
Pukul 19.00, 29 April 2022.
Langit hari ini terlihat seperti sampul buku yang belum dibuka. Bintang bersinar lembut di beberapa tempat. Menemani dua insan yang sedang berjalan-jalan untuk menciptakan momen tidak terlupakan.
"Udah hubungi tempat kerjaan? Kamu kan menghilang lama banget."
Neva menggamit lengan Isaac untuk bersandar. "Mereka ada telepon ke nomorku nggak?"
"Ada sih yang telepon, tapi nggak ada namanya. Aku nggak berani angkat, takut keceplosan atau salah omong."
"Oh ya, padahal hapeku sama kamu, tapi kenapa nggak kepo sama isinya?"
"Kamu ini ... aku nggak bakal buka kalau belum izin. Itu kan benda pribadi dan bersifat privasi."
"Begitu, ya?"
Neva tersenyum cerah seperti matahari yang bersinar di malam hari. Isaac menguatkan genggaman tangan sambil menatap Neva.
Perasaan bahagia mulai meluap dari hati. Darah di sekujur tubuh pun bergolak. Di tengah kerumunan manusia ini mereka seolah menyatukan energi. Isaac bisa merasakannya.
Seketika saja muncul stepping stones saat Isaac melangkah. Pijakan yang biasanya ada di taman untuk mencegah kaki menginjak rumput sekarang menadah sandal mereka. Neva malah tertawa begitu wajah keterkejutan Isaac menatapnya.
Isaac terus berjalan, tapi bukan ke arah depan melainkan ke atas seperti membentuk tangga. Melewati orang-orang dengan mudahnya seolah melayang. Namun, ketika stepping stones sudah terlewati maka akan menghilang seperti asap di belakang mereka.
"Jangan dadakan dong, untung aku udah biasa," gerutu Isaac.
Neva malah tertawa. "Iya, maaf."
"Dasar. Terus gimana tadi kerjaanmu?" Isaac mencubit ujung hidung Neva sampai empunya mengaduh.
"Aku udah bilang mengundurkan diri dan bakal kirim suratnya di hari kerja. Nantinya aku mau cari kerja dekat Kuta aja."
"Bilang aja cari kerja supaya dekat aku, kan?"
Isaac dengan percaya diri berkata seperti itu, tapi Neva malah mencubit lengannya. Setelah itu mengakui bahwa Neva memang tidak ingin jauh dari dirinya. Kemudian, mereka tersenyum bersama.
"Hei, coba lihat!" Isaac menghentikan langkahnya lalu menunjuk langit.
Benda astronomi bernama bintang makin menampakkan diri. Membentuk titik-titik kecil sebagai penghias langit malam. Pemandangan itu sungguh cantik bila disaksikan lebih dekat bersama orang yang spesial.
"Masih ingat waktu mapel IPA diajarin sama guru killer?" Isaac mengajukan pertanyaan.
"Hm ... aku nggak ingat, Sah."
"Waktu itu guru melempar pertanyaan kepadamu apa itu bintang dan kamu menjawab lantang sambil mengepalkan tangan. Kamu gugup."
Neva mengangguk. "Kamu selalu ingat sampai detail kecilnya."
"Aku akan jadi penangkap dan penyimpan memorimu yang hilang, Nev."
Neva spontan menatap Isaac dengan raut getir, bukan tersenyum seperti biasa. Entah apa yang dirasakannya setelah mendengar ucapan Isaac. Langit malam yang cerah seakan membantu Isaac mengungkapkan isi hati.
__ADS_1
"Ah, iya. Maafin aku karena nggak bisa menepati janji di tanggal sembilan, ya."
"Gapapa, nggak usah minta maaf. Sekarang sampai seterusnya kan bisa jalan-jalan juga," tutur Isaac.
"Kalau begitu, apa kamu mau menangkap beberapa ombak lagi bersamaku? Ya, walau belum bisa. Lalu kita pergi ke beberapa tempat baru menghabiskan waktu."
"Tentu mau dan aku akan mengajarkanmu sampai bisa. Kita akan berjalan-jalan sebagai perayaan kesembuhanmu."
Mereka mempercepat langkah, satu demi satu stepping stones menukik turun. Begitu menyentuh trotoar, beberapa turis asing terkejut melihat mereka yang berdiri di depan tanpa tahu dari arah mana. Neva meminta maaf kemudian menarik pergi Isaac ke tempat yang sudah disepakati. Azul Beach Club.
Klub malam itu sangat sesak, bermacam-macam manusia sibuk melahap hidangan. Semua tampak gembira sambil bercengkerama.
Gaya berpakaian pun beraneka ragam, mulai dari yang nyentrik sampai paling santai. Sedangkan Neva dan Isaac termasuk ke bagian paling kalem. Berpakaian casual couple bernuansa biru pastel dipadukan dengan jeans biru dongker.
Neva yang merasa tak nyaman sedang berusaha menyingkirkan perasaan itu. Ia harus berbaur seperti manusia normal dan menganggap bahwa mereka adalah orang-orang yang ikut study tour.
Isaac merasakan perasaan Neva. Ia mempererat genggaman pada tangan bersuhu rendah sang pacar sampai menghangat. "Kita mau duduk di mana?"
"Em ... duduk dekat bar juga gapapa kok."
Kemudian, mereka memesan makanan dan minuman best seller di klub. Duduk berhadapan sambil berbincang, menikmati pemandangan malam seperti lainnya, dan tertawa bersama.
Kencan mereka kali ini baru terasa damai dibanding sebelumnya. Tanpa adanya tokoh antagonis, kekuatan-kekuatan aneh, Isaac dan Neva menikmati keromantisan sebagai pasangan.
Setelah cukup lama duduk di klub, Isaac dan Neva berpindah tempat. Seperti kencan pada umumnya, mereka berada di tempat bermain di salah satu mal dengan semangat tinggi.
Mereka berdua bermain tembak-tembakan, mobil-mobilan, bola basket, sepak bola mini, dan sekarang berada di deretan mesin capit boneka.
"Apa aku bilang, kamu itu hebat!" Neva mengacungkan dua jempol.
"Baru kelihatan satu, aku kan mau hebat dalam segala hal." Sorot mata Isaac masih menatap mesin.
"Kita bukan makhluk yang sempurna, tiap orang pasti punya kekurangan, Sayang. Tapi, ya, kita bisa berusaha aja."
Mesin capit yang membawa boneka monyet biru tiba-tiba menjatuhkan objek yang diinginkan Neva. Isaac tidak peduli karena ia lebih memedulikan kalimat terakhir yang diucapkan Neva. Sayang.
"Coba bilang sekali lagi." Isaac spontan berbalik.
"Bilang semuanya? Capek tahu."
"Nggak, kalimat terakhirnya aja kok."
Alis Neva berkerut, sedang berpikir. "Sayang?"
Isaac mendekatkan telinga ke bibir Neva, meminta ucapan itu diulang kembali padahal sebelumnya terdengar jelas.
"Kamu aja tiba-tiba ngomong sayang aku nggak begini banget lho." Neva tertawa lepas.
Isaac malah cemberut. Bahunya melemas lalu melempar tatapan kamu-ini-jahat sambil berkata, "Panggilanku nggak spesial, dong?"
"Spesial kok, aku juga kaget."
__ADS_1
Neva mengusap lembut kepala Isaac sampai sang empu tersenyum cerah. Namun, masih meminta kalimat panggilan itu diulang dari mulut Neva dengan keras. Ia malah tertawa selagi mendekatkan bibir pada telinga sang pacar.
"Sayang," bisik Neva.
"Apa? Kupingku yang budek atau suaramu kekecilan, sih? Coba ulangi yang jelas."
"Sayang, oh, sayang!"
Isaac tertawa begitu seruan Neva tak hanya menggema di telinganya, tapi juga menggema di ruangan itu. Beberapa pengunjung menoleh ke arah mereka dengan terheran.
Tentu Neva malu karena terlalu lantang sehingga ia membenamkan wajah di lengan Isaac. Memukul-mukul dada sang pacar karena kesal.
"Gapapa, supaya semua orang tahu kalau kita pacaran, kan?" Isaac mengusap kepala Neva sambil tersenyum.
"Sekalian aja pake mic di tempat informasi."
"Oke, ayo kita ke sana!"
Neva makin kesal dan langsung mencubit lengan Isaac kuat-kuat. Menghentikan kaki sang pacar serempak untuk melangkah pergi.
Tidak mungkin Neva berani melakukan hal itu, ia hanya bercanda. Namun, kenyataannya Isaac juga bercanda mengajak Neva ke tempat informasi untuk itu. Keduanya tertawa malu karena kekonyolan yang tidak pernah berubah semenjak SMA.
Karena harus berpindah tempat lagi, Isaac segera membawa sekantung tas berisi boneka dan memboyong Neva keluar dari mal. Akan tetapi, Neva berhenti di depan kedai es krim. Ia menginginkan es krim cokelat dan Isaac pun menginginkan hal yang sama.
Di kepala Isaac muncul kata demi kata yang timbul, tenggelam, lalu timbul dan tidak menghilang lagi sampai Neva menatapnya.
Manisnya.
Isaac tidak kaget berpikir demikian. Rasanya sangat wajar kalau menganggap Neva yang ada di sampingnya sangat manis. Sama wajarnya dengan es krim yang sudah berpindah ke tangan mereka.
"Eh iya, kita mau ke mana lagi habis ini? Katanya satu tujuan lagi, kan?" tanya Neva.
"Mau kamu ke mana?"
"Lho, kupikir kamu sudah punya tempat yang dituju."
"Yang terakhir belum terpikir, sih. Menyesuaikan pacarku aja sekarang." Isaac mengusap pipi Neva yang terkena es krim.
"Ih, kamu ini bikin jantungan!"
"Jantungan apanya? Tumben banget," nada suara Isaac terdengar mengejek.
Segera saja terjalin percakapan manis antara mereka berdua, begitu manisnya sampai mengalahkan es krim cokelat itu sendiri.
Sepanjang jalan penuh deru mesin dan gesekan ban, Isaac merasa semua ini tidak nyata. Orang-orang yang melintas bahkan Neva sendiri. Ia merasa berada di mimpi indah yang sangat membahagiakan dirinya.
Neva, gadis yang didambakan Isaac sekarang sudah menjadi pacarnya dengan berbagai kejutan. Sekarang ia tidak bisa mengabaikan bagaimana Neva membuatnya merasa nyaman dan dicintai.
Neva mengangkat tinggi kepalanya. Isaac merasa lebih baik bersama Neva. Rasanya ingin menghabiskan waktu selamanya bersama sang pacar. Pada akhirnya, Neva menjadi alasan Isaac untuk bangun dari tidurnya setiap pagi.
Katakan padaku, apakah aku sedang bermimpi?
__ADS_1