THE MOON: Isaac Adventure

THE MOON: Isaac Adventure
Kejadian aneh keenam


__ADS_3

"Pinggang? Pinggangmu apaan? Berdiri cepat!"


Isaac mengerjapkan mata dengan cepat, kalkulasi spontan sedang memproses suara lantang itu. Kenapa jadi suara Kak Noah yang marah-marah? Kok bukan Neva?


"Masa jatuh di atas pasir teriak segitunya sampai ngeluh pinggang segala, sih?"


"Hah, jatuh di atas pasir?" Isaac mengibas rash guard hitam kesayangannya selagi berdiri.


"Emang kamu ngerasa jatuh di mana? Di lantai kayu?"


Aksi bersedekap lalu bola mata bergulir seperti menyebarkan laser, Isaac lakukan demi memahami situasi. Ia sangat bingung. Sebelumnya ia berada di dalam toko, bukan di pinggir pantai.


"Ternyata, kalau aku dalam situasi bahaya, waktunya bakal mundur lagi?"


"Ini anak, dari semalam ngomongnya ngelantur mulu. Ada apa, sih?"


"Sekarang tanggal 30 Maret, kan?"


"Iyalah, kamu pikir tanggal berapa?"


Isaac menggaruk tengkuk, kemudian menghela napas panjang. "Benar, aku mundur kembali. Kalau nggak salah aku harus ... astaga!"


Suara langkah Isaac tidak beraturan, bagai kerang terbenam pasir yang senyap dalam keramaian publik. Isaac berlarian sendiri, tergopoh-gopoh. Noah tidak menghentikan itu karena ada keanehan yang membuatnya merinding sejak tadi.


Astaga, setiap aku yang hampir mati pasti ada Neva ikut andil di dalamnya! Aku harus mencegah hal-hal itu terulang kembali!


Praduga Isaac ternyata benar. Di tengah momentum genting, Neva yang sudah memijak anak tangga harus terkejut akibat ulahnya. Ia membopong tubuh perempuan itu ala bridal style tanpa ragu.


"Hei, kamu ngapain, sih?!"


"Kamu itu kalau jalan lihat dulu, di sini ada lantai yang licin karena ada air tumpah." Isaac melewati pelan-pelan cipratan air bening selagi menunjuk dengan dagunya.


"Ya, nggak usah gendong aku kaya gini. Tinggal kasih tahu aja ada air, kan?"


"Kalau aku mau kaya gini, gimana?"


Atmosfer pagi musim panas di bawah atap saat itu bertemperatur rendah. Setiap langkah kaki di sana akan terdengar jelas ke seluruh penjuru karena tidak ada objek penghalang. Mereka saling memantulkan raut wajah teduh di masing-masing bola mata.


"Ya, ya ... cepetan bawa ke lantai dua, jangan bengong," gerutu Neva akhirnya membawa Isaac tergerak ke lantai dua.


Aneh, mereka berdua merasa gugup. Semuanya membisu.


"Kamu ngapain ke atas sini?" tanya Isaac, lima detik kemudian.


"Kepo!" seru Neva, dibalas decihan Isaac.


Tingkat defensif Neva anjlok begitu menatap wajah Isaac dari dekat, sampai mengajak suasana hati untuk lebih tenang. Di antara helai rambut Isaac, tampak sarang laba-laba yang malah membuat rasa gugup surut.


Neva langsung tertawa. "Coba kemarikan kepalamu, Sah."


"Kenapa? Memangnya ada apa?"


Pria berpostur 178 senti itu otomatis menunduk, menyesuaikan gapaian Neva yang berbeda sepuluh senti darinya. Padahal Neva sedang digendong, bukan berdiri. Isaac masih saja membawa kebiasaannya saat masih SMA.


Sukar dijelaskan, stimulus dari ujung jemari lentik Neva yang menyeka helai-helai kehitamannya menebarkan sensasi berbunga-bunga. Kemudian, bermain-main di area jantung Isaac. Perasaan seratus delapan puluh derajat terasa sangat berbeda, tidak seperti semasa dua tahun awal SMA.


"Jadi ... sudah selesai?"


Neva tertawa lagi sambil mengiyakan. Lalu menutup pembicaraan dengan menjawab pertanyaan Isaac sebelumnya. Ia naik ke lantai dua karena ingin mengambil barang keperluan toko, yang langsung dibalas usapan lembut di kepala dari Isaac saat menurunkan Neva.


"Oh gitu, mau dibantuin nggak?"


"Nggak usah, dikit aja kok. Mending kamu balik lagi sama kak Noah. Kayanya aku dengar dia teriak-teriak di depan."


"Oh, aku ke sini cuma ambil kacamata selam terus balik lagi kok. Tenang aja."


Padahal hanya alasan doang.


Setelah itu, dengan solid mereka berdua mengucapkan, "Semangat, ya," katanya yang langsung dilanjutkan dengan kalimat lain dari Neva. "Jangan sampai kena sarang laba-laba lagi, ya. Terlalu tinggi sih orangnya."

__ADS_1


Mereka membubarkan diri setelah tertawa lagi dan menempatkan tujuan masing-masing di kepala.


Melewati jam makan siang bergilir, menangani pelanggan dengan ramah, jam terbang tiada batas di lautan, dan mengunggah beberapa momen di akun media sosial. Potensi omset meroket dari prediksi sementara datang dari Isaac. Noah jadi berpikir mungkin ada benarnya kalau berpikiran optimis dari sekarang.


Sampai tiba di pukul tujuh malam, susunan piring keramik berisi aroma kental minyak dan bumbu, meresap ke dalam indera penciuman. Membelai hidung siapa saja yang sudah kelaparan.


"Wah, hari ini lumayan banget berkat kerja sama Neva. Dia sampai sibuk foto pelanggan terus dijadikan testi gitu."


Isaac berkomentar, "Ya, harusnya dari dulu kita aktif di sosmed."


"Oh iya, website yang kamu pesan tadi siang gimana?" Neva aktif bertanya setelah energi terisi penuh.


"Besok orangnya bakal datang ke sini, sekalian mengajari kita semua."


Noah berjengit. "Orang? Pesan? Kamu pakai uang siapa, Sak?"


"Pakai uangku sendiri untuk minta buatkan dan desainkan website. Biar toko kita makin laris manis nggak hanya di sosmed."


"Aduh, kenapa aku jadi ngerasa makin gaptek, ya? Apa karena lebih sering terjun ke lapangan dibanding pegang gadget?"


"Gaptek ajalah, nggak usah pakai dalih lagi, Kak."


Osric merapatkan sudut mata. Isyarat senyum yang paling sejuk di mata Neva. "Maaf, ya, mereka selalu aja begini padahal udah gede."


Neva tertawa pelan. "Gapapa, Pak. Justru kaya begini bikin keadaan rumah selalu ramai."


Noah dan Isaac kompak menoleh. Eksistensi Neva sekejap masuk dalam pusaran kosmos mereka. Kemudian, Noah kembali menggoda Isaac sambil berpura-pura batuk.


"Kenapa?"


Isaac mendahului Noah dengan antusiasme jawaban, "Ah, nggak usah dengar batuknya Kakak. Aku sih cuma mau bilang, anggap aja ini rumahmu sendiri."


"Ah, kirain apaan. Ya, aku menganggapnya begitu juga kok."


"Kalian pacaran, ya? Udah berapa lama?"


"Ng ... gak." Isaac menjawab sambil memutar sendok dengan perlahan sementara sorotan mata-sedang-jatuh-cintanya itu semakin menguat.


"Kami nggak pacaran," imbuh Neva belakangan. Datar.


Saking terkejut, Noah hanya bisa mendengung bak mesin genset. Menggema di seluruh ruang makan. "Yakin nggak? Kok aku lihatnya kaya gitu? Kalian jangan malu-malu sama aku gitu dong."


"Sudah, Noah. Kamu itu membuat mereka nggak nyaman aja," akhirnya Osric angkat bicara setelah menghabiskan segelas air putih.


"Habisnya mereka itu terlalu uwu kalau nggak pacaran, Ayah."


Osric menggeleng. "Ayah ini nggak tahu bahasa anak zaman sekarang, tapi Ayah tahu bagaimana mengatakan terima kasih pada Neva."


Neva menyahut spontan, "Apa maksud Bapak?" sambil menatap lurus Osric. Rupanya ada lembaran uang biru yang dikeluarkan dari saku kaos hijau tua kesukaannya.


Tentu menolak keras, padahal sudah dikatakan bahwa dirinya tidak usah dibayar. Karena sifat amatirisme Neva itu lebih tinggi dibanding apapun saat ini. Ia mampu menyesuaikan diri di tengah sesama yang membutuhkan dengan sifat langka tersebut.


Menghormati keputusan itu, Osric meninggalkan mereka dikarenakan ada panggilan masuk untuknya. Sedangkan Noah seperti biasa menyuruh Isaac merapikan meja makan dan dibantu Neva sekarang. Alias memberikan mereka waktu lebih untuk berduaan lagi.


"Makasih sekali lagi, ya. Kamu bantu keluargaku banget."


"Eh, kenapa kamu selalu begitu, sih? Basa-basi seperti biasa." komentar Neva, bahunya langsung beringsut lemas.


"Yah, pokoknya aku merasa harus bilang berulang kali kata itu," kata Isaac, menatap Neva.


Tatapan itu.


Di dalam medium penangkap momen itu, tersimpan kenangan selama tiga tahun masa SMA keduanya. Semua yang mereka berdua lihat, lakukan, hari-hari yang mereka jalani. Semua bercampur jadi satu wadah.


"Iya, sama-sama lagi, deh."


"Btw, kemarin malam aku mimpi aneh banget. Ketemu kamu lagi nangis di atas kursi dan satu cowok yang kasih aku petunjuk untuk keluar dari semua hal aneh ini."


Seketika, piring melamin kebiruan terjatuh dari tangan Neva. Tepat di bawah kucuran air keran yang tersedu-sedu. Tampak kaget. Isaac pun menatap dengan bingung.

__ADS_1


"Kenapa tiba-tiba jatuhin piring?"


"Ah itu, soalnya licin banget."


"Kamu kok akhir-akhir ini sering ceroboh, ya? Hampir tenggelam karena kram, hampir ditabrak truk, dan tadi hampir kepleset di tangga."


Perempuan dengan kuncir kuda itu berdecak, selagi membersihkan sisa sabun pada peralatan makan yang digosok Isaac.


Ia berkata bahwa semua itu hanya persepsi sensori salah yang terjadi tanpa adanya rangsangan nyata, substansial, dan berasal dari luar ruang nyatanya. Bisa dikatakan, Isaac mengalami halusinasi secara visual.


Jelas Isaac terang-terangan tidak terima atas perkataan Neva dengan ucapan bernada tinggi itu. Ia membeberkan bahwa semua itu nyata, semua yang dilakukannya pun untuk mencegah hal fatal itu terulang kembali kedua kalinya.


"Apa kamu diam-diam minum absinth?" celetuk tiba-tiba Neva, mata Isaac membelalak.


"Bicara apa kamu? Mana mungkin aku minum hasil distilasi alkohol dengan kadar tinggi itu?"


"Karena kalau minum itu bisa mengakibatkan halusinasi berat."


"Parahnya, penggunaan apsintus pada absinth yang berlebihan dapat menghasilkan racun tahu. Ngomong seenaknya aja," gerutu Isaac.


Indikasi Neva betul-betul brutal, membuat Isaac makin frustrasi menjelaskannya. Hingga akhirnya perempuan itu menyelesaikan tugas dan berpamitan pulang. Raut wajah Isaac tampak kecewa, merengut.


"Kenapa mukamu begitu?"


"Kenapa sih, nggak boleh?" protes Isaac sambil mengomel yang langsung dijawab Neva, "Masa yang banyak makan nasi sama bebek goreng kelihatan lesu gitu?"


Karena pertanyaan itu memang ada benarnya, Isaac menghentikan aktivitas dan berbalik menatap. Isaac justru memperagakan kelakuan Neva saat di ruang makan tadi, menggembungkan pipi layaknya hamster ingin berbisik.


"Kamu itu yang makan terlalu banyak."


Akan tetapi, pipi Isaac dikempiskan Neva yang sudah sebesar drum itu dengan cubitan. Ia pun makin protes. Tanpa menggubris keributan itu, Neva menyuruh Isaac mengikuti perkataannya sambil mengepalkan kedua tangan.


"Asal kamu tahu, ya, makanan yang enak dan banyak akan menjadi energi buat besok!"


"Ya, menjadi energi buat besok! Besok!"


"Energi untuk menghadapi pelanggan banyak maunya!"


"Energi untuk toko yang akan dibuka jam sembilan!"


Sambil tertawa terbahak-bahak, Neva melambaikan tangan perpisahan. Satu gelang dengan corak mencolok pun ikut memberi salam. Seketika itu Isaac teringat sesuatu.


"Eh, minta nomor hapemu dong. Dari kemarin lupa terus."


Neva tersenyum singkat saat menerima ponsel terbungkus selubung bening tanpa gambar apapun. Warna putih back cover begitu kentara.


"Jangan ganti lagi, jangan ngilang lagi."


"Hehe, kali ini nggak bakalan kaya dulu kok."


Semenjak dari situlah Isaac baru merasakan energi setelah makan berkerja maksimal. Ia pun melepas kepulangan perempuan yang disukainya.


"Eh, bukannya tadi aku mau cerita mimpi itu, ya? Kenapa jadi teralihkan?"


...•••...


Di dalam kamar, Isaac masih belum terpejam akibat mengetik segala sesuatu yang terjadi hari ini di catatan ponsel. Jaga-jaga siapa tahu saat terbangun ia mengalami perputaran waktu mundur kembali.


"Masih di tanggal 30 Maret jam sepuluh malam dan aku berharap semoga waktunya terus berjalan maju."


Tetapi, akankah Isaac terus menerima kejadian abnormal ini?


"Ah iya, bilangnya aku harus menyatakan perasaan. Maksudnya sama Neva? Apa ada hubungannya sama Neva dan keajaiban tangannya itu?"


Padahal Isaac sudah mematenkan rasa komprehensif karena cocok untuk dirinya yang suka petualangan dan hal baru, bahkan bisa terus melakukan reka adegan bersama Neva. Namun, kalau dipikir-pikir, tidak mungkin selamanya ia ingin terus mengalami perputaran waktu aneh ini. Bahkan, asal-usul kekuatan magis dari tangan Neva itu pun masih belum diketahui. Clueless.


"Besok akan aku coba. Bukan demi semata-mata menghentikan perputaran waktu yang aneh, tapi juga untuk keberanian diriku buat Neva. Lalu, kita cari tahu sama-sama kekuatan ilusi dari tangannya."


Mencoba merelaksasikan diri, Isaac terbenam dalam alunan laut malam bersama sebuah kerang venus dalam genggaman.

__ADS_1


__ADS_2