THE MOON: Isaac Adventure

THE MOON: Isaac Adventure
Kejadian aneh ketujuh (2)


__ADS_3

Di area pantai itu Izel dan Neva mendeteksi energi kecil. Entah benar-benar ada moon rabbit seutuhnya atau bukan, energi itu terkadang terasa kuat lalu melemah. Isaac sendiri hanya mengekor pada Neva karena tidak merasakan.


"Kita berpencar, oke?" ucap Izel, disusul anggukan Neva dan Isaac.


"Kita berlagak seperti biasa karena mau memperhatikan sekitar sini," ucap Neva.


"Iya, aku ngerti kok."


Mereka berpencar seolah sedang menikmati alam. Izel berpura-pura sedang melihat pesisir pantai, Neva dan Isaac berlagak santai seperti pasangan kasmaran pada umumnya. Namun, mata dan hati mereka sedang menyisir lokasi tersebut.


"Nev, sebenarnya manusia setengah moon rabbit tuh berbahaya nggak, sih?"


"Kalau yang punya kekuatan tahu kapan harus memakai kekuatannya, nggak berbahaya dan nggak masalah. Tapi, yang sekarang ini malah membuat masalah. Yang Mulia Izel takut nantinya terjadi hal-hal nggak diinginkan."


Isaac mengangguk-angguk layaknya pajangan dashboard. "Iya sih, buktinya kamu gapapa tuh hidup bersama manusia lain."


"Maka dari itu, kembali pada pribadi masing-masing. Kadang ada orang yang semena-mena karena mereka kuat."


"Neva."


Terdengar samar suara seorang pria. Neva dan Isaac mendengar, tapi tak ada satu pun di dekat mereka yang memanggil. Bahkan bukan suara Izel, sepertinya bukan juga suara yang berasal dari tempat sekitar. Dari mana datangnya suara itu?


"Nev, kok ada yang manggil kamu?"


Pertanyaan Isaac membuat Neva melotot ke arahnya. "Kamu juga dengar?"


"Ya, suara itu juga ada di dalam kepalaku dan memenuhi pendengaranku."


Aneh. Mengapa bisa? Seharusnya hanya Neva yang bisa mendengar karena yang dipanggil memanglah dirinya. Kemudian, mereka sama-sama mengernyit sambil bertatapan. Tampak ada yang tidak beres.


Akan tetapi, mereka membiarkan itu berlalu dan kembali mencari sumber energi yang makin meredup. Neva segera berlari mengikuti insting, menuju sebuah restoran ramai pengunjung. Izel juga tampak berjalan cepat di belakang mereka.


Ketika sendal Isaac memijak anak tangga untuk naik ke teras restoran, tiba-tiba energi itu lenyap. Menghilang dari peredaran. Neva segera melarang Isaac untuk masuk ke restoran sambil menggeleng.


"Ada apa?"


"Sudah hilang entah ke mana, Sah."


"Sepertinya, dia tahu ada yang mengejar dirinya," Izel menegaskan.


Mereka akhirnya membubarkan diri dikarenakan Izel harus pergi ke suatu tempat. Neva dan Isaac kembali ke toko dengan perasaan yang sulit dijelaskan, tentang suara memanggil tadi.


Begitu tiba, mereka disuguhkan dengan berbagai makanan di jam makan siang. Padahal Neva sudah menolak keras, tapi Osric terus menawarkan. Sehingga mereka berempat bercengkrama santai walau baru pertama kali bertemu. Setelah selesai makan siang, Neva dan Isaac berpindah tempat.


Di depan toko yang lengang, hanya tampak empat pengunjung saja, pikiran Isaac malah terasa penuh. Suara samar siapa tadi? Kenapa bisa sampai ke aku juga?


"Seharusnya kita tanya Izel sebelum pergi. Dia pasti tahu sesuatu yang nggak kita ketahui, apalagi masalah kekuatan ini dia yang paling tahu." Neva mengejutkan Isaac karena tiba-tiba datang dan menyodorkan sekaleng kola.


"Kenapa sekarang santai manggil nama?"


"Nanti kalau didengar kakakmu bakal heboh. Mana dari radius jauh aja bisa dengar, ya, kan?"


Isaac membuka kaleng sambil memasang wajah masam. "Benar juga. Kupingnya kan tajam kaya patahan keramik."

__ADS_1


"Aku dengar dari sini, ya, bocah," Noah berucap dengan keras.


Neva dan Isaac bertatapan sambil tersenyum. Sekon berikutnya, mereka bersulang dengan kola yang sudah dibuka. Suara mendesis yang berasal dari air karbonasi seolah menarik siapa saja untuk meneguknya. Begitu masuk di tenggorokan, rasa manis memberi kesegaran di siang bolong.


"Nanti malam mau jalan-jalan nggak?"


"Ya, mau dong. Aku ke sini buat liburan tahu."


"Oke. Kalau tanggal sembilan mau lihat acara Tumpak Landep nggak?"


Neva mengangguk. "Tapi, tanggal sembilan aku udah pulang ... eh, aku ajukan cuti tambahan sehari supaya lihat sama kamu, deh."


Setelah berucap itu, Isaac terlihat melemaskan bahu. Tampaknya tak suka jika membahas tentang perpisahan. Meski nantinya ia bisa gantian mengunjungi Neva.


Neva yang tahu itu langsung mengubah topik pembicaraan. "Eh iya, pas kita datang itu Hari Suci Tilem, ya?"


"Iya sih, aku sempat lihat ada yang bersembahyang di pinggir pantai."


"Aku belum mengerti, Hari Suci Tilem itu memperingati apa?" suara seorang pria mendekati Isaac, Eranda Putra.


Neva, Isaac, dan Noah terkejut melihat sosok yang tadi pagi datang dengan pakaian serupa. Namun, mereka tetap tersenyum ramah karena Eranda adalah seorang pengunjung dan bisa saja menjadi pelanggan tetap toko.


Isaac segera menjelaskan, Tilem merupakan hari suci bagi umat Hindu yang dirayakan untuk memohon berkah dan karunia dari Ida Sang Hyang Widhi sekaligus sebagai makna penyucian diri. Umat Hindu berusaha mendekatkan diri ke hadapan Brahma atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa dengan melakukan persembahyangan berupa canang sari.


"Oh begitu, maaf datang-datang tanya begituan. Soalnya saya dari kota nggak tahu apa-apa." Eranda membungkuk-bungkuk.


"Nggak apa-apa, kita cuma terkejut aja. Oh iya, apa tadi jadi daftar, Kak Eranda?"


"Jadi kok, sudah diajarin sama Bang Noah." Eranda menatap Noah yang mendekati mereka.


"Wah, kalau begitu bisa jadi pelanggan tetap di sini, Kak," kali ini Neva yang angkat bicara.


Eranda tertawa pelan lalu mengiyakan. Mereka pun akhirnya berbincang cukup lama membahas masalah dunia selancar. Namun, Isaac masih membatasi diri karena ada rasa tidak nyaman pada pria itu.


Waktu terus bergulir menuju pukul tiga sore, barulah Eranda pergi. Pengunjung kembali memenuhi toko tersebut. Neva memilih pamit karena merasa lelah dan ingin beristirahat, tapi dicegah Isaac. Mereka pun bertatapan.


Pemandangan toko terlihat jelas dari kedua mata Neva. Embusan angin laut membuatnya terlihat seperti permukaan roti kering. Isaac membeku begitu berhasil menggenggam tangan Neva.


"Kenapa?"


"Ah, nggak. Pulang aja, kasihan capek."


Padahal Isaac tidak mau Neva nantinya bertemu dengan Eranda di luar, karena baru saja keluar dari toko.


Tetapi, Isaac melepas genggaman dengan pasrah, tapi Neva malah mendaratkan kecupan hangat di pipinya. Ia sampai mengerjap cepat sambil membulatkan mata.


"Nanti malam jam delapan jemput di hotel!" Neva pun pergi dengan senyum penuh keisengan.


Dengan perlahan Isaac mengusap-usap pipi yang bersemu merah. Aduh, gini aja dag-dig-dug ser.


•••


Isaac mengerjap perlahan karena seberkas cahaya menembus kelopak matanya. Tubuhnya seperti sedang berbaring di atas sesuatu yang kasar. Namun, karena matanya masih terlalu berat, Isaac hanya melihat samar-samar aksen biru dipenuhi gumpalan awan.

__ADS_1


Tengah menelaah apa yang terjadi, justru sebuah bisikan memenuhi telinganya.


"Sak, katanya mau jalan-jalan sama ayang?"


Dengan cepat Isaac membuka mata dan mendapati kepalanya berada di meja makan. Ia bingung dan segera duduk tegap, memindai ruangan demi memastikan dirinya berada di mana.


"Kak, aku ada di rumah, kan?"


"Ya iyalah, masa di halaman tetangga? Kamu tuh ketiduran habis ngumpulin bekas makanan. Dan kalau merasa capek mending nggak usah jalan, deh."


"Mungkin memang tadi di halaman tetangga, Kak."


Noah bergidik ngeri sambil berlalu ke kamar mandi. "Ngimpi kali kamu. Dasar aneh."


Isaac bangkit lalu mencuci wajah di wastafel, barulah ia merasa lebih segar dan tidak mengantuk. Kenapa lagi aku? Apa benar cuma mimpi biasa?


Setelah sepuluh menit berdandan rapi, sepatu kets putih Isaac berhenti di depan gedung lima lantai di mana Neva menginap. Ia segera mengirimkan pesan pada gadisnya untuk cepat turun. Setelah mengunci layar ponsel, tak diduga ada seseorang menutup matanya mati-matian dari belakang.


"Udahlah, aku tahu itu kamu."


"Yah, Isah nggak asik," gerutu Neva.


Isaac segera berbalik dan menemukan betapa cantik pacarnya dengan blouse polo lengan panjang dan celana hitam panjang yang kebesaran. Oversized fashion. Tentu gaya itu membuat Isaac tertegun cukup lama.


"Kenapa? Jelek, ya, Sah?"


"Nggak kok, justru makin cakep!" Isaac malah salah tingkah.


Neva tertawa melihat tingkah kikuk Isaac, lalu menggandeng tangannya sambil berjalan di pinggir kota yang sejuk malam itu. Tidak ada kata-kata yang keluar sepanjang jalan. Tampak pipi Isaac memerah yang makin terlihat jelas saat terkena sorot lampu jalanan. Selama ini, Neva tidak pernah melihat Isaac begitu tersipu.


"Kamu mikirin apa, hayo? Pipinya kok merah?" goda Neva.


"Ah, nggak! Aku cuma gugup aja." Isaac malah cengengesan.


"Emang belum pernah pacaran sebelumnya, Sah?"


"Belum. Gimana mau pacaran sama orang kalau hatiku buat kamu?"


"Baru pertama aku dengar pernyataan begini. Biasanya orang lain main pacaran aja padahal hatinya masih milik yang lain."


Isaac menghela napas. "Itu sama aja menyakiti orang lain. Nggak baik dong. Maksimal buat sembuhin hati dulu, lupain dulu, baru bisa cari yang lain."


"Kalau misalnya kita nggak bakal ketemu seterusnya, kamu gimana?"


"Jujur, aku mungkin bakal lupain kamu."


Hening seketika, tapi mereka terus berjalan lurus melewati persimpangan. Tidak ada orang lain di dekat mereka. Tempat itu tiba-tiba sangat sunyi dan dingin.


"Kamu gapapa, kan? Itu cuma opsi kalau kita beneran nggak akan pernah ketemu lagi."


"Memang agak syok dengarnya, tapi itu kan pilihan kedua seperti katamu, Sah."


Untuk mengembalikan suasana, Isaac berinisiatif membelikan arum manis untuk Neva saat ada penjual yang lewat. Ketika dirinya melihat arum manis berwarna biru-putih, ingatan akan mimpi aneh yang terasa nyata itu muncul.

__ADS_1


Apa itu ulah Neva lagi kalau bukan mimpi? Apa aku harus cerita?


__ADS_2