
Isaac mengerjap perlahan karena seberkas cahaya menembus mata. Tubuhnya terasa sedang berbaring di atas sesuatu yang kasar. Namun, karena matanya masih terlalu berat, Isaac hanya melihat samar-samar aksen biru dipenuhi gumpalan awan.
Bukankah ini mimpi yang sama?
Akhirnya Isaac bisa melihat dengan jelas setelah mengusap kedua mata. Dirinya terbaring di rumput, lebih tepatnya di tengah bukit luas dan sejuk. Tanpa satu orang lain bahkan binatang yang melintas.
Isaac pun memindai diri dari bawah. Ia memakai kaus oblong abu-abu dan celana kain hitam panjang yang sama saat tidur di kamar.
Isaac berdiri sambil mengedarkan pandangan. Ini bukan seperti mimpi. Rumput yang dipegang dan diinjak sangat nyata. Ia merasa bisa membedakan yang mana mimpi dan berada di alam bawah sadar karena sudah terbiasa.
"Apa ini alam bawah sadarku sendiri?"
Interpretasi Isaac di dalam hati terhadap tempat ini sangat bagus. Jika diibaratkan rating, maka akan mendapat bintang lima bagi yang menyukai tempat sunyi.
Isaac terus berjalan lurus menuruni bukit seolah tempat itu tidak terbatas. Sampailah ia berada di puncak bukit lain yang nyatanya masih menampilkan pemandangan serupa. Tidak mau tersesat begitu lama, ia memejamkan mata dan berharap bisa kembali. Akan tetapi, sudah berucap "ingin kembali" sebanyak lima kali, Isaac masih saja berada di sana.
Awan tampak berarak mengikuti derasnya angin. Rambut Isaac pun ikut tersapu ke belakang bersamaan dengan pakaiannya. Pusat tata surya di langit begitu gencar menyinari seluruh bukit. Namun, Ia mengernyit begitu berbalik. Bukan karena sengatan matahari, bukan karena angin kencang, tapi seseorang.
"Neva?"
Wujud Neva berada di bukit tempat di mana dirinya pertama kali bangun. Tubuhnya terbaring dengan gaun piyama putih. Neva tampak seperti Putri Salju di mata Isaac saat itu.
"Apa benar ini ulah Neva lagi?" tanya Isaac, sambil berlari menuruni bukit.
Tak sengaja kaki Isaac tersandung batu, membuat tubuhnya berguling-guling di turunan bukit. Ia sempat mengerang kesakitan saat tubuhnya berhenti berguling. Sekarang Isaac bangkit kembali, tapi kakinya seakan ditahan oleh sesuatu yang tak terlihat. Berat. Kakinya seperti tertanam ke tanah.
"Tempatmu bukan di sini."
Suara berbisik itu menggema di seluruh area bukit. Namun, Isaac merasa tidak asing dengan suara itu. Ia menganggap bahwa suara ini sama dengan suara yang memanggil Neva.
"Siapa kamu? Kenapa menjebak kami di sini?" Isaac bertanya lantang.
Suara dari langit itu tidak menjawab, tapi wujud tidak diketahui masih menahan kaki Isaac. Tak lama kemudian, suara dengungan yang sangat keras memenuhi pendengaran Isaac. Kedua mata dan telinga ditutup serapat mungkin karena terasa begitu menyakitkan.
"Hentikan!" seruan Isaac bercampur dengan raungan kesakitan.
Di saat itulah Isaac kembali ke kamar saat suara ayam menyambut mentari bersinar. Ia bangun dalam keadaan bersimbah keringat dan sekujur tubuhnya sakit.
•••
"Semalam kamu ada mimpi nggak?" tanya Isaac, sambil mencomot kentang goreng.
Neva yang duduk di hadapannya menyesap jus melon, lalu dengan ringannya menjawab, "Nggak ada mimpi, kenapa?"
"Yakin? Apa semalam itu ulahmu juga?"
__ADS_1
"Maksudmu apa, sih?" Neva mengernyit.
Setelah mendengar itu, Isaac mulai menceritakan semuanya dengan detail. Bahkan sebelum bertemu Neva, dirinya browsing di internet perbedaan mimpi dan bukan untuk memastikan dan menguatkan ceritanya. Kalau saja Isaac bercerita pada Noah, pasti dikatakan dirinya mengalami lucid dream.
Begitu mendengar semua, Neva bersedekap sambil berusaha mencerna semua. "Eh tunggu ...,"
"Kenapa?"
"Aku semalam emang nggak mimpi, hitam semua gitu. Tapi, rasanya aku mendengar suara angin cukup kencang." Neva menggaruk pelipisnya.
"Apa mungkin kekuatanmu nggak sengaja aktif gitu?"
"Entahlah, kita harus bertanya pada Izel termasuk suara kemarin." Neva meraih ponselnya di meja, lalu mengirim pesan pada Izel.
Suasana restoran pinggir pantai pagi itu sangat ramai. Angin berhembus lebih tenang di teras restoran di mana mereka duduk. Cuaca cerah sangat mendukung berbagai aktivitas di luar ruangan, seperti voli pantai, berenang, snorkeling, bahkan *flyboarding *yang diincar Neva sedari tadi. Isaac pun tahu dari arah mata pacarnya yang menatap olahraga air itu.
"Ayo main flyboarding," ajak Isaac, selagi meraih tangan Neva.
"Memangnya kamu bisa nemenin aku? Gimana sama toko?"
"Gapapa, tadi udah izin bentar buat temanin kamu kok."
Isaac berdiri sambil menggenggam tangan Neva. Terlihat raut getir dari Neva yang sepertinya agak takut, tapi tetap ingin mencoba. Ia pun sigap menenangkan pacarnya dengan berkata bahwa flyboarding sebenarnya tidak sesulit yang dibayangkan. Tekniknya mirip seperti berselancar yang mengutamakan keseimbangan tubuh dan kondisi badan yang prima.
Mereka tiba di sana dan Isaac membantu Neva untuk mendaftarkan. Setelah Isaac menerima ponsel pacarnya, ia hanya menyaksikan Neva yang segera memakai pelampung, wetsuit, dan kacamata. Gadis itu terlihat serius saat mendengar instruksi pelatih.
Isaac berlari cepat, menyerukan pertanyaan, "Kenapa?"
"Aduh, tiba-tiba kepalaku pusing nih."
"Wah, kalau begitu nggak bisa main flyboarding," ujar instruktur berbadan besar.
Instruktur *flyboarding *menyarankan Neva untuk mengambil uangnya kembali di booth dan beristirahat di rumah. Mereka pun segera menjauh dari sana setelah mengambil uang.
Neva berkata masih merasa pusing saat dipapah, lalu Isaac menyarankan pacarnya agar istirahat di toko dulu. Perjalanan dari pantai ke hotel cukup memakan waktu sepuluh menit dengan berjalan kaki.
Begitu sandal pasangan Birkenstock cokelat tua mereka menginjak teras kayu toko, Noah langsung berlari ke arah mereka. Ia panik ketika melihat wajah Neva yang mulai pucat. Setelah keributan kecil tersebut, muncul Izel dari dalam dengan reaksi biasa. Tidak terkejut sama sekali.
"Yang ...,"
"Panggil nama saja," ucap Izel, "apa ini maksud Neva mengirim pesan padaku?"
"Benar," ucap Neva.
Noah menatap wajah mereka satu per satu. "Kalian saling kenal memang, ya? Pantas aja cariin Isaac."
__ADS_1
"Ya iyalah, Kak," jawab sewot Isaac.
Neva diboyong ke ruang tamu sementara Izel meminta Noah untuk meninggalkan mereka. Ada hal bersifat pribadi yang akan mereka bicarakan. Noah yang paham dan tentu tidak bisa meninggalkan toko tanpa pengawasan langsung pergi.
Kecuali kalau ada sang ayah yang mengawasi toko, mungkin Noah bisa berjaga-jaga dekat pintu bila diperlukan. Osric sendiri dari pagi buta sudah berkunjung ke salah satu keluarga yang sakit dan suda diizinkan oleh Noah.
Begitu pintu tertutup rapat, menyalurkan udara baru ke seluruh tubuh, Isaac baru bercerita segala keanehan yang terjadi. Setelah itu Neva melengkapi cerita Isaac dari sudut pandangnya. Izel malah menyandarkan punggung pada kursi, seolah cerita mereka adalah dongeng di pagi hari.
"Bagaimana, Izel? Bisakah dijelaskan? Kenapa wajah Izel biasa aja, nggak terkejut?" Isaac memborbardir Izel dengan pertanyaan.
"Untuk masalah mendengar suara dan berada di satu alam bawah sadar, itu karena pikiran kalian sudah saling terhubung. Makanya aku nggak khawatir. Tapi ..."
"Tapi apa?" Neva yang kali ini bertanya. Matanya terlihat sayup-sayup seolah mengantuk padahal tidak.
"Dan apa yang terjadi bukan karena kekuatan Neva. Aku meraba entitas lain," ucap Izel.
"Jelaskan pada kami," tutur Neva.
"Aku menduga entitas yang diduga pelaku yang sama dengan kasus pohon kemarin, mencoba untuk masuk ke alam bawah sadar Neva. Isaac terseret ke sana dan membuat sosok itu terkejut, makanya berbisik seperti itu dan mengeluarkan Isaac secara paksa." Izel menekurkan wajah. "Isaac, apa kamu tahu kalau setiap kekuatan punya kelemahan?"
Isaac melirik ke arah Neva. "Biasanya seperti itu. Apa kalian juga?"
"Tentu kami juga. Mau seutuhnya moon rabbit atau setengahnya, setiap kekuatan mereka ada kelemahan. Aku mau pun Neva."
"Neva nggak pernah memberitahuku," ujar Isaac.
Barulah Izel menatap serius ke arah Neva yang bungkam sedari tadi. "Aku tahu kalau kamu khawatir kalau memberitahu Isaac, tapi dia harus tahu semuanya."
Isaac melempar tatapan yang seakan mendesak jawaban. Neva justru menggigiti bibir bawahnya sambil terus berpikir. Di dalam ruang tamu bernuansa Skandinavia itu, tercipta suasana amat sunyi meski di luar jendela ramai teriakan anak kecil. Isaac dan Izel masih menunggu.
Neva akhirnya mau membuka mulut tanpa menatap Isaac. Ia menjelaskan, ketika kekuatan sering dipakai dalam skala besar akan menguras energi dan menyebabkan daya tahan tubuh menurun, itu secara umum.
Untuk jenis kekuatan Neva sendiri menyebabkan sebagian memori lamanya hilang dan memori lain rusak. Sehingga Neva tidak akan pernah mengingatnya lagi. Namun, tidak ada efek negatif pada manusia yang terseret dan dimasuki kekuatan moon rabbit.
"Jadi, sewaktu masuk ke alam bawah sadarku itu ...,"
"Ya, Neva sudah menguras energi cukup banyak dan sebagian memori lamanya hilang," imbuh Izel, "bahkan sosok yang masuk ke alam bawah sadar Neva juga menyedot energi keduanya."
"Bagaimana bisa kamu nggak kasih tahu aku, Nev?" Bahu Isaac beringsut lemas.
Neva malah mengusap punggung Isaac. "Maaf, ya. Aku cuma nggak mau menambah beban."
Izel menambahkan lagi, sepertinya Isaac bisa terseret ke alam bawah sadar Neva selain pikiran mereka yang menyatu, alam bawah sadar Isaac adalah batas jaga dari milik Neva.
Sehingga saat alam sadar Neva dimasuki oleh entitas tertentu, akan ada sinyal merah yang diterima alam bawah sadar Isaac sampai menarik dirinya.
__ADS_1
"Dan dia sudah tahu kalau Neva adalah sebagian dari kaumnya. Aku yakin dia punya tujuan tertentu datang ke alam bawah sadar Neva. Nyawa Neva dalam bahaya, kita harus menangkapnya."
Neva berkomentar, "Aku tahu caranya, tapi aku nggak tahu kalian setuju atau nggak."