THE MOON: Isaac Adventure

THE MOON: Isaac Adventure
Siapa?


__ADS_3

Dari kejauhan tampak seseorang sedang mencelupkan tangan ke dalam baskom plastik. Totol-totol putih yang kontras dengan warna biru menarik perhatian orang lain. Padahal orang itu hanya berniat memberi sesuatu pada kucing-kucing jalanan.


Isaac melihat pria itu mendekati Isaac. Akhirnya, makin terlihat jelas rupa seseorang dengan setelan pakaian monokrom itu. Langkahnya terhenti lalu duduk tanpa permisi.


"Eh, Isaac dari toko Mesh?"


"Maaf kalau saya asal duduk di sini, Kak."


"Oh, gapapa kok, santai aja."


Rupanya pria itu adalah Eranda. Eranda menatap Isaac yang menekurkan wajah, padahal di depan ada laut yang berkilau akibat sinar mentari. Ombak yang menyentuh kaki Isaac lambat laun mengisi topik percakapan karena Eranda mencoba memecah suasana.


"Nggak main selancar? Nggak kerja di toko?" Eranda bertanya sambil mempertahankan tangan di baskom. Rambut hitamnya yang bermodel curtain haircut berhamburan ditiup angin.


"Lagi sepi, jadi saya jalan-jalan sebentar. Terus nggak tahu kenapa tertarik buat duduk di sini."


"Apa karena aku melakukan hal aneh?"


Isaac melirik Eranda. "Ya, mungkin begitu. Kakak lagi ngapain?"


Eranda tidak menjawab. Ia justru berdiri dan langsung berbalik meninggalkan Isaac. Baskom itu dibawa ke area pohon kelapa yang dipenuhi kucing berbagai wujud. Ada yang bertubuh sedang, ada yang kecil, ada yang besar sekali. Rupanya Eranda memberi minum pada kucing-kucing itu.


Sorot mata Isaac tak lepas begitu saja dan turut mengamati sambil memicing. Persepsinya atas Eranda malah naik satu lapis. Ia baru sadar bahwa melabeli seseorang dengan buruk sesuai kata hatinya maka itu memang benar.


"Kakak kasih minum bekas tangan?"


"Tenang, tanganku bersih kok. Lagipula itu juga air laut." Eranda malah tersenyum.


"Lho? Kasih minum kucing pakai air laut?" Isaac kembali menatap kucing-kucing yang berkerumun untuk minum. Mereka tampak tidak apa-apa. "Kok?"


Eranda malah menepuk pundak Isaac. "Aku duluan, ya."


Isaac malah terbata-bata ketika pria itu menjauh padahal hanya meminta penjelasan. Label orang aneh makin melekat di matanya. Saat Eranda benar-benar menghilang dari pandangan, Neva berlari ke arah Isaac tanpa alas kaki. Sepertinya ada yang gawat.


"Sah!" Neva memegang kedua bahu Isaac.


"Hah? Sudah bangun? Kenapa lari-lari?"


"Tadi ... aku merasakan ada energi kecil di sekitar sini!"


Isaac membelalak. "Apa jangan-jangan ...,"


Belum selesai bicara, Isaac gantian berlari mendekati baskom yang ditinggalkan Eranda. Begitu dilihat hanya tersisa beberapa tetes karena diminum oleh kucing-kucing yang kehausan karena cuaca yang cukup panas.


Neva yang masih tersengal mendatangi Isaac. "Kenapa sama baskom itu?"


"Apa mungkin Kak Eranda?"


"Ada Kak Eranda tadi sama kamu? Terus dia ngapain?"


Saat Isaac menjelaskan dengan padat dan singkat, tatapan mereka bertemu. Apa mungkin sosok yang melakukan hal-hal gila itu adalah Eranda Putra? Karena satu bukti saja seolah membuat kecurigaan baru.


Neva yang masih agak lemas itu mencoba mencermati sisa-sisa air saat baskom digulingkan ke satu sisi, lalu jari telunjuk dibenamkan ke sana. Sambil berlari mendekati laut, Neva mencelupkan tangannya ke air laut lama-lama kemudian diangkat.


Air laut akan terasa lengket karena airnya berasal dari tumpukan garam dari daratan dan sisa evaporasi di lautan. Sedangkan air tawar tidak karena tidak mengandung banyak larutan garam dan larutan mineral di dalamnya.

__ADS_1


Jika Eranda memberikan air laut untuk diminum para kucing, itu tidak mungkin. Air laut tidak dapat dijadikan untuk air minum oleh makhluk darat karena dapat menyerap cairan tubuh dalam darah lewat lambung.


"Bisa kalau menggunakan cara osmosis terbalik," imbuh Isaac.


"Tapi, itu kan hal yang sulit. Butuh alat dan ada prosesnya juga. Kak Eranda bilang memberikan air laut pada kucing, tapi ini air tawar. Apa bisa dipercaya? Dia mungkin berbohong sama kamu."


"Iya, aku memang gampang dibohongi." Bahu Isaac melemas, kemudian duduk di pinggir pantai.


"Sah, jangan mulai lagi, deh."


"Memang kenyataannya."


Neva akhirnya duduk bersama di pantai pukul empat sore yang makin menyembunyikan mentari. Terlihat burung Cerek Jawa yang mundur lalu maju lagi ke pesisir setelah ombak surut. Isaac terhibur dengan tingkah burung itu.


"Aku tahu kamu nggak terima usulku, tapi itu cara satu-satunya supaya dia memperlihatkan wujud ketika datang lagi."


"Izel juga awalnya nggak setuju karena kamu membahayakan diri sendiri. Apa nggak takut nantinya kamu bisa sekarat?"


"Tentu aku takut dan juga merasa nggak aman, Sah."


"Terus, kenapa kamu mengusulkan ide seperti itu?"


"Karena itu, aku harus melakukannya."


Senyap. Percakapan mereka seolah ditelan gelombang air laut yang datang. Burung Cerek Jawa masih bertingkah yang sama, mundur lalu kembali maju. Kenapa nggak cari makan di tempat lain?


Satu pertanyaan itu menyadarkan Isaac saat memerhatikan mereka. Bahwa burung itu bukan tidak takut terbawa ombak, melainkan di pesisir pantai inilah mereka mencari makanan.


Neva juga mengusulkan dan ingin melakukan hal berbahaya itu bukan karena tidak takut, melainkan tidak ada jalan lain.


"Iya, Sah."


"Apa mungkin Kak Eranda? Aku lihat tangannya dicelup dalam air terus dikasihkan ke kucing bekasnya."


"Antara iya atau bukan, Sah. Nggak bisa membuktikannya."


Isaac tersenyum asimetris. "Tapi dia terbukti aneh, kan?"


Neva tertawa begitu melihat senyum Isaac. "Ya, begitulah. Oh iya, apa Izel jadi menginap di tokomu karena kasus ini?"


"Jadi. Kemungkinan nanti malam dia dat-"


Ucapan Isaac terputus kala banyak orang menjerit dari kejauhan. Membuatnya berdiri dan mencoba mengamati apa yang terjadi. Neva pun tiba-tiba memegang dada karena berdegup sangat kencang. Tangan Neva memegang lengan Isaac untuk bertahan. Isaac jadi khawatir ketimbang penasaran karena belum melihat apa-apa.


"Kamu mending istirahat ke toko, Nev."


"Sah, aku merasakan energi yang kuat di sana. Dari arah orang-orang menjerit."


Isaac berusaha menitikpusatkan penglihatan di antara orang-orang yang menjauhi pantai. Saat ditemukan hal aneh itu, mata Isaac membulat sempurna.


Ada bola air yang makin membesar berasal dari tengah laut. Bola itu menghisap air laut di bawahnya sampai berputar mengelilinginya.


Orang-orang memekik ketakutan dan berlari menjauh. Mereka berhamburan bagai semut disiram air. Isaac malah berniat mendekat, tapi Neva tidak sanggup untuk berjalan. Mereka cuma bisa mengharapkan Izel segera datang karena ledakan energi besar ini.


Rasanya aku seperti nggak berguna.

__ADS_1


Seketika bola air yang siap meledak bagai bom itu melungsur, kembali ke tempat asalnya di lautan lalu menimbulkan gelombang besar. Orang-orang di pesisir segera berlari termasuk Neva dan Isaac. Namun, gelombang itu tiba-tiba bergerak lambat dan meminimalisir ombak. Apakah sosok itu yang mengurungkan niat atau ada campur tangan Izel?


Ponsel Neva yang berada di saku celana Isaac bergetar. Saat dilihat ada panggilan masuk dari Izel. Isaac spontan mengangkat dengan napas yang memburu.


"Halo, Izel? Apa Anda yang melakukannya tadi?"


"Benar, aku yang menghalau ombak, tapi aku kehilangan sosok itu. Padahal sempat berkelahi dengannya." Izel terdengar tersengal.


"Anda berada di mana?"


"Nggak begitu jauh dari tempatmu. Nanti aku akan ke sana dan menceritakan semuanya."


"Apa Anda baik-baik saja?"


"Ya, jangan khawatirkan aku. Pikirkan saja Neva. Sampai jumpa nanti."


Izel mengakhiri panggilan dengan terburu-buru. Neva menatap Isaac dengan sangat sayu seolah memohon untuk masuk ke rumah. Isaac jelas memboyongnya pergi, tapi ia sedang berpikir untuk mengambil barang Neva dari hotel dan check out saja karena tidak aman bagi dirinya untuk tinggal sendirian.


"Aku mau melakukan sesuatu, Sah."


"Mau memindahkan barang dan tinggal sementara di rumahku, kan?"


"Kalau itu sedang kupikirkan, tapi maksudku bukan yang itu." Neva bergelayut manja di lengan Isaac.


"Lalu, apa?"


Sampai di situ, Neva menelan ludah, tapi tidak menjawab pertanyaan Isaac. Ia malah memburu pacarnya kembali secepatnya. Yang ia butuhkan sekarang adalah tempat sepi untuk berkonsentrasi.


•••


Neva kini berada di tempat kejadian saat bola air besar mengambang di tengah lautan. Ia masuk ke dalam ingatan miliknya yang sedang diperlambat.


Rencana ini tidak disusun matang dan terkesan buru-buru karena Neva ingin mencari sosok itu, siapa tahu berada di dalam jangkauannya. Menunggu Izel datang juga terlalu lama baginya.


Rasanya seperti dejavu melihat orang-orang berlarian panik. Namun, Neva terus berjalan sambil mencermati lingkungan sekitar.


"Kenapa nggak ada yang mencurigakan, sih?"


Di rasa tak ada satu orang yang bisa dicurigai, Neva memejamkan mata untuk berpindah ruang. Melompat ke dalam ingatan Isaac. Tak butuh waktu lama, saat membuka mata dirinya berada di belakang Isaac yang berjalan-jalan sambil fokus menatap Eranda.


"Dia memang memasukkan tangannya ke baskom." Neva berjalan mendahului Isaac, ingin melihat lebih dekat.


Walau di dalam ingatan Isaac tidak terdeteksi kekuatan, tapi Neva sepertinya mulai yakin kalau Eranda sedang melakukan sesuatu terhadap air yang diberikan pada para kucing. Bahkan para kucing terlihat berebutan, seolah air itu adalah air paling enak.


Namun, apa benar Eranda adalah biang kerok semua kejadian aneh di pantai?


"Neva," suara rendah seorang pria membuat langkah Neva terhenti. "Kamu sudah melihatnya, kan?"


Begitu berbalik, Neva melihat semua manusia di dalam ingatan itu tidak bergerak. Hanya ada satu sosok pria tinggi besar dengan kulit kecokelatan yang tersenyum miring menatapnya. Merinding.


"Si-siapa kamu?"


"Aku orang yang melakukan hal-hal menakjubkan itu. Kamu pasti tahu." Pria besar itu mendekati Neva.


Neva memasang kuda-kuda. "Kenapa kamu bisa masuk ke sini?"

__ADS_1


Pria itu duduk di sebuah kursi pantai. "Hei, aku bukan mengajakmu berkelahi, tapi bekerja sama. Apa kamu mau mendengarkanku sebentar?"


__ADS_2