya dan mencari jalan keluar, kali ini ia hanya diam mematung.
Apa yang terjadi?
setelah cukup lama mematung, sebuah pusaran air di tengah laut seakan memanggil Isaac untuk mendekat. Dalam sekejap Isaac terhipnotis, tak melakukan perlawanan. Hilang sudah akalnya. Maka lenyaplah ia ke dalam lubang biru tersebut.
__ADS_1