
"Sekolah?"
Isaac memandang refleksi figur jangkung dengan aksen putih abu-abu dan rambut cepak pada cermin. Dirinya bingung berada di bangku Sekolah Menengah Atas delapan tahun lalu. Apa yabg terjadi?
Corak dinding putih yang sama, posisi cermin sebelah pintu kelas, bahkan satu bangku disinari cahaya polikromatik kala gorden terbang bebas akibat angin laut.
Bangku obsolet di dekat jendela itu miliknya, sama persis. Isaac mendekat dengan menurunkan tingkat kewaspadaan, lalu duduk begitu saja selagi meraba laci.
"Sebuah buku tulis?"
Begitu terbuka tepat di tengah, secarik foto polaroid bertuliskan 'school really cool' mengudara dan jatuh di lantai. Isaac hendak mengambil, nyatanya tiba-tiba ada sosok Neva dengan seragam serupa menyentuh polaroid tersebut. Isaac terkejut.
Namun, ia justru terpaku dengan sosok itu. Melupakan segala kebisingan yang datang beruntun bersama bangku bahkan anak-anak lain.
Begitu bel panjang mengalun di ruangan atap, mereka mengeluarkan teriakan terkeras, "Masukan!"
"Eh, fotonya terbang. Lain kali hati-hati kalau buka buku, Sah."
"Em ... makasih banyak."
Neva sibuk melirik ke kanan-kiri, sebelum sorot mata fokus pada Isaac. "Gimana belajarnya semalam? Ujian di jam pertama matematika loh, Sah."
Yang ditatap salah tingkah, membuang muka ke permukaan buku. "Ah, semalam aku belajar dengan tenang dan mudahan nanti bisa ngerjainnya."
Neva kembali pada bangku paling belakang dekat pintu masuk kelas setelah berucap semangat yang berbisik. Isaac sumringah sesaat dibuatnya, tapi kembali memindai ruangan.
Aku benar-benar bingung. Aku bukannya tadi tidur, ya? Aku mimpi lagi ke masa ujian pas SMA?
Terlihat guru berkumis, memakai setelan cokelat, masuk sambil membawa tumpukan kertas LJK. Membuat Isaac kembali fokus pada suasana kelas. Sirkulasi waktu yang tak menentu atau mimpi, entahlah, membawanya bernostalgia sejenak.
Dulu, ia tak percaya kata orang banyak bahwa waktu SMA adalah masa paling berwarna di kalangan remaja. Setelah duduk di tengah suasana ini lagi, barulah ia sadar bahwa kata-kata itu ada benarnya.
"Bisa dinikmati dulu meski semuanya nggak masuk akal," suara lirih Isaac terdengar lamat-lamat.
Sebaris cahaya tembus menimpa mata Isaac, selagi memandang teduh Neva. Sampai di situ, dirinya bisa menarik napas panjang, mencoba menyalurkan udara baru ke seluruh tubuh.
Ia sadar dirinya nyaris mengeliminasi manusia lain ketika melihat Neva. Hati seperti sesak entah akibat tekanan molekul atmosfer atau perasaan tak terbendung.
Hingga bel kedua, bel istirahat berkumandang, Isaac mengingat-ingat kejadian masa lalu.
Aku sama Nevaa sewaktu istirahat pasti ketemu di belakang kantor guru, lebih baik aku bawa dia ke kantin sekarang. Lagi pula ini jelas mimpi, kan? Nggak akan ada perubahan juga, kan?
Padahal ada dua individu sebayanya, remaja laki-laki dengan gaya yang sama seperti dirinya menyambangi meja Isaac. Tak diacuhkan. Ia memilih menggandeng Neva yang terheran-heran.
"Hei, bukannya kita udah punya perjanjian?"
"Sekarang itu nggak perlu, kita ke kantin habis itu makan di belakang kantor guru."
__ADS_1
Beberapa mata anak sekelas yang melihat itu memunculkan radar merah. Sinis, ketidaksukaan. Karena pasalnya, Isaac cukup populer se-angkatannya di SMA. Maka dari itu, persahabatan mereka tidak tampak di muka publik. Hanya di balik layar mereka sangat dekat.
Bahkan Isaac sampai memiliki perasaan yang baru tersadarkan sekitar setahun setelah berpisah tanpa bicara dari Neva.
"Kok kamu aneh? Tiba-tiba berubah kaya gini. Apa nggak lihat tatapan anak-anak lain?"
"Masa bodo. Jangan perhatikan mereka, cukup aku aja. Karena bagiku sendiri kamu yang terpenting saat ini."
Neva tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Namun di dalam hatinya, ada kemampuan menilai perilaku Isaac itu. Sangat tegas.
Setibanya di belakang kantor guru, setelah melalui proses kasak-kusuk dan anak-anak sepanjang kelas menuju kantin, Isaac mengembuskan napas berat.
"Kamu nggak sakit, kan? Nggak kebentur tembok, kan?"
"Emangnya aku seaneh itu, ya? Dasar."
Neva membuka bungkusan croissant selagi melirik Isaac. "Aneh. Biasanya kita juga diam-diam kok."
"Aku sadar sesuatu."
"Apa itu, Sah?"
"Kesempatan ternyata bisa mengetuk pintuku berkali-kali, tapi rasanya nggak sama dengan yang pertama. Sekarang, aku akan memanfaatkannya dengan baik," begitu kata Isaac.
Sesaat, ia mulai membayangkan tentang hal-hal menarik setelah sekian tahun berlalu dengan penyesalan.
"Terserah, Nev. Kamu ngatain aku mengalami gejala seperti orang stres juga gapapa."
"Tuh, kan."
...•••...
Pulang sekolah, pukul satu siang. Saat bel berbunyi dan anak-anak berlarian di lorong kelas, Isaac dan Neva telah sampai di parkiran sepeda. Terletak di sebelah gedung olahraga tak jauh dari gerbang.
"Sah, kamu yakin ajak aku naik sepeda mahalmu?"
"Kita bakal jalan-jalan, lagi pula ini hari terakhir ujian, kan?"
Tampaknya, ada kecenderungan khusus menyebabkan jaringan otak Isaac membuat tubuhnya berbuat sesuka hati di masa lalu ini. Seperti mengaitkan kunci helm di kepala Neva, salah satu adegan yang tak pernah Isaac lakukan semasa dulu. Sehingga senyum di wajah Isaac tak pernah turun menatap aktivitasnya sendiri.
"Kamu pakai apa, dong?"
"Tenang aja, aku nggak bakal kenapa-kenapa kok. Dan kamu pegangan ke pinggang aku erat-erat, oke?"
Neva menduduki sadel hati-hati. "Emang kita mau ke mana?"
"Menuju tak terbatas dan melampauinya!"
__ADS_1
Hanya lima kata terlontar, di dalamnya mengandung kebulatan tekad sekeras batu karang. Menghabiskan waktu bersama-sama pujaan hati. Menjadi pemeran utama dengan berdiri di belakang orang lain. Memberi afeksi dengan aksi adalah bentuk bahasa cinta paten Isaac.
"Aaaaaah! Pelan-pelan dong!"
Isaac tak mau kalah berseru. "Pegangan yang erat pokoknya!"
"Stoooooop!"
Kedua anak remaja yang berteriak-teriak itu terus melaju, sampai mendapati papan masuk sebuah pantai yang sepi pengunjung karena terhitung masih hari kerja.
Animo dua kepala itu akhirnya menjadi satu ketika desis angin mengacaukan rambut depan mereka. Dada masih begitu sesak. Rasanya kosmos ini tiada batas seperti kata Isaac. Pikiran mereka terus berkelana ke berbagai tempat. Entah seluas apa di hadapan masing-masing.
Apakah dunia yang dilihat Neva sama luasnya denganku? pikir Isaac.
"Haah ... kita duduk-duduk dulu di pinggir pantai. Capek banget teriak."
Suara. Bukan huruf. Isaac bisa mendengar suaranya sekarang.
"Ayo." Neva tertawa nyengir seperti biasa sambil mengajaknya.
Sejak tadi, Isaac merasa dadanya siap meledak. Setiap kali menatap Neva, sesuatu di dalam dada Isaac mengembang dan menyelimuti seluruh semesta.
Ini merupakan klimaksnya.
Jatuh. Mereka jatuh bersamaan, berdampingan. Merentangkan dua tangan membentuk tanda salib. Membenamkan tubuh pada pasir putih. Perlahan-lahan, sketsa pemandangan di sekitar mereka terlihat jelas.
Perahu layar terbawa angin, karang kokoh pemecah ombak, surfers bertubuh kotak-kotak menanti waktu untuk mendayung ritme ombak.
"Mau langsung pulang habis ini?" tanya Isaac.
"Makasih banyak, Sah."
"Kok makasih tiba-tiba? Emang aku melakukan hal yang menyelamatkan dunia?"
Neva tersenyum menatap awan. "Ya, kamu menyelamatkan duniaku."
"Duniamu?"
"Ya, tadinya duniaku itu dirundung awan kelabu karena tekanan ujian. Tapi, kamu ngajak aku jalan-jalan kaya gini bikin cerah aja."
Isaac melakukan gerakan 'oke' dengan jemari seakan membuat bingkai untuk mentari teduh di atas mereka. Neva terenyuh, tapi tetap tersenyum.
"Pernah dengar kutipan dari William Osler?"
"Ahli fisika Kanada, kan? Kutipan apa itu, Nev?"
"Hal paling esensial dalam kehidupan di masa muda adalah kebahagiaan yang datang dari persahabatan."
__ADS_1
Saking kental dan beratnya intonasi di kata terakhir, pipi Isaac seolah ditampar gelombang besar. Suasana hening seketika. Ia tak terima dengan kalimat persahabatan itu.