THE MOON: Isaac Adventure

THE MOON: Isaac Adventure
Isaac sangat bingung


__ADS_3

Tiba-tiba saja Isaac mencelang saat menatap langit-langit sebuah ruangan. Akhir-akhir ini otot mata Isaac begitu penat karena selalu terkejut akan transisi waktu ke waktu yang ia alami.


1 April 2022 tepat pukul setengah delapan pagi, terdengar kicauan burung dan ombak yang menyambut Isaac. Ia rupanya tak sia-sia menutup mata sampai bisa kembali ke masa depan.


Tanpa banyak kata, Isaac bangkit dari tempat tidur setelah menyingkirkan kain basah dari dahinya.


Isaac kemudian membongkar segala isi lemari, tapi tidak menemukan apa pun. Kemeja pantai hitam bernuansa dedaunan hijau gelap dan barang lain tidak menampakkan diri.


Isaac menjadi bingung. Hadiah yang diberikan Neva tidak ada, cincin juga tidak ada, polaroid bertuliskan 'Neva, Isaac, dan Kuta.' juga tidak ada. Semua tidak pernah ada seolah memang tidak pernah terjadi.


Apa lagi yang terjadi?


Isaac terduduk dalam jangka waktu lama karena menelaah apa yang sedang terjadi.


"Kalau gitu aku harus mendatangi dia, karena ada banyak hal yang harus dibicarakan. Kenapa semua nggak ada? Harusnya tetap ada."


Isaac meraba-raba area dada sampai ke perut, tapi ternyata tidak ada juga. Semua barang-barang penting itu menghilang.


"Nggak ada juga. Apa hilang?"


Isaac tak begitu peduli. Ia menulis kembali isi perasaannya lalu membaca berulang kali sampai terbata-batanya hilang. Sudah merasa yakin, Isaac bergegas ke kamar mandi.


Memakai sabun yang paling wangi aromanya, stroberi vanila. Mengganti segala pakaian mulai dari jeans hitam hingga kemeja putih bergaris. Rambut disisir rapi sesuai dengan jenis potongannya.


"Wadaw, rapi banget. Udah seh—”


“Diem aja, deh. Biasa suka godain.”


“Belum aja selesai.”


Noah dengan instingnya berdiri di ambang pintu kamar Isaac. Kaos dan celana pendek selutut hitam mengalihkan atensi adiknya. Tanpa bicara. Isaac malah memeluk Noah.


"Aku sayang Kakak, lho. Kurangin keponya, ya?"


Tataran ekspresi di raut Noah mulai tidak presisi. Alis kanan melejit, kedua mata menatap sinis. "Kamu bukan Isaac, kan? Ngaku deh."


Isaac lagi-lagi tak bicara. Cukup menepuk punggung Noah dua kali sebelum meninggalkan aroma fresh sparkle di tempat itu.


"Heh, tunggu! Aku belum selesai bicara!" seru Noah, mengejar Isaac.

__ADS_1


Sampai lantai bawah, tepat di dapur. Osric mencium aroma yang datang lalu menoleh. Karena sudah berumur, pria paruh baya itu berhati-hati saat berbalik.


"Mau ke mana pagi-pagi gini?"


Tidak ada jawaban ketika sang ayah bertanya. Hanya pelukan hangat yang Isaac berikan. Frekuensi rendah itu tak pernah dirasakan Osric bertahun-tahun.


"Ayah kalau sedih atau punya masalah, cerita aja, ya? Soalnya aku sayang sama Ayah."


Reaksi Osric sama dengan Noah, alis mereka mengernyit. Namun, Osric menambah balasan ucapan itu dengan tepukan punggung Isaac.


"Kamu ini ... tumben banget ngomong sayang, bikin kaget Ayah aja tahu."


"Oke, aku pergi dulu!"


"Nggak mau sarapan, nih? Kamu kan habis—"


"Nggak, Ayah. Nanti aja!" Isaac pun pergi, berlari.


Isaac berencana datang ke penginapan Neva, pagi-pagi begini sambil membawa sarapan dan minuman kesukaan perempuan itu. Akan tetapi, Noah mencegahnya pergi begitu saja dengan menarik kerah bajunya.


"Enak aja main pergi, kerjain pesanan papan tuh banyak! Udah ceria pula."


Bahu Isaac melemas. "Kak, biarin aku pergi sebentar. Nanti habis balik aku langsung kerjain, gimana? Aku punya urusan mendadak banget, Kak."


Dengan girang, bayangan Isaac pun menghilang. Padahal sang kakak belum selesai bicara karena melihat tingkah anehnya.


Di bawah terbitnya mentari jam terus berdetak. Isaac mengambil waktu terburu-buru dengan berlari kencang. Denyut waktu terus berdetak. Sidik jari yang tertinggal di memorinya tak bisa dilepaskan. Neva hanya perlu menunggu sampai Isaac menyatakan cinta.


All you have to do is stay.


Kaki Isaac yang tak beralas memijak lantai bertemperatur rendah. Suhu dingin kali ini terasa asing sampai Isaac mengedarkan pandangan. Tidak ada sosok Neva di sana. Di teras berpenghuni puluhan orang tidak ada Neva.


Isaac berinisiatif bertanya pada resepsionis, jawaban yang ia dapatkan justru mencengangkan.


"Selama seminggu ini tidak ada tamu bernama Neva dalam daftar kedatangan maupun check out, Bli."


"Cari sekali lagi, mungkin ada sistem yang nggak terbaca. Tolong,"


"Maaf, Bli. Kami sudah melakukan pengecekan sebanyak dua kali sebelumnya atas permintaan Anda."

__ADS_1


Entah harus mengeluarkan ekspresi seperti apa, ini membingungkan. Isaac hanya bisa meninggalkan kalimat, "Terima kasih," sambil berlari keluar dari sana.


Apa yang terjadi? Mengapa Neva seolah tak ada? Apa Neva sudah melarikan diri?


Isaac berlari kembali ke rumah, ingin bertanya pada sang kakak tengang Neva. Ia terus berpacu dengan waktu seolah dikejar. Ia tidak rela melalui rasa penyesalan untuk kedua kali. Ia tidak bisa membiarkan Neva pergi begitu saja. Siapa pun, bagaimana pun, atau apa pun wujud aslinya.


Hidup sambil uncang-uncang kaki di dalam kubangan salju, bertengkar di dapur hanya karena makanan, memerhatikan seisi kota dari langit malam, terbang melihat gugusan bintang, menghapal nama spesies makhluk laut, dan bergandengan tangan.


Semua itu masih jelas diingatan Isaac walau tidak masuk akal. Namun, Isaac yakin semua nyata.


Pikir Isaac, semua ini hanya akal-akalan Neva untuk balas dendam. Ia dahulu juga meninggalkan dirinya tanpa berkata apa pun.


Setelah menyatakan perasaan, Neva pergi?


Sebenarnya Isaac juga tak yakin, entah dunia mana yang harus ia percaya. Di mana dunia nyata sebenarnya? Sekarang atau yang lalu?


Meskipun begitu, Isaac tetap harus bertanya pada seseorang yang ia percaya entah di mana dunia ini berada.


"Kak Noah!" seruan Isaac membuat lautan manusia terbelah di depan toko.


"Aduh, kenapa teriak-teriak? Urusanmu udah selesai?"


"Kakak lihat Neva nggak? Kalau iya, bilang ada di mana."


"Neva? Siapa itu Neva?" suara Noah terdengar jelas dan lantang.


"Kak, kalau bercanda nggak lucu lho. Aku lagi cari Neva karena ada perlu."


Noah memandang kesedihan dari lekuk wajah adiknya lurus-lurus. "Sak, meski itu nama pelanggan, aku nggak tahu. Pasti kamu yang handle itu orang."


"Bukan, dia bukan pelanggan. Dia orang yang sudah berjasa membantu toko kita yang hampir bangkrut. Bahkan pernah makan malam di sini. Kakak sama ayah sering lihat juga," nada bicara Isaac seakan meleleh di tengah terik mentari.


"Apa katamu? Bangkrut? Toko kita amit-amit deh, jangan pernah ada di tahap itu. Jangan asal ngomong kamu."


"Lho?" Isaac memelotot.


"Kamu habis sakit empat hari kok jadi aneh?"


"Hah? Aku sakit, Kak? Nggak, deh."

__ADS_1


Noah menepuk jidatnya. "Ya ampun, kamu itu demam ditambah flu, jadinya istirahat di rumah dan nggak melayani pelanggan!"


Isaac berdiam diri kembali sambil menyimak Noah yang berkomentar dengan volume suara yang makin kecil. Ia tidak tahu apa yang harus dikatakan lagi. Ia masih belum mengerti apa yang terjadi. Hanya ada rasa kehilangan yang tertinggal.


__ADS_2