
Tiga hari, lima hari, tujuh hari. Isaac lewati bersama Neva dengan berbagai kejutan dan kebahagiaan.
Seperti mengambil barang-barang Neva di Kota Buleleng, mampir melihat bangunan SMA, singgah di pantai Celuk Agung Anturan, bahkan pergi ke air terjun Colek Pamor.
Saat menciptakan momen itu, ada kalanya mereka melakukan hal-hal ajaib karena kekuatan Neva seperti melayang di ruang terbuka atau membuat gelembung air berisi ikan laut.
Pada pagi hari ini, mereka berselancar sampai puas. Meski kemampuan Neva belum berkembang pesat, tapi Isaac dengan senang memberi dukungan. Ombak di pantai Medewi pun turut mendukung aktivitas mereka dan orang-orang.
Siang harinya, Isaac dan Neva makan di sebuah restoran cepat saji selagi mengistirahatkan tubuh. Padahal tubuh Isaac terasa pegal-pegal saat bangun, tapi ia tidak mau membuang kesempatan manis ini.
Neva sendiri juga sering tertangkap mengusap bahu kanan entah karena apa. Isaac kerap bertanya tapi hanya dijawab tidak apa-apa.
"Habis ini ke Upside Down World Bali terus rekreasi kano, kan?" ucap Neva menggebu-gebu.
"Iya, takut banget nggak jadi aja."
"Siapa tahu berubah tempat, nggak, kan?"
Isaac berusaha menahan tawa. "Ya, ampun. Kamu kok jadi kaya anak kecil, sih?"
"Karena biasanya aku kan pergi sama anak panti aja. Sekarang bisa sama seseorang yang spesial itu tambah menyenangkan, Sah."
"Iya, kita bakal pergi ke sana kok," tutur Isaac, sambil menyisir rambut Neva ke belakang telinga.
Tak lama kemudian, pesanan mereka datang dengan wangi menggoda. Paket burger komplit dengan kentang goreng dan coke float. Aroma roti bercampur daging panggang berselimut saus dan sayuran menjerat penciuman mereka.
"Mau berlomba seperti dulu nggak? Waktu kita pulang sekolah makan di restoran cepat saji juga," celetuk Isaac.
"Hm, yang mana itu?"
Bahu Isaac beringsut lemas. "Apa memori yang itu sudah hilang?"
"Walau sudah hilang, kamu bisa katakan lagi sekarang, Sah."
"Ah, iya. Gini deh, kita berlomba gigitan siapa yang paling besar itu jadi pemenang. Untuk yang kalah harus bayarin semua makanan, gimana?"
"Oke, siapa takut!"
Isaac tersenyum asimetris, memandang Neva yang seolah mengumpulkan tekad untuk memakan semua burger tingkat dua itu. Padahal semasa remaja dulu, Isaac yang jadi pemenang dan Neva yang membayar semua makanan.
Dalam hitungan mundur dari angka tiga, keduanya membuka mulut selebar mungkin. Tak disangka, Neva melahap semua burger dalam sekali suap. Isaac yang hanya menggigit lebih dari separuhnya terperangah.
"Se-sejak kapan kamu bisa makan semuanya?" seru Isaac, selagi meletakkan sisa burger.
"Hebat, kan? Jangan kaget gitu dong. Mulutku ini gede banget kaya bagasi mobil."
Isaac mencibir sambil menatap sinis. "Nggak ada yang memuji padahal, dih."
"Berarti makananku dibayar sama kamu, Sah."
"Meski nggak kalah juga niatnya bakal bayarin, sih."
Neva justru tertawa pelan sambil berdiri. "Aku ke kamar mandi dulu, ya."
__ADS_1
Isaac mengangguk saja sambil menjumput kentang goreng. Neva berbalik perlahan membawa bayangan diri memasuki kamar mandi.
Rasa sakit di bahu Neva serasa menumpuk. Setiap kali ia bergerak, ada rasa sakit yang amat kritis.
Dirinya pun menurunkan sedikit kaus untuk melirik sebuah luka misterius yang makin retak dan melebar. Membuat sebuah lubang hitam sepanjang jari telunjuk. Ia sendiri tidak memberitahukan luka ini karena tak membuat Isaac khawatir.
Sampai di titik ini, rasanya setiap momen yang dilalui Neva hanya bisa tinggal di dalam diri Isaac sebagai kenangan. Ia pun menutup kembali luka itu lalu menekurkan wajah di depan cermin.
"Maafkan aku, Sah."
Semua tawa, semangat, dan senyuman Neva di depan Isaac hanyalah topeng. Semua hal itu dilakukan agar menutupi rupa yang sebenarnya. Ia teramat sakit dan pucat. Neva merasa bersalah tiap kali memandang wajah Isaac yang tersenyum dan menangisi dirinya.
Akan tetapi, apa yang bisa diperbuatnya selain ini?
Neva keluar memasang wajah tersenyum, seakan tidak terjadi apa-apa. Cahaya lampu yang redup menutupi wajah aslinya saat berhadapan dengan sang pacar. Bahkan saat melihat binar mata Isaac membuat dirinya amat begitu rapuh.
...•••...
"Neva, ada apa?" Isaac bertanya dengan napas memburu sambil menggendong Neva.
"Kano ... bagaimana dengan kanonya?"
"Sudah aku batalkan, tenang saja. Sekarang kita ke mobil dulu."
Ini pertama kalinya Isaac melihat Neva seperti ini. Lemas dalam pelukannya. Padahal saat berada di Upside Down World Bali tadi, Neva masih tampak enerjik sambil menarik-narik tangannya dengan ceria.
Di rekreasi kano barulah Neva terlihat pendiam sambil duduk, tatapannya sedikit sayu. Begitu dua kano merapat, Neva menyandarkan kepala dengan lemas di lengan Isaac dan hampir pingsan.
"Maaf."
Setelah sinar mentari menampakkan wajah Neva, Isaac baru melihat wajah sang pacar yang pucat. Ia yang tidak tahu apa pun terus bertanya mengapa Neva menjadi seperti ini, terus bertanya berulang kali.
Akan tetapi, Isaac tidak tahu apakah karena Neva terlalu lemah untuk mengungkapkan semua sehingga hanya berusaha menatapnya. Apa mungkin ada alasan lainnya yang membuat Neva berucap maaf berulang kali?
Begitu tiba di mobil, Neva berbaring di kursi belakang. Isaac tertangkap menatap wajahnya dengan sendu yang spontan membuatnya ingin mengusap wajah itu. Namun, tangannya meluncur lemas saat berusaha menggapai pipi Isaac.
"Neva!" Isaac menangkap tangan Neva.
"Bawa aku ke pantai, Sayang."
Tidak menjawab langsung, tapi Isaac bergegas meraih kemudi dan tancap gas ke pantai Medewi.
Sepanjang jalan yang ramai, Isaac terlihat tak bisa menahan raut gelisah. Ekor matanya mulai lembab, seolah memberi tanda bahwa sesuatu yang mengiris hati akan terjadi.
Sesampainya di pantai, Isaac tergopoh-gopoh membopong Neva menuju pinggir pantai yang sepi sesuai permintaan.
Neva duduk dengan lemas dalam dekapan Isaac, menatap lautan dan langit yang beranjak senja. Matahari seolah melukiskan tinta oranye pekat berselimut gumpalan awan untuk menemani mereka.
"Coba cerita sama aku, apa yang terjadi? Apa kamu belum sembuh sepenuhnya? Kalau belum mengapa pergi kemari?"
"Maaf."
"Jangan meminta maaf terus, katakan sekarang."
__ADS_1
"Aku meminta maaf karena merasa bersalah padamu, Sah."
Tangan yang semula memegang pipi Isaac tiba-tiba meluncur lemas. Namun, ia dengan sigap menangkapnya. Seketika langit senja berubah menjadi gelap berhias bintang-bintang, pantai disinari oleh rembulan.
Rasanya bukan lagi indah, tapi terasa menyedihkan dan hampa. Seluruh pantai ditelan kesunyian serta kegelapan.
Neva menunjukkan luka di bahunya sebelum akhirnya makin melemas di pelukan Isaac.
"Aku memang belum sembuh, tapi aku nekat menghampirimu. Di hari pertama aku mendatangimu, luka ini sudah ada dan setiap hari terus melebar. Tapi, aku nggak bisa memberitahumu."
"A-apa? Apa kamu akan hancur meninggalkan aku? Nggak, kan?" Isaac terbata-bata selagi memeluk Neva. "Jangan seperti ini. Aku nggak bisa hidup tanpamu dan kamu tahu, kan?"
Neva yang tidak menjawab apa pun hanya mendapat pelukan erat dari Isaac. Air mata Isaac pun menetes perlahan. Ia pun sedang berpikir apa yang harus dilakukannya.
"Aku ... aku harus menghubungi Anima." Isaac merogoh saku jeans-nya. "Ah, hapenya di mobil. Aku ambil dulu."
Dengan tubuh gemetar, Neva yang kini memeluk Isaac seolah tidak mengizinkannya berdiri. Getaran ketakutan di dalam hati Isaac makin tak terbendung lagi. Ini seperti pelukan perpisahan.
"Kamu ... kamu gapapa?"
"Isaac, aku ... aku sangat bahagia bertemu denganmu. Sangat bahagia. Terima kasih mau mencintaiku apa adanya."
"Aku akan terus mencintaimu dirimu yang seperti itu." Isaac merengkuh punggung Neva untuk masuk ke dalam dekapannya. "Aku nggak akan pernah meninggalkanmu lagi. Aku akan terus berada di sisimu sampai mati."
Saat Isaac mencoba melepas pelukan, ingin melihat wajah sang pacar dengan jelas, Neva tidak memberinya izin. Neva makin menguatkan pelukannya.
"Jangan ... jangan lihat aku."
Rupanya retakan dari pundak Neva telah menjalar sampai ke wajah. Asap tipis berwarna putih bercampur kebiruan mulai menguar dengan senyap pada tubuhnya.
"Maaf. Maaf kalau aku meninggalkan kenangan sedih untukmu."
"Jangan berkata seperti itu."
"Sah, aku punya satu permintaan. Setelah semua ini, aku harap kamu tetap mengarungi ombak. Laut adalah labuhanmu, yaitu aku."
Isaac menyadari sesuatu saat melihat serpihan bercampur asap mengenai tangannya. Neva akan menghilang. Sesegera mungkin setelah sang pacar sudah tak lagi bicara dalam pelukannya.
Serpihan yang begitu menyentuh kulitnya langsung menghilang membuatnya terus berpikir. Andai saja dari awal dirinya mendesak Neva, apa sang pacar masih bisa diselamatkan?
"Neva!"
Tidak peduli seberapa erat Isaac memeluk Neva, ia tidak bisa menggenggam gadisnya saat menghilang bagai asap. Isaac tidak bisa melakukan apa-apa. Yang tersisa hanya pakaian dalam dekapannya.
Di saat bersamaan, ada bulir-bulir kecil biru terang menyatu dengan pasir. Fenomena cahaya biru menghiasi garis pantai sepanjang mata memandang. Perairan dangkal juga mengalami hal yang sama.
Isaac terbelalak saat memandang semua kejadian alam saat itu. Namun, partikel kecil kebiruan dan bersinar terang di hadapannya hanyut menuju ke tengah laut.
Neva ...
Lautan yang tenang mulai mengumpulkan ritme ombak dari kejauhan. Membawa gulungan lebih besar lalu menghampiri Isaac yang mengejar cahaya biru dengan tatapan hampa.
Isaac yang tak sadar itu hanyut terbawa ombak sampai tenggelam.
__ADS_1