
“Waahh..!” teriakku terkejut.
“Sssttt, diamlah jangan berisik!” ucap kak Ria sambil membungkam mulutku.
“Ada suara disana, cepat periksa,” teriak seorang penjaga.
Untuk beberapa saat kami diam menunggu penjaga itu kembali masuk kedalam.Lalu karena penjaga tak menemukan kami mereka kembali masuk kedalam pabrik.
“Syukurlah,” ucap kak Ria lega lalu melepas bungkamanku.
“Hah… hah…,” aku yang berusaha menormalkan nafasku.
“Jadi Arya, apa yang kamu lakukan disini?” tanya kak Ria.
“Gawat, bagaimana ini,” ucapku dalam hati bingung.
“Tenanglah lebih baik kamu jelaskan saja,” ucap Kaze
“Eh kaze, dimana kamu?" tanyaku dalam hati.
"Aku kembali masuk kedalam dirimu, tapi ini tidak penting lebih baik kamu jelaskan saja!" balas Kaze.
"baiklah,” ucapku dalam hati.
“Itu seperti yang kakak katakan saat makan malam, aku merasaaneh kenapa Nakama tidak muncul beberapa hari ini. Lalu pabrik ini yang seharusnya ditinggalkan ini mlah dihuni seseorang, apalagi dari dalam seperti ada aura Nakama yang kuat,” ucapku.
“Jadi begitu, kamu juga merasakannya,” balas kak Ria.
Tak lama selang kak Ria berbicara terjadi ledakan di dalam pabrik.
Duaarr….
“Menghindar,” teriakku kaget.
Aku dan kak Ria menjauh dari area pabrik.
“Apa yang terjadi?” tanyaku bingung.
Tak lama kemudian asap yang berasal dari pabrik menghilang, disana terlihat bayangan yang besar memegang seperti sebuah panah besar.
“Apa itu?” ucapku terkejut.
Asap mulai menghilang, terlihat jelas Nakama setinggi gedung muncul dari balik asap tersebut.
“Arya, kita harus melaporkannya,” ucap kak Ria.
Tubuhku tidak mau bergerak sama sekali, lalu tiba-tiba saja saat Nakama itu melihat kearahku jantungku terasa berdetak dengan sangat kencang seperti akan meledak.
Plak… kak Ria menamparku dengan sangat keras.
“Arya sadarlah!” teriak kak Ria.
“Kak Ria?” balasku.
“Aku tidak tau kenapa kamu terdiam seperti itu, tapi sekarang kita harus pergi dan melapor,” ucap kak Ria.
“Eh.. yah,” balasku.
Aku mengikuti kak Ria dan pergi dari pabrik.
Suissh… angin kencang meghantam kami dan angin itu mengarah pada panah yang dipegang oleh Nakama tersebut. Tapi tak lama kemudian Nakama itu melepas anak panah dan seketika….
Wushh… anak panah itu
melesat kearah kami dengan kecapatan yang luar biasa.
“Kakak menyingkir,” teriakku sambil mendorong kak Ria ke samping.
Duaarr… sebuah daya hancur yang besar.
“Ini mustahil, satu anak panahnya bisa menghancurkan seperempat kota.” Ucapku tidak percaya.
“Jika aku pergi bersama kak Ria, akan banyak korban di sektor ini,” ucapku dalam hati.
Sementara itu Nakama itu berjalan kearah kami.
“Hanya ada satu cara, kak Ria pergi melapor aku akan mencoba alihkan perhatiannya,” ucapku.
“Apa yang kaukatakan, serangannya begitu cepat mustahil bagimu menghindarinya.” balas kak Ria.
Aku menarik nafas panjang dan menghembuskannya lalu berkata,
__ADS_1
”Tidak apa-apa, aku akan menahannya karena aku percaya kepada kakak. Jadi kak kumohon
cepatlah datang ya,”.
“Eh… baiklah, berjanjilah kamu harus tetap hidup,” ucap kak Ria.
“Yah… aku berjanji,” balasku.
Kemudian kak Ria segera pergi dan aku.
“Oii… Nakama kemari!” teriakku.
“Aku akan memancingnya kearah hutan, jika disana setidaknnya
tidak akan ada korban,” ucapku dalam hati.
Wushh… Wush….
Sudah kesian kalinya aku diserang dan menghindarinya sedangkan aku sudah mau hampir mencapai batas.
“Sedikit lagi,” ucapku.
Boom… ledakan yang
terjadi disebelahku secara tiba-tiba mebuatku tidak bisa menghindarinya dan
terpental.
“Wahh!” teriakku.
Brak... aku terpental dan mengahantam pohon dengan sangat keras.
“Ughukk… ughukk…,” aku terbatuk-batuk dan mengeluarkan darah.
“Apakah hanya ini kekuatan mantan rank SSS,” ucap seseorang.
“Siapa ka.. ughuk.. ughuk.. kamu?” ucapku.
“Hahahaha… sudah kubilang bukan, aku akan balas dendam,” balasnya.
Aku tidak bisa apa-apa pandanganku mulai buram dan rasa sakit ini luar biasa, tapi aku mencoba menahan itu semua. Disaat seperti itu Nakama itu mencharge dan ingin menyerang kami, tapi saat hendak melepaskan anak panahnnya.
Betapa terkejutnya diriku, Nakama itu berheti melakukan charge dan bergerak kearah kota.
“Kenapa Nakama itu tidak jadi meluncurkan seranngannya?, apakah kau mengendalikannya?” tanyaku.
“Aku tak perlu menjawabnya, karena lagi pula sebentar lagi kamu akan menjadi mayat,” ucap sosok misterius.
Setelah dia mengatakan itu dia mengeluarkan Artifact nya.
“Horse Nature” ucap sosok misterius.
(senjata tipe pertarungan jarak jauh dan jarak dekat, bentuk dari senjata ini
seperti pedang yang dimana bagian bawahnya memiliki pelatuk seperti pada
sniper. Senjata ini bisa menjadi sebuah pedang ataupun sniper dengan daya
hancur yang besar).
“Sampai jumpa, Nakagami!” teriaknya sambil mengayunkan pedangnya kearahku.
“Cih… ini akhirnya kah?” ucapku dalam hati.
Tang… tang.. tang… sebuah tembakan beruntun yang membuat
sosok misterius itu melompat mundur.
“Tak akan kubiarkan!” teriak Ayana.
“Ayana, kenapa kamu ada disini?” tanyaku terkejut.
“Arya kamu tidak apa-apa?” tanya kak Ria khawatir.
“Cih.. pengganggunya datang, akan kubiarkan kau hari ini. Tapi tidak di lain hari,” ucap sosok misterius lalu melompat menjauh.
“Tidak akan kubiarkan,” ucap Ayana sembari berusaha mengejar sosok itu.
“Tidak usah dikejar Ayana, biarkan saja dia yang harus kita waspadai sekarang adalah Nakama itu berjalan kearah pusat kota sektor 7,” teriakku.
Ayana segera berhenti dan berbalik kembali kearah kami.
__ADS_1
“Kamu tidak apa-apa kan?” tanya Ayana khawatir.
“Sudah tidak apa-apa kok, kak Ria sudah mengobati lukaku,” balasku.
“Syukurlah, kalo begitu bagaimana kita mengalahkan Nakama
itu?” tanya Ayana.
“Aku akan menjawabnya, tapi kak Ria kamu pergi pimpin pasukan T. Army Nakama. aku mau berbicara empat mata dengan Ayana,” balasku dengan wajah serius.
“Yah baiklah,” jawab kak Ria.
Setelah itu kak Ria meninggalkan kami, aku menunggu sampai kak Ria benar benar sudah menjauh. Setelah memastikan kak Ria menjauh, untuk beberapa saat kami hanya terdiam. Aku menarik nafas dan berusaha tenang, lalu aku mulai membuka pembicaraan.
“Aku belum tahu cara mengalahkannya, tapi yang kutahu monster itu dikendalikan oleh seseorang,” ucapku.
“Maksudmu orang yang kabur tadi,” tanya Ayana.
“Aku merasa bukan dia orangnya,” balasku.
“Lalu siapa?” tanya Ayana sekali lagi.
“Ini hanya kesimpulanku saja, Ayana apa tipe Artifact milik ibumu?” balasku bertanya.
“Ada apa dengan ibuku?” balas Ayana bertanya.
“Jawab saja,” ucapku sambil memalingkan wajah.
“Dia ber-tipe busur,” balas Ayana.
“Sudah kuduga,” ucapku.
“Apa maksudmu, Arya?” tanya Ayana khawatir dengan sedikit membentak.
“Nakama itu adalah ibumu , kemungkinan besar ibumu di gunakan untuk menggabungkan Nakama itu. Sudah beberapa hari ini ibumu tidak pulang kan,”
balasku.
“Gak tidak mungkin, kamu pasti bercanda kan,” ucap Ayana sambil memaksa wajahnya untuk tersenyum.
“Untuk pertama kali aku memang tidak percaya, tapi jika diingat
lagi aku tanpa sengaja mendengarkan ayahmu menelepon seseorang da membahas
tentang hilangnya ibumu. Kupikir aku salah dengar lagipula kejadan itu tengah
malam, tapi aku mulai yakin hari ini saat pertama kali aku melihat Nakama itu
muncul aku merasakan aura ibumu,” ucapku sambil melirikkan mataku ke kanan
karena takut melihat wajahnya.
Tes… tes… air mata Ayana terus mengalir.
“Eh…” ucapku terkejut dan segera memandang wajah Ayana.
Wajah Ayana yang putus asa dan sedih, tapi entah kenapa aku seperti pernah mengalaminya dan entah kenapa secara reflek aku memeluknya dan berkata,”Tidak apa-apa, aku akan menemukan caranya,”.
Ayana sedikit merasa tenang saat kupeluk dan untuk beberapa
waktu kami terdiam dengan keadaan saling berpelukan.
“Kamu sudah mendingan?” tanyaku sambil melepaskan pelukanku.
“Yah,” balasnya murung.
“Tenang saja aku yakin bisa menyelamatkannya, lagipula aku sudah menemukan caranya,” ucapku dengan percaya diri.
“Benarkah,” balas Ayana semangat.
“Yah, aku akan jelaskan di perjalanan,” ucapku.
“Ok,” balas Ayana tersenyum.
“Ayo kita berangkat,” Ajakku.
“Siapakah dalang dari semua ini aku tak mempedulikannya
tapi, jika dia membuat orang yang kusayangi menangis aku tak akan memaafkannya.
Tunggulah aku!”ucapku dalam hati dengan percaya diri.
__ADS_1