
"Sak? Isak!"
Isaac mengerjap perlahan dan merasa kedua matanya basah. Sayup-sayup suara itu terdengar tidak asing, sedikit mengintimidasi kalau berseru. Suara ini...
Saat mata terbuka sepenuhnya, Isaac memandang Noah dengan wajah sumringah.
"Akhirnya!" seru Noah.
Isaac memalingkan pandangan perlahan seperti mesin pendeteksi. Melihat langit-langit ruangan tampak asing, memandang sebuah lampu menyorot wajahnya.
Isaac berada di ruangan serba putih didominasi aroma obat-obatan.
Isaac merasakan sakit di bagian lengan dan kaki. Kepala begitu nyeri seperti diikat kuat oleh tali. Akan tetapi, tatapannya kosong menghadap langit.
Osric yang takut segera memanggil beberapa orang di luar ruangan. Noah melambaikam tangan di depan mata Isaac, memastikan Isaac sudah sadar sepenuhnya.
Isaac memang tampak diam, tapi berusaha berkonsentrasi. Berusaha memusatkan pikiran dengan menelaah sekitarnya.
Jendela penghias ruangan menampakkan langit di luaran sudah berubah gelap, aktivitas pantai mulai berkurang, tapi di dalam ruangan seketika ramai oleh orang-orang asing berseragam biru.
"Sak, kamu gapapa? Kok diam aja? Kami semua khawatir lho," celetuk Noah.
"Aku di mana?"
"Di rumah sakit, Sak."
"Siapa yang mengangkatku ke daratan?"
Mendengar pertanyaan pendek itu, Noah dan Osric saling memandang lalu duduk di ranjang. Sedangkan Isaac masih menatap ke atas, walau dua orang berbaju biru mondar-mandir.
"Coba tanya sekali lagi."
"Siapa yang mengangkatku ke daratan?"
"Kamu pikir, kamu habis ngapain?"
"Tenggelam."
Noah spontan menunjuk tangan lalu kaki kiri Isaac. "Lihat, deh. Gips di tangan dan luka-luka di kakimu ini masa karena tenggelam? Kamu amnesia?"
"Seingatku terakhir, ya, tenggelam."
Osric menengahi perdebatan yang tak sesuai situasi itu dengan menyela perbincangan mereka, "Isaac, kamu terakhir kecelakaan karena ditabrak mobil setelah menghindari truk besar saat mengambil bola basket."
Isaac membelalak selagi terduduk mendengar penjelasan sang ayah. Spontan ia melihat kondisi tubuh mulai dari luka-luka, pakaian yang dikenakannya, sampai meraba-raba wajah yang tertutup beberapa plester obat.
Jadi ... apa barusan aku hanya bermimpi?
__ADS_1
Tiba-tiba air mata Isaac luruh dalam kungkungan telapak tangan. Ia berpikir, apakah ini adalah kesempatan lain yang diberikan padanya?
Dalam tangisan itu, Isaac bisa kembali percaya bahwa Neva masih hidup. Seandainya masih hidup, ada satu hal yang harus ia lakukan. Mengambil ponsel dan menghubungi Anima.
Dengan gelagapan Isaac mencari ponsel di kasur sampai meja. Noah menghentikan pergerakan itu karena takut gips Isaac bisa bergeser.
"Kamu mencari ini?" Noah menyodorkan ponsel dan langsung disambut Isaac.
"Mati."
"Kemarikan biar aku cas-kan." Noah menerima kembali ponsel itu.
Osric menepuk pundak Isaac. "Apa Ayah perlu memanggil perawat lagi? Karena takut ada apa-apa setelah sekian lama, mana tiba-tiba nangis begitu."
"Maksud Ayah?"
"Setelah kecelakaan itu, kamu koma selama tiga bulan."
Jantung mendadak seolah diremas oleh rasa takut. Tiga bulan. Kalimat itu terngiang-ngiang di kepalanya sampai terasa sakit. Bagaimana bisa tiga bulan? Rasanya Isaac hanya tertidur sebentar.
"Kak, nyalakan hapeku. Cepat!"
Noah otomatis menoleh. "Mau menghubungi keluarga Neva?"
Isaac mengangguk, masih berusaha menahan air mata. Karena colokan listrik yang jauh sementara ponsel Isaac baru terisi satu persen, mau tak mau harus menunggu sampai setidaknya lima persen untuk bisa menyala lama.
"Waktu kamu koma dua bulan, ada yang nelpon ke hapemu. Tapi, nggak aku angkat karena nggak ada namanya."
"Kalau sekarang?" tanya Isaac antusias.
Baru dibicarakan, sebuah melodi menggema di udara. Ponsel Isaac menerima panggilan dari nomor tidak dikenal.
Buru-buru Isaac meminta Noah untuk memapahnya menuju meja di sudut ruangan, tak jauh dari ranjang rumah sakit.
"Ha-halo?"
"Halo, apa ini Isaac Meshach pacarnya Neva?" suara perempuan menyapa Isaac.
"Ya, ini Isaac. Apa ini Kak Anima?"
"Iya, aku Anima. Dua bulan lalu aku mencoba menghubungimu, tapi nggak diangkat. Padahal ada yang ingin kusampaikan."
"Tentang Neva? Bagaimana keadaannya? Apa sudah sadar dan berangsur sehat sekarang?"
Sesaat, Anima bungkam. Lalu terdengar embusan napas berat. "Maaf, Isaac."
"A-apa ...," Isaac terbata-bata. Satu huruf saja seolah tersangkut di tenggorokan.
__ADS_1
"Maaf sekali lagi, kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkannya. Namun, takdir berkata lain. Neva meninggal dunia malam ini."
Ponsel meluncur dari genggaman Isaac, mengenai lantai sampai layar sentuhnya retak. Namun, suara halo dari Anima masih menggema di sana. Noah memungut benda itu lalu diusapkan ke kaus polo birunya, kemudian menggantikan Isaac untuk berbicara.
Air mata Isaac jatuh membasahi pipi. Tatapannya seperti menyimpan berjuta perasaan yang ingin diteriakkan. Entah itu kemarahan, kesedihan, atau rasa ingin merutuki diri. Bahkan suara napas pun terdengar berisik.
Kalau aku bisa ke sana, apa aku bisa mengucapkan kata perpisahan?
Di hari Isaac terbangun, Neva malah tertidur untuk selamanya. Ia bertanya pada diri sendiri, apakah gadisnya yang bagaikan mimpi tidak bisa menjadi mimpi lagi?
Neva adalah mimpi Isaac. Mimpi yang paling ia cintai dan selamanya akan tetap seperti itu. Kalau Neva menghilang seperti ini, Isaac merasa lebih baik kalau dirinya ikut menghilang.
"Maaf. Maaf kalau aku meninggalkan kenangan sedih untukmu."
•••
Satu bulan berlalu.
Sejak kepergian Neva di hari itu, Isaac setiap pagi berjalan-jalan di pinggir laut. Kaus oblong putih berkibas kencang karena angin ganas di cuaca terik. Ia membawa tangan yang masih belum sembuh dan kaki terpincang-pincang untuk menyentuh udara pantai.
Selama itu juga, Isaac tidak bisa bekerja dengan semestinya. Bahkan menjadi penjaga kasir saja tidak fokus. Perutnya sangat sulit menerima makanan karena kursi di hadapannya hampa. Ia pun setiap hari membuka isi koper dan ponsel Neva, lalu dipandang barang-barang gadisnya sepanjang hari.
Hal-hal di depan mata yang sering Isaac lihat setiap hari terasa asing tanpa Neva. Ia merasa kosong seolah tak memiliki jiwa. Andai saja sadar sedari awal, ia akan mencegah semuanya.
Dengan memanfaatkan ketidaktahuan Isaac, Neva tetap memikirkan perasaan Isaac dan membuat kenangan di alam bawah sadarnya. Padahal tubuh Neva sendiri perlahan hancur.
"Kenapa nggak memberitahukanku kalau kamu kecelakaan dan koma?"
Suara seorang pria membuat Isaac menoleh dengan terkejut. Rupanya sosok yang berbicara adalah Izel. Pakaian santai seperti biasa dan sederhana menyambutnya.
"Yang Mulia selalu datang mengagetkanku."
"Maaf kalau begitu." Izel menatap Isaac lekat-lekat. "Cukup pesat."
"Maaf, Yang Mulia?"
Izel meminta salah satu tangan Isaac untuk dilihatnya. Agak membingungkan, tapi ia menurut dengan memberikan tangan kanannya. Cukup lama Izel menatap tangan sampai lengan Isaac.
"Ternyata begitu," celetuk Izel.
Isaac menggaruk pelipisnya. "Apa maksud Yang Mulia? Ada apa dengan tubuh ini?"
Izel otomatis membisikkan sesuatu tepat di telinga Isaac. Empunya melotot karena tidak percaya apa yang dikatakan Raja Blue Moon tersebut. Isaac menganggap Izel hanya bercanda untuk menghiburnya.
"Aku nggak bercanda. Kamu memang memilikinya karena sudah sepantasnya. Kita lihat beberapa tahun ke depan."
Izel yang kabur tanpa menjelaskan secara gamblang menambah beban pikiran Isaac. Masa iya? Bohong, deh.
__ADS_1
Tanpa diketahui Izel menghilang ke mana, Isaac masih terus menyusuri pesisir pantai melihat berbagai aktivitas orang-orang.