THE MOON: Isaac Adventure

THE MOON: Isaac Adventure
Bertemu dan jadian


__ADS_3

"Hei, kamu gapapa, kan? Aku malah jadi khawatir kalau kamu diam begitu, Sak."


"Nggak, dia cuma menghilang sebentar. Aku harus mengecek hape sekarang juga, Kak." Isaac kembali berlari, tidak mengindahkan pertanyaan Noah.


Frekuensi ritme jantung makin intens merangkak seiring langkah Isaac. Jam terus berdetak, denyut ketegangan itu tidak hilang. Terus tinggal hingga dirinya sampai di kamar berdominan putih di lantai dua.


Isaac segera mengambil ponsel, menyisir seluruh percakapan pesan, memeriksa kontak, lalu mendapati satu polaroid bertuliskan 'school really cool' di susunan rak buku.


Ia tersadar sesuatu saat meraba pergelangan tangan, misanga yang biasa ia pakai tidak ada. Di mana jatuhnya?


Isaac bergegas mencari kembali gelang tanda persahabatan mereka. Sampai ia bersusah payah menghambur kamar dan memakan waktu cukup lama. Di titik akhir, setelah membongkar semua, Isaac merasa capek sambil terduduk di lantai.


"Haah ... ada di mana gelang itu?"


Keadaan Isaac dikatakan sangat kritis. Segala emosi bermain peran dengan andal. Tangan sedikit bergetar karena ada ketakutan besar bercokol di dasar hati. Sebenarnya pertanyaaan Isaac sangat mudah, tapi tidak ada yang dapat memberi jawaban.


Apa yang sedang terjadi?


Kali ini atensi Isaac terkunci lagi pada nomor bernama Neva. Entah nomor lama atau bukan, ia mencoba menghubungi sementara mata terus memperhatikan lingkungan sekitar dengan seksama.


"Benar, dia itu ada! Bahkan setelah pergi, aku ganti hape dan nomor, nggak punya kontaknya. Ayo dong diangkat!"


"Halo? Siapa ini?" suara perempuan lembut menyapa Isaac.


"Neva, ini Isaac, temenmu semasa SMA itu. Kamu ada di mana sekarang? Kamu mau coba menghilangkan jejak selama kita berdua di Kuta?"


"Isah? Benar Isah?"


"Iya, ini aku! Ternyata kamu benar ada di sini, kan? Kenapa harus kabur lagi?"


"Isah, aku belum pernah datang ke Kuta. Aku belum pernah bertemu kamu langsung."


Andai pandangan mereka bertemu saat itu juga, Neva tidak akan bergerak karena tertahan Isaac yang membeku.


"Apa maksudmu?"


"Aku baru dalam perjalanan ke sana. Terima kasih dan maafkan aku, ya."


"Katakan sekarang kamu ada di mana?"


Sampai di situ, ekor mata Isaac mendapat wujud misanga di bawah ranjang tempat tidurnya. Namun, Neva segera mematikan telepon setelah memberitahukan di mana dirinya berada.


•••


Dengan mengenakan misanga, Isaac terus berjalan. Sepanjang jalan yang ramai akibat pelancong mencari destinasi wisata di akhir pekan, membuat tubuh Isaac menembus lautan manusia.


Terik mentari pukul sepuluh membuat peluh dari pelipis berjatuhan. Suasana seperti ini sama sekali mirip dengan perjalanan pulang sekolah, tapi dengan sinar dan panas lebih mengenaskan.


Isaac kini sedang berusaha menyusul Neva yang akan tiba dengan sebuah mobil. Di salah satu restoran Vietnam yang cukup jauh dari pantai Kuta.


Tak apa, pikir Isaac. Demi bertemu Neva dan mendapat semua kejelasan tentang apa yang ia alami.

__ADS_1


"Sudah sampai mana?"


Belum mati, panggilan itu masih siaga satu di telinga Isaac.


"Baru melewati Grandmas Plus, sebentar lagi kok."


"Hei, kalau telponan begini jadi ingat masa lalu. Waktu kamu tiba-tiba telpon karena lagi bete padahal anak-anak lain keluar jalan."


Serak-serak suara Neva seakan tak sanggup berbicara lagi. Akan tetapi, ia harus tetap mengatakannya.


"Masa? Aku nggak ingat sama sekali yang itu. Di dalam ingatanku paling jelas kita jalan-jalan ke pantai, kamu kasih cincin, dan aku kasih kamu kemeja."


"Apa itu paling bermakna?"


"Ya, sangat bermakna dan berkesan."


Setelah sama-sama tersenyum di balik ponsel, sinyal buruk membuyarkan kualitas suara. Isaac berhalo-halo sementara Neva tidak mendengar begitu jelas. Bukan hal aneh, itu sangat wajar. Namun, karena Isaac merasakan hawa panas dari dasar tubuh, semua terasa mengesalkan.


Sampai ketika suara tabrakan, gesekan ban putus-putus terdengar jelas dari ponselnya. Isaac terperanjat seolah ada ledakan dari jantung. Ia bergegas melarikan diri dari restoran, menuju tempat di mana Neva melintas. Napas bersusah-payah keluar dari celah penciuman. Denyut waktu makin berdetak tak beraturan.


Yang harus kamu lakukan adalah tetaplah tinggal untuk kedua kalinya. Sebentar lagi, kita akan bertemu.


Bergeser sepuluh meter dari Grandmas Plus, banyak orang berkerumun di area depan butik Quicksilver. Isaac panik karena barisan manusia tak terbendung mengelilingi tempat kejadian itu dan sulit ditembus. Panggilan dalam ponselnya sudah terputus otomatis semenjak suara tabrakan tersebut.


Sekali lagi, dalam perjalanan waktu tergesa-gesa, Isaac menghubungi Neva kembali. Tak ada jawaban. Sekali lagi, masih sama saja. Ia sangat khawatir.


Hal-hal itu membuat Isaac takut bersuara. Ia takut wajah penuh senyumnya berubah mendung begitu ia angkat bicara, bahkan angkat kaki dari tempat semula. Sudah kedua kali ia merasakan sakitnya kesedihan. Bahkan keempat huruf membentuk kata itu tidak bisa menggambarkan rasa kehilangan di dalam benak Isaac.


Di tengah kegelisahan ponsel Isaac bergetar dalam genggaman. Cepat-cepat ia mengangkat tanpa melihat nama. Namun, masih tak bersuara.


Kedua mata membulat, Isaac akhirnya angkat bicara. "Kamu gapapa?"


"Lihat di seberang jalan, Isah."


Isaac menurunkan benda pipih itu. "Neva ...,"


Akhirnya, Isaac bisa menguatkan diri untuk bersuara, mata jadi terasa makin panas. Di saat banyak kendaraan lalu lalang, hanya waktu yang memberi jeda untuk Isaac menatap mata berkilat-kilat itu dari kejauhan.


Ia berlari sekencang mungkin. Menubruk tubuh mungil berbalut kemeja aegean itu dengan pelukan, sehingga rambut wavy sebahu terhempas angin.


Benang merah dari gelang misanga tak lagi terbelit. Tampak jelas ia sudah menemukan rumah. Jarak benang itu pun makin tak punya ruang untuk berpisah. Hingga akhirnya terputus tepat di atas trotoar dengan sendirinya.


"Neva, aku suka sama kamu! Maaf kalau aku terlambat buat menyatakan itu semua!"


Neva tertawa keras. "Belum terlambat kok. Lagian kamu udah nyatain juga, kan?"


"Jadi, kamu ini konsepnya gimana, sih? Kamu bilang belum pernah ke sini?"


Neva menjelaskan selagi menepuk punggung pria jangkung itu. Ia melakukan perjalanan jauh ke alam bawah sadar Isaac lewat koneksi misanga mereka. Demi menemukan lokasi akurat di mana Isaac berada. Kekuatan itu bukan semata-mata datang, Neva melatihnya saat mengetahuinya dari Izel.


"Jadi, kamu ..." Isaac melepas pelukan.

__ADS_1


"Aku berjuang mencarimu selama delapan tahun. Mulai dari cara sederhana sampai menggunakan kekuatan sepenuhnya. Makasih udah meninggalkan masa lalu yang baru, dan memberi tahu lokasi di belakang polaroid. Karena aku juga suka sama kamu."


Benda yang membuat pandangan Isaac kabur, titik demi titik terjatuh pada puncak kepala Neva. Isaac menangis. Bukan karena terharu, tapi merasa bodoh. Tidak pernah mau berusaha seperti apa yang dilakukan Neva.


Neva mengusap kepala Isaac. "Maaf, ya, pasti kamu kesel sama aku karena bermain di alam bawah sadarmu."


"Jadi, semuanya hanya terjadi di dalam pikiranku? Makanya nggak ada yang berubah? Tapi, nomor telepon itu?"


"Ya, semua terjadi di pikiranmu aja. Kalau nomor itu sih, secara nggak langsung tercatat di alam bawah sadar terus kamu pindahin tanpa sadar sewaktu bangun kayanya."


Isaac mencelus, ada benarnya. "Oke, lupakan itu, ayo kita pacaran dari sekarang."


"Hah, seriusan mau pacaran sama aku? Aku ini bukan manusia seutuhnya."


"Lantas kamu apa?" Isaac mengusap kedua mata, sementara Neva merengkuh kedua pipi mantau itu.


"Aku manusia setengah moon rabbit. Mewarisi darah dari kaum Yang Mulia Izel."


"Hah? Jadi, Izel itu Raja?"


"Iya, beliau itu Raja."


Isaac membulatkan mata. "Apa aku nanti akan dikutuk karena sempat kurang ajar sama dia?"


Lantas terbahak-bahak, Neva membantah dengan gelengan lalu menggamit jemari Isaac. "Tenang, Yang Mulia Izel itu jinak kok. Nggak reog kaya kamu."


Hamparan pemandangan sibuk dikalahkan dengan akar bunga liar. Aneka corak dan warna meliuk-liuk di jalanan sesuai dengan suasana hati Neva. Tidak ada yang melihat, hanya mereka. Waktu pun kembali berputar, meninggalkan misanga yang tergeletak.


"Tapi yang ini, bukan halusinasi ternyata," celetuk Isaac.


"Bukan, kalau ini beneran nyata kok. Saat seseorang menggenggam tanganku."


"Oke, kita jadi pacaran, kan?" Isaac menatap raut Neva dari sisi kanan.


"Iya dong, masa nggak?"


Isaac menggoyang tangan bergandengan itu. "Hehe, pacarku. Akhirnya pacarku ..."


"Pacarku, pacarku. Tapi tadi ngiranya aku yang kecelakaan, kan?"


"Iyalah! Aku beneran takut banget kaya kejadian sebelumnya! Udah mau nangis kenceng tadi tuh!"


Neva tertawa, Isaac membalas dengan gerutuan. Seperti biasa. Seperti ini. Kebersamaan dua insan sedang kasmaran akan terus bermekaran.


"Terima kasih juga. Karena berkat kamu, aku jadi bisa mengungkapkan dan melakukan apa yang nggak pernah aku lakukan dulu. Ternyata waktu itu sangat penting, termasuk kamu."


"Ya, sama-sama. Tapi, kamu tahu-"


"Kenapa berhenti?"


"Ah, nggak. Bukan apa-apa kok. Kedepannya kita jangan lagi menyia-nyiakan waktu meski kesempatan bisa datang berulang kali."

__ADS_1


Neva mengalihkan ucapannya tanpa sadar. Ia membiarkan kelemahan yang dimilikinya tidak diketahui Isaac. Melupakan sebagian masa lalu. Terpenting sekarang mereka bersatu sebagai sepasang kekasih.


The clock is ticking. Your hands on mine. You're like intoxicating absinthe, Neva.


__ADS_2