THE MOON: Isaac Adventure

THE MOON: Isaac Adventure
Nevertheless - Kembali ke masa lalu (3)


__ADS_3

Begitu membuka mata, Isaac kembali pada tahun 2013. Ia sedang memeluk Neva di pinggir pantai dengan raut terheran-heran.


Barusan Neva di masa depan menyuruhnya menutup mata, malah yang ada kembali lagi ke sini.


Bagaimana caranya aku bisa kembali ke masa depan?


Isaac terus berpikir sampai hari beranjak senja. Perlahan-lahan memunculkan garis luar sketsa pemandangan yang belum pernah mereka saksikan. Indah. Langit bercampur oranye dan biru.


"Kita jalan-jalan yuk sampai malam, bisa nggak?" Neva tersenyum selagi memasukkan tangan ke saku jaket.


Isaac melepas pelukan sambil tergugup. "Bi-bisa aja, lagi pula masa ujian udah selesai juga. Emang kita mau ke mana?"


"Ya, jalan-jalan pokoknya. Ayo, Sah!"


Perlahan Isaac dan Neva bangkit lalu berjalan cepat, kedua tangan mereka saling bertautan. Sambil mengenang betapa bodoh dirinya terdahulu, mendengar deburan ombak setenang ini, Isaac teringat sesuatu.


"Tanganmu nggak keluar yang aneh-aneh, kan? Gapapa, kan?"


Alis Neva berkerut. "Ngomong aneh lagi."


"Maaf, hehe. Ayo kita jalan-jalan sekarang!"


Neva yang masih delapan belas tahun tersebut menjadi diam akibat melihat keanehan raut Isaac. Namun, ia sedang berpikir, mereka tak biasa bergandengan seperti ini. Apalagi namanya sahabat, bukan begini.


"Aku kira kamu bakal lari atau mengurung diri karena tiba-tiba pindah, Sah."


"Aku bukan anak kecil atau remaja lagi, aku ini sudah dewasa. Dan seharusnya sebagai pria dewasa harus berani menghadapi masalahnya sampai tuntas."


"Kamu masih delapan belas kali, sok jadi dewasa aja."


Isaac justru terkikik. Ia lupa dirinya sedang berada di masa lalu, meski usia aslinya dua puluh enam tahun. Neva bergidik ngeri selagi memukul lengan pria itu. Mereka tertawa. Reaksi spontan keduanya di atas trotoar mengisolasi dunia mereka sendiri.


Nggak usah kembali cepat-cepat deh kalau gini. Nikmatin aja dulu.


Neva membenamkan kedua tangan di saku jeans, sementara katup bibir terbuka. Ingin membicarakan sesuatu. "Apa kamu nggak sedih mau pindah?"


Isaac melirik ke arah Neva. "Sedih, tapi mau gimana lagi? Udah keputusan bulat dan aku juga nggak bakal dibolehin pisah dari mereka walau kuliah nanti pun."


"Kalau perasaan kakak atau ayahmu gimana? Apa mereka tampak baik-baik aja mau pindah?"


Langkah Isaac terhenti. Ucapan Neva ada benarnya. Selama dirinya ada di masa lalu, ia tak pernah tahu bagaimana perasaan sang ayah atau kakak. Ia terlalu fokus pada sang bunda.


"Kakak sih protes keras, tapi kalau ayah ... kenapa tiba-tiba tanya begitu?" Lidah Isaac seakan terpilin, hampir terbata dalam membalikkan pertanyaan.


"Ya, kadang sebagai anak, kita jarang memerhatikan emosi orang tua. Bisa aja mereka yang paling sedih atau kecewa, ya, kan?"


"Terima kasih, Nev."


"Heee ... kenapa lagi terima kasih?"


Isaac menggeleng, menyunggingkan senyum. Sementara kakinya kembali melangkah. Ia harus melakukan sesuatu begitu di rumah.


Setiap dalam perjalanan yang entah ke mana, langkah Isaac makin pelan. Mungkin ia sedang memikirkan ayahnya, mungkin ingin lebih lama menghabiskan waktu sambil bergandengan tangan, atau mungkin sedang mempersiapkan hati untuk mengutarakan perasaan.


Astaga! pekik Isaac dalam hati.


Tangan kiri Isaac otomatis meraba-raba area dada, karena transkrip berisi perasaannya terakhir ada di sana. Dengan gelisah, harap-harap cemas, tangan kiri bergerak asal-asalan di sekujur tubuhnya. Walau ada dua kemungkinan, terbawa atau tidak ke masa lalu.


"Ketemu!" seru Isaac, tangan tepat berada di perutnya.


"Apanya yang ketemu, sih?"


"Oh, hehe, tadi tangkap nyamuk yang ganggu pemandangan aja."


Isaac biarkan saja kertas itu bersembunyi di balik kaosnya, daripada harus ketahuan oleh Neva. Mereka melanjutkan eksplorasi ke tempat-tempat familiar di Buleleng delapan tahun lalu.


Sebenarnya, tidak ada yang spesial dari jalan-jalan ini. Seperti biasanya, di setiap hari libur selalu mencoba aneka makanan di pinggir jalan. Terutama siobak dan jukut undis yang jadi santapan andalan mereka jika benar-benar lapar.


Belanja ke minimarket untuk memborong enam es krim cokelat, serta dua susu melon. Mampir ke toko perlengkapan papan selancar dan membeli spare part yang dibutuhkan.


Untuk dibilang kencan, itu adalah hari yang sangat biasa. Namun, meskipun begitu, hanya karena Neva tertawa senang seperti anak kecil. Tidak seperti biasanya yang kadang suka protes. Isaac turut bahagia.


Seluruh tubuh terasa diselimuti gelembung sabun yang tiap disentuh selalu menghilang. Sangat ringan.


"Eh, kenapa kita ke toko oleh-oleh?"


"Udah, ikut aja. Nanti di dalam kamu bakal tahu kok, Nev."


Terlihat para pelancong hilir mudik di ambang pintu, anak kecil berlarian ke sebuah stand gelang, sementara mereka masih mengakar di titik pusat gedung. Isaac entah mencari apa dengan kepala yang tidak berhenti berputar.

__ADS_1


"Hm ... bagusnya apa, ya?"


"Beli oleh-oleh? Baju, gelang, kalung, gantungan kunci. Ada banyak." Baru hitungan satu detik, Neva menyadari sesuatu. Spontan ia menoleh ke kanan, di mana Isaac berdiri. "Oh, kamu mau beli oleh-oleh khas Buleleng buat keluargamu di sana, ya?"


"Nggak, bukan untuk keluargaku kok, tapi untuk kamu."


"Untukku?"


Sesaat, kekuatan telapak tangan Neva melemah. Bukan karena keringat yang mengalir. Hanya saja ingin melepaskan tangan Isaac.


"Kamu udah kasih cincin, buat apa belikan aku lagi? Sudah cukup kok."


Selalu aja begini, tukas Isaac dalam hati.


Dengan sorot tegas, Isaac meraih sela-sela jemari Neva untuk digenggam kembali. "Soalnya, aku merasa gelisah. Seharian ini aku terus memikirkanmu. Aku merasa cincin aja nggak cukup. Jadi, sekarang pilih aja semau kamu."


"Tapi ...,"


Isaac mengunci tangan Neva. Kini dirinya sudah menjadi tawanan Isaac untuk sore ini. Isaac justru tertawa pelan, sementara sudut pandang Neva penuh selidik di kerumunan pernak-pernik khas Bali. Mau tak mau, Neva menuruti permintaan Isaac.


"Aku beli kemeja pantai ini, ah, gapapa, kan? Tapi, sesuaikan dulu sama badanmu dong."


"Kok sesuaikan sama badanku? Buat siapa?"


"Buat ... temanku yang lain dong."


"Katanya nggak ada teman lain?"


"Tetangga, hehe."


Cengiran Neva itu membuat isi pikiran Isaac makin kusut. Tetangga?


"Nggak jelas banget, aku belikan buat kamu lho. Eh tapi, temanmu pasti cowok kalau modelnya aku."


"Gapapa, kan? Aku sudah banyak baju juga. Dan, ya, tingginya dia sama kaya kamu. Gede badannya juga."


Aroma lemon menguar dari semprotan pengharum ruangan yang menyengat makin membuat Isaac cemberut setelah perkataan Neva. Akan tetapi, tubuh tetap bergerak demi menyesuaikan ukuran karena Neva.


"Oke, kamu tunggu di sini bentar. Aku mau ke kamar mandi dulu."


"Bajunya masa dibawa? Aku aja yang pegang, Nev."


"Nggak usah, aku bentar doang kok."


Tak disangka, kemeja pantai itu dibeli Neva untuk diberikan pada Isaac. Teknik senjata rahasia Neva itu sungguh mengagumkan. Namun, Isaac tetap saja menggerutu kesal karena merasa dikerjai olehnya.


Padahal salah diri sendiri yang tidak sadar. Tingkat kepekaan Isaac sangat payah, di bawah rata-rata.


•••


Di pantai yang sama, seperti sebelumnya. Malam telah jatuh menimpa seisi kota, mereka yang sudah kekenyangan akhirnya bisa beristirahat selagi mendengar melodi karang tertampar ombak ganas.


"Ah, aku masih nggak terima diginiin!"


"Kalau nggak gitu pasti aku yang dibelikan."


"Kan aku mau beliin kamu!"


Neva membungkam mulut Isaac sampai melirik sinis padanya. "Rasain tuh tanganku bau, kan?"


Dengan segera Isaac menepuk punggung tangan Neva, memberi kode untuk dibebaskan. Sambil tertawa, Neva menyetujuinya.


Kemudian, mereka menjulurkan kaki yang berkeringat. Dibenamkan tubuh pada pasir kering yang seolah menunggu kedatangan mereka lalu memejamkan mata.


Di benak Isaac, berkelebat kilasan masa lalu yang ia pikir sudah disingkirkan. Kemudian, suara tawa. Ia tak begitu ingat ocehan apa yang dikeluarkan Neva saat terakhir kali menyelesaikan ujian sekolah hari ini.


Sudah, itu masa lalu yang buruk bagiku. Meninggalkan banyak penyesalan.


"Neva ...," Isaac meraba perut berpeluh itu. Tampaknya, tinta kertas sudah luntur akibat terlalu lama berada di sana.


"Kenapa lagi? Kalau mau ngomel aku nggak mau dengar."


"Kamu sewaktu dikasih cincin udah senang, kan?"


"Em ... yah, senang juga sih."


"Nah, bilang aja senang gitu, jangan menolak terus."


"Soalnya, baru kali ini ada orang-orang selain di panti atau orang tua angkatku yang kasih hadiah. Aku nggak enak, tapi senang juga." Ekor mata Neva membentuk bulan sabit. Dirinya tersenyum.

__ADS_1


Isaac menatapnya dengan lamat-lamat dengan perasaan yang sukar dijelaskan. Aku benar-benar jatuh cinta tanpa alasan pada dirimu. Selalu.


Di dalam kenangan baru yang Isaac ciptakan, bahkan bulan mengambang di atas sorot mata, isi kepala hanya penuh dengan Neva.


Mengapa ada banyak hal yang menarik perhatian Isaac kini?


Jika dulu ia tidak membuat kesalahan, bahkan di dalam masa lalu ini dan untuk seterusnya saat mentari terbit esok, ada harapan yang bercokol di benak Isaac. Sebuah pelukan. Isaac akan selalu memberi Neva pelukan hangat tak terlupakan.


"Neva ...,"


"Kenapa lagi?"


"Dua orang yang bersahabat apa bisa pacaran?"


Tanpa ragu, Neva menjawab lantang, "Ya, bisa aja. Kenapa nggak?"


"Oh, jadi menurutmu bisa aja gitu, ya?"


"Bisa dong. Lagi pula sahabat juga udah saling mengenal satu sama lain. Buat apa ragu?"


Di ruangan bebas udara yang penuh kekhawatiran, aroma garam pekat memudar. Dalam perasaan yang meledak-ledak, satu kategori telah ditentukan. Isi transkrip itu akan segera ia nyatakan di masa lalu ini.


"Neva, sebenarnya aku itu ...,"


Sayang sekali, getaran ponsel Isaac memutus pernyataan itu. Segeralah benda itu diangkat tinggi-tinggi. Ayah tiba-tiba?


"Halo, kenapa Ayah telpon?"


"Halo, kamu ada di mana? Kamu lagi ngambek karena mau pindah, ya? Cepat pulang."


Osric selalu saja seperti ini. Dulu Isaac adalah anak yang paling anti di telepon orang rumah saat berada di luar. Nada tinggi sering terlontar karena kesal.


Mengingat masa muda itu, mengingat ucapan Neva. Tatapan Isaac tampak getir, tampak juga ingin menangis. Ada beberapa kata yang ingin diucapkan meski hanya di balik telepon sebelum terlambat lagi.


"Perasaan Ayah gimana waktu tahu dipindahkan?"


Osric memberi jeda sedikit, sebelum akhirnya melepas napas.


"Meski Ayah kaget kamu tiba-tiba tanya begitu, Ayah akan menjawab. Sebenarnya Ayah sedih. Bukan sedih karena harus berpisah dengan tempat tinggal dan teman-teman di sini, tapi sedih karena nggak bisa berbuat apa-apa. Hal-hal seperti itu kadang menjadi beban dihati Ayah, merasa bersalah membuat kalian harus terus berpindah tiga tahun sekali."


"Aku sayang Ayah."


"Heh? Kamu ini kenapa? Biasanya kalau Ayah telpon suka ngomel balik. Sekarang kenapa?"


"Aku sadar, aku belum pernah mengucapkan itu bahkan sampai aku dewasa. Jadi, maaf sudah jadi anak menyusahkan dan terima kasih masih mau merawat aku. Aku sayang Ayah."


Makin meninggi, Osric mencak-mencak di balik panggilan itu, "Kenapa kaya jadi salam perpisahan? Cepat pulang atau Ayah kunci dari dalam!"


"Ayah...," kata Isaac. Nadanya terdengar lebih hangat dan lembut dari biasanya.


"Kenapa panggil-panggil?"


"Aku cuma mau bilang, karena adanya kesempatan kedua ini dan nggak tahu kapan aku kembali ke masa depan. Jangan jual toko selancar punya kakek dalam keadaan apa pun, bahkan di masa depan juga jangan. Kita pasti bakal melewati semua kesulitan itu kok."


"Kata Noah benar, kamu kayanya habis nabrak karang pas selancar, kan? Jawab yang jujur, ada yang sakit di kepalamu, kan?"


Isaac belum berkata apa-apa, tubuhnya makin kuat mengakar pada pasir pantai. Kenapa perasaan tumpah ruah tak karuan berada dalam satu wadah masa lalu ini? Kenapa?


Padahal baru saja merasa bahagia, perasaan Isaac kembali turun menjadi getir.


Banyak hal yang ternyata tak pernah diungkapkan, lalu jadi buah penyesalan yang dipetik kemudian hari.


Andai tidak ada kesempatan kedua seperti perputaran waktu mundur dan kembali ke masa lalu, Isaac akan menjadi individu yang terus terbenam dalam tumpukan penyesalan.


"Aku gapapa, Ayah. Sampaikan sama Kak Noah juga, aku sayang sama dia."


Isaac mematikan panggilan. Memejamkan mata. Membiarkan nuansa mineral menembus pori-pori ke seluruh indera di tubuh.


"Neva, aku belum selesai bicara yang ta---"


Isaac berbalik, tapi tidak ada siapapun di sana. Kosong. Ia terperanjat begitu saja tak percaya. Di sisi kanan maupun kiri, hanya hamparan partikel putih terlihat. Ke mana perginya Neva?


"Aku harus melakukan apa?"


Isaac panik, berlarian ke sana kemari. Mencoba mencari siapa pun, tapi benar-benar tidak ada. Binatang kecil, burung-burung, hewan laut juga tidak ada.


Napasnya jadi tersengal saat berhenri di pesisir pantai. Deburan ombak dan angin saja yang mengisi kekosongan masa lalu. Isaac melungsur lemas.


"Sebenarnya ada apa ini?" Isaac berteriak ke arah lautan.

__ADS_1


Pada sekon berikutnya, Isaac menutup wajah dengan kedua tangan dengan harapan bisa kembali ke masa depan. "Ayolah, bekerja! Ayo, ayo!"


Isaac sempat melirik dari balik tangan, masih ada di tempat yang sama. Karena itu ia jadi kesal, memukuli air laut yang membasahi celananya. "Kembalikan aku!"


__ADS_2