
"Sak, bangun!"
Isaac mengerjap perlahan, mengusap kedua mata yang lembab. Sayup-sayup suara itu terdengar tidak asing, sedikit mengintimidasi kalau berseru. Suara ini...
Saat mata terbuka sepenuhnya, Isaac memandang Noah dengan wajah khawatir. Melihat langit-langit sebuah ruangan yang tidak asing, memandang sebuah lampu menyorot wajahnya. Isaac merasakan sakit di bagian lengan dan kaki.
Konsentrasi. Isaac berusaha memusatkan pikiran, menelaah sekitarnya. Langit di luaran sudah berubah gelap, aktivitas pantai mulai berkurang, di dalam ruangan itu hanya ada mereka berdua.
"Kakak, aku ada di—"
"Kamu ada di kamar sekarang, kalau kamu cedera parah bakal berada di rumah sakit!"
Pria itu spontan terbangun tanpa memedulikan rasa sakit. Banyak kompres berjatuhan saat Isaac terduduk di ranjang, rupanya lengan sebelah kirinya memerah bengkak dan banyak luka lecet. Ketika memandang kaki terdapat luka yang sama.
"Kenapa hanya saat berselancar aja kamu nggak perlu dikhawatirkan, sih? Kalau di luar pasti cerobohnya minta ampun," omel Noah, sambil menempelkan kompres lagi pada lengan Isaac.
"Ya, maaf."
"Kalau mau ngapa-ngapain tuh jangan bengong, tingkatkan kewaspadaan."
Noah kembali mengomel seperti rumus matematika yang menjengkelkan, tangan sibuk menempelkan kompres ke lengannya.
Isaac tetap mendengarkan dengan baik, tapi ia merasa sesuatu menerobos sebagian ingatannya. Seketika dirinya mengedarkan pandangan mencari koper biru milik Neva.
Oh, kopernya gapapa dan di bawa pulang.
Koper itu berdiri tegap di belakang pintu kamar seolah menatapnya. Isaac pun kembali menidurkan tubuh dengan tenang membelakangi Noah, tapi sang kakak kalang kabut begitu kompres lucut satu per satu.
Walau ada aroma kroket udang ditambah segelas teh hangat di atas nakas, ia bersikeras menatap jendela yang seolah menampilkan film dokumenter tentang rasi bintang.
"Bagaimana aku bisa berada di rumah? Aku pingsan berapa lama?"
"Ada pelanggan toko yang melihatmu dan langsung menelepon Kakak. Kalau masalah pingsan kurang tahu berapa lama, tapi sangat lama. Sekarang aja udah jam setengah delapan."
"Ah, gitu," jawab Isaac pelan. Suaranya terdengar jauh lebih lirih daripada dengung kipas angin di kamar itu.
Noah meletakkan tangannya di bahu Isaac yang tampak gelisah. "Kamu makan dulu terus istirahat, besok nggak usah bantuin di toko. Ayah besok bakal pulang kok."
Ucapan Noah langsung disambut anggukan kecil Isaac. Walau tidak terlihat oleh Noah, kelopak mata Isaac sedikit menutup seperti tirai yang belum terangkat. Ia sepertinya mencoba menahan rasa nyeri di lengan atau perasaan lain.
Kenapa aku nggak ingat apa-apa, ya? Tumben banget aku pingsan selama itu padahal lukaku nggak parah.
Isaac bangkit dari ranjang dan segera mengambil hoodie, ponsel, dan kartu nama di nakas. Kemudian, berjalan pincang sambil merintih. Suara itu terdengar sampai di telinga Noah, sampai dirinya meninggalkan beberapa papan kayu di workshop.
"Mau ke mana lagi kamu?"
__ADS_1
"Cuma mau cari angin," jawab Isaac, kemudian berlalu tanpa menoleh pada sang kakak.
Pada malam itu, Isaac berjalan dalam kesendirian. Jejak sandal Birkenstock terukir pada pasir entah sudah sebanyak apa.
Tampak awan cirrostratus tipis yang tinggi di langit berbintang. Awan yang dapat menyebabkan halo di sekitar bulan, awan yang menunjukkan datangnya arus udara hangat dan hujan.
Isaac tak peduli, justru mencoba berlari dengan kaki pincangnya dan terhuyung-huyung. Tubuhnya yang jangkung melebur dalam kegelapan, ditelan begitu saja oleh suara deburan ombak besar.
Perasaan ini susah sekali disingkirkan. Aku harus berbuat apa lagi?
Sampailah di pesisir pantai, tempat di mana dirinya dan sang kakak berselancar atau melatih beberapa orang. Isaac menatap lautan yang tampak mengamuk entah karena apa lalu memejamkan mata.
Senandung angin dan deru ombak menjadi satu di pendengarannya. Ada sensasi tenang dan nyaman menyelimuti. Seolah laut adalah seseorang yang bisa melindunginya.
Isaac mengingat saat dirinya masih berusia 12 tahun, di mana ia lebih menyukai ensiklopedia di banding cerita fiksi. Terlebih pada laut dan seisinya. Lalu, pada SMA Isaac suka membagikan informasi itu pada Neva yang mendengar dengan antusias. Gadis itu terus mengangguk.
Laut mempengaruhi iklim bumi dan memiliki peran penting dalam siklus air, siklus karbon, dan siklus nitrogen.
Laut juga merupakan unsur penting bagi aktivitas perdagangan, transportasi, dan industri manusia serta sebagai sumber tenaga pembangkit listrik.
Laut juga menjadi tempat kegiatan para manusia di waktu luang seperti berenang, menyelam, selancar, dan berlayar.
Tiba-tiba, Isaac membuka mata. Ada keterkejutan ketika mengingat masa lalu. Setelah Isaac menjelaskan apa itu laut, Neva berkomentar menurut pandangannya.
Tetapi, di sisi lain, laut juga dapat menjadi sumber ancaman bencana seperti tsunami dan siklon tropis.
Isaac saat itu mengangguk, mengakui sudut pandang Neva ada benarnya. Ia merasa senang bisa berbagi sekaligus kagum.
Mereka sama-sama pintar di akademik. Namun, mereka tidak pernah bersaing meski sekelas. Terkadang Neva peringkat ketiga, Isaac berada di peringkat kedua, atau bisa sebaliknya.
Kenangan-kenangan itu sekarang rasanya larut bersama air yang diseret kembali ke tengah laut.
Isaac berbalik, ingin menuju suatu tempat setelah merasa tenang di pesisir, selagi mengeluarkan ponsel dan kartu nama.
Tercetak jelas nama Anima dalam kartu putih berkilat-kilat di bawah sinar bulan. Tidak ada ornamen apa pun menghiasi setelah tatapan mata Isaac tertuju pada nomor telepon yang tertera.
Apa benar bisa menelepon di tempat yang sangat jauh begini? Bumi dan Blue Moon.
Meski tak yakin, Isaac seperti biasa akan berusaha dulu. Kalau tidak dicoba maka tidak akan tahu hasilnya. Setelah menekan tombol hijau, rupanya panggilan itu tersambung. Ditunggunya semenit belum diangkat, ditunggu sampai terputus lalu dicoba lagi sampai semenit.
"Halo?"
Isaac spontan tersenyum. "Halo, Kak Anima? Ini aku Isaac pacarnya Neva. Kabarnya Neva sekarang bagaimana?"
"Ah, Isaac. Aku masih ingat kok. Neva sekarang masih berada di tabung penyembuhan, tapi belum sadar. Detak jantung masih ada dan ada gangguan sedikit dengan aliran energi yang terpusat di dahinya. Kadang energi itu terdeteksi kuat seperti sekarang, kadang melemah."
__ADS_1
"Begitu rupanya. Meski belum sadar, aku senang bisa mendengar kabarnya. Terima kasih banyak, Kak."
"My pleasure. Kamu bisa menghubungiku kapan saja."
"Ya, terima kasih," Isaac sedikit gagu untuk mengutarakan sesuatu dari mulutnya, "Kak, apa bisa melakukan video call lewat aplikasi apa gitu?"
Anima mendengung cukup lama, lalu menjawab, "Bukannya nggak bisa atau nggak mau, tapi dari pihak perlindungan badan riset dan teknologi di sini nggak mengizinkannya. Maaf, ya."
Isaac kecewa, tapi berusaha menyembunyikannya dengan nada suara yang ceria. "Ya, gapapa, Kak."
Setelah itu mereka berbincang ringan sebelum mengakhiri panggilan. Isaac kembali berjalan sambil menatap layar kunci ponselnya, terpampang foto mereka berdua memakai rash guard hitam di depan toko. See you soon, kata hati Isaac.
Angin makin bertiup kencang, sepertinya akan turun hujan. Awan mulai menutupi rembulan, semakin menambah gelapnya suasana pantai Kuta.
"Sudah sampai."
Isaac berdiri di depan lubang bekas ulah Ernando. Masih belum diuruk oleh pihak berwenang entah kenapa. Ia terus menatap ke sana sambil mendekat. Lubang tersebut cukup dalam seperti pemikirannya.
Manusia diturunkan ke bumi sebagai pemimpin peradaban, tapi lambat laun menyebabkan kerusakan pada alam.
Jika ditambah manusia yang memiliki kekuatan bagaimana? Apalagi ada yang menyerupai Ernando nantinya dengan berbagai rencana gila, akan jadi apa alam ini? Sosok seperti Neva akan terus menjadi korban selain alam.
Pemikiran kritis Isaac itu yang malah merubah dirinya untuk menjadi manusia yang lebih bijak. Lebih ramah kepada lingkungan, bukan lingkungan yang harus ramah kepadanya. Ia hanya ingin hidup dengan kondisi alam yang tetap sama bersama Neva.
Seketika angin kencang menyapu permukaan pasir, mendorong tubuh Isaac sampai tersungkur ke dalam lubang tersebut. Entah kenapa tubuhnya terasa ringan begitu angin menembus dirinya.
Isaac mengaduh sambil memegang lengan. Sesaat, ia menengadah selagi melihat rembulan tertutup awan. Suasana begitu sepi dari orang-orang, Isaac menutup matanya alih-alih meronta ingin keluar.
Sayup-sayup angin mendominasi sekeliling. Dalam sebuah ruangan gelap di pikiran Isaac tampak kelereng biru berorientasi dalam orbitnya. Bumi. Dari berbagai bentukannya yaitu samudra, lapisan es, dan awan.
Setelah melihat bumi melewati pusat pikiran, ia bisa merasakan kehadiran Neva. Isaac tahu itu mustahil, tapi ingin terus percaya. Neva akan kembali.
Semoga nggak ada Ernando kedua dan Neva kembali dalam keadaan sehat.
...•••...
Glosarium:
Awan cirrostratus: Biasanya, awan ini sangat luas ukurannya dan sulit untuk diidentifikasi karena terlalu tipis. Menandakan akan datang hujan saat terjadi cuaca panas. (ruangguru.com)
Halo: fenomena optis berupa lingkaran cahaya di sekitar matahari dan bulan, dan kadang-kadang pada sumber cahaya lain seperti lampu penerangan jalan. (kompas.com)
__ADS_1