
“Apakah Arya tidak apa-apa bu Lani?” tanya Ayana khawatir.
“Bu Lani tidak mengerti pastinya , tetapi jika dia tidak tersadar dalam 30 menit kemungkinan besar dia akan dilarikan kerumah sakit,” balas bu Lani.
Aku hanya bisa melihatnya tertidur diatas kasur.
“Kalo begitu bu Lani keluar dulu, lebih baik kamu jaga Arya sampai sadar,” ucap bu Lani.
“Baik, bu Lani,” balas Ayana.
Srekkk… srek…
Hiks… hiks…
suara tangisan dan air mata yang menetes satu persatu.
Saat itu jantungku terasa ingin berhenti, aku merasakan kesedihan yang luar biasa. Sekali lagi jika Arya tidak sadarkan diri maka aku
akan sekali lagi melihat seseorang yang berharga bagiku akan mati dihadapanku.
Hiks… hiks…
suara tangisanku tidak mau berhenti. Air mata yang terus mengalir sehingga hampir membasahi pakaianku.
“Tidak aku harus berhenti menangis, aku tidak ingin membuatnya lebih khawatir hanya karena melihatku menangis,” ucapku dalam hati sambil mengusap air mata.
Dengan kata-kata itu aku berusaha untuk tetap kuat dan berhenti menangis.
“Kumohon aku tidak ingin kehilangan seseorang lagi,” ucap Ayana
memohon dalam hati.
***FLASBACK 6 TAHUN YANG LALU***
Bruk…
“Kamu berani-beraninya mendekati Nakagami,”
“Memangnya kamu siapa, kamu hanyalah seorang Artifaction terlemah,”
“Jangan pikir kamu anak seorang pahlawan dapat mendekati Nakagami"
“Hikss… hiks…,”
Aku hanya bisa menangis saat dipukuli dan dijambak oleh kakak kelas sampai seseorang datang menolongku.
“Kalian berhenti !, apa kalian tidak malu seorang Artifaction menindas Artifaction lain,” teriak seorang anak laki-laki.
“Eh, ayo kita pergi ada Nakagami !,”
__ADS_1
“Iyh,”
Anak-anak yang membulyku berlari menjauh masing-masing saat medengar teriakannya. Lalu anak laki-laki itu berjalan menghampiriku.
Sambil mengulurkan tangan anak laki-laki itu berkata, “Kau tidak apa-apa?” .
“Iyh,” jawabku pelan sambil menerima uluran tangannya.
Aku berusaha berdiri dan membersihkan bajuku yang kotor.
“Namamu siapa?” tanya anak laki-laki itu.
“Ayana, Sakurane Ayana,” jawabku.
“Nama yang indah, perkenalkan namaku Nakagami Arya,” ucap Arya.
Aku hanya mengangguk dan ingin berpamitan pulang tetapi….
“kemarilah,” ajak Arya sambil menarikku.
Aku hanya mengikutinya, sampai beberapa saat kami akhirnya sampai.
“Lihatlah keatas,” ucap Arya menyuruh.
Aku yang saat itu bingung hanya menurutinya. Aku sangat-sangat terkejut saat melihat keatas, ribuan bintang yang berada dilangit dan bersinar terang membuatku terkagum-kagum.
“Indah bukan?” tanya Arya.
Sejak saat itu Arya selalu datang ke kelasku dan menghiburku bahkan saat pulangpun kami selalu bersama. Lama-kelamaan aku menyimpan rasa suka padanya, aku suka dengan sikapnya yang baik, lemah lembut dan hangat. Hanya karena ingin dipuji oleh Arya sampai-sampai aku meminta nenek dan ibuku untuk mengajari teknik-teknik yang sudah turun-temurun dari 4000 tahun yang lalu dengan usaha kerasku aku bisa mencapai rank A.
Terkadang aku berpikir momen-momen ini akan terus ada selamanya tapi sampai suatu hari.
Pagi hari itu aku belajar membuat bekal dibantu oleh ibuku untuknya.
“Bagaimana apakah enak?” tanyaku.
“Ini makanan ter-enak diseluruh dunia,” balas Arya sambil tersenyum.
“Syukurlah,” ucapku lega.
“Terima kasih ya, Ayana,” ucap Arya sambil mengelus kepalaku.
Aku merasakan rasa malu saat dia mengelus kepalaku, tetapi rasanya nyaman dan hangat.
“Arya, apakah ada di kelas?” tanya pak guru.
Arya berhenti mengelus kepalaku dan berjalan menuju pak guru. Dari jauh aku melihat wajah Arya sedih, dan matanya yang terasa hampa.
Saat dia kembali aku mencoba bertanya, “Ada apa, Arya,”.
__ADS_1
“Eh, gak apa-apa kok,” balas Arya.
Sejak saat itu sikapnya berubah, dia lebih dingin, jarang bicara dan tersenyum. Aku terkadang berpikir apakah aku melakukan kesalahan sampai sampai guru berkata pada Arya. Tapi sema kekhawatiranku menghilang
karena tak lama kemudian Arya kembali kesikapnya seperti biasa hanya saja aku
merasa seperti dia menyembunyikan sesuatu dariku. Tapi aku tak mengkhawatirkannya sama sekali….
Tahun berganti pun Arya tetap sama, sampai suatu saat tepat pada liburan musim panas semuanya berubah yang kulihat hanya ada darah dan tubuh manusia yang tergeletak di mana-mana juga banyak gedung-gedung yang hancur dan roboh. Seketika aku merinding melihat hal ini, dibalik semua itu yang kupikirkan hanyalah Arya apakah-baik baik saja. Karena diriku masih belum
mempercayai sepenuhnya bahwa yang melakukan semua ini adalah Arya.
“Darah aku menginkan darah,” ucap Arya pelan sambil mendekatiku perlahan.
Aku hanya bisa terdiam melihat Arya seperti itu. Saat dia mendekatiku sambil menggeret pedangnya menuju padaku. Saat dia sudah dekat denganku dia mengangkat pedang itu keatas dan menjatuhkannya kebawah, saat itu
aku berpikir untuk pasrah akan kehidupanku tetapi ayunan pedang itu berhenti saat ingin mengenaiku.
Aku mencoba membuka mata. Satu yang terlihat jelas didepanku adalah fakta bahwa Arya menangis, aku tidak tau apa yang dia rasakan pada saat itu yang membuatku mengalami penyesalan yang luar biasa.
“Arya, ada a..,” sebelum aku menyelesaikan kalimatku tiba-tiba saja aku melihat dengan mataku sendiri di hadapanku Arya ditusuk menggunakan pedang oleh seseorang.
Entah apa yang terjadi setelah itu tiba-tiba saja aku terbangun dirumah sakit. Disaat aku mencoba mancari tahu tentang kejadian yang kualami, mereka semua hanya mengatakan kalo itu semua hanya mimpi. Tetapi dalam hatiku aku menganggap hal itu bukanlah mimpi.
Disaat keluar dari rumah sakit aku mencoba mencari informasi soal apa yang terjadi pada saat itu di majalah dan Koran harian, tetapi semua usaha yang kulakukan sia-sia.
Lalu saat berumur 16 tahun aku pindah sekolah menuju sekolah Kazeno Kuzumi dengan alasan perpindahan tugas orang tua. Saat itu untuk pertama kalinya aku merasa sangat bahagia dan betapa terkejutnya diriku, tetapi aku juga tidak bisa menyangkal bahwa Arya sudah mati. Seperti yang kuduga dia tak mengenaliku, tapi bagiku meskipun
sifatnya berubah aku tetap merasa bahwa dia adalah Arya yang kukenal. Waktu terus
berlalu betapa terkejutnya diriku saat Arya berlari membawa pedang yang mirip
dengan Arya teman masa kecilku hanya saja pedangnya ini berbentuk lebih kecil dibandingkan yang dulu.
Lalu beberapa hari kemudian tepat pada waktu saat aku ulang tahun Arya membawaku melihat bintang, membuatku mengingat kenangan masa kecilku dan membuatku Merasa ingin menangis. Tetapi tak disangka saat itu Arya menembakku di bawah langit bintang. Kebahagian yang entah darimana terus membanjiriku.lalu saat Arya menembakku menjadi pacarnya,muncul keraguan dan ketakutanku saat membayangkan seseorang yang berharga bagiku menghilang di depan mataku lagi membuatku sedikit cemas dan khawatir.
**********************************************
“Karena itu kumohon jangan tinggalin aku sendiri lagi hiks… hiks…,” ucapku menangis.
“Siapa yang akan meninggalkan siapa?” ucap seseorang.
Aku terkejut dan segera melihat kearah Arya. Tiba tiba saja
tubuhku reflek memeluknya dengan erat sambil menangis sekeras-kersanya.
“Kumohon jangan buat aku khawatir seperti ini lagi hiks..,”
teriakku memohon sambil menangis.
__ADS_1
“Maaf sudah membuatmu khawatir,” balas Arya sambil
mengelus-elus kepalaku.